
Rasa sakit yang dirasakan Mia seakan ditransferkan padanya. Begitu menyesakkan hingga ketulang. Revan menyeka darah ditubuh Mia agar tidak terjadinya pendarahan. Dan itu membuatnya semakin terpuruk. Revan tidak tega melihat istrinya tak berdaya seperti ini.
"Ku mohon bertahanlah, istriku.... "
Saat sampai dirumah sakit. Mia langsung dibawa oleh perawat untuk segera ditangani. Dengan raut kecemasan dan rasa takut yang mendalam. Revan menuntut sang Dokter untuk melakukan yang terbaik untuk istrinya.
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan nyawanya. Ku mohon, Dokter...! ambil apapun yang ada didalam tubuhku, bahkan nyawaku jika perlu. Ku mohon selamatkan istriku, selamatkan dia.... " Revan sedikit mengguncang tangan Dokter itu.
Dokter itu memberi tanggapan dengan anggukan dan menyentuh pundak Revan untuk membuatnya sedikit lebih tenang. Namun tetap saja Revan yang gusar dan khawatir terus saja merongrong pada para petugas itu dengan tidak sabar.
Hingga akhrinya,
Revan terpaksa harus menunggu diluar sementara istrinya ditangani. Sembari menunggu, pria itu tidak hentinya mondar-mandir didepan pintu sembari sesekali menarik kasar rambutnya.
Kejadian yang menimpanya kali ini cukup membuatnya terpukul. Bagaimana bisa Mia melakukan ini untuknya.
"Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." Revan menghentakkan kepalanya ketembok rumah sakit. Merasa begitu bodohnya hingga membiarkan istrinya terluka.
"Siapa yang telah tega melakukan ini?!" Air matanya kembali menetes. Revan kini terduduk lemas dengan segenap penyesalan didalam dirinya.
*****
"Apa yang ibu lakukan?!" Azkhan berteriak saat mendengar percakapan ibunya dengan seseorang.
"Ibu hanya benci dengan kekalahan," satunya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kita memang kalah, Bu. Tapi tidak seperti ini cara membalasnya. Revan adalah sepupuku, dia keponakan Ibu sendiri!"
"Tenanglah Azkhan! anak buah bodohku rupanya tidak berhasil mengenai sepupumu. Melainkan jalang itu. Menurutku itu tidak terlalu buruk. Dia pantas mendapatkannya... "
Azkhan membulatkan matanya. Menatap tak percaya pada ibunya yang dengan tega menyakiti wanita yang dicintainya. Kali ini amarah benar-benar menguasainya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi pada Mia? KATAKAN!" Azkhan mengguncang tubuh ibunya dengan kedua tangan memegang bahu ibunya. Esme yang diperlakukan seperti itu malah berbalik marah padanya.
"Jalang itu sekarat! dan sebentar lagi akan mati."
__ADS_1
"Tidak. Jangan menipuku, Bu. Mia tidak boleh mati. Dia harus tetap hidup." Kini Azkhan semakin frustasi.
"Dia akan mati."
Ekspresi Azkhan mengeras. Menatap sang Ibu dengan penuh amarah. "Kau bukan lagi terlihat seperti seorang Ibu. Kau adalah monster mengerikan. Kau merusak kebahagiaanku."
"Ibu hanya membantumu membalas perbuatan mereka, Azkhan. Ibu seperti ini karena sayang padamu... "
Azkhan menggeleng tak percaya. "Jika saja kau bukan Ibuku, maka saat ini aku sudah memecahkan kepalamu! Mia sangat berharga bagiku, dan kau menyakitinya. Wanita malang itu memiliki bocah kecil yang masih sangat membutuhkan ibunya. Apa Ibu sadar akan hal itu?! dimana hati nuranimu sebagai seorang Ibu!!"
Esme bungkam. Bukan karena merasa bersalah. Hanya saja dia benci saat ini Azkhan lebih membela Mia dari pada dirinya.
"Mungkin ini sudah takdir hidupnya yang menyedihkan. Anak itu mungkin lebih baik tanpa Ibu seperti dirinya-"
BRAKK
Azkhan melempar apapun barang di sekitarnya. Mencoba menghentikan ucapan ibunya yang semakin tak masuk akal baginya.
"BERHENTI BICARA BURUK TENTANG MIA!!"
Esme menutup telinganya. "Itu faktanya."
