TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 BUJUK RAYU AZKHAN


__ADS_3

"Mas, kau sudah pulang? Apa butuh sesuatu?" Mia menyambut Revan dengan senyuman manis dibibirnya. Namun berbeda dengan Revan yang malah menatapnya tajam.


Mia mengerutkan kening. "Apa aku melakukan kesalahan?"


"Kenapa Mia... Kenapa kau sangat ingin berpisah dariku! Apa yang kau lihat dari Azkhan, hingga begitu menginginkannya!"


Mia semakin bingung. Apa yang sebenarnya maksud dari ucapan Revan?


Mia menatapnya nanar. "Apa maksud ucapanmu, Mas? Katakan saja langsung intinya."


"Jangan berlagak suci, Mia. Aku benci dengan hal itu! Berhenti bersikap munafik!!"


Brakkk


Revan lagi-lagi membanting apapun di sekitarnya. Kondisi tempramennya sangatlah buruk sejak keluar dari tahanan.


Mia memekik kaget.


"Tidak bisakah bicarakan baik-baik setiap kali ada masalah, Mas. Apa semuanya akan selesai jika seperti ini!"


"Kau berharap aku bersikap baik, sementara kau sendiri begitu licik dibelakangku, Mia. Azkhan mungkin bisa mendapatkan hatimu, tapi mau sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa memilikimu. Kalian tidak akan pernah bisa menikah selama kau masih menjadi istriku. Kita hanya bisa bercerai jika aku sudah mati. Kau tidak akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, Mia. Tidak akan pernah."


Mia tersenyum kecut. Menatapnya miris.


"Mas bilang aku licik? Apa Mas lupa, bahwa aku pernah menjatuhkan harga diriku dengan memohon untuk terus bersama.


Menangis didepanmu.


Menjaga perasaanmu.


Hingga mengabaikan orang yang ingin mendekatiku, hanya demi mempertahankan hubungan yang tidak sehat. Masih mau bilang aku ini jahat?" Mia tertawa hambar sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Ternyata benar...


Lelaki tidak akan pernah ingat saat dia menyakiti perempuan. Tapi lelaki akan selalu ingat saat seorang perempuan menyakitinya. Seolah-olah dialah orang yang paling tersakiti.


Dan sekarang aku sadar Mas...


Bukan aku yang tidak memahamimu. Tapi dengan adanya aku disisimu. Tetap tidak membuatmu merasa cukup!" ucapnya pahit.

__ADS_1


Revan terhenyak. Pada kenyataannya memang dia tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Revan kerap kali langsung menghakimi tanpa berbicara dari hati kehati. Hanya karena dikuasai emosi dan amarah yang sulit untuk dikendalikan olehnya.


"Apapun yang ada dipikiranmu, aku tidak tahu. Yang aku tahu, prasangkamu selalu saja buruk terhadapku. Tapi itu tidak masalah untukku. Aku hanya berharap, semoga Allah tidak menghisabku kelak diakhirat Karena prasangkamu terhadapku. Tetapi aku akan diadili Olehnya, karena kenyataan perbuatanku sendiri."


Mia berbalik. Mencoba menghindari Revan untuk sementara ini dengan mengurung dirinya sendiri dikamar. Air matanya tak terbendung lagi. Dia sangat ingin memberontak seperti dulu. Dia juga sangat ingin meluapkan emosinya dan melampiaskan semua kekesalannya karena keadaan yang selalu saja tidak berpihak padanya.


Namun Mia sadar...


Bahwa dia sudah berubah sejauh ini. Dia sudah hijrah dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap istiqomah. Tapi kenapa jalan yang dia lalui begitu berat? Seolah takdir menginginkan dia kembali menjadi wanita jahat seperti dulu lagi.


"Aku sudah terbiasa ditampar oleh masalah seperti ini...


Aku sudah terbiasa berjalan diatas cobaan...


Aku juga sudah terbiasa makan dan minum ujian darimu, Ya Allah...


Tapi aku mohon...


Jangan pernah engkau renggut rasa sabar yang engkau tanamkan dihatiku ini. Agar aku tetap menjadi seorang wanita yang kuat demi anakku... "


*******


"Sampai kapanpun Ibu tidak akan menyetujui hubunganmu dengan janda sialan itu!" Esme berteriak keras. Agar Azkhan sadar bahwa semua bujuk rayunya hanyalah sia-sia.


