TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 78: TAKE ME WITH YOU TO JANNAH


__ADS_3

"Barakallahu laka wa baroka alaika wa jama'a Bainakumaa fii khoirin (Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.”


Syma memberikan ucapan selamat atas pernikahan Hariz dan Aina. Mereka berdua terlihat memukau. Yang satu tampan, yang satunya lagi cantik. Dengan balutan gaun pengantin yang sangat indah.


Para tamu sampai terkesima melihat pengantin itu.


"Terimakasih Kak." Aina memeluk Syma dengan begitu haru.


Saat Deriya melangkah menemuinya, Aina hanya bisa tersenyum tipis. Dia sedang menahan sekuat tenaga air mata yang sejak tadi sudah berkumpul di pelupuk mata. Meski Aina bukan gadis lemah lembut. Namun dia juga masih punya sisi kemanusiaan.


Deriya telah mengasuhnya sejak kecil. Mengajarinya banyak hal. Begitu pula dengan Syma. Meski umur mereka tidak terpaut terlalu jauh. Tapi peran Syma sangat penting baginya.


"Jangan menangis! Bibi tidak ingin menghancurkan riasan wajahmu yang sudah sangat membuatmu seperti bidadari. Kau cantik sekali nak. Bibi ikut bahagia untukmu," ucap Deriya sembari memeluk Aina dengan penuh kasih sayang.


"Bibi.... Maafkan Aina yang selama ini menyusahkan Bibi. Aina bahkan belum bisa membalas semua kebaikan kalian padaku. Maafkan Aina," lirihnya disela isak tangis.


"Kalau ingin membalas, maka balaslah dengan berbakti pada suamimu. Itu sudah cukup bagi kami. Sudah, jangan menangis. Ini hari bahagiamu, Aina."


Hariz menyikut Aina setelah Deriya dan Syma sedikit menjauh dari mereka. "Berhenti menangis, kau seperti anak yang dipaksa menikah denganku. Itu ingusmu kemana-mana, nanti disorot kamera. Aku yang malu!"


Bahkan disaat seperti ini, Hariz masih saja menyempatkan diri membuatnya kesal.


Aina tidak menggubris ucapannya. Gadis itu membalasnya dengan menggosokkan hidungnya di jas Hariz. Seakan memang benar ada ingusnya disana.


Sontak hal itu membuat Hariz merasa jijik. "Dasar jorok!! Kau menodai jas mahalku!"


"Kau bilang, ada ingusnya. Aku tidak memegang tisu. Jadi aku lap saja di Jasmu. Dari pada disorot kamera, kau yang malu!"


Hariz menatapnya tidak percaya. Ingin sekali dia mencekik Aina saat itu juga. 'Dasar wanita jadi-jadian.'


"AINA!!"


Perhatian mereka teralihkan pada sosok pria yang berjalan mendekati mereka.


Vio datang dengan membawa sebuah kado ditangannya. Senyuman superiornya membuat Aina memutar matanya.


"Teman idiotmu datang," Bisikan Hariz ditelinga Aina. Aina sendiri berdecak dan melemparkan tatapan tajam padanya.


"Maaf aku terlambat."


"Tidak apa. Kehadiranmu juga tidak begitu penting."


"Heheh manis sekali ucapanmu Aina. Ini... Aku bawakan kado. Aku yakin kalian berdua akan suka."


"Terimakasih." Aina memberikan gestur untuk memeluk Vio. Namun Hariz cepat-cepat menghalanginya. Sehingga membuat Aina jadi beralih memeluknya.


"Apa-apaan kadal satu ini! Kami ingin salam perpisahan." Aina merutuk kesal.

__ADS_1


"Salam ya salam saja. Tidak perlu ada adegan peluk memeluk. Jaga sikapmu Aina. Kau istriku sekarang. Aku tidak ingin orang-orang berpikiran buruk. Dan Menjadikanmu buah bibir."


"Ck, kau cerewet sekali!"


"Baiklah Aina, Pak Hariz selamat untuk pernikahan kalian."


"Terimakasih Vio."


Setelah Vio tidak terlihat lagi. Tiba-tiba saja, datang segerombolan wanita cantik dan sexy mendekati mereka.


Aina pikir, para wanita itu ingin mengajaknya foto atau memberi selamat. Tapi dia salah...


Rupanya mereka hanya menyapa Hariz. Bercengkrama dan berfoto ria, tanpa memperdulikan mempelai wanita yang ada disebelahnya. Aina bahkan sampai menggeser sedikit tubuhnya.


"Ada apa dengan para betina ini? Seharusnya mereka menyapaku juga. Apa begini cara menikah para orang kaya?" Aina mendelik, saat menatap kearah mereka.


Aina sudah sangat bosan sekarang. Dia ingin acara ini segera berakhir dan tidur karena terlalu lelah. 'Tunggu. Apa aku kabur saja, ya! Lagi pula si kadal itu lagi sibuk dengan para betina. Ini kesempatan bagus, untuk kabur dan tidur dengan nyenyak.'


Aina mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Saat melewati para tamu undangan, dia bersikap manis dan biasa saja. Namun setelahnya dia langsung berjalan cepat dan menuju kamar yang ada dihotel itu.


Setelah sampai, Aina langsung melucuti hijabnya dan mengganti pakaiannya dengan sedikit santai. Lalu merebahkan diri dikasur untuk merehatkan tubuhnya.