Esme terperangah mendengar ucapan anaknya. Bagaimana bisa Azkhan mengatakan hal itu.
"Dasar anak bodoh! apa bagusnya jalang sialan itu!"
****
Azkhan melajukan mobilnya dengan cepat. Menuju rumah sakit dimana Mia dirawat. Langkah tergesa-gesanya membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
Azkhan meminta bantuan para perawat untuk memberitahukan dimana kamar Mia dirawat. Sampai akhirnya dia terpaksa berhadapan dengan pandangan tajam yang Revan arahkan saat menyadari kehadirannya.
Revan segera bangkit saat langkah Azkhan sudah semakin dekat. Dan merengsek maju untuk menghajarnya.
BUGH
__ADS_1
Satu pukulan mendarat diwajahnya. Revan kembali menarik tubuh Azkhan, namun Deriya menahannya.
"Revan, hentikan!! apa yang kau lakukan?!"
"Bajingan ini pasti penyebab semua ini, Bibi. Biar aku membunuhnya sekarang juga!" ujar Revan dengan tangan yang masih mengepal dan juga amarah yang memuncak.
"Jangan sembarangan Menuduh orang, Nak. Belum tentu dia yang melakukannya... " Deriya nyaris terisak melihat sikap Revan yang seperti ini. Perasaannya sungguh sedih melihat keadaan yang semakin diluar kendali.
"Jika bukan dia lalu siapa lagi? hanya dia satu-satunya orang yang begitu membenciku."
"Lepaskan tanganmu!! aku datang kesini bukan untuk mencari keributan. Aku ingin menemui Mia. Biarkan aku melihat keadaannya... " Azkhan melepas paksa tangan Revan. Lalu berjalan mendekati ruangan Mia dirawat. Namun langkahnya terhenti oleh Revan yang tiba-tiba saja menariknya.
"Pergi dari sini! tidak akan aku biarkan kau mendekati istriku!! pergi, sebelum aku benar-benar membunuhmu disini...!"
Azkhan masih bergeming ditempatnya. Tatapannya terarah pada sosok yang kini terbaring lemah dari balik kaca pintu ruangannya. Sebelum Azkhan benar-benar pergi. Pria itu menatap Mia dengan teduh dan nampak jelas penyesalannya disana.
"AKU BILANG PERGI!!"
Tidak ada pilihan. Azkhan memilih mengalah kali ini. Keadaan Revan sedang diluar kendali. Dia tidak ingin membuat kegaduhan disini. Sebab itulah Azkhan pergi begitu saja. Meninggalkan Revan dengan amarah yang masih meledak-ledak.
Setelah kepergian Azkhan. Revan segera menghubungi Ersad untuk meminta bantuannya. Mencari siapa dalang semua ini. "Jika saja dugaanku benar. Maka aku tidak akan memberi ampun. Orang itu harus membayar setiap perbuatannya.... "
"Pelakunya masih berkeliaran dengan bebas..."
"Semuanya akan terungkap, Revan. Tenangkan dirimu," ucap Deriya menyentuh bahunya.
"Aku tidak akan bisa tenang sebelum istriku membuka matanya." Revan menatap istrinya dari kejauhan. Pancaran penuh cinta itu nampak menyedihkan. Rasa sesak didadanya tidak juga hilang. Revan seakan kehilangan udara untuk bernafas.
Begitu menyesakkan...
"Bagaimana dengan putraku, Bibi?"
"Syma menjaganya. Zico tidak mengetahui apapun yang terjadi pada ibunya. Tapi naluri seorang anak tidak bisa dipungkiri. Dia selalu menangis ingin melihat Mamanya. Dia bilang Mama akan sedih jika jauh darinya terlalu lama. Saat ini Syma sedang mengatasinya."
Revan semakin terhenyak. Dia sadar bahwa saat ini masih ada bocah kecilnya yang membutuhkan perhatian darinya. Namun dia tidak bisa meninggalkan Mia seorang diri disini. Akan sangat berbahaya jika nanti hal yang tak diinginkan terjadi.
__ADS_1
Bisa saja pelaku kejahatan itu datang lagi dan benar-benar membunuh Mia kali ini. Revan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Ku mohon sadarlah, Mia... buka matamu. Jangan menyiksaku dengan kegundahan yang tiada akhirnya seperti ini... "