TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 63: KISAH KITA BELUM TUNTAS


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" Revan menatap bringas, pada sekelompok orang berseragam yang telah mengepung perusahaannya. Tidak ada satupun penjaga yang bisa menahan sekelompok polisi bersenjata tersebut.


"Apa Anda yang bernama Revan? Pemimpin perusahaan ini?"


"Benar. Apa urusan kalian datang menemuiku!"


"Kami mendapat perintah untuk membawa Anda kekantor polisi."


"Atas dasar apa kalian ingin menangkapku?" Revan menggeram marah.


"Atas tuduhan penipuan dan juga pencemaran nama baik. Anda juga terlilit hutang pada perusahaan lain, yang sampai sekarang tidak ada data pembayaran."


"Hutang? Hutang apa? Jangan asal bicara, saya bisa menuntut balik!"


"Silahkan saja. Tapi untuk saat ini, lebih baik Anda jelaskan semuanya di kantor polisi."


Beberapa polisi itu segera meringkus Revan. Dan membawanya.


Tentu saja Revan memberontak, karena tidak Terima atas semua tuduhan itu. Namun tenaganya kalah jauh dibanding beberapa polisi itu sehingga dia hanya bisa pasrah.


*****


"Tunggu Syma... "


"Lepas!" Syma menghempaskan tangan Ersad dengan kasarnya. Dan mengangkat tangannya agar Ersad berhenti ditempatnya. "Jangan mendekat!"


"Syma aku... "


"Aku tidak mau dengar apapun darimu! Aku tidak tertarik untuk berbicara lebih lama denganmu.


Kau... bukan apa-apa lagi bagiku."


"Syma.... "


Syma segera pergi. Dia bahkan tidak memperdulikan Ersad yang berteriak mencoba untuk menghentikannya. Pada dasarnya Syma sangat belum siap untuk bertemu pria itu lagi.


Arghhhhh


"Sial! Bagaimana caraku menjelaskan semuanya.


Aku tidak akan melepaskanmu Syma. Ketahuilah bahwa kisah kita masih belum tuntas!"


*****


Wahai dzat yang Maha membolak balikan hati dan perasaanku. Aku mohon hilangkanlah rasa cintaku padanya. Kembalikan hatiku dulu disaat aku belum mengenal dan mencintainya.


Sebab aku sudah sangat lelah untuk terluka atas rasa cintaku padanya. Aku begitu lemah setiap kali berhadapan dengannya, dan aku tidak ingin kelemahanku ini mengalahkanku. Biarkan aku bahagia bersama anak-anakku, meski tanpanya.


Syma menangis dalam diam. Tidak perduli ketika sang supir sesekali memperhatikannya dari pantulan kaca. Syma tidak bisa menahan sesak didadanya.


"Kenapa? Kenapa disaat aku mulai melupakannya, dia malah muncul kembali dihadapanku.


Bodohnya hati ini tidak bisa diajak kompromi dengan pikiranku! Aku membencinya.... Tapi aku juga merindukannya.


Aku pernah mencoba untuk lari sejauh mungkin dari hatinya. Aku juga sudah berusaha mengubur sedalam mungkin, ingatanku tentangnya. Bahkan aku sangat ingin mematahkan rasa cintaku padanya...

__ADS_1


Namun kenapa hati ini tidak bisa melakukannya....


Semakin aku ingin menjauh, maka semakin besar pula ingatanku terhadapnya.


Tidak.


Aku tidak boleh lemah. Aku tidak bisa menerimanya lagi. Hubungan kami sudah berakhir. Aku tidak sanggup jika harus kembali terluka karena ulahnya." lirih Syma disela isak tangisnya.


Tanpa terasa. Syma akhirnya telah sampai kembali dikediamannya. Wajah sebabnya tidak bisa ditutupi. Semua orang bisa melihatnya.


Termasuk Aina yang saat itu sedang asyik bermain dengan Gokhan.


"Kak Syma, apa yang terjadi?" Aina begitu khawatir padanya yang nampak kalut.


"Tidak ada Aina. Apa Gokhan menyulitkanmu?"


"Tentu saja tidak. Meski dia anak yang super aktif, tapi aku sama sekali tidak kewalahan menjaganya. Aku masih bisa mengimbanginya," ucap Aina mencairkan suasana. Padahal dia sangat tahu hiburan seperti apapun tidak akan mumpan setiap kali Syma bersedih. Dan dia juga yakin kesedihan Syma disebabkan oleh satu orang.


Yaitu Ersad.


Tapi bukanlah pria itu menghilang! Apa dia telah kembali? pikir Aina.


"Aina, sebaiknya kau pulang. Sebentar lagi Magrib. Deriya akan khawatir nanti."


"Baiklah kalau begitu. Aina pulang dulu Kak. Assalamu'alaikum... "


"Wa'alaikumsalam."


Setelah kepergian Aina. Syma masuk kedalam rumahnya. Disana Ceyda sudah menunggunya dengan perasaan tidak kalah risau. Apalagi melihat wajah murung Syma.


Apa yang membuatmu menangis?"


Syma kembali bergetar. Dia memeluk Gokhan sembari menangis. "Mas Ersad Bu... dia tiba-tiba kembali. Dia sengaja mempermainkan perasaanku dengan kemunculannya."


