
TERIMAKASIH ATAS VOTE NYA.
NIH AUTHOR KASIH BONUS😊😊😊
SELAMAT MEMBACA 👍
*****
Saat ini Hariz telah berada didalam pesawat. Tanpa diduga, dia juga bertemu dengan Clara disana. Wanita itu sedang mencari-cari tempat duduknya. Secara kebetulan itu mereka akhirnya duduk bersebelahan.
"Saya pikir Anda masih lama disini." Hariz memulai pembicaraan.
"Tidak juga. Bukankah besok malam akan ada pertemuan."
"Kau benar."
Mereka berdua berbincang dengan akrab. Namun yang lebih banyak berbicara adalah Hariz sendiri. Sementara Clara hanya diam mendengarkan.
Wanita itu menjadi bosan setiap kali bahan perbincangan mereka adalah Aina. Hariz bahkan menceritakan Aina dan juga pertengkaran mereka sembari sesekali tertawa. Bahkan sepulang dari sini, dia juga mengatakan pada Clara bahwa dia akan membalas perbuatan Aina.
Clara hanya tersenyum tipis. Namun dia sendiri tidak bisa menyela karena tidak punya topik penting untuk dibicarakan.
"Begitulah jika menikah dengan anak kecil. Kau akan pusing dengan sikap kekanak-kanakannya."
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan mendidiknya dengan baik. Menjadi wanita sholehah yang patuh pada suaminya."
"Bagaimana jika dia tidak berubah juga?"
"Aku akan mencoba lagi. Sekali lagi, dan lagi sampai akhirnya Allah melembutkan hati wanita itu. Aku yakin rumah tangga kami akan baik-baik saja kedepannya. Seperti Syma dan Ersad."
Clara terdiam. Dia berpura-pura tidur untuk menghindari pembicaraan dengan Hariz yang terus saja membicarakan Aina. Membuat perasaannya semakin terbakar.
******
Tatapan tajam Hariz kini Tertuju pada seorang wanita yang sedang santai didalam ayunan. Setelah semua kesialan yang menimpanya, Aina malah bersantai seolah tak terjadi apapun.
Dengan langkah tegas, Hariz melangkah kearahnya dan langsung membalikkan ayunan itu hingga membuat Aina terjungkal.
Brakkk
Aw
"Punggungku...."
Aina meringis kesakitan. "Siapa yang melakukan ini?"
Matanya langsung melebar saat melihat Hariz yang telah berdiri dihadapanya. Tatapan tajam pria itu, begitu mematikan. Aina bisa merasakan aura mengerikan yang menyeruak.
Tentu saja Aina ketakutan. Dia sadar, Hariz tidak akan mengampuninya kali ini.
"Mas sayang sudah pulang?" tanya Aina memaksakan senyumannya. Namun senyumannya segera pudar, saat tidak ada perubahan sedikit saja dari Hariz. Pria itu bahkan semakin terlihat mengerikan. Seolah hidung dan telinganya sedang mengeluarkan asap saat ini.
"A'udzubillahiminasyaitonnirojim.'
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi, Hariz langsung menarik tangan Aina masuk kedalam Panthouse milik mereka. Aina tidak bisa pasrah begitu saja. Dia berusaha memberontak meski semua itu sia-sia.
"Istighfar Mas... Ingat, aku ini istrimu!" ucap Aina yang malah membuat Hariz semakin kasar menariknya. Dan melempar tubuhnya disofa.
"Istri? Ya, kau memang istriku. Istri kurang ajar yang berani kabur. Istri pembangkang dan juga istri durhaka! Apa kau tahu, bahwa satu langkah saja keluar dari rumah. Tanpa ridho dariku, maka neraka adalah tempatmu, Aina!"
"Astagfirullah... " Aina benar-benar ketakutan melihat Hariz yang mengamuk padanya.
"Kau sudah keterlaluan Aina. Kau tahu akibat dari perbuatanmu ini, tapi kau masih tetap melakukannya."
"Aina khilaf Mas... " Rengek Aina mencoba memelas. Berharap Hariz akan melunak. Namun tetap saja. Hariz tidak akan lunak dengan permohonan palsunya itu.
Dan Aina sadar akan hal itu.
Aina segera kabur saat Hariz hendak menyeretnya kembali.
"PERCUMA SAJA KAU KABUR AINA, AKU TETAP AKAN MENDAPATKANMU... " Teriak Hariz pada Aina yang langsung mengunci pintu kamarnya.
"Ya Robb, apa yang harus aku lakukan? Singaku sudah mengamuk. Aku bingung bagaimana cara membuat amarahnya reda."
Aina mondar-mandir seperti orang kebingungan. Sementara pintu kamarnya sudah digedor oleh Hariz dengan brutal.
Jika dia terlalu lama membuka pintu, maka sudah bisa dipastikan pintu itu akan hancur karena amukan suaminya.
