
"Rasanya sakit sekali."
"Kalau begitu jangan biarkan mereka hidup tenang. Balas perbuatannya, Azkhan. Hancurkan mereka sampai pada akhirnya kedua orang itu memohon dikakimu untuk meminta belas kasihan darimu!" Emosi Esme semakin meledak-ledak. Tidak Terima dengan melihat putranya diperlakukan seperti ini.
"Aku akan melakukannya, Ibu. Mia akan menyesali keputusannya. Dia akan sadar bahwa satu-satunya orang yang bisa diandalkannya hanyalah aku!" ucap Azkhan dengan tekadnya. Membuat Esme tersenyum jahat karena saat ini anaknya mulai sadar. Dan berada di pihaknya.
"Hapus air mata kebodohanmu, Nak. Kau tidak pantas menangisi seorang jalang menjijikan itu!"
"Mia akan memohon padaku."
****
Revan melempar asal ponselnya. Kabar tentang kebangkrutan perusahaannya telah menyebar luas. Kasusnya hampir sama saat Ersad menjatuhkannya dulu. Tapi sekarang, malah sepupunya sendiri yang berbuat demikian.
Kegusaran Revan tidak luput dari perhatian Mia. Wanita itu sejak tadi memperhatikannya.
"Mas... " Mia menyentuh pundak suaminya. Berusaha memberikan kekuatan meski dia tidak tahu letak permasalahannya dan bagaimana solusinya. Namun Mia hanya ingin suaminya tahu bahwa dia akan selalu ada untuknya.
"Azkhan tidak main-main dengan ucapannya... " Revan berucap lirih. Menarik kasar rambutnya dan sesekali menghembuskan nafas gusarnya. Tanda kegelisahan menyelimuti pikirannya.
"Ketika kamu lelah dan ingin menyerah. Maka ketahuilah bahwa pertolongan ALLAH hanya berjarak antara kening dan sajadah."
Revan mengangkat wajahnya. Menatap kedalam manik mata sang istri yang kini memandangnya dengan lembut dan penuh cinta. Mia menguatkannya. Memberikan solusi yang tepat untuk masalahnya. Dan perasaan Revan bergetar mendengar hal itu.
Revan bahkan lupa, kapan terakhir kali dia bersujud. Revan bahkan lupa kapan terakhir kali dia menggelar sajadahnya. Dan kini... Sang bidadari telah mengingatkannya. Bahwa tidak ada ujian yang tidak ada solusinya.
Revan menunduk. Bukan karena ragu bahwa do'anya tidak akan dijabah. Namun dia malu.
Malu pada Robb nya, karena pada saat musibah datang dia baru ingin meminta. Saat musibah datang, dia baru bersujud. Revan menunduk malu pada dirinya sendiri yang merasa waktunya hanya dihabiskan untuk urusan dunia yang sementara.
__ADS_1
Revan menggenggam tangan istrinya. Lalu menghirupnya dalam. "Maaf... Bahkan sampai saat ini aku masih saja menyulitkanmu."
"Jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang menginginkan musibah terjadi. Kita pasti bisa melewati ini, Mas."
Revan tersenyum. Kenyataannya sangat bertolak belakang. Rasa khawatir dan putus asa melandanya. Kini dia ragu apakah keputusan yang dia ambil sudah benar. Namun pelukan dari sang istri kembali menyadarkannya. Seolah mentransfer seluruh kekuatan untuknya. Agar berusaha dan mencoba bangkit kembali. Berharap keajaiban akan datang.
"Aku lelah, Mia... Aku lelah selalu seperti ini. Tidak bisakah hidupku tenang sebentar saja?!"
Mendengar hal itu, membuat Mia mundur perlahan. Dan duduk diranjangnya. Sembari mengulurkan tangannya kearah Revan.
Tentu saja pria itu menatapnya bingung.
"Kemarilah... berbaring dipangkuanku."
Revan mengikuti keinginan istrinya. Mengambil posisi meletakkan kepala dipaha istrinya. Dan menjadikannya tempat ternyaman.
Mia mengusap rambut suaminya dengan lembut. "Tidak apa jika lelah, Mas. Istirahatlah... Letakkan semua bebanmu. Rebahkan tubuhmu dan pejamkan matamu. Ingat, kita hanya manusia biasa. Jangan terlalu dipaksa dan dipikirkan. Aku tidak ingin Mas sakit karena beban ini."
Mia tersenyum sembari berucap lirih. 'Aku mungkin tidak tahu sekeras apa hidup yang kau jalani, suamiku. Tapi apapun itu, percayalah bahwa aku akan selalu menyayangimu dan menjagamu dalam balutan do'a disetiap malamku.'
****
Ditengah malam Revan terbangun. Bukan disengaja, namun entah mengapa kali ini pria itu terbangun begitu saja. Seolah sesuatu memanggilnya dan mendorongnya untuk melangkah mendekati sajadah.
Dalam keheningan malam. Pria itu memantapkan hati untuk berbicara dan mengadukan segala keluh kesah tentang dunia pada sang penciptanya. Berdiri dalam sholat dengan khusyuk seolah ini adalah sholat terakhir baginya.
Air mata menetes membasahi sajadah. Sadar akan semua dosa yang dilakukan namun meminta banyak hal dalam urusan dunia.
Revan yang tadinya ingin meminta keajaiban dalam ujiannya. Kini beralih hanya meminta satu hal. Yakni, bisa diberi ketenangan dan dapat memberikan tanggung jawab yang baik untuk anak dan istrinya. Dia hanya ingin ketenangan meski jauh dari kemewahan. Bersikap tenang saat diberi ujian. Dan itulah keinginan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Tetesan air mata, bukan hanya jatuh diatas sajadahnya. Namun ada sosok lain yang tengah memperhatikannya.
Siapa lagi kalau bukan istrinya.
Mia tidak kuasa menahan tangis. Begitu bahagianya dia saat hidayah kini menjemput suaminya. Pemandangan yang dia lihat ini melebihi keindahan apapun. Tangisan seorang hamba yang bersimpuh memohon ampun pada penciptanya. Mengadukan segala macam keluh kesah hanya pada-Nya.
Di sepertiga akhir malam, rembulan menyinari alam, suasana tenang tenteram, tahajud hidupkan malam, seorang hamba mendekati Allah Tuhan sekalian alam.
Setelah selesai. Revan bisa merasakan nikmatnya. Kini hatinya menjadi tenang dan tentram. Tak peduli apapun yang akan terjadi esok hari. Dia hanya pasrah. Dan berusaha ikhlas jika harus kehilangan segalanya. Karena dia sadar, bahwa segalanya adalah titipan.
****
Kegaduhan memenuhi gedung itu. Beberapa karyawan meminta haknya. Begitu pula orang-orang yang menarik kembali saham mereka. Revan hanya terduduk lemas sembari memijit pangkal hidungnya.
"Anda tidak punya pilihan lain, Pak. Sebaiknya memohonlah pada Pak Azkhan, dia akan mempertimbangkannya. Hanya dia yang bisa membantu kita," ucap asistennya yang mulai khawatir. Namun dia tidak tahu apa keinginan Azkhan yang sesungguhnya. Yang menginginkan