
"Sayang, kenapa Kau diam saja?" Syma sedikit tersentak, saat tiba-tiba mendengar suara Ersad. Membuyarkan lamunannya, tentang Ceyda yang tidak kunjung kembali. Bahkan karena terlalu lama menunggunya, Ersad sampai kesal dan mengajak Syma beserta putrinya pulang.
"Em... tidak apa Mas."
Sayangnya Ersad bukanlah tipe orang yang mudah dibohongi. Meski mulut Syma berucap tidak, namun Ersad tahu bahwa ada yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.
"Kau tidak pandai berbohong, Syma. Katakan ada apa?" Ersad menarik Syma agar menatapnya.
Syma menatap nanar mata suaminya sebelum mengatakan yang sebenarnya. "Aku hanya penasaran dengan nama Ibumu? jika aku boleh tahu, siapa namanya?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu?" jawab Ersad dingin. Pertanyaan itu sudah jelas, merubah ekspresi Ersad yang tadinya hangat berubah sedingin es.
"Ha-nya ingin tahu saja." Syma sedikit takut saat menjawabnya.
"Tidak perlu tahu. Karena itu bukan hal penting untuk diketahui." Ersad menangkup pipi istrinya sebelum melanjutkan ucapannya. "Dengar Syma. Aku sudah bahagia dengan kehadiran kalian disisiku. Aku tidak membutuhkan yang lainnya lagi. Jangan pernah menanyakan hal yang membuat hatiku kembali sakit saat mengingat kembali tentang wanita itu. Karena dia tidak akan pernah menjadi bagian dari kita. Kau mengerti, kan?"
Syma hanya mengangguk. Meski dia ingin sekali menyela ucapan suaminya. Karena baginya tidaklah pantas bagi seorang anak menganggap orang tuanya sudah tiada, sementara orang tuanya masih ada. Namun dia menelan semua ucapannya, karena sadar mood suaminya sedang buruk. Dia tetap akan membahasnya lagi saat mood suaminya kembali baik.
******
"Bibi Deriya, apa Nyonya Ceyda sudah datang?"
"Bibi rasa belum. Memangnya kenapa?"
"Tidak ada Bibi. Aku hanya mencarinya saja. Bukankah biasanya dia sudah datang di jam seperti ini," ucap Syma sedikit kecewa, karena dia ingin segera mengatasi rasa penasarannya dengan wanita itu.
"Tunggu saja sebentar lagi. Dia tidak mungkin tidak datang hari ini. Karena sudah berjanji pada Aina untuk menemaninya berbelanja kebutuhan dapur yang sudah hampir habis."
Dan benar saja. Setelah Deriya berucap, Ceyda pun datang. Syma tersenyum senang dengan kehadirannya. Namun wanita itu malah sedikit canggung padanya.
"Nyonya Ceyda, apa Anda baik-baik saja? suamiku menunggu lama kemarin. Padahal aku sangat ingin sekali memperkenalkan kalian."
"Maaf Syma. Mungkin lain kali saja. Aku sedang tidak enak badan kemarin, jadi langsung pulang begitu saja."
Syma bisa melihat raut kebohongan dari caranya berbicara. "Em baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali, atau Nyonya mau main kerumahku?" Syma sengaja memancingnya, untuk melihat ekspresi wajahnya.
Dan benar saja. Ceyda kembali tegang mendengarnya. Dia langsung memberi gestur penolakan secara terang-terangan.
"Maaf Syma, sepertinya tidak bisa. Oh iya, dimana Aina. Kami harus berbelanja."
"Biar aku panggilkan."
__ADS_1
Syma segera melangkah mencari keberadaan Aina.
"Kak Syma?"
"Aina bisakah kau membantuku?"
"Membantu apa?"
Syma membisikkan sesuatu ditelinga Aina. Tadinya gadis itu bingung dengan apa yang dikatakan oleh Syma. Namun saat Syma menjelaskan semuanya, Aina akhirnya mengerti dan mau menjalankan misinya ini.
"Baik Kak. Aina akan lakukan seperti yang Kak Syma katakan," ucap gadis itu antusias.
"Anak pintar."
******
"Syma... kenapa kau menghindar dariku?" Hariz mengimbangi langkah Syma yang mencoba untuk lari darinya.
