TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 45: PERANG DINGIN


__ADS_3

"Apa Ze mau es krim?"


Zea mengangguk. Namun tidak antusias seperti biasanya. Ersad dan Syma masih memaklumi hal itu. Mereka sudah sepakat, untuk mengembalikan Zea yang dulu. Yang penuh dengan keceriaan.


Setelah membeli Es krim. Ersad mengajak mereka berdua kesebuah makam. Dimana tempat peristirahatan terakhir Erika.


"Papa kenapa kita kesini?"


"Papa akan menunjukkan sesuatu pada kalian," ucap Ersad tersenyum dan membawa tangan kecil Zea. Sementara tangan satunya lagi menggenggam erat tangan Syma.


"Ze, kenalkan ini Erika."


Tentu saja bocah kecil itu bingung. Kenapa Papanya memperkenalkan dia dengan kuburan?


Ersad menjelaskan kembali, mana kala melihat kebingungan dari Zea. "Erika adalah teman terbaik Papa. Dia yang selalu ada untuk Papa ketika sedang terpuruk. Dia wanita baik, sangat baik."


"Kenapa dia ada disana?"


"Karena memang sudah waktunya dia berada disana. Itu adalah tempat peristirahatan terakhirnya."


"Apa Erika baik-baik saja didalam tanah?"


"Panggil Mama, sayang. Mama Erika," ucap Syma mengajari sopan santun pada anaknya. Zea pun mengulangi pertanyaannya.


"Ya. Papa yakin dia baik-baik saja. Bahkan lebih dari kata baik. Mungkin saat ini dia sedang berada ditempat yang paling indah disana." Ersad berucap sembari memandang kuburan itu dengan senyuman hangat terukir diwajahnya.


"Apa didalam sana ada tempat seperti itu?"


"Tentu saja ada. Didalam sana akan ada sebuah pintu yang akan menghubungkan seseorang kedua tempat. Yang pertama adalah pintu yang penuh dengan cahaya dan yang kedua pintu yang penuh dengan kegelapan. Karena Erika wanita baik, Papa yakin dia pasti masuk kedalam pintu yang penuh cahaya itu."


"Apa Ze juga bisa masuk kesana?"


"Tentu saja. Tapi Ze harus jadi anak baik dulu. Papa yakin Ze akan masuk kesana nanti."


Syma hanya menatap mereka dengan perasaan lapang. Tidak dia sangka, bahwa hubungan Zea dan Ersad bisa sedekat ini.


Lalu perhatiannya teralihkan, ketika mendengar Ersad seakan sedang berbicara dengan Erika sekarang.


"Erika. Terimakasih pernah menjadi bagian dalam hidupku. Aku beruntung pernah memilikimu. Tidak pernah aku bayangkan bahwa pertemuan kita begitu singkat. Sejujurnya aku masih belum bisa menerima kepergianmu."

__ADS_1


Kali ini Syma tidak bisa memungkiri ada rasa sesak didadanya. Bagaimana bisa Ersad mengatakan hal itu dihadapan Syma. Tidak bisakah Ersad menjaga perasaannya sedikit saja.


Namun Syma segera menepis segala macam pikiran buruk didalam dirinya. Meskipun Syma sadar siapa dirinya, namun Tetap saja wanita itu tidak sanggup lagi mendengarnya. Syma lebih memilih kembali ke mobil dengan membawa serta Zea. Membiarkan Ersad berucap lebih nyaman dengan Erika.


"Tapi itu dulu. Sekarang aku sudah benar-benar ikhlas melepaskanmu. Karena aku sadar, ada orang lain yang lebih pantas mendapatkan kedudukan itu dihatiku. Wanita yang saat ini sedang mengandung anakku. Terkadang aku berpikir bahwa takdir sedang bermain-main denganku. Karena membuatku lagi-lagi kehilangan wanita yang aku cintai.


Namun ternyata aku salah. Rupanya takdir hanya sedang menjalankan perannya. Membuatku kehilanganmu, dan digantikan dengan wanita shalihah seperti Syma."


Sayangnya ketika ucapan itu keluar dari mulut Ersad. Syma sudah tidak ada lagi disana. Dia sedang duduk gelisah dimobil sembari menahan sesak yang masih melingkupinya.


'Erika adalah wanita pertama yang Mas Ersad cintai. Sudah pasti akan sangat sulit melupakannya. Ya Robb... bantu aku agar tidak memiliki sifat hasad dan serakah. Didunia saja aku sudah cemburu seperti ini, bagaimana nanti diakhirat ketika suamiku dikerumuni para bidadari?'


