
Disepertiga malam, Ersad membuka matanya. Tidurnya tidak terlalu lama, namun cukup berkualitas hingga dia bangun pada jam seperti ini dengan begitu segar.
Matanya beralih pada sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebuah senyuman terukir indah di wajahnya. Tangannya bergerak secara perlahan untuk membangunkan Syma. Menyentuh dengan lembut wajah wanita itu.
"Sayang... bangunlah." Syma mengerjapkan matanya. Saat merasakan adanya sentuhan diwajahnya. Serta suara lembut yang menembus sampai kealam mimpinya.
Matanya menatap Ersad dengan pandangan bertanya-tanya. Namun karena efek bangun tidur, Syma masih belum sepenuhnya sadar.
"Mau tahajud bersamaku?"
Sontak hal itu membuat mata Syma berbinar.
Kini dia telah sadar sepenuhnya.
Setelah sekian lama dia menantikan hal ini. Akhirnya suaminya sendiri yang mengajaknya meraih pahala, yang bahkan dunia dan seisinya pun dapat terkalahkan.
Syma mengangguk antusias. Namun sebelum itu, mereka memutuskan mandi besar bersama terlebih dahulu. Membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan mereka tadi malam.
*******
Aina tidak bisa mengatasi rasa bosannya. Bukan hanya itu saja, dia juga harus menahan jengkel sekuat tenaga pada Hariz yang memaksa untuk menunggu selama dia mencari baju pengantin yang cocok untuk Aina coba nanti. Bahkan dia tidak memberi kesempatan pada Aina untuk memilih sendiri.
"Aina, sedang apa kau disini?" Suara yang terdengar familiar terdengar jelas ditelinga Aina.
"Vio?"
Aina sedikit tertegun, melihat penampilan Vio yang sedikit berubah. Tidak ada lagi kesan culun. Dia benar-benar sudah merubah penampilannya.
"Sedang apa kau disini? Apa kau juga akan menikah?" Tanya Aina.
"Juga? Apa itu artinya kau akan menikah?" Vio bertanya balik padanya.
Aina menghela nafasnya sebelum mengangguk lesu. "Ya."
"Dengan siapa? Kenapa begitu cepat?"
"Siapa lagi... "
"Pak Hariz? Oh ayolah Aina yang benar saja. Kenapa kau tidak mengabariku. Apa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi?"
"Bukan begitu, hanya saja aku sendiri masih tidak percaya dengan pernikahan ini."
"Apa kau memaksa Pak Hariz menikahimu? Bagaimana bisa kalian tiba-tiba menikah. Atau jangan-jangan... " Vio menggantung ucapannya. Matanya menatap Aina penuh curiga.
"Tutup mulutmu! Dasar teman laknat. Kau masih saja belum berubah.
Pak Hariz sendiri yang memintaku menikah dengannya."
"Lalu kenapa kau tidak terlihat senang?"
"Bagaimana aku bisa senang, aku rasa dia menikahiku hanya karena pelarian. Dia tidak mencintaiku."
"Oh aku mengerti sekarang. Tenanglah Aina, aku tahu bagaimana caranya agar kau bisa mendapatkan cintanya."
"Aku tidak ingin berharap... "
"Tapi aku tahu kau menyukainya kan? Sampai kapan kau akan bertahan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan?"
"Lalu aku harus apa?" Aina mengerang frustasi.
__ADS_1
"Begini... " Vio membisikkan sesuatu ditelinga Aina.
"APA!! Kau gila ya? Dasar idiot!! Aku tidak bisa.... "
"Apa yang kalian bicarakan?" Suara berat itu membuat Aina dan Vio terjingkat kaget. Mereka menatap ngeri pada Hariz yang tiba-tiba berada di dekat mereka dengan menyilangkan tangan didadanya.
"Eh, tidak ada. Kami tidak sengaja bertemu. Kebetulan aku sedang menemani kakakku memilih gaun pengantin.
Aina tiba-tiba saja mengundangku ke pernikahannya nanti. Selamat untuk kalian ya... "
Hariz menatap tajam kearah Vio. Sementara Aina sudah berdecak kesal dengan kebohongan Vio. Namun dia tidak ingin menyela, takut Hariz akan bertanya lebih banyak.
"Berhubung kau adalah teman Aina. Jadi aku setuju mengundangmu. Acara kami cukup tertutup. Tidak sembarang orang bisa datang. Jadi aku harap, kau tidak membawa siapapun keacara pernikahan kami nanti."
"Siap Pak."
'Bodoh!'
"Dan kau...
Cobalah kenakan beberapa gaun ini. Dan perlihatkan padaku."
Aina menatap begitu banyaknya gaun yang dipilihkan oleh Hariz. Matanya terbelalak dan melempar tatapan kesal pada calon suaminya itu.
"Semua ini harus aku coba? Yang benar saja. Pilih saja salah satu, aku pasti akan setuju."
"Jangan membantah!! Cepat pakai satu persatu dan perlihatkan padaku."
Aina menahan geramnya. Matanya menatap Hariz secara tidak suka. Lalu masuk kedalam ruang ganti dengan perasaan kesal.
