TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 33: SYARAT HARIZ


__ADS_3

Entah apa yang ada dipikiran kedua insan itu. Dengan teganya mereka mempertontonkan kemesraan tanpa memperdulikan keberadaan Syma disana.


Bahkan Zea yang masih kecil pun ikut melihat kedekatan mereka. Syma tidak ingin hatinya semakin teriris. Sebab itulah dia memilih pergi kepanti. Masih ada beberapa anak asuhnya yang harus dia urus. Itu jauh lebih penting, daripada melihat pemandangan yang menyakitkan didepan matanya.


"Hentikan Nora. Apa kau tidak bisa menjaga sikapmu dihadapan anak kecil," Ersad menatapnya tajam dan dengan kasarnya melepas tangan Nora yang masih bergriliya ditubuhnya.


"Ck, hanya anak kecil itukan yang membuat Mas risih? Bukan karena Syma?"


Ersad mencebik mendengarnya. Bukan hanya pertanyaan Nora yang membuatnya kesal. Namun juga panggilan Nora padanya yang membuat Ersad merasa muak.


"Mas mau kemana?" ucap Nora dengan manjanya. Bergelayut ditangan Ersad yang hendak pergi.


"Aku ingin bekerja, Nora. Aku sudah terlambat."


"Tapi kita kan pengantin baru, Mas...."


"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Baiklah, Hati-hati di jalan."


Nora langsung mencium singkat pipi Ersad sebelum pria itu pergi.


Dan tanpa dia ketahui, Ersad malah mengelap jijik bekas ciuman diwajahnya.


*****


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Syma melihat segerombolan anak panti yang nampak khawatir.


"Kak Syma. Syukurlah Kakak segera datang. Aina...


Dia dibawa ruangan Bk atas tuduhan melakukan perbuatan mesum dengan salah satu Siswa dari sekolah lain. Aina tidak melakukan itu, Kak. Semua ini hanya salah paham. Tolong Aina Kak, dia pasti ketakutan."


"Astagfirullah...


Apa lagi ini, Ya Robb." Syma tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Syma, sebaiknya Kau susul Aina. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi tentu hal ini membuatnya bermasalah disekolah barunya. Dia bisa dikeluarkan. Sebaiknya Kau segera datang kesana menemuinya. Biar Zea bersamaku," ucap Deriya mengambil alih Zea dari Syma.


"Baiklah Bibi, aku akan kesana sekarang."


Syma segera pergi kesekolah baru Aina yang tidak berada begitu jauh dari panti asuhan itu.

__ADS_1


Ketika sampai disana. Dia langsung ditatap horor, oleh para guru disekolah itu. Syma tidak memperdulikan tatapan itu. Dia hanya ingin bertemu dengan Aina. Dan langsung memeluknya.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam. Apa Anda wali dari Aina?" tanya salah seorang guru itu.


"Benar."


"Duduklah," titah guru itu. Syma segera mengambil tempat duduk dihadapan guru itu. Sementara Aina menunduk lesu. Bukan karena dia bersalah, tapi karena dia sudah membuat Syma khawatir padanya.


"Kami memergoki Aina sedang bermesraan dengan salah satu Siswa di sekolah lain. Perbuatan tidak bermoral nya itu membuat kami malu. Ini adalah sekolah agama. Tidak sepantasnya seorang siswi melakukan hal itu.


Kami tidak ingin sekolah kami menanggung malu atas perbuatannya. Jadi, kami harus mengeluarkan Aina dari sekolah,"


Sontak hal itu membuat Syma terkejut. "Maaf Buk, bukannya saya ingin membela Aina. Tapi saya sangat yakin, bahwa anak asuh saya itu tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu. Dia anak baik. Meski sikapnya terkadang nakal dan kasar. Namun Saya yakin, Aina masih memiliki moral didalam dirinya."


"Ya. Anggap saja ucapanmu itu benar. Tapi semua bukti terarah padanya. Kami tidak bisa berbuat apapun. Ini sudah ketentuan dari sekolah. Saya harap Anda mengerti."


"Tapi Buk. Ini tidak adil, bagi Aina. Saya yakin dia tidak bersalah. Pasti ada yang salah. Sebaiknya kita dengarkan penjelasannya dulu," ucap Syma memelas memohon pengertian pada guru itu. Namun sayang, semua itu hanya sia-sia. Guru Bk itu tidak ingin mendengarkan Syma. Dia tetap pada keputusannya dan peraturan sekolah, bahwa Aina harus dikeluarkan. Karena telah melanggar peraturan sekolah.


