TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 46: PARA PENGGANGGU


__ADS_3

Meski Revan tengah disibukkan dengan Zea. Tetap saja Ersad merasa muak melihatnya. Apalagi saat Revan dengan sengaja mencuri-curi pandang kearah Syma yang ada disebelahnya.


Sekelebat ide muncul dikepalanya. Kali ini Ersad mulai bertindak. Dalam hatinya berucap: Akan aku pastikan pria ini tidak akan datang lagi.


Syma tiba-tiba saja merasakan tangan hangat yang menyentuh perutnya. Tentu saja dia tahu siapa pemiliknya jika bukan suaminya sendiri. Dan hal itu membuatnya kaku. Bukan karena ingin menjaga perasaan Revan. Hanya saja dia begitu malu.


Tanpa melirik kearah Revan sekalipun, dia sudah tahu bahwa pria itu sudah terprovokasi.


"Kenapa Papa mengusap perut Bunda?"


Ersad terkejut mendengar suara Zea. Namun hal itu juga membuatnya girang. Karena dia juga bisa menggunakan Zea untuk menyulut emosi Revan.


"Karena ada adik bayi didalamnya. Papa yang membuatnya. Kemarilah, Ze bisa menyentuh perut bunda."


Zea mendekat dan menyentuh area perut yang tertutup jilbab panjang itu.


"Apa Ze merasakan sesuatu?"


Zea menggeleng bingung. "Tidak."


"Benar. Karena dia masih sangat kecil. Nanti saat perut bunda sudah membesar seperti balon. Ze pasti bisa merasakan tendangannya."


Merasa diabaikan, membuat Revan hanya menatap mereka dengan raut tak terbaca. Syma bisa melihatnya. Namun bukan karena tidak tega ataupun iba. Syma hanya merasa tidak sopan pada tamunya itu.


"Ze, lihat ayah sendirian disana. Ayo temani," ujar Syma lembut pada anaknya. Zea tidak menolak. Dia pun kembali mendekati Revan.


Namun sepertinya suasana hati Revan sudah berubah. Yang tadinya bahagia, sekarang berubah murung. Dia tidak ingin menunjukkan rasa sesak didadanya. Revan beranjak dari sana.


"Maaf Ze, sepertinya Ayah harus pulang sekarang. Ada pekerjaan yang harus Ayah urus." Revan menghentikan ucapannya. Dan mencium Zea. Lalu menatap Syma begitu dalam. "Aku pulang dulu," tambahnya lagi sebelum meninggalkan tempat itu.


******


Tadinya Ersad pikir, setelah kepergian Revan. Dia sudah bisa bernafas lega. Namun sayangnya tidak.


Kini dia juga harus berhadapan dengan orang yang tidak kalah menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Hariz.


Pria itu datang dengan santainya. Bahkan dia tidak perduli dengan tatapan penuh permusuhan dari Ersad.


"Mau apa kau datang kemari?" Pertanyaan yang membuat siapapun akan merasa terintimidasi. Namun hal itu tidak berlaku bagi seorang Hariz.


"Bertemu Syma."


"Untuk apa menemui istri orang?"


"Aku butuh penjelasan padanya mengenai Aina."


Kini Ersad beralih kesosok gadis cantik disebelah Hariz yang tak lain, adalah Aina. Dia baru sadar bahwa Hariz tidak datang seorang diri. 'Cih, sejak kapan ketua yayasan repot-repot datang kerumah wali siswa. Apa tidak punya pekerjaan lain?'


"Hariz, Aina? Ada apa?"

__ADS_1


"Kita harus bicara Syma. Ini mengenai Aina."


"Baiklah,"


Kali ini Ersad tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya mendengarkan percakapan mereka berdua membahas tentang Aina. Meski sebenarnya Ersad sangatlah bosan. Namun dia tetap harus bertahan menemani istrinya disana.


Tangannya merangkul pundak Syma dengan posesif, seakan menekankan pada Hariz bahwa Syma hanya miliknya. Tentu hal itu membuat Hariz jengkel dengan ulahnya. Bagaimana mereka bisa fokus jika Ersad dengan tidak tahu malunya menunjukkan kemesraan dihadapan mereka.


Syma sendiri merasa kikuk. Tentu dia malu dengan Aina. Sebab itulah, sesekali Syma melepaskan tangan suaminya secara perlahan. Meski hal itu percuma, karena ketika Syma berhasil melepaskan tangannya, Ersad kembali meletakkannya ketempat semula.


"Sepertinya itu saja Syma. Jika ada hal lainnya, sebaiknya kita bicarakan ditempat lain saja. Aku tidak suka dengan aura dan juga pemandangan disini. Kami pergi dulu, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


*****


"Mereka pergi."


"Dan itu berkatmu Mas. Tidak ada yang sanggup berlama-lama bertamu dirumah kita, terimakasih untuk itu," ucap Syma dengan senyuman, namun siapapun tahu bahwa dia sedang jengkel.


