TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 60: MAAF


__ADS_3

"Itu semua hanya kesalah pahaman saja. Aku tidak sengaja menceraikan Syma. Mana mungkin aku menceraikannya jika tidak ada masalah diantara kami. Dan sekarang...


Semuanya sudah terungkap. Syma tidak bersalah... "


"Lalu kau ingin mengambilnya lagi, begitu? Sudah terlambat.


Aku tekankan sekali lagi padamu, semuanya sudah terlambat." Ersad berucap tajam dengan peringatan yang kental. Namun Revan tetap keras kepala pada keputusannya.


"Tidak ada kata terlambat untukku. Masih ada kesempatan.


Saat ini adalah kesempatan baik untuk itu. Lepaskan Syma dan Zea. Biarkan mereka kembali padaku, hanya aku yang bisa mengembalikan semua keadaan. Kau hanya pecundang!


Bayangkan jika mereka tetap hidup bersamamu, mereka hanya akan menderita. Meski Syma wanita yang kuat. Tapi seharusnya, sebagai seorang pria kau itu tahu diri. Jika tidak mampu, maka lepaskan dan biarkan dia bahagia bersamaku! Itu lebih baik dari pada membuat mereka menderita."


Revan segera pergi dari sana. Sengaja meninggalkan Ersad yang masih bergeming ditempatnya dengan perasaan gusar.


Tentu saja ucapan Revan cukup mengusiknya. Meski dia benci dengan ucapan pria itu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa yang dia katakan tadi benar adanya.


'Argghhh.....


Kenapa jadi rumit seperti ini!'


****


Hasbunallah Wanikmal Wakil 


Hasbunallah Wanikmal Wakil 


Hasbunallah Wanikmal Wakil 


Dengan berlinang air mata,


Syma tidak hentinya mengucapkan zikir. memohon pertolongan kepada Allah. Dan berharap semua masalah bisa diatasi dengan mudah.


Terdengar pula lantunan ayat suci Al-Quran dari mulut kecil Zea. Diusianya yang masih cukup dini. Zea sudah bisa membaca Ayat suci Al-Quran dengan fasih. Sebab sejak dalam kandungan, Syma sudah mengamalkannya dengan membaca Al-Quran dengan rutin. Sampai Zea lahir dan diumur tiga tahun, Syma mengajarkan anaknya membaca ayat suci itu setiap selesai sholat isya.


Shadaqallahul-'adzim.....


"Nda, apa Papa belum pulang?"


Syma menggeleng. Dia baru sadar, bahwa sejak tadi siang Ersad tidak kunjung pulang. Syma jadi khawatir pada suaminya itu.


"Sepertinya belum. Sebaiknya Ze tidur duluan ya. Supaya bangun subuhnya tidak terlambat," ucap Syma menuntun anaknya ketempat tidur.

__ADS_1


Setelah Zea tertidur pulas. Syma beranjak dari sana dan memeriksa kamarnya. Siapa tahu Ersad sudah pulang, pikirnya.


Namun hasilnya nihil. Kamarnya masih saja kosong. Syma mengambil benda pipihnya untuk menghubungi suaminya itu.


Untungnya tidak perlu menunggu lama, Ersad mengangkatnya.


'Assalamu'alaikum Mas. Kamu dimana? Kenapa belum pulang. Aku jadi khawatir.'


'Wa'alaikum salam... '


Syma berkerut heran, mendengar suara Ersad yang terdengar serak. Seperti seseorang yang habis menangis.


'Mas.... Semuanya baik-baik saja kan?'


Lama Ersad tidak menjawab pertanyaan Syma. Hal itu semakin membuat Syma khawatir.


'Mas?'


'Maaf Syma. Maafkan aku... Aku tidak bisa, maaf.' Ersad berucap lirih.


'Kenapa minta maaf, katakan padaku apa yang terjadi?'


'Kau tidak akan bahagia bersamaku, Syma. Aku hanya pecundang. Kalian tidak akan bahagia dengan kekuranganku.... '


'Apa yang kau katakan, Mas. Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Jangan membuatku khawatir. Pulanglah sekarang juga, ini sudah malam!" Kali ini Syma mengeraskan suaranya. Ada rasa kesal dihatinya pada Ersad yang masih saja membahas masalah mereka.


Hanya itu kata terakhir yang Syma dengar. Sebelum Ersad mengakhiri panggilannya. Syma semakin khawatir dibuatnya. Dia mencoba menelpon suaminya lagi. Namun kali ini tidak bisa. Karena Ersad telah Menon-aktifkan ponselnya.


Ya Robb apa yang terjadi padanya....