"Kakak, maafkan Aina.....


Semua ini hanya salah paham. Saat itu, Aina tidak sengaja hampir jatuh. Dan menimpa seorang pria dari sekolah lain. Itu semua tidak sengaja. Aina juga tidak tahu kenapa orang itu ada disekolah ini," Lirih Aina menyembunyikan wajahnya ditelapak tangannya.


"Tapi Aina malu. Tidak akan ada sekolah yang mau menerima siswi bermasalah seperti Aina."


"Kalau begitu kita harus menemui Siswa itu. Bukankah seharusnya dia juga dihukum? Jika dia tidak dikeluarkan, maka Aina bisa bersekolah disana. Sekarang katakan dimana Siswa itu bersekolah?"


"Di Ankara,"


"Ankara?"


Aina mengangguk ketika Syma mengulang ucapannya.


'Bukankah itu sekolah yang pernah menolak Aina mentah-mentah. Dan juga pemiliknya adalah Hariz? Itu artinya aku akan berurusan dengan pria itu lagi?'


"Kakak, itu sekolah yang pernah menolak Aina."


"Kakak tahu. Aina tunggu saja di panti. Kakak akan mengurusnya.


" Baiklah Kak. Hati-hati,"

__ADS_1


******


"Apa yang kau lakukan?" tanya Hariz bersidekap, menatap Syma yang tiba-tiba saja masuk keruangannya. Disaat dia memiliki tamu penting.


"Aku ingin bicara padamu,"


"Aku tidak punya waktu, sebaiknya kau keluar... " usirnya, sengaja mempermalukan Syma di hadapan tamunya.


Namun Syma bukanlah wanita lemah. Dia tidak bergerak sedikitpun. Justru dia semakin menaikan dagunya dengan angkuh.


"Baiklah, aku akan mengatakannya disini saja. Ini tentang Siswamu yang bermasalah.... "


Hariz yang tahu dimana arah pembicaraan Syma, segera mendekati wanita itu dan menarik tangannya. "Tutup mulutmu !" ucap Hariz setengah berbisik sehingga para tamunya tidak bisa mendengar ucapannya.


"Aku akan menutup mulutku, jika kau mau bicara padaku mengenai masalah ini,"


"Aku tidak punya waktu. Itu bukan urusanku."


"Baiklah...


Kalau begitu aku akan membuat semua tamu mu ini, mengetahui masalah ini.... " Syma segera melangkah dan berdiri di hadapan tamu Hariz. "Dengar, kalian harus tahu, bahwa salah satu siswa...... "


Belum sempat Syma menyelesaikan ucapannya, Hariz telah lebih dulu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Maafkan aku atas gangguan ini. Sebaiknya kita bahas dilain waktu," ucap Hariz membuat para tamunya keluar dari ruangannya dan menyisahkan Syma dan dirinya disana.


"Apa Kau merindukan musuhmu ini, Syma?"


Syma menatapnya dengan dingin. Sementara Hariz memperlihatkan kesinisannya pada Syma.


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai musuhku. Aku datang kemari bukan untuk membicarakan masa lalu kita. Tapi aku ingin agar Kau menerima Aina masuk kesekolah ini.


Aina difitnah sampai dia harus dikeluarkan dari sekolahnya. Dan aku lihat, salah satu siswamu justru tidak dihukum sama sekali."


Hariz terbahak mendengarnya. Ucapan Syma bagaikan lelucon baginya. "Kalau aku tidak mau, Kau mau apa?"


"Kalau Kau tidak mau, maka aku akan merusak nama baik sekolah ini. Sekolah yang di cap memiliki reputasi baik, akan segera lenyap. Karena salah satu siswanya yang tidak bermoral, atas tindakan asusila," jawab Syma dengan lantang.


"Beraninya Kau mengancam ku!" desisnya.


"Jika kau menganggap ini sebagai ancaman, maka anggap saja begitu."

__ADS_1


Hariz nampak diam sejenak. Memikirkan rencana yang ada dikepalanya. Sebelum dia mengangguk tanda menyetujui keinginan Syma.


"Baiklah. Tapi dengan satu syarat."


__ADS_2