Tidak menunggu waktu lama, Aina keluar dari ruangan ganti dan memperlihatkan gaun itu pada mereka.
Sayangnya pujian Vio justru membuat Hariz tidak suka dan meminta Aina untuk mencoba gaun yang lainnya.
Saat keluar, Lagi-lagi Vio yang bersorak antusias. Berbagai macam pujian dia lontarkan. Berbeda dengan Hariz yang menatapnya dingin. Dan meminta Aina mengganti lagi.
Sampai akhirnya Aina menyerah. Karena sudah terlalu lelah mencoba semua gaun itu.
Kini dia keluar, dengan gaun kesepuluh.
"DIAM!! Jangan bicara. Setiap kali kau mengomentariku, Pak Hariz selalu saja memintaku mengganti gaun ini. Jadi lebih baik kau diam. Agar dia berbaik hati untuk menghentikan kegilaan ini."
Vio segera menutup mulutnya mendengar peringatan dari Aina. Padahal baru saja dia ingin memuji kecantikan Aina di hadapan Hariz. Agar pria itu sadar bahwa calon istrinya tidak begitu buruk.
Akhirnya Hariz setuju dengan gaun itu. Dan Aina menghela nafas lega.
"Baiklah Aina, Aku pulang dulu. Aku pasti datang di acara pernikahan kalian nanti.. "
*****
Seperti biasa setiap kali Syma memasak makanan untuk keluarganya. Tidak lupa dia menyematkan doa didalamnya. Selain membuat lembut hati suami dan keluarganya. Dia juga berharap keberkahan.
Dengan bacaan Sholawat tiga kali. Alfatihah, tidak lupa zikir Ya Rohman, Ya Rohim sebanyak tiga kali. Lalu dia tiupkan dimasakkannya.
Dan hal itu disaksikan oleh Ersad yang menatapnya dari kejauhan. Perlahan pria itu mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Mantra apa yang kau bacakan, Hmm."
"Hahah... Bukan mantra Mas. Tapi doa," saut Syma menahan geli, saat suaminya meletakkan dagunya dibahu atas Syma.
__ADS_1
"Papa!! Kenapa Papa suka sekali meluk Bunda Okhan?" Ersad melepaskan pelukannya dan menatap kesal pada Gokhan yang seringkali mengganggu waktu berduanya bersama Syma.
Sementara Syma sendiri tertawa kecil melihat tingkah lucu putranya yang menggemaskan. Apalagi ekspresi wajahnya yang berkerut marah.
"Karena Bunda istri Papa. Kalau istri orang lain, mana mungkin Papa berani. Bisa mati Papa dipukuli," sautnya enteng.
"Tapi itu Bunda Okhan!!" Gokhan segera mendekati Syma dan menjauhkan Ersad darinya.
Ersad berdecak kesal. "Kau memang pengacau kecil yang posesif! Pergi sana, Mina mengajakmu makan es krim."
"Papa saja yang pelgi. Makan es klim sama Mina, sana!!"
"Astaga bocah ini... "
"Gokhan, bantu Bunda panggil nenek Ceyda yah. Kita makan bersama."
"Oke!"
Ersad memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Gokhan kesal.
"Ya, panggil nenek sana. Bunda mau berduaan dengan Papa."
Sontak hal itu membuat Gokhan berbalik menghadapnya. Matanya menatap Ersad penuh amarah.
"PAPA!!!"
Ersad tertawa senang, karena berhasil menggoda anaknya itu. Sementara Syma mendaratkan cubitan di punggung suaminya, karena pusing mendengar teriakkan Gokhan. Dan itu karena ulahnya.
******
"Aku ingin mengajak kalian berlibur di Swiss. Bagaimana menurut Ibu?"
"Kalian pergi saja. Kalau Ibu ikut, siapa yang akan mengawasi kedai. Aina kan akan menikah. Gadis itu mulai sibuk sekarang."
"Ibu ikut saja. Biar kedai kita tutup sementara waktu." Syma mencoba membujuknya.
"Sebaiknya jangan. Pelanggan akan kabur, kalau kedai kita sering tutup. Lagi pula kalian butuh waktu berdua. Pergilah... "
"Ze juga tidak mau ikut."
"Hey, ada apa ini? Kenapa Ze juga tidak mau ikut?"
"Ze punya banyak tugas dari sekolah. Ze takut tidak sempat mengerjakannya nanti."
"Okhan ikut!"
"Gokhan, sebaiknya tidak usah ikut. Bunda dan Papa akan bawakan adik untuk bermain bersama Gokhan. Benarkan Papa?"
Zea mengedipkan matanya kearah Ersad. Yang membuat pria itu mengacungkan jempolnya dan mengacak rambut Zea karena gemas.
Syma sendiri terkejut mendengar ucapan Zea.
"Aku mencium aroma persekongkolan disini?" ucap Syma menatap curiga pada Zea dan suaminya.
TBC.
JANGAN LUPA JEJAKNYA YA.
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA.
__ADS_1
AFF REAL