TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 68: AKU TIDAK INGIN PISAH


__ADS_3

"Keputusan yang salah bagaimana Pak Ustadz?" Syma sedikit cemas mendengar hal itu.


"Sebaiknya temui suami Anda secepatnya. Jangan sampai kata-kata terlarang keluar dari mulutnya. Karena hal itu sangat dibenci oleh Allah."


Bagaikan tersambar petir. Syma mulai menyadari maksud dari perkataan Ustadz itu. Dia segera berlari menemui suaminya.


Tubuh Syma bergetar, karena air mata yang kembali membanjiri pipinya. Dia meminta sang supir untuk segera mengantarnya menemui Ersad di rumahnya.


*****


.


Syma kini telah berdiri di hadapan suaminya. Sayangnya Ersad bahkan tidak ingin menatapnya. Bukan karena benci, tapi karena Ersad sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak memeluk Syma dan membuatnya semakin jauh.


Tanpa diduga, Syma mendekatinya secara perlahan.


"Aku tahu tujuanmu datang menemuiku, Syma. Aku tidak bisa memaksakan kehendakmu. Jika itu yang kau mau, maka baiklah." Ersad memejamkan matanya sejenak, dan menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Mulai sekarang aku... " Ersad menghentikan ucapannya saat menyadari Syma menarik kerah bajunya dan menempelkan bibirnya.


Tentu saja Ersad begitu kaget. Tidak pernah dia duga bahwa Syma akan melakukan hal itu. Padahal yang dia tahu bahwa hubungan mereka sedang renggang.


Lama, Syma menyatukan bibirnya dengan Ersad. Menumpahkan semua perasaan yang selama ini dia pendam. Rindu dan juga kasih sayang yang sempat tertahan kini menyeruak.


Ersad masih membeku. Menerima sentuhan Syma dengan suka rela, namun juga masih syok atas perbuatannya.


Sampai akhirnya Syma melepaskan ciuman itu dan menatap manik mata suaminya. Jarak mereka masih begitu dekat. Bahkan Syma tidak menggeser tubuhnya sedikitpun.


"Jangan pernah mengatakan hal itu, Mas. Demi Allah... Aku tidak ingin berpisah darimu," lirih Syma dengan mata berkabut.


"Syma... " ucapan Ersad tercekat. Antara senang bercampur kaget dan juga haru. Dia hanya mematung mencerna setiap ucapan Syma.


"Maafkan sikapku yang sempat kurang ajar padamu. Kau boleh menghukumku. Kau bahkan boleh memukulku jika perlu. Tapi tolong...


Tolong jangan ceraikan aku Mas...


Jangan pernah ucapkan kata perpisahan. Aku sangat mencintaimu. Sudah cukup aku kehilanganmu selama lima tahun. Dan sekarang aku tidak ingin kehilanganmu lagi."


Ersad menarik tubuh Syma kedalam pelukkannya. Sesekali dia mengecup puncak kepala istrinya. Matanya terpejam menikmati pelukan penuh kasih sayang yang penuh cinta.


"Bagaimana mungkin aku memukulmu Syma. Sementara melihatmu menderita saja aku tidak akan sanggup.


Aku tidak akan melakukan hal itu Syma. Aku juga tidak akan sanggup berpisah darimu. Bagaimana bisa aku bertahan hidup tanpa penyejuk dan juga pelita hatiku."


"Terimakasih. Tetaplah menjadi Imamku Mas...


Jangan pernah lelah mendidikku menjadi istri yang taat padamu."


"Pasti sayang. Pasti... "

__ADS_1


*****


"Aina, mari menikah."


"APA!!"


Hariz terjingkat kaget mendengar suara Aina yang melengking. "Kecilkan suaramu to*ol!"


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Kau tidak salah dengar. Aku mengajakmu menikah," sautnya datar tanpa ekspresi sedikitpun.


"Hah, apa Bapak se frustasi itu sampai menjadikan aku sebagai pelarian? Aku tidak akan mau!" Aina menaikan dagunya dengan angkuh.


"Ck, jangan sok jual mahal! Aku tahu kau menyukaiku."


Tentu saja Aina kaget mendengarnya. Meski ucapan Hariz tidak sepenuhnya salah. Namun Aina tidak suka caranya yang arogan saat berbicara. Seakan Aina tidak punya hak untuk memilih.


"Jangan terlalu percaya diri. Lagi pula, atas dasar apa aku setuju menikah denganmu? Aku tidak merasa punya hutang apapun!"


"Tapi aku kaya. Dan juga tampan...