"Bukankah itu bagus? Kau bisa menagih penjelasan atas kepergiannya selama ini, nak."


Syma menggeleng keras. "Tidak Bu. Aku tidak bisa....


Aku tidak ingin mendengar apapun darinya. Sudah cukup semua luka yang dia torehkan padaku. Sejak dia memilih untuk pergi, itu artinya dia tidak membutuhkanku lagi."


"Jangan sampai kau keliru Nak. Ibu tidak ingin kau menyesal sendiri nantinya. Tuntaskan rasa penasaranmu, dan tanyakan semuanya padanya. Ibu yakin ada sesuatu dibalik semua ini.... "


Syma tetap keras kepala. Dia kembali menggeleng dan menghapus air matanya. Matanya menatap lurus. Siapapun bisa melihat kekosongan di dalamnya. Kekecewaan juga nampak jelas diwajahnya. Syma yang dulunya hangat dan penuh ceria. Kini berubah menjadi dingin dan pendiam.


"Sudahlah Bu. Semuanya sudah berlalu. Aku juga tidak berharap apapun lagi padanya. Bagiku dia bukan apa-apa lagi. Terserah apa yang ingin dia lakukan, aku juga tidak peduli."


Syma segera beranjak menuju kamarnya. Meninggalkan Ceyda yang berubah murung memikirkan rumah tangga mereka yang begitu rumit. Dalam hatinya selalu mendoakan yang terbaik untuk kedua insan tersebut.


*****


SRRRRTTTTTTT


BRUKKKK


AW

__ADS_1


Aina terjatuh dari motornya, setelah menabrak mobil Porsche hitam yang mengerem mendadak dihadapanya. Suaranya terdengar keras, sampai bagian depan motornya sedikit hancur dan meninggalkan lecet parah dibagian belakang mobil tersebut.


Aina berusaha bangkit untuk memberi perhitungan pada si pemilik mobil itu. Namun dia nampak kesulitan karena kakinya terkilir sehingga dia lagi-lagi meringis kesakitan.


"Aw... Sakit sekali. Mobil sialan! Jika tidak bisa mengemudi lebih baik jalan kaki saja." Aina memekik kesal. Melihat motornya rusak parah, ditambah lagi kakinya yang sakit.


"Apa maksud ucapanmu?"


Aina mengangkat wajahnya, ketika pemilik mobil keluar dari mobilnya. Menatapnya dengan tangan disilangkan didada.


Sontak mata Aina melebar. Dia begitu terkejut melihat siapa pemiliknya.


"P-pak Hariz?"


Hariz sedikit berkerut mendengar Aina menyebut namanya. Lima tahun menghilang, membuatnya sedikit lupa dengan wajah Aina yang dulu tidak menarik dan terkesan kumel.


Tapi sekarang sangat berbeda. Aina sudah berubah menjadi gadis cantik dan mempesona. Meski wajahnya tanpa polesan make up. Namun tetap saja wajahnya nampak sedap dipandang.


Yang membuat Hariz semakin yakin itu adalah Aina. Dia melihat gaya berpakaian Aina masih tetap sama. Terkesan tomboy


dengan jeans yang selalu dia kenakan.


"Kau Aina?"


Aina mengangguk cepat. Entah dia harus senang atau apa. Yang jelas Aina sedikit terpaku menatap Hariz yang semakin terlihat tampan dan gagah.


"Ya Tuhan. Aina kau ceroboh sekali. Lihatlah apa yang telah kau lakukan pada mobilku!"


Seketika raut wajah Aina berubah. Semua kekagumannya seketika hilang. Dia menatap Hariz dengan jengkel. "Kenapa Bapak menyalahkan aku? Jelas-jelas Pak Hariz yang salah karena ngerem mendadak!"


"Kau ini bodoh atau apa Aina. Jelas-jelas didepan itu lampu merah. Yang tandanya harus berhenti. Kenapa kau masih melajukan motormu!"


Aina tergagap. Dia benar-benar tidak melihat posisi lampu sedang berwarna merah. Sekarang Aina merasa terpojok. Tentu saja semua orang akan menyalahkannya.


Aina tiba-tiba merubah ekspresinya seolah sedang sangat kesakitan.


"Aw.... Kakiku sakit sekali. Ya Tuhan, bagaimana ini. Aku tidak bisa merasakan kakiku lagi. Bagaimana aku akan berjalan."


Hariz yang melihat itu, tentu saja merasa iba dan tidak tega. Meski dia tahu, ucapan Aina dilebih-lebihkan. Tapi tetap saja, pasti gadis itu sedang kesakitan.


"Bapak mau apa?" Tanya Aina yang melihat Hariz tiba-tiba membungkukkan badan untuk meraup tubuhnya.


"Percuma saja kau merintih disini. Tidak akan ada yang kasihan padamu. Aku akan membawamu ke rumah sakit!" ucap Hariz sembari membawa Aina masuk kedalam mobilnya.


"Bagaimana dengan motorku?"


"Buang saja motor jelekmu itu!"


ERSAD DESTARA



HARIZ ENGGAR WIJAYA


__ADS_1


__ADS_2