
"Bagaimana kau mengetahui tempat semacam itu?" ujar Hariz menatap Vio tidak percaya. Setelah semua bukti mengarah kesana. Dan yang membuatnya terkejut, Vio tahu tempat seperti itu.
"Vio, jangan mengada-ngada ya ! kita sedang serius. Jika kau bercanda, maka aku akan menendangmu keluar dari mobil ini. Kau tidak lihat aku sudah sangat cemas. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka, kalau kita terlambat datang," ucap Aina dengan rasa jengkel nya.
"Percayalah padaku. Aku tahu tempat itu, karena dulu ayahku sering menyelundupkan bahan bakar ilegal disana."
"Baiklah Vio. Kita akan segera menuju kesana. Orang-orangku juga sudah memberi kabar, bahwa mereka juga akan kesana."
Mobil mereka melaju kencang, tidak perduli jalanan yang nyaris padat. Niatnya ingin menyelamatkan Syma, membuat Hariz sudah seperti pembalab hebat.
Dan tidak menunggu waktu lama. Mereka akhirnya sampai. Begitu juga orang-orang suruhan Hariz. Mereka memarkirkan mobil, sangat jauh dari tempat yang mereka curigai.
Hariz keluar dari mobilnya. Terlihat jelas keseriusannya ketika berbicara pada sekelompok orang bertubuh gempal diluar. Aina dan Vio hanya menatapnya dari dalam.
Karena merasa tidak sabar, Aina segera keluar dari mobil.
"Hey, Kau mau apa?" gertak Hariz yang membuat Aina menghentikan langkahnya.
"Tentu saja langsung masuk kesana. Kita harus cepat.... " ucap Aina sembari ingin berlari. Namun lagi-lagi terhenti, karena Hariz menarik kerah bajunya dari belakang, hanya dengan kedua jarinya.
Tentu saja Aina meronta.
"Dasar bocah tengil ! Apa kau tahu, Kita saat ini berhadapan dengan siapa? disana banyak segerombolan preman bersenjata. Jika Kau masuk begitu saja, maka sepuluh meter dari sana kau sudah tertembak dan mati konyol. Aku sih, tidak perduli kau mau mati atau bagaimana. Yang aku takutkan, mereka akan mengetahui kehadiran kita dan menggagalkan aksi penyelamatan ini. Kau paham."
Mata Hariz menatapnya tajam sesuai dengan ucapannya yang tidak kalah tajam. Nyali Aina seketika menciut. Sejujurnya dia tidak ingin mati sia-sia. Dan berakhir menyedihkan.
"Masuklah kedalam mobil," titah Hariz sembari membuka kembali pintu mobilnya.
Ketika Aina sudah didalam. Hariz setengah membungkuk dan memasukan sedikit kepalanya. Membuat jantung Aina nyaris copot karena jarak mereka jadi begitu dekat.
"Karena kalian berdua ikut kesini, jadi aku memberi perintah kepada kalian, agar mengawasi orang-orang yang mencurigakan disekitar sini yang bertujuan masuk kedalam. Segera hubungi aku menggunakan ini," ucap Hariz menyerahkan ponselnya. Sebelum kemudian kembali tegak, dan menutup pintu mobil.
Aina masih membeku ditempatnya. Sembari memegangi jantungnya yang berdegup keras. 'Astaga. Jantung ini kenapa?' gumam Aina yang bisa didengar oleh Vio disebelahnya.
"Kenapa dengan jantungmu, Aina?" tanya Vio bingung.
__ADS_1
"Tidak ada. Sudah jangan pedulikan aku."
******
Saat keyakinan mereka semakin mantap, bahwa Syma disekap disana. Membuat Hariz dan anak buahnya langsung masuk.
Para orang suruhan Hariz telah masuk lebih dulu. Mengendap-endap dan menghabisi para penjaga tempat itu satu persatu, dan secara diam-diam dengan serangan yang bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Tidak sia-sia, Hariz mengandalkan orang kepercayaannya. Setiap kali mereka menyerang, selalu saja bersih tanpa meninggalkan jejak dan kebisingan.
Saat semua penjaga hampir lenyap. Hariz juga berhasil mendapati sebuah ruangan yang ternyata tidak tertutup rapat. Di sela pintu, dia bisa mendengar seseorang sedang berdebat. Lalu suara tangis seorang anak kecil yang dia sangat yakin itu adalah Zea.
Hariz mendapatkan kesempatan bagus. Dia bisa langsung mengarahkan senjata apinya kearah Kevin yang sedang sibuk berdebat dengan Nora.