"Kenapa masuk kemobil tidak memberitahuku?" Suara Ersad tiba-tiba membuyarkan lamunan Syma.


"Em, tadi aku lelah. Tapi aku juga tidak ingin mengganggumu," ucapnya tersungut-sungut.


"Lain kali jangan lakukan lagi. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku tadi."


"Maaf," cicitnya.


"Kita pulang sekarang."


"Katakan?" Ersad melipat tangannya didada ketika melihat siapa yang datang menemui mereka. Revan berdiri disana dengan pandangan datar. Dia tidak suka tiap kali berhadapan dengan Ersad.


"Aku merindukan Zea."


Ersad menaikan sebelah alisnya. "Rindu? Kau baru tiga hari tidak bertemu dengannya. Bukan sebulan, apalagi setahun," tukasnya.


"Tapi aku ayah kandungnya. Sama seperti Syma, aku juga tidak bisa jauh terlalu lama dengan anakku."


"Tidak. Pergi dari sini sekarang juga. Siapa suruh kau jadi ayah kandungnya," usirnya secara terang-terangan.


Revan tidak dapat berkutik. Matanya menatap tajam Ersad seakan ingin sekali menceburkan pria ini kelautan paling dalam.


Keberuntungan sepertinya sedang memihak pada Revan. Syma tiba-tiba saja datang melihat mereka.


"Revan?" Syma menatap mereka berdua secara bergantian. "Kenapa berdiri saja disini? ayo masuk, kebetulan Zea sedang belajar."


Sontak ucapan Syma membuat Ersad kini menatapnya. "Tidak boleh. Lagi pula dia harus pergi, istrinya pasti khawatir dirumah."

__ADS_1


"Siapa bilang? Mia bahkan tahu aku datang kesini untuk bertemu Zea." Revan menghentikan ucapannya, dan melewati Ersad begitu saja. "Katakan padaku dimana Zea, Syma?"


"Beraninya kau main masuk rumah orang !"


"Sudahlah Mas. Biarkan Revan melihat anaknya. Aku tahu bagaimana rasanya jauh dari anak. Lagi pula kan ada Mas dirumah. Jika tidak ada, tentu saja aku tidak bisa mengijinkannya masuk." Syma mencoba memberi pengertian pada suaminya dengan penuh kelembutan.


Tentu saja, Revan bersorak senang mendengarnya. Matanya terlihat jelas, bahwa dia sedang mengejek Ersad habis-habisan.


"Baiklah... tapi jangan dekat-dekat dengan pria itu. Siapa tahu, dukun mana yang dia datangi untuk membuatmu terjerat dengan kata-katanya nanti !"


Syma terkekeh geli. Namun dia menyerah untuk berdebat.


"Baiklah. Aku akan memanggil Zea dulu."


Ketika Syma sudah tidak ada lagi diantara mereka. Keheningan yang mencekam sedang terjadi. Perang Dingin diantara mereka tidak ter elakkan.


Ersad bahkan dengan sengaja membiarkan Revan berdiri tanpa menyuruhnya duduk. Mata elangnya tidak luput dari Revan yang seolah tidak perduli dengan kehadirannya disana.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu dengan akal licikmu. Kau kesini bukan untuk Zea saja, kan. Tapi juga Syma," tuduh Ersad padanya.


Seringai Revan tiba-tiba terukir jelas. Dia sangat tahu bagaimana cara memprovokasi Ersad agar semakin kesal. Lagi pula, tidak bisa dipungkiri bahwa ucapan Ersad ada benarnya.


"Seratus untukmu," jawabnya dengan mengulum senyum.


"Kurang ajar.... "


"Ayah?" suara kecil Zea, membuat mereka tiba-tiba berhenti saling menunjukkan permusuhan. Tentu saja karena Ersad tidak ingin Zea bertanya banyak hal yang akan membuatnya pusing.


Kini perhatian mereka hanya tertuju pada Zea dan Syma yang datang mendekat.


"Ze main sama ayah dulu ya. Bunda akan menyuruh Mina untuk membuatkan kalian minum."


"Katakan pada Mina untuk memberi racun diminumannya," bisik Ersad ditelinga Syma. Namun Revan masih bisa mendengarnya.


"Masss..... "


TO BE CONTINUE.....


JANGAN LUPA JEMPOL DAN KOMENNYA YA😊

__ADS_1


AFF REAL


__ADS_2