Jika aku meminta pada wanita lain. Mereka pasti bahagia bukan main, menerima lamaranku!"


"Kalau begitu minta saja pada wanita lain. Aku tidak mau punya suami tua bangka sepertimu!"


Tanpa Aina sadari, ada seringai iblis terukir diwajah Hariz saat dia mengatakan hal itu. Hariz tahu Aina berani melawannya karena berada di lingkungan Syma. Dia pikir Hariz tidak akan berani padanya meski mereka berada disini.


"Ba-bapak mau apa?" Aina mundur secara perlahan saat Hariz tiba-tiba mendekatinya dengan seringai aneh. Bahkan Aina kesulitan menelan salivanya.


Oh tidak.


Dia baru sadar, bahwa disana tidak ada siapapun. Syma sedang sibuk dengan suaminya. Sementara Ceyda dan Mina sedang sibuk dengan anak-anak Syma.


Dan para pegawai telah pulang, karena jam kerja sudah habis.


Kini tinggal mereka berdua disana. Suasana seketika berubah horor bagi Aina.


'Ya Allah...


Selamatkan hamba dari iblis laknatullah ini!' gumam Aina yang masih bisa didengar oleh Hariz.


Pria itu langsung menyergapnya hingga Aina tidak bisa berkutik. Hariz mengunci tubuh Aina dengan menarik kedua tangannya keatas kepala Aina. Sementara kakinya dikunci.


"Astagfirullah, istighfar Pak!"


"Mau menikah denganku, atau terpaksa menikah denganku karena aku akan membuatmu hamil?"


"Apa tidak ada pilihan lain?" Aina menatapnya takut kali ini. Bahkan untuk melawan saja dia tidak mampu.

__ADS_1


"Pilihan ketiga, menikah denganku!"


"Itu sama saja bodoh!"


"Kau bilang apa!!" Hariz semakin menempelkan tubuhnya. Membuat Aina tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Aina sangat takut jika Hariz benar-benar nekat melakukan perbuatan keji itu.


"Baik-baik, aku mau menikah. Sekarang lepaskan aku!"


"Bagus." Hariz tersenyum senang mendengar keputusan Aina.


Aina bernafas lega saat Hariz melepaskannya. Biarlah apa yang akan terjadi nanti, yang terpenting sekarang dia setuju dulu. Dari pada menjadi santapan harimau lapar, batinnya.


Setidaknya setelah ini dia bisa kabur. Dan meminta perlindungan dari Syma.


'Dasar tidak ingat umur! Sudah bau tanah seharusnya memperbanyak ibadah!' sayangnya umpatan Aina kembali didengar oleh Hariz.


PLETAK


AW


Hariz menyentil dahi Aina dengan kesal. "Jangan berlebihan Aina. Umur kita hanya terpaut dua belas tahun. Aku masih sangat muda dan segar. Kau saja yang masih terlalu kecil!"


"Lalu kenapa harus aku? Seharusnya Bapak menikah saja dengan wanita dewasa seumuran Bapak. Jangan menjadikan aku tumbal seperti ini!" Aina mencibir kesal.


Diluar dugaannya, Hariz malah terkekeh. "Karena aku lebih suka daun muda yang masih segar sepertimu. Dan tidak punya pengalaman tentunya. Itu jauh lebih menantang."


"Dasar pedofil!" hardiknya.


"Berhenti mengumpat! Atau aku akan mengunci mulutmu ini dengan bibirku. Dasar bocah ingusan! Harusnya kau bersyukur aku mau menikahimu.


Memangnya pria waras mana yang mau menikah denganmu? Selain aku, tentunya."


"Ya, kau memang tidak waras. Kau sakit jiwa! Jangan mimpi ingin menikah denganku!!"


Aina segera berlari meninggalkan Hariz yang sudah sangat kesal, akibat ulahnya. Bahkan dari kejauhan dia masih sempat menjulurkan lidahnya, seakan sengaja mengejek Hariz agar semakin kesal.


"HEY AINA...


JANGAN COBA-COBA KABUR DARIKU! KAU AKAN TAHU AKIBATNYA... "


Sayangnya Aina tidak perduli dengan teriakkan Hariz. Dipikirannya hanya ada satu tujuan, yaitu kabur dari pria mengerikan seperti Hariz. Dia tidak ingin berurusan dengan pria itu.


"Dasar psikopat sinting! Menikah saja sana, dengan biawak. Aku tidak mau dijadikan pelarian."


****


TBC


HAYUK DUKUNG AUTHOR DENGAN LIKE KOMEN AND VOTE.

__ADS_1


TERIMAKASIH


AFF REAL


__ADS_2