TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 SURGA DUNIA YANG DIRINDUKAN


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirumah sakit. Mia tidak tahan untuk segera pulang, karena dia sudah sangat merindukan anaknya. Mereka memilih untuk pulang dan melakukan perawatan lanjutan dirumah.


Meski begitu, kondisi Mia yang masih lemah. Mengharuskan dirinya untuk tetap berada dikursi roda sementara kondisinya benar-benar pulih. Dan Revan dengan siap siaga selalu membantunya dalam melakukan segala hal.


"Mas, sepertinya aku membutuhkan tongkat. Dengan kondisiku seperti ini. Bagaimana caranya aku mau mandi?"


Revan yang tadinya sibuk membenahi tempat tidur, kini beralih menatapnya. "Kau mau mandi?"


Mia mengangguk. "Ya. Bagaimana aku bisa... Ahk!" Mia memekik kaget, saat tiba-tiba Revan mengangkat tubuhnya dan membawanya kekamar mandi. Lalu meletakkannya di bathup.


"Untuk apa tongkat? suamimu ini masih hidup dan akan membantumu melakukan ritual apapun," ucapnya dengan senyuman manis yang sangat jarang sekali diperlihatkan pada orang. Mia beruntung kali ini bisa melihat itu.


Mia terkesima. Namun perasaan itu segera buyar dan digantikan dengan kekagetan mana kala Revan tiba-tiba ingin mengangkat baju yang dia kenakan.


"Mas, apa yang ingin kau lakukan?"


"Aku akan membantu menggosok punggungmu. Dan semua ini harus dilepas."


"Tapi-"


"Sudahlah Mia. Aku suamimu. Jangan katakan kalau kau malu!"


Mia terdiam. Bukan, bukan malu yang ingin Mia katakan. Hanya saja... setelah sekian lama tubuhnya tidak tersentuh dan terekspos dimata suaminya. Membuat perasaan asing kembali melanda. Dimana Mia merasakan gelenyar yang dulu pernah dia rasakan. Dan itu sudah sangat lama sekali.


Mia hanya pasrah saat tubuhnya sudah tak mengenakan sehelai benang pun. Dan kini sudah tenggelam didalam air yang menutup sampai kepada. Meski begitu, tetap saja Revan bisa melihatnya dengan jelas.


Revan benar-benar menggosok punggungnya. Membersihkan dengan penuh teliti dan memastikan tidak akan ada lagi kotoran yang menempel di tubuh istrinya.


Merasa tidak puas melakukannya dari luar. Revan memilih masuk kedalam bathup yang berukuran cukup besar itu. Tak peduli air itu membasahi tubuhnya. Revan justru melepas pula Pakaiannya.


Mia hanya terperangah. Namun mulutnya tak bersuara meski sangat ingin bertanya, apa yang sedang suaminya ini lakukan.

__ADS_1


Seolah mengerti apa yang dipikirkan istrinya. Revan hanya tersenyum sembari berucap : "Aku juga belum mandi. Jadi sekalian saja kita mandi bersama."


Revan memegang kedua bahu Mia. Dan memberi isyarat agar istrinya berbalik memunggunginya. Agar dia bisa lebih leluasa membersihkan tubuh istrinya.


Dalam keadaan seperti ini. Tentu saja jiwa kelelakiannya meronta. Entah kapan terakhir kali dia bercumbu dengan istrinya. Revan saja tidak ingat. Dan kini... aliran darahnya seakan mengalir deras. Suhu tubuhnya berubah memanas. Nafasnya pun terdengar keras. Namun dia tetap memfokuskan dulu pekerjaannya yang hampir selesai.


Mia berbalik, saat mendengar perintah dari suaminya. Dan kini... Revan membersihkan tubuh istrinya dari depan. Mulai dari leher hingga ke dada. Revan menelan salivanya berkali-kali. Menatap keindahan itu yang membuat gerakannya berubah melambat. Apalagi saat Mia menaikan wajahnya keatas hingga lehernya terekspos sempurna. Buliran air yang jatuh membasahi tubuh istrinya, terlihat begitu sexy dan menggoda.


Hingga kilatan nafsu sudah nampak jelas dimatanya. Dan pada saat Mia merasa Revan menghentikan pergerakannya. Mia sadar, bahwa orang ini menginginkan hal lain. Sesuatu yang sudah seharusnya dia dapatkan pada istrinya. Mia mengerti akan hal itu dari mata Revan yang nampak berkilat dan menatapnya penuh arti.