"Apa yang kau lihat dari wanita rendah itu, Azkhan? Ibu bisa mencarikan wanita yang jauh lebih berkelas dari pada janda itu!"


"Tapi aku hanya menginginkan Mia, Bu..."


"Tidak. Sekali tidak tetap tidak!" Final. Keputusan Esme tak dapat dibantah. Namun bukan Azkhan namanya jika dia sudah kehabisan cara untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.


"Baiklah, jika Ibu tidak mengijinkanku dengan Mia. Maka mulai saat ini aku tidak akan pernah mau menikah dengan siapapun. Aku juga tidak mau menjalankan perusahaan Almarhum ayah lagi. Karena hatiku sudah hancur, maka biarkan saja semuanya hancur! Aku tidak mau peduli lagi!!"


Sontak hal itu membuat Esme melebarkan matanya. Dia benar-benar syok mendengar keputusan Azkhan yang tentu akan merugikan dirinya. Esme menatapnya murka.


"Dasar anak bodoh! Bagaimana bisa kau mengorbankan masa depanmu hanya demi janda murahan itu! Ibu tidak habis pikir dimana kau letakkan otakmu, Azkhan. Kau bodoh sekali!"


"Biarkan saja! Jika aku tidak bisa memiliki Mia, maka untuk apa semua kemewahan ini. Untuk apa jika harta berhargaku yang sesungguhnya tidak bisa aku dapatkan!!"


"Kau sudah gila, Azkhan. Wanita itu telah mencuci otakmu sampai kau menjadi tidak waras seperti ini!"

__ADS_1


"Terserah Ibu mau bicara apa! Yang jelas aku tidak main-main dengan ucapanku, Bu. Jika Ibu ingin melihatku hancur maka ikuti saja ego Ibu. Jangan pedulikan perasaanku!"


Azkhan langsung pergi. Meski Esme berteriak memanggilnya, namun percuma. Anaknya itu tetap melanjutkan langkahnya. Tanpa peduli dengan ekspresi Ibunya yang nampak frustasi karena ancamannya.


"Azkhan tunggu!! Azkhan!!"


Esme mengejarnya, sebelum Azkhan benar-benar pergi jauh. "Baiklah... Baik. Kau menang Nak! Mari kita bicarakan hal ini baik-baik."


Azkhan berhenti dan mengulum senyum kemenangan. Sepertinya sandiwaranya kali ini akan berhasil. Ibunya yang gila harta dan kedudukan sudah pasti tidak setuju jika dia berhenti dari menjalankan perusahaan Ayahnya.


Namun Azkhan menyembunyikan ekspresi bahagianya. Didepan Esme dia tetap bersikap dingin seolah masih merajuk pada Ibunya.


"Katakan apanya yang baiklah, Bu... "


Esme menghembuskan nafas beratnya. Tidak ada pilihan. Jika Azkhan meninggalkan perusahaan suaminya yang telah dibangun dengan susah payah hanya karena seorang wanita. Itu memalukan.


Untuk sementara ini, Esme memutuskan untuk mengalah.


"Baiklah Ibu setuju."


"Setuju apa?"


"Setuju dengan hubunganmu... Dan wanita sialan itu!" Esme berucap ketus. Namun meski begitu, Azkhan tetap tersenyum bahagia dan langsung memeluknya erat. Sesekali Azkhan mencium pipi Ibunya.


"Terimakasih Bu, terimakasih banyak. Aku tahu Ibu tidak bisa kekurangan harta."


"Apa katamu!"


"Eh, maksudku, aku tahu Ibu tidak bisa melihatku hancur, benar kan?"


Esme tersenyum terpaksa. "Yah, itu benar."


"Kalau begitu aku akan menemui Mia secepatnya. Dan memberitahukan berita bahagia ini secepatnya. Aku mohon Ibu jangan memasang ekspresi masam lagi saat bertemu dengannya. Bersikap baiklah terhadap calon istriku itu."


"Ck, iya-iya."


Azkhan begitu bahagia. Pria itu segera pergi dan melajukan mobilnya. Karena tidak sabar memberitahukan berita bahagia ini pada wanita pujaan hatinya.


"Akhirnya....

__ADS_1


Kita akan bersama Mia... "


*****


__ADS_2