Perasaan Syma semakin tidak enak. Pikirannya melayang entah kemana. Dia terus berusaha menghubungi suaminya, namun hasilnya tetap saja nihil. Nomornya sudah tidak bisa dihubungi lagi.


Syma sampai kesal dibuatnya, dan tiba-tiba saja dia melempar asal ponselnya sampai terdengar oleh Ceyda.


Syma terduduk lemas. Air matanya tak terbendung lagi. Syma memukul-mukul dadanya yang terasa sakit. Sesekali dia berteriak kesal.


ARRGHHH....


'Pengecut kamu Mas....


Pengecut! Argh...... '


"Syma, kau kenapa?"

__ADS_1


"Mas Ersad Bu, dia sepertinya ingin meninggalkan kita! Padahal aku sudah sering menguatkannya. Tapi dia tetap saja seperti itu," lirih Syma disela isak tangisnya.


Ceyda ikut terduduk dan memeluk menantunya itu. Membiarkan Syma menumpahkan semua kesedihan padanya.


"Itu hanya perkiraanmu saja Syma. Ersad tidak mungkin melakukan hal itu. Ibu yakin dia sangat mencintai kalian. Jangan berpikir negatif dulu pada suamimu, nak."


"Perasaanku tidak enak Bu. Aku takut dia pergi. Aku sangat membutuhkannya, anaknya akan segera lahir. Bagaimana aku akan berjuang jika dia pergi.... "


Ada rasa sesak dihati Ceyda merasakan getaran tangisan dari Syma. Bagaimanapun juga, Ceyda tahu bagaimana rasanya melahirkan tanpa adanya seorang suami didekatnya.


Dan saat ini....


Hal itu akan dirasakan pula oleh Syma?


"Tidak Nak. Percayalah pada Ibu. Ersad akan kembali. Dia tidak mungkin meninggalkan kalian. Bersabarlah Syma. Allah selalu bersama orang-orang yang sabar."


"Kurang sabar apa, diriku Bu? Aku bahkan siap menerima Mas Ersad disaat keadaannya seperti ini. Aku tidak pernah mengeluh sedikitpun. Tapi kenapa... Kenapa Mas Ersad setega ini?"


"Kau wanita hebat Syma. Jangan pernah menyerah. Ibu akan selalu ada untukmu, nak. Masih ada Ibu disini." Tanpa terasa Air mata Ceyda ikut mengalir. Rasa sesak yang dialaminya dulu, kini dirasakan pula oleh Syma.


Ceyda tahu benar bagaimana rasanya. Begitu sakit dan menyiksa. Bahkan dia pernah nyaris menyerah untuk mengakhiri hidupnya.


"Ersad akan kembali. Yakinlah dan terus berdoa kepada Allah semoga rumah tangga kalian baik-baik saja. Ibu yakin Ersad tidak sejahat itu."


*****


Pada kenyataannya, semua yang dikatakan Ceyda semalam tidak ada buktinya sama sekali. Ersad tidak kembali. Pria itu menghilang dan tidak bisa dihubungi bagaikan ditelan bumi.


Begitu sakit yang Syma rasakan. Air matanya seakan habis menangisi suami yang telah pergi meninggalkannya. Rasa kecewa dan amarah tentu saja ada dibenaknya.


Tatapannya kosong. Seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam dirinya. Syma bahkan tidak memikirkan kesehatan dirinya dan juga janinnya karena berhari-hari tidak makan.


"Makanlah Syma. Sudah seharian ini tidak ada yang masuk kedalam perutmu. Setidaknya pikirkan bayimu," ucap Ceyda membujuk Syma yang masih menatap kosong.


Syma mengusap pelan perutnya. Air mata membanjiri wajahnya, seakan sudah menjadi hal tabu baginya.


"Aku ingin menyerah saja Bu. Untuk apa aku memikirkan bayiku sementara Mas Ersad saja tidak peduli! Aku lelah... " lirihnya begitu pahit dan pilu.


"Jangan egois Syma. Jangan mementingkan ego kalian sendiri, sementara anak-anak kalian terlantar. Pikirkan nasib mereka!


Istighfar nak...


Minta petunjuk pada Allah. Kau adalah wanita sholeha. Hatimu mungkin lemah, tapi tidak dengan iman mu. Jangan biarkan setan mengalahkanmu, Syma. Bukankah dulu kau sering menasehati orang lain seperti itu?

__ADS_1


Dan sekarang lakukan itu untuk menguatkan dirimu sendiri. Demi anak-anakmu. Bangkitlah, Sadarlah bahwa Allah mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga.


Jangan pernah bersedih dari apa yang terjadi hari ini. Sebab, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada esok hari."


__ADS_2