TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 34: AKU BENCI DIABAIKAN


__ADS_3

"Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" ucap Syma tajam. Dia sangat tidak ingin mendengar hal yang tidak masuk akal dari Hariz karena memanfaatkan situasi ini.


"Ikut denganku kesebuah acara amal nanti malam. Sebagai rekan sekaligus pasangan dalam acara itu,"


Syma mendengus saat mendengarnya. Seketika wajahnya berubah menjadi sinis. "Untuk apa? Ingin mempermalukan aku disana?" tuduhnya.


Hariz terkekeh mendengarnya. "Aku memang membencimu Syma. Bukan hanya karena masalalu mu, tapi juga karena kau adalah istri dari saudara tiriku. Tapi...


Aku tidak selabil itu ingin mempermalukan dirimu disana. Bagiku, melihatmu dibenci oleh saudaraku itu sudah cukup, untuk membalas semua dendamku padamu."


"Lalu untuk apa Kau mengajakku kesana?"


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Yang terpenting adalah kau harus ikut. Dan jangan terlambat," ucapnya penuh penekanan.


"Kau memaksaku?"


"Anggap saja begitu," cetusnya.


Syma membuang wajahnya malas. Dan menghembuskan nafas beratnya. "Terserah Kau saja," ucapnya sebelum melangkah pergi dari sana.


******


"Kau menyembunyikan istriku disini?" Tanya Ersad pada Revan yang entah sejak kapan mereka sudah berada dipanti asuhan.


Melihat Revan yang sedang asik bercengkrama dengan Zea, membuat Ersad menggeram marah. Meski dia bukan ayah biologis dari Zea, namun rasa sayangnya pada anak itu membuatnya cemburu jika Zea bersama pria lain. Apalagi orang itu adalah Revan.


"Istri mana yang kau maksud? Nora? atau Syma?" Saut Revan memperlihatkan wajah tidak sukanya dengan kehadiran Ersad.


Dan hal itu semakin membuat emosi Ersad terpancing.


"Jangan ikut campur dalam urusanku. Cepat katakan dimana Syma?" ucap Ersad pelan, namun penuh dengan ancaman. Dan sayangnya Revan tidak takut sama sekali dengan ancamannya.


"Memangnya kenapa jika aku ikut campur? Aku berhak meyakinkan Syma untuk kembali lagi padaku," Revan sengaja semakin membuat kemarahan Ersad tersulut. Agar semua orang menilai buruk dirinya.


"Beraninya Kau! Apa kau lupa dengan apa yang telah kau lakukan padanya?"


"Lalu Kau sendiri? Apa Kau sadar apa yang telah kau lakukan saat ini padanya? Kau bersikap seolah menjadi pahlawan dalam hidupnya. Setelah dia mencintaimu, kau malah menyakitinya.


Aku memang bersalah padanya. Dan semua itu semata-mata karena fitnah. Tidak sepertimu yang dengan sengaja menyakiti Syma. Jadi apa salah, jika aku ingin melindunginya lagi?"


"Tidak ada yang benar dalam melindungi istri orang lain. Dia istriku, dan hanya aku yang berhak atas dirinya. Camkan itu!" Ersad menatapnya tajam. Menunjukan raut permusuhan secara terang-terangan.


"Mas Ersad?"

__ADS_1


Suara Syma yang tiba-tiba, membuat kedua orang yang seakan hendak beradu tinju itu mengalihkan perhatian mereka.


"Dari mana?"


Entah kenapa ucapan Ersad bukan seperti sebuah pertanyaan bagi Syma. Tatapannya yang tajam seolah sedang mengintimidasi.


Dan belum sempat Syma menjawab, Ersad kembali membuka suaranya. "Ayo pulang."


Tanpa menunggu tanggapan dari Syma. Ersad langsung merebut Zea dari Revan dan membawanya pergi dari sana.


Syma menatap Revan sekilas sebelum akhirnya menyusul langkah Ersad dengan terburu-buru.


******


Menu makan malam sudah Syma siapkan dengan sempurna. Meski perasaannya begitu sakit melihat suaminya bersama wanita lain. Namun tugasnya sebagai istri, tetap dia laksanakan dengan baik.


Langkah kaki dari kejauhan terdengar ditelinga Syma. Dia yakin, itu adalah Ersad dan Nora yang baru saja menuruni tangga untuk makan. Namun Syma tidak berniat untuk menoleh apalagi menatap mereka.


Keterdiaman Syma membuat Ersad merasa diabaikan. Apalagi melihat Syma yang hanya fokut menyuapi Zea. Tanpa memperdulikan kehadirannya disana.


