
Aina dan Vio akhirnya sampai dipanti asuhan. Mereka tidak berhenti bercerita dan mencari cara untuk ikut misi penyelamatan Syma. Mereka sendiri khawatir dengan keadaan Syma dan Zea tentunya.
"Apa yang harus kita lakukan. Kak Syma pasti ketakutan. Begitu pula dengan Ze. Uh... kita bodoh sekali." Aina mengacak rambutnya frustasi.
Vio sendiri masih bergeming ditempatnya. Dia tidak punya niat sedikitpun untuk pulang. Meski dia itu penakut, namun Vio juga sangat ingin membantu Syma.
Tanpa mereka sadari. Seseorang mendengar percakapan mereka dengan tatapan tajam.
"Katakan padaku, apa yang terjadi dengan Syma dan Zea?" ucap Pria yang tak lain, adalah Revan. Disebelahnya juga telah berdiri Mia yang tidak kalah terkejut mendengarnya.
"Kak Revan? Mia? sedang apa kalian disini?"
"CEPAT KATAKAN AINA. SYMA DAN ZEA KENAPA?" Revan mengguncang tubuh Aina, merasa tidak sabar dengan jawabannya. Padahal dia tadi sudah mendengar semuanya. Namun Revan ingin agar Aina menjelaskan lebih detail kejadiannya.
Aina dan Vio menjelaskan semuanya. Tanpa ada yang ditutup tutupi. Dan ketika dia menjelaskan dengan serius. Ada lagi seseorang yang menguping pembicaraan mereka.
Hariz juga berdiri disana. Mendengar semua ucapan mereka. Pria itu tadinya ingin menemui Syma. Membicarakan tentang masalah Aina. Namun mendengar ucapan Aina, dia juga tidak kalah khawatir.
"Pak Hariz?"
"Kurang ajar. Aku akan menyelidikinya sekarang," ucap Hariz langsung menelpon seseorang untuk membantunya. Sementara Revan sudah pergi lebih dulu meninggalkan mereka.
Revan tidak tahu dimana Syam dan Zea disekap. Namun dia akan mencari petunjuk disekitar apartemennya. Diikuti oleh Mia disebelahnya.
Hariz juga sudah mulai bergerak ingin masuk kedalam mobilnya. Namun Aina dan Vio cepat-cepat mendekatinya dan masuk kedalam mobilnya secara tiba-tiba.
"Hey, apa yang kalian lakukan? cepat keluar dari mobilku."
"Tidak mau. Maaf Pak, kami harus ikut. Bagi kami Kak Syma dan Zea sangatlah penting. Kami juga akan membantu kalian menyelamatkannya," ucap Aina tegas.
"Tidak bisa, ini berbahaya. Kalian bisa celaka nanti. Bagaimana jika orang itu membawa Bom?"
"Benar Aina. Bagaimana jika mereka membawa Bom?" ucap Vio bergidik takut. Aina langsung memukul kepalanya.
"Dasaar bodoh. Kan ada Pak Hariz..
Dia akan melindungi kita," ucap Aina melirik Hariz yang memijit pangkal hidungnya.
__ADS_1
'Sial. Aku tidak punya banyak waktu. Meladeni dua cecunguk ini, hanya akan menghambatku untuk menyelamatkan Syma.' batin Hariz segera menjalankan mobilnya dengan kencang.
Dan akhirnya dia setuju mengajak serta Aina dan Vio.
******
"Kevin?" lirih Syma tidak percaya dengan kenyataannya.
Ya. Orang itu adalah Kevin. Pria kepercayaan suaminya sendiri. Pria itu menatapnya datar. Tidak seperti biasanya.
"Kenapa Kau lakukan ini? apa salahku?"
"Aku tidak punya pilihan Syma. Aku sangat mencintai Nora," ucapnya dengan tatapan hampa.
"Nora? aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu, Kevin. Jika Kau menyukainya, seharusnya kau berusaha untuk mendapatkannya. Bukannya mencelakai orang lain seperti ini. Lihatlah putriku Zea ketakutan. Tega sekali kau lakukan ini Kevin." Syma lagi-lagi terisak.
"Sebab aku menyukainyalah, aku melakukan hal ini Syma. Nora sangat mencintai Ersad. Tidak ada ruang sedikitpun dihatinya untukku. Namun aku tetap berusaha agar dia bahagia, meski tidak denganku. Dan Kau adalah penghalang kebahagiaannya."