Tadinya dia pikir setelah lepas dari Revan, tidak akan ada lagi pengganggu yang lain. Tapi ternyata masih ada. Bahkan yang jauh lebih menyebalkan dari Revan. Hariz adalah tipe pria yang tidak mudah menyerah begitu saja.
"Astaga... Hariz hentikan. Berhenti mengikutiku? Apa kau tidak punya pekerjaan lain?"
"Aku akan berhenti, tapi kau juga berhenti. Aku mohon Syma, duduk dan dengarkan aku bicara. Aku hanya ingin bicara denganmu saja." Hariz memelas saat mengucapkannya.
"Katakan?"
"Em, bagaimana keadaanmu?"
"Keadaanku baik. Janinku sehat dan keluargaku baik-baik saja. Apa ada hal lain yang jauh lebih penting dari pertanyaanmu? jika tidak maka sebaiknya kau pulang sekarang. Karena jika Mas Ersad lihat, dia pasti akan mengamuk."
"Apa kau mencintainya? kau bahagia bersama pria itu?"
Kali ini Syma menghembuskan nafas gusarnya. Benar-benar jengah dengan pertanyaan tidak masuk akal dari Hariz.
"Tentu saja aku mencintainya. Jika tidak, mana mungkin aku bertahan sampai sejauh ini dan mengandung calon anaknya. Dan kami sangat bahagia. Apa kau pikir, aku ini wanita penyabar yang akan tetap bertahan dengan sikap bejat suaminya? jangan konyol Hariz.
Suamiku itu penyayang. Dia bahkan bisa menerima Zea. Meski Zea itu bukan putri kandungnya."
"Mungkin itu hanya dihadapanmu Syma. Tapi tidak dibelakangmu."
"Cukup.
__ADS_1
Apa yang kau inginkan sebenarnya. Sebaiknya katakan dengan jelas."
"Aku mencintaimu Syma. Perasaan benci yang pernah aku rasakan dulu, adalah perasaan cinta yang terabaikan. Aku pernah membencimu sekaligus pernah mencintaimu dulu. Namun sekarang yang tersisa hanyalah rasa suka. Aku tidak bisa...... "
"Dan kau sudah terlambat. Aku ini Istri orang. Dan orang tersebut adalah saudaramu sendiri." Syma sengaja menekankan ucapannya.
"Akan aku rebut jika perlu," satunya enteng.
Syma berdecak kesal. Matanya menatap tajam pria itu.
"Kau adalah saudara seiman suamiku. Dengan merebutku darinya sudah menunjukkan betapa rendahnya dirimu dibandingkan dirinya.
Katakan padaku, alasan apa yang membuatku harus memilihmu dibandingkan suamiku sendiri? kau cukup tampan. Kaya... sudah pasti. Tapi saat aku melihat suamiku... semua yang ada pada dirimu, ada juga didalam dirinya.
Bahkan lebih dari itu.
Dan yang ada didalam diri suamiku. Tidak akan pernah ada didalam dirimu."
Hariz terhenyak saat mendengarnya. Syma bukan hanya menolaknya. Tapi juga menoreh hatinya sampai hancur tak tersisa. Begitu sakit dan sesak dia rasakan didadanya.
Tanpa mereka sadari.
Ada sepasang mata menatap mereka. Tadinya pandangan itu begitu tajam, namun sekarang berubah teduh.
Ersad telah mendengar semuanya. Tidak ada yang terlewat sedikitpun. Tadinya dia ingin langsung saja, menghajar Hariz habis-habisan. Namun dia menahannya. Dia tidak ingin Hariz memanfaatkan hal itu untuk menunjukkan pada Syma bahwa dia jauh lebih baik.
"Tapi Syma..... "
"Apa belum cukup puas jawaban dari istriku tadi?"
Kali ini Ersad yang bersuara. Mereka berdua menoleh kearah pria yang perlahan mendekat dan memeluk pinggang Syma dengan posesif.
"Kau sangat menjijikan. Aku pikir selama ini kau sudah puas merebut segalanya dariku. Mulai dari Ayahku sampai semua harta bendanya. Aku tidak pernah sekalipun mengusik hal itu darimu. Padahal aku Putra pertama dari Enggar Wijaya.
Dan sekarang....
Kau mencoba untuk merebut istriku. Cih, langkahi dulu mayatku. Dan kalaupun istriku memilihmu... aku tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi.
Tidak akan pernah."
.
__ADS_1
TBC