
"Tidak."
Hariz terlonjak kaget mendengar penolakan Syma. Dan Aina mendesah lega karena tidak jadi menikah dengan Hariz.
"Tidak?"
"Aku tidak bisa merestui hubungan kalian, jika tanpa alasan yang jelas. Pernikahan adalah mengikat janji dihadapan Allah. Dan ketika kau mengucapkan: Saya Terima nikahnya, itu artinya kau menerima semua yang ada didalam diri Aina. Termasuk baik dan buruk sikapnya. Apa kau siap menerima semua itu?"
"Jika kami sudah mengatakan ingin menikah, itu artinya aku sudah siap lahir batin Syma. Kau tidak perlu khawatir." Hariz berucap serius kali ini. Membuat Syma mulai mempertimbangkan keputusan mereka.
"Aina. Apa kau yakin ingin menikah dengannya?"
"Tentu saja yakin," saut Hariz yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Syma.
"Aku tidak bertanya padamu!"
Aina sedikit melirik kearah Hariz. Mulutnya sangat ingin sekali mengeluarkan kata penolakkan dan sumpah serapah. Namun ancaman Hariz masih terngiang dikepalanya. Hingga dia merasa bimbang dengan pilihannya.
Aina akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Namun sayangnya Ersad menyadari kejanggalan dari raut wajahnya.
"Jika kau tidak ingin, maka katakan yang sebenarnya Aina. Jangan takut!" Ersad memperhatikan raut wajah Aina yang nampak lesu.
Mendengar ucapan Ersad. Aina menjadi yakin untuk menolak pernikahan itu. Dia akan merasa terlindungi. Hariz tidak mungkin melakukan apapun jika ada Syma dan Ersad bersamanya.
Tapi bagaimana jika dia jauh dari mereka? Apakah Aina akan selamat dari Hariz?
"Em, sebenarnya aku... "
"Pak Ersad?"
Suara merdu dari seorang wanita membuat Aina tidak jadi melanjutkan ucapannya. Mereka kini beralih pada sosok wanita sexy yang menyapa Ersad disana.
Satu hal yang Syma ingat, ketika melihat wanita itu. Dia adalah receptionist yang berdebat dengannya kemarin.
"Oh Hai Winda."
"Sepertinya ada acara keluarga disini? Boleh saya bergabung?"
"Tidak bisa." Syma langsung menyahuti. Kini wanita yang bernama Winda itu menatap Syma dengan pandangan meremehkan.
"Tapi Pak. Masalah laporan kemarin kan ada yang salah. Kenapa tidak sekalian kita benahi disini saja."
"Urusan pekerjaan biarlah kita selesaikan ditempat kerja. Bukan disini. Lagi pula ini acara keluargaku. Orang lain tidak perlu ikut."
Ada sebuah senyuman yang terukir diwajah Syma mendengar hal itu. Sementara Winda tidak menyerah sampai disitu saja.
"Klien kita menginginkan ini secepatnya, Pak. Bagaimana jika mereka membatalkan kerja samanya. Bukankah ini akan merugikan kita?"
"Biar saya yang urus. Lagi pula ini bukan urusanmu. Tugasmu dibagian Receptionis. Kau hanya perlu mengirimkannya jika sudah selesai."
__ADS_1
"Tapi Pak... "
"Kau ini tuli atau apa !! Kak Ersad bilang dia tidak ingin mengerjakannya disini. Kami lagi ada acara keluarga. Apa kau tidak mengerti bahasa manusia? Hah!!
Aina segera berdiri dari duduknya. Dia merasa geram dengan wanita yang mencoba untuk merayu Ersad. Padahal disana jelas-jelas ada istrinya.
" Siapa kau? Jangan ikut campur!" Wanita itu mendelik kearah Aina.
"Aku akan ikut campur jika kau berurusan dengan keluargaku. Dasar katak betina!"
"Apa!! Beraninya kau menghinaku? Kau ini masih ingusan, akan aku tampar mulutmu jika bicara lagi!"
"Hah!! Coba saja. Kau pikir aku takut. Akan aku patahkan tangan kurusmu itu jika berani menyentuh wajahku!"
"Kau... " Winda menggeram marah dan menunjuk Aina.
"HENTIKAN!!"
"Winda, sebaiknya kau pergi dari sini. Jangan menghancurkan acara kami." Ersad memberikan gestur pengusiran secara halus pada Winda.
Wanita itu memaksakan diri untuk tersenyum pada Ersad. "Baiklah Pak. Jika butuh sesuatu hubungi saja aku." Winda sengaja berucap dengan nada mendayu. Untuk memanas manasi Syma dan Aina. Sebelum pergi dari sana.