Ersad terkekeh mendengarnya. "Kau terlihat cantik kalau sedang marah," ucap Ersad sembari mengikuti langkah Syma yang menuju kamar mereka.


"Pembual."


"Ayolah Sayang, jangan marah-marah. Itu tidak baik untuk anak kita." Ersad membujuknya dengan pelukan hangat dari belakang. Istri mana yang tidak luluh jika suaminya sudah sepandai itu dalam merayu.


Syma membalik tubuhnya, Namun tidak melepaskan pelukan suaminya. "Jangan lakukan lagi."


"MASS...." rengek Syma dengan perasaan kesal.


"Heheh... baik, baiklah sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi dihadapan mereka. Ingat ! hanya dihadapan mereka. Jika kita sedang berdua seperti ini, maka aku bebas. Dan kau tidak punya hak untuk melarangku," ucapnya dengan pandangan penuh hasrat.


Syma mengangguk malu. Tentu saja Ersad tidak bisa lagi menahan godaan dihadapannya ini. Namun sayangnya, ketika baru saja dia ingin menyentuh bibir istrinya. Tiba-tiba saja bel kembali berbunyi. Menandakan ada lagi tamu yang datang.


Sontak Ersad menggeram murka.


"Sialan ! Siapa lagi yang datang sekarang !! Akan aku pecahkan kepala orang yang mencari alasan untuk bertemu istriku."


Syma terkikik geli mendengarnya. Dia pikir Ersad hanya bermain-main. Namun dugaannya salah.


Ersad segera turun dan benar-benar mengambil botol kaca untuk memecahkan kepala orang yang lagi-lagi mencari istrinya.


Namun saat dia membuka pintu. Tangannya sudah terangkat untuk memukul kepala orang yang ada dihadapannya. Sontak orang itu kaget dan langsung menunduk sembari menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Terlihat jelas bahwa orang itu sedang ketakutan.


"Ampun Pak. Saya hanya pengantar paket.... " Mendengar hal itu, membuat Ersad mengurungkan niatnya.


"Pengantar paket? siapa yang pesan paket, Hah !"


"Disini tertera atas nama Ersad Destara. Apa saya salah alamat. Kalau begitu maafkan saya Pak. Saya permisi," ucap Kurir itu cepat-cepat ingin pergi. Namun suara Ersad menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tunggu.


Saya Ersad. Kemarikan barangnya,"


Kurir itu berbalik dan memberikan paketnya. Dengan tangan bergetar, dia menyerahkan bulpen untuk ditandatangani. "Si-silakan tanda tangan Pak."


Ersad mengambilnya dan langsung menandatangani.


Syma yang sejak tadi sudah mengetahui perbuatan suaminya hanya berkacak pinggang dari belakang. Dia menggeleng tidak percaya pada suaminya ini. Bisa-bisanya bersikap biasa saja setelah membuat orang lain ketakutan.


"Sudah."


Cepat-cepat kurir itu menjauh dari sana. Dia sudah sangat ingin menghindari Ersad yang nampak mengerikan itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti. Kali ini bukan Ersad yang menghentikannya, tapi Syma. Dan hal itu tentu saja membuat Ersad bingung.


"Tunggu."


Kurir itu menelan kasar salivanya. 'Ya Allah... selamatkan hamba dari para manusia yang tempramen seperti ini,'


"Ada apa Syma?"


"Ada apa Mas bilang? sudah membuat orang takut malah bersikap biasa saja tanpa rasa bersalah sedikitpun."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Minta maaf."


"Apa?"


"Aku bilang minta maaf padanya."


"Em, tidak apa nyonya. Saya baik-baik saja. Lagi pula botol itu tidak jadi mengenai kepala saya. Lihatlah, kepala saya masih utuh," ujar kurir itu dengan perasaan tidak enak.


"Tidak bisa. Fisikmu mungkin baik-baik saja, tapi belum tentu dengan hatimu." Syma menghentikan ucapannya, lalu menatap Ersad dengan penuh tuntutan.


"Dengar Mas. Jika kita berdosa kepada Allah, maka Allah akan langsung mengampuni saat kita bertaubat. Tapi jika kita berdosa pada manusia, menyakiti hati dan perasaannya. Maka Allah tidak akan mengampuni sebelum kita meminta maaf pada orang tersebut.


Sangat berbahaya. Menyakiti seseorang kalau yang disakiti belum terima maka diakhirat akan ditagih dan dosa yang disakiti akan ditimpakan ke orang yang menyakiti," jelas Syma pada suaminya itu.


Kurir itu hanya menunduk ketika Ersad kembali menatapnya.


"Maaf."


.


TBC


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN. AUTHOR SANGAT TERHARU DENGAN VOTE LIKE DAN KOMENTAR YANG KALIAN BERIKAN. BIKIN AUTHOR JADI TAMBAH SEMANGAT NIH UP NYA. JANGAN BOSEN BOSEN PANTENGIN CERITA SYMA YA.


JAZAKUMULLAH KHAIRAN

__ADS_1


AFF REAL 😍


__ADS_2