Aina mencoba menelpon Syma. Berharap Wanita itu bisa membantunya dari amukan Hariz. Dalam waktu singkat, Syma mengangkatnya.
("Assalamu'alaikum Aina. Ada apa menelpon ku?")
Tolong aku! Suamiku mengamuk. Aku bingung harus bagaimana? Aku takut dia menghukum ku... "
("Terima saja, Aina. Dan dengarkan setiap ucapannya. Memelas dan minta maaflah padanya.")
"Uh, percuma saja Kak. Dia tidak mau memaafkanku! Aku takut sekali... " Aina berucap sembari menatap pintu yang masih digedor keras. Aina yakin sebentar lagi, Hariz akan berhasil membukanya.
("Begini saja.... ")
Syma memberikan sebuah saran pada Aina. Yang membuat Aina langsung kaget dan tidak percaya. Tapi karena waktunya begitu singkat, Aina tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran Syma.
'Uh... Apa aku harus melakukannya? Tapi aku belum siap?' Aina menggigit kukunya. Matanya beralih pada knop pintu yang bergerak.
Gawat.
Hariz sepertinya menggunakan kunci cadangan lagi.
Aina segera berlari kearah lemari dan memakai lingerie sexy berbahan satin lembut. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang nyaris telanjang. Sementara rambutnya sengaja dia ikat dengan tinggi sehingga menambah kesan sexy dan menggoda.
Dengan satu tarikan nafas, dia membuka pintu itu dan tersenyum sensual pada suaminya.
"Hai Mas Hariz... " Aina berucap dengan lembut dan mendayu.
Sontak saja Hariz terbelalak kaget melihat Aina yang sangat menggoda imannya.
"Beginikah caramu meredakan amarahku, Aina?" Hariz sedikit berdesis saat mengatakannya.
__ADS_1
"Maafkan Aina Mas...
Aina khilaf. Jangan hukum Aina, ya... " ucap Aina sembari mengusap lembut dada suaminya. Aina juga sengaja menempelkan tubuhnya pada Hariz. Sehingga membuat jiwa kelelakiannya memberontak.
Tentu saja birahinya sudah naik keubun-ubun karena tidak tahan godaan sang istri. Tatapannya berkilat penuh nafsu.
Sementara Aina sendiri masih sangat gugup. Meski rencana yang diberikan Syma ini akan berhasil. Namun dia tidak yakin bisa melakukannya dengan Hariz saat ini juga.
"Jangan pernah menyesali ini, Aina. Kau sendiri yang menggodaku! Jangan salahkan aku jika aku tidak bisa berhenti." Hariz segera mendorong Aina sampai mereka berdua terjatuh dikasur.
Dengan cepat, Aina sudah berada dibawah kungkungan Hariz. Hembusan nafas berat dari pria itu begitu terasa. Degup jantung Aina berpacu begitu cepat.
"Baca doa terlebih dulu," bisik Hariz ditelinganya. Dengan suara berat penuh gairah.
Aina berdoa. Bukan hanya doa hubungan suami istri. Tapi juga doa semoga doa agar dia bisa melalui ini dengan cepat.
Hariz langsung saja menyambar bibirnya. Aina yang belum Berpengalaman sama sekali sehingga dia tidak bisa mengimbanginya. Sebab itulah dia mencubit Hariz agar melepaskan pertautan mereka untuk Aina bernafas.
"Kau mau membuatku kehabisan nafas ya!" Rutuk Aina. Sementara Hariz tidak menggubrisnya.
Pria itu kini beralih pada leher jenjangnya. Membuat Aina menahan geli dan tawanya.
"Jangan tertawa bodoh!"
"Geli."
Setelah melakukan pemanasan.
Hariz memposisikan tubuhnya untuk memasuki istrinya. Namun belum sempat itu terjadi, Aina sudah berteriak duluan saat melihat milik suaminya sendiri.
Aaaaaaaaaaa
"Astaga, Aina jangan berteriak... " Hariz langsung menutup mulut Aina. Agar wanita itu berhenti berteriak.
"Rileks saja. Ini mungkin akan sedikit sakit. Tapi setelah itu tidak lagi. Kau mengerti kan?" Aina mengangguk mendengarnya.
Namun ternyata tidak sesuai dengan pikirannya. Aina akhirnya kembali memekik dan meringis kesakitan.
"Kau bilang sedikit sakit, tapi ini sakit sekali!"
"Kau ini menyebalkan Aina. Ini bahkan baru masuk sedikit! Rileks dan tahan sedikit." Hariz menggeram kesal.
"Aw...
Hentikan Mas! Sakitttt. Kau menipuku! Kau bilang sakitnya sedikit. Kau ingin membunuhku, Ya!!"
"Berteriak sekali lagi, aku pukul kau!"
.
TBC
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE SEIKHLASNYA😚
__ADS_1