Tubuh Mia menegang saat tangan suaminya sudah merambat ketempat lain. Apalagi saat secara perlahan Revan merapatkan tubuhnya. Hembusan nafas kasar pria itu bisa dirasakannya dengan jelas. Hingga saat tatapan mereka kembali bertemu dan saling memerangkap satu sama lain.


Revan sudah tidak bisa menahannya lagi. Pria itu berbisik dengan nada sensual ditelinga istrinya.


"Apakah boleh... "


Mia mengangguk malu. Membuka akses dengan suka rela pada suaminya agar bisa saling meraih surga dunia yang telah lama mereka rindukan. Perasaan mendamba dan menginginkan tersalurnya hasrat membuat keduanya larut dalam percintaan yang penuh gelora.


Sampai akhirnya ritual mandi itu kini bercampur dengan ritual lainnya. Dimana hanya suara gemericik air yang menjadi saksi bisu pergulatan panas suami istri yang saling merindukan surga dunia.


Zico menatap orang tuanya secara bergantian. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Sementara Mia dan Revan yang baru saja selesai mandi merasa khawatir. Hingga keduanya hanya bisa saling menatap seperti seorang tersangka yang ketahuan mencuri.


"Papa membantu Mama mandi. Zico kan tahu, kalau saat ini Mama belum begitu pulih." Baru kali ini Revan terbata saat memberi penjelasan pada pertanyaan yang bahkan belum Zico lontarkan.


"Zico tahu."


Mia menyipitkan matanya. Memperhatikan sikap putranya yang sedikit aneh.


"Baguslah kalau begitu."


"Tapi Zico khawatir. Apa sebenarnya yang Papa lakukan. Hingga Mama mengeluarkan suara aneh tadi."

__ADS_1


Mia terperangah mendengarnya. Dan langsung menutup mulutnya. Tak menduga bahwa putranya mendengar suara memalukan itu. Sementara Revan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sembari memikirkan alasan apa yang tepat untuk dia jelaskan.


"Em begini... tadi Mama kaget karena airnya terlalu panas. Jadi Mama seperti itu... "


"Benarkah...? bukan karena Papa menyakiti Mama kan?!" Zico memperlihatkan raut penuh tuduhan pada ayahnya. Dan hal itu membuat Revan memutar matanya.


"Benar Zico. Tanya saja pada Mama!"


Mia langsung mengangguk. Berharap pertanyaan putranya akan segera berakhir. Namun kenyataannya, bocah kecil ini merasa tidak puas dengan jawaban Revan.


"Tapi suara seperti itu juga terdengar dari Papa. Apa Papa juga tidak tahu kalau airnya terlalu panas."


Mia menepuk pelan dahinya. Entah setelah ini pertanyaan seperti apa lagi yang muncul. Dia benar-benar merasa malu. Zico terus menuntut mereka agar menjawab.


Untungnya tiba-tiba saja ponsel Revan bergetar. Dan itu adalah panggilan dari Ersad. Revan merasa ini menyelamatkannya dari pertanyaan putranya.


Dan Mia segera mengalihkan pembicaraan agar Zico berhenti bertanya hal aneh padanya. Sementara Revan mengangkat panggilan itu.


"Apa ada sesuatu?"


"Ya. Kau akan terkejut mendengar ini..," ucap Ersad dari seberang telepon. Dan hal itu membuat Revan menanggapinya dengan serius.


"Katakan... "


"Pelakunya sudah menyerahkan diri ke polisi. Entah apa yang membuatnya menyerah dengan sendirinya. Padahal kita sendiri kesulitan untuk mencari kebenaran ini."


"Menyerahkan diri? bagaimana bisa?" Revan mengerutkan alisnya. Nampak jelas dia sedang berpikir alasan orang itu. Jika tujuan orang itu ingin menghancurkannya. Lalu kenapa memilih menyerahkan diri, sementara dirinya masih baik-baik saja. Segala macam pertanyaan kini muncul dibenaknya. Membuat Revan berpikir keras ada apa dibalik semua ini.


"Aku sendiri tidak tahu. Dan kau mau tahu, apa yang lebih membuatku terkejut!"


"Apa?"

__ADS_1


"Orang itu adalah, Azkhan... "


DEG


__ADS_2