Hanya dalam hitungan detik.
DORRRRR
Nora dan Syma berteriak. Melihat Kevin ambruk dengan peluru yang bersarang dikepalanya.
Pandangan Hariz kini tertuju pada Ersad yang mencoba bangkit. Kini dia tahu kenapa pintu sudah terbuka saat dia masuk. Dia yakin bahwa saat Ersad masuk. Pria itu pasti menerobosnya. Hanya saja yang dia heran, kenapa Ersad bisa masuk dengan mudah padahal masih banyak penjaga diluar.
"Menyerahlah.... " Hariz kembali menodongkan senjata kearah Nora.
Namun herannya, wanita itu tidak terlihat takut sedikitpun. Dia justru mengangkat wajahnya dengan angkuh.
Dan yang lebih mengejutkan. Rupanya Nora sedang memegang sebuah pematik api ditangannya yang juga langsung dia arahkan ke Syma dan Zea.
"Kau ingin membunuhku, Hah ! maka sebelum kematianku, api ini akan menjalar ketubuh Syma dan anaknya. Aku akan membawa mereka keneraka bersamaku. Bagaimana? menarik bukan?" ucap Nora dengan seringai iblisnya.
Hariz menggeram murka melihatnya. Apalagi melihat Syma yang sudah berlumuran minyak. Dia yakin Nora pasti sudah menyiapkannya sejak awal.
"Brengsekkk. Wanita terkutuk ! lepaskan Syma," Hariz mencoba menggertaknya. Namun kekehan Nora semakin terlihat jelas.
"Tidak akan. Kami akan mati bersama. Jika aku tidak bisa mendapatkan Mas Ersad, maka wanita ini juga tidak boleh."
__ADS_1
Saat Nora kembali menatap Syma dan mencoba melempar alat yang apinya sudah hidup. Ersad tiba-tiba melompat kearahnya dan menyergapnya.
Mereka akhirnya bergelut untuk memperebutkan alat itu.
Sementara itu. Tiba-tiba saja Revan datang bersama Mia. Mereka langsung mengamankan Syma dan Zea.
Hariz yang membeku ditempatnya menjadi bingung. Bukankah seharusnya dia yang mengamankan Syma. Kenapa jadi Revan yang baru saja datang dan tidak bersusah payah masuk kesana? Sial... sepertinya aku kalah cepat dari si brengsek itu," ucapnya menyusul Revan yang membawa Syma. Tanpa memperdulikan Ersad yang masih berurusan dengan Nora.
******
Hariz menatap datar, pada Revan dan Mia yang sedang sibuk membersihkan tubuh Zea. Lalu tatapannya berubah tajam kearah Aina dan Vio.
'Ssttt ada apa dengan orang ini? kenapa aku merasa tidak enak dengan tatapannya,' bisik Vio menyikut Aina.
'Diam bodoh. Dia bisa mendengarmu.'
"Apa yang kalian lakukan sejak tadi? bukankah sudah kukatakan untuk memberitahuku, jika ada orang yang masuk," tanya Hariz datar dan dingin.
"Tapi Bapak tadi bilang, harus orang yang mencurigakan. Dan kami tidak merasa bahwa Kak Revan itu mencurigakan."
Hariz menghela nafasnya Sesekali dia memijit pangkal hidungnya. Lalu suara Syma tiba-tiba mengalihkan perhatiannya.
"Mas Ersad masih didalam. Kenapa kalian tidak membantunya?"
"Tenanglah Syma. Aku yakin dia tidak mungkin kalah dalam melawan wanita itu."
"Tapi kondisinya juga tidak kalah buruk. Bagaimana jika Nora meledakkan tempat itu."
Hariz terdiam. Bukan karena memikirkan Ersad. Namun dia sedikit kesal, karena Syma malah memperdulikan suaminya itu.
Baru saja Hariz ingin menghubungi anak buahnya. Tiba-tiba saja, terlihat Ersad berlarian kearah mereka.
"Kita harus pergi dari sini sekarang juga. Anak buah sialanmu itu ingin meledakkan tempat ini." Ersad langsung membawa Syma masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan Revan.
Berbeda dengan Hariz yang masih bergeming disana. 'Kenapa jadi mereka yang memerintahku? jelas anak buahku melakukan itu untuk menghilangkan jejak'
__ADS_1
Lalu dia sadar ketika mendengar teriakan Aina dan Vio.
"PAK HARIZ AYO PERGI SEKARANG JUGA ! KAMI TIDAK MAU MATI KONYOL DISINI.... "