"Dasar wanita gila!"
"Aina... " Syma mencoba memperingati Aina.
Aina menghela nafasnya. Tanpa sadar, sejak tadi Hariz tersenyum licik. Dia mendapatkan ide baru untuk meyakinkan Syma pada pernikahannya.
'Apa-apaan pria gila ini? Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan disaat seperti ini. Satu lagi mahkluk tidak waras dimuka bumi ini. Astaga... ' karena jarak mereka dekat, Hariz bisa mendengar gumaman Aina. Sebab itulah dia mencubit sedikit paha Aina. Hingga gadis itu kaget.
"Terserah kalian saja. Jika kalian memang sudah sangat yakin, maka aku bisa apa. Menikah adalah jalan terbaik untuk menghindari zina dan menyempurnakan separuh agama. Saling menutupi kekurangan. Dan saling cinta walau suka maupun duka. Aku hanya berdoa untuk kebahagiaan kalian."
Tentu saja Hariz bersorak senang mendengarnya. Sementara Aina, tidak bisa berkata apapun. Dia hanya pasrah menerima semuanya. Meski memang ada rasa suka didalam dirinya pada Hariz. Namun Aina tetap tidak bisa menerima jika Hariz menikahinya hanya sebagai pelarian.
Bagaimana pun juga, Aina ingin sosok yang benar-benar mencintainya. Dan hal itu tidak mungkin diberikan Hariz padanya.
"Papa, kenapa minuman Okhan tidak ada walnanya seperti punya Papa. Ini tidak adil." Aina tertawa kecil melihat tingkah lucu Gokhan yang menggemaskan. Apalagi melihat ekspresi wajahnya.
"Gokhan, ini minuman orang dewasa. Sedangkan anak kecil hanya boleh minum air putih dan susu."
"Tapi Okhan juga mau yang ada walnanya sepelti punya Papa."
"Tidak boleh."
"Gokhan, punya Kak Ze juga tidak berwarna. Coba lihat... "
"Kak Ze, pelempuan. Minuman pelempuan tidak boleh belwalna. Bunda dan Kak Aina juga sama."
"Astaga... Anak ini jeli sekali," Celetuk Aina.
__ADS_1
"Dia bahkan lebih pintar darimu." Hariz lagi-lagi menyalakan api permusuhan diantara mereka. Padahal mereka baru saja membahas tentang pernikahan.
"Jadi maksudmu aku bodoh?"
"Aku tidak bilang." Hariz mengangkat bahunya.
"Hariz, apa yang kau katakan pada Aina?" Tanya Syma yang memperhatikan mereka sejak tadi.
"Ah, aku hanya bilang. Bahwa aku hanya iri melihat kalian yang sudah memiliki dua orang anak. Rasanya manis sekali.
Bagaimana kalau nanti kita mengikuti program bayi kembar? Pasti akan menyenangkan." Hariz menatap Aina dengan senyuman yang membuat Aina semakin jengkel.
"Bagaimana sayang, kau setuju kan? Kira-kira apa nama yang cocok untuk bayi kembar kita nanti?"
"Ya'juj- Makjudj!!"
Celetuk Aina yang membuat Ersad tersedak dan menyemburkan kembali minumannya.
Ersad tidak kuasa menahan tawanya, hingga menular ke Syma.
"Aina... Jangan bicara asal." Syma berucap sembari mengulum senyum. Sementara Ersad masih tertawa geli.
"Nama yang bagus."
"Mas... "
'Mulutmu memang harus ditampal, Aina. Lihat saja kau!' gumam Hariz yang sudah menahan kesal.
*****
Aina bergidik ngeri melihat perubahan ekspresi Hariz setelah Syma dan Ersad pulang duluan. Kini Aina harus merasakan aura yang mencekam. Hariz berubah dingin dan mengerikan. Hingga perasaan Aina merasa tidak enak.
Gadis itu bahkan terasa sulit menelan salivanya.
"Em, aku pulang sendiri saja." Aina mencoba kabur dari Hariz. Menghindari pria itu, adalah tujuan utamannya saat ini. Dia harus menyelamatkan diri secepatnya. Agar tidak menjadi santapan harimau lapar.
Namun sayangnya pria itu malah menarik jilbab Aina, hingga gadis itu menghentikan langkahnya.
Aina memejamkan matanya sejenak sebelum berucap:
"Matilah aku... "
*****
HALO GUYS, KALO KALIAN PUNYA ANAK KEMBAR MAU DIKASIH NAMA APA NIH?
JANGAN KAYAK AINA YA 😄
TULIS DI KOLOM KOMENTAR YA🥰
__ADS_1
AUTHOR KEPO...