"Baiklah. Anggap saja aku sebagai penghalang kebahagiaannya. Lalu bagaimana dengan Zea? putriku itu tidak bersalah. Aku mohon lepaskan Ze... jika kau ingin menyiksaku, maka siksa saja aku. Tapi tolong lepaskan anakku. Aku mohon..... " ucap Syma mengangkat wajahnya. Menatap Kevin penuh permohonan.
"Percuma saja Kau memohon padanya. Aku tidak akan membiarkan Dia melepaskan kalian. Kalian harus mati disini," ucap Nora yang tiba-tiba datang. Di iringi oleh beberapa anak buahnya.
"Kau memang wanita iblis."
"HAHAHA. Terimakasih atas pujianmu." Nora tertawa jahat dan menatap Syma dengan sinis.
"Allah akan membalas setiap perbuatan kalian."
"Allah? dimana Allah itu? jika kau memang percaya padanya, kenapa dia tidak datang untuk menyelamatkanmu? Heh." Nora lagi-lagi tertawa mengejeknya.
"Aku percaya pertolongan Allah akan segera datang."
"Berhenti bicara omong kosong." Nora mengambil sebuah derigen yang berisi minyak dan menyiramkannya ke Zea. Sontak hal itu membuat Syma terkejut setengah mati.
Seperti orang kesetanan. Syma akhirnya berhasil melepaskan tali yang mengikatnya. Syma berlari mendekati Zea dan memeluk putrinya yang sudah berlumuran minyak itu.
"Wah sepertinya ini akan semakin menarik. Tadinya aku ingin membakar putrimu dulu. Tapi melihat perjuanganmu, aku tersentuh. Kalau begitu aku akan membakar kalian berdua secara bersamaan saja. Bagaimana?"
__ADS_1
Nora mengambil sisa minyak dan menyiramkannya di tubuh Syma. Tidak ada yang bisa Syma lakukan selain zikir dan berserah diri kepada Allah.
Namun ketika dia ingin menghidupkan pematik api. Tiba-tiba saja pintu terbuka secara paksa.
Ersad telah berdiri disana dengan wajah memerah karena murkanya.
"KEVIN? DASAR KAU PENGKHIANAT BUSUK." Ersad langsung saja merengsek maju untuk memukul Kevin. Namun pria itu dengan mudah mengelak setiap serangannya.
Dengan ahlinya Kevin mematahkan serangan Ersad secara mentah-mentah. Lalu menyerang balik dengan bertubi-tubi.
Kevin menerjang tubuh Ersad, hingga pria itu tersungkur.
"KEVIN. HENTIKAN... " teriak Nora mencoba membantu Ersad untuk berdiri. Namun Ersad menolak mentah-mentah bantuan Nora. Matanya menatap jijik terhadap wanita itu.
Kevin sendiri terdiam ditempatnya. Rasa cintanya, membuatnya seperti kerasukan setan. Dia bahkan tidak perduli siapa lawannya saat ini. Yang dia tahu, dia ingin melakukan ini untuk Nora.
"Menyerah saja Mas. Biarkan Syma mati. Dan biarkan aku memilikimu sepenuhnya," ucap Nora dengan tidak tahu malunya.
Namun Ersad malah menampar wanita itu dengan sekuat tenaganya. Hingga pipi Nora memerah dan mengeluarkan darah disudut bibirnya.
"Aku lebih baik ikut mati dengan mereka, dari pada harus dimiliki oleh wanita mengerikan sepertimu," ucap Ersad dingin dan tajam.
Melihat wanita yang dicintainya dipukul. Membuat Kevin naik pitam. Pria itu kembali menghajar Ersad habis-habisa dan tanpa ampun. Nora kembali berteriak agar Kevin menghentikannya.
"KEVIN BERHENTI. KAU BISA MEMBUNUHNYA."
Kevin memang berhenti. Kali jni tatapannya tertuju pada Nora. Dia menatap wanitanya tidak percaya. Bisa-bisanya Nora masih membela Ersad yang jelas-jelas sudah mencampakkan nya.
"Kau memang Bodoh, Nora. Kau mencintai pria yang bahkan menatapmu saja dia merasa jijik. Bisa-bisanya kau menyukai pria yang jelas-jelas menginginkan kematianmu. Tidak bisakah kau berpikir lebih waras sedikit? Hah !" Suara Kevin terdengar keras.
Mereka berdua sibuk berdebat. Tanpa sadar bahwa ada seseorang yang masuk ketempat itu secara diam-diam. Dan mengarahkan sebuah pistol tepat kearahnya.
DORRRR
TBC
AFF REAL
__ADS_1