'Uhhh, tubuhku terasa remuk semua. Tidur adalah pelarian yang tepat,' gumam Aina secara perlahan memejamkan matanya.


******


"Tidak. Aku hanya memikirkan Aina. Tidak kusangka gadis itu menikah secepat ini. Rasanya singkat sekali. Tiba-tiba saja dia sudah menjadi istri orang." Syma menatap lurus kedepan, sembari mengingat kenangan bersama Aina.


"Begitulah kehidupan Sayang.... "


"Perlahan, Anak-anak juga akan meninggalkanku. Yang tersisa hanya dirimu, Mas." Syma menatap suaminya dengan teduh.


"Mau bagaimana lagi? Memang seharusnya seperti itu."


"Terimakasih Suamiku. Terimakasih atas tanggung jawabmu.


Terimakasih atas pengorbananmu. Terimakasih pula atas didikanmu. Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tapi aku yakin kau bisa membawa kami kearah yang lebih baik." Syma berucap lembut sembari menyentuh wajah suaminya.


Ersad memegang tangan Syma dan sesekali menghirupnya. "Tidak Syma. Jangan berucap, seolah aku sudah menjadi suami yang sempurna untukmu. Aku bahkan belum pernah merasa cukup untuk membahagiakanmu. Pengorbananku bukanlah apa-apaan dibanding dengan pengorbananmu.


Jadi....


Katakan padaku, apa yang kau inginkan Syma? Aku akan memberikannya padamu, meski nyawa sekalipun."


Mendengar hal itu, Syma segera menutup mulut suaminya dengan beberapa jarinya.


"Suamiku... Istrimu ini tidak akan memintamu, membelikan pakaian sutra atau berlian mahal. Cukuplah engkau menjadi pakaian bagiku. Dari aib-aibku dan juga khilafku dengan kesabaranmu.

__ADS_1


Aku juga tidak akan meminta padamu membelikanku kendaraan mewah. Cukuplah engkau selamatkan aku dari murka dan azab Allah dengan keteladananmu.


Suamiku... Tidak perlu membawaku keliling dunia, agar aku bahagia. Cukuplah engkau, membawaku melewati pintu surga pilihanku, dengan keridhaanmu. Aku juga tidak akan meminta rumah yang mewah, cukuplah bangunkan rumah bagiku disurga dengan keshalehanmu....


Aku meminta semua itu, karena aku tahu dunia yang sementara ini tidak layak untuk menjadi prioritasku.


Bagaimana mungkin aku meminta banyak hal untuk dunia, sementara permintaanku akan akhirat bukanlah perkara mudah bagimu.


Tetaplah menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita. Jangan pernah goyah, walau bagaimana pun badai itu menghadang. Dunia memang indah, sehingga membuat kita terlena. Sementara akhirat itu lelah, namun memberatkan."


Ersad memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Betapa bersyukurnya dia memiliki istri shalehah sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan seberuntung ini dalam menjalani hidup.


"Aku sangat mencintaimu Syma. Dengan keridhaanku, akan aku pastikan surga itu akan menjadi milikmu. Kau layak menjadi ratunya para bidadari surga. Sehingga para bidadari surga akan iri melihatmu."


"Mas.... Take me with you to jannah?" Begitu lembut suara Syma saat mengucapkannya.


Ersad yang mendengarnya pun tersenyum lembut.


"Insya Allah."


Tidak bisa dipungkiri betapa bahagianya mereka. Kedua insan yang dipertemukan dengan cara yang tidak terduga.


Ersad yang dulunya berpikir akan menghabiskan sisa umurnya bersama Erika. Wanita yang menjadi cinta pertama dan wanita pertama yang mencintainya. Namun siapa sangka, hatinya malah berbelok dan berlabuh pada seseorang wanita yang memiliki satu orang anak.


Wanita yang memiliki segudang masalah. Yang dia pikir hanya sebagai tempat pelampiasan nafsu semata. Wanita itu membuatnya jatuh hati dan bisa merubah hidupnya secara drastis.


Ersad yang tidak mengenal Tuhan, sekarang menjadi lelaki sholeh yang takut akan siksa neraka.


Tidak pernah dia duga, Tuhan sebaik itu mengirimkan nya bidadari surga yang mengajarinya banyak hal tentang aturan agama.


Syma sendiri tidak menduga bahwa dibalik masalah dan cobaan yang menimpanya. Allah telah memberikan rencana yang luar biasa indah. Mempertemukannya dengan lelaki tulus dan bijaksana. Penyayang dan perduli pada keluarga. Dan sangat bertanggung jawab tentunya.


Tidak banyak yang Syma harapkan dari Ersad sebelumnya. Bahkan dia hanya meminta ikatan yang sah secara agama. Namun siapa sangka, kini bukan hanya ikatan Sah secara agama. Tapi juga secara hukum.


Kini mereka hidup bahagia. Dengan bekal iman yang kokoh diantara keduanya.


Meski cobaan dan rintangan akan berdatangan. Namun mereka tidak akan goyah dengan iman yang ada didalam diri mereka.


TAMAT.


Akhirnya cerita Syma dan Ersad sampai di penghujung episode. Terimakasih atas dukungan kalian. Mulai dari like vote dan hadiah. Author juga suka membaca komentar kalian kalo lagi gabut. Dan insya Allah author sempatkan membalas satu persatu.


Untuk kisah Aina dan Hariz akan tetap berlanjut.


Tinggalkan jejak kalian agar Author makin semangat nulisnya.


Se you next capt. Aina dan Hariz 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2