"Mas, aku mau makan diluar... Sepertinya makanan ini tidak terjamin kebersihannya," Celetuk Nora menatap jijik kearah masakan Syma.


Syma tidak memperdulikan ucapan Nora. Baginya hal itu hanyalah angin lalu. Meladeni Nora akan membuat hatinya menjadi panas. Bagaimana pun juga Syma terkadang tidak bisa mengontrol emosinya, ketika sedang marah. Dan dia tidak ingin membiarkan setan menguasai dirinya.


"Jika tidak suka, maka jangan dimakan. Aku terlalu lelah untuk keluar, jadi tidak ada pilihan bagiku selain memakan masakannya." Ersad sedikit melirik kearah Syma. Namun wanita itu tetap saja bersikap dingin dan fokus pada Zea.


"Itu enak, karena Kau rakus! Aku bahkan jijik melihatnya," Tukas Nora yang membuat Ersad langsung menatapnya tajam.


"Kenapa Bibi ini bicaranya kasar sekali?" Zea mencebik melihat Nora.


"Bibi? Apa kau pikir aku ini bibimu.... "


"Hentikan Nora! Jaga etikamu dihadapan Zea. Aku tidak ingin dia meniru perilaku kasarmu itu!"


Sontak Nora langsung pergi ke kamarnya sembari menghentakkan kakinya. Dia begitu kesal melihat Ersad malah membela Zea. 'Dasar setan kecil, sialan !' maki nya pelan.


"Apa Bibi itu marah pada Ze? Apa Ze harus minta maaf padanya?"


"Tidak perlu Ze, Ze tidak salah. Sekarang habiskan saja makanannya, lalu tidur."


Syma tertegun mendengar Ersad bersikap lembut dihadapan Zea. Sementara dia tidak pernah lagi bersikap seperti itu padanya. Bahkan kehadirannya saja tidak dianggap. Syma merasa semua yang dia lakukan tidak ada artinya.


Namun dia tidak bisa memungkiri ada rasa syukur didalam dirinya, karena Zea tidak harus mendapatkan prilaku kasar dari Ersad. Meski Ersad begitu membencinya.


*****

__ADS_1


Entah hal apa yang membuat Ersad tiba-tiba tidur dengan Syma malam ini. Padahal sejak pernikahannya dengan Nora, dia selalu tidur bersama wanita itu.


Namun Syma tidak ingin bertanya. Dia terlalu malas untuk menanyakan hal itu. Sikapnya yang berubah, membuat Ersad semakin merasa diabaikan.


Bahkan saat menyiapkan pakaian Ersad pun, Syma hanya meletakkan, setelah itu membaringkan tubuhnya dikasur untuk memejamkan mata. Meski pikirannya melayang entah kemana.


Dan hal itu membuat kesabaran Ersad habis sudah. Dengan keadaan handuk yang masih melilit pinggangnya, dia menyibakkan selimut yang digunakan Syma. Dan memaksa wanita itu membuka matanya.


"Aku benci diabaikan seperti ini," ucapnya sembari menindih tubuh Syma dan menahan kedua tangan Syma agar tidak bisa bergerak.


"Kenapa? Bukankah Kamu sendiri yang memulainya?


Jangankan kehadiranku, bahkan perasaanku sekalipun tidak pernah diperdulikan. Tapi aku tetap melakukan tugasku sebagai istrimu.


Tidakkah Kamu sadar, sudah sejauh mana Kamu menyakitiku?


Aku lebih baik disakiti dari segi fisik, dari pada harus batinku yang tersiksa." Ersad melepaskan tangannya. Tatapannya teduh, namun tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Syma duduk di hadapannya dengan jarak begitu dekat. Untuk memperlihatkan pada Ersad bahwa kepedihan terlihat jelas dimatanya.


"Kenapa? Kenapa Mas tidak percaya padaku? Kenapa harus menghukumku dengan cara seperti ini.... "


Ersad tidak menoleh kearahnya sedikitpun. Karena dari nada suaranya, dia sudah yakin bahwa Syma sudah meneteskan air matanya.


"Sayangnya dalam hal ini, aku tidak berdaya," ucapnya tersenyum miris. Sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Aku diam


Karena ke terpaksaan.


Aku sabar


Karena suatu keharusan.


Aku mengalah


Karena ketidakmampuanku.


Aku menangis


karena lemahnya hatiku.


Dan Aku tegar


karena memang sudah takdirku."

__ADS_1


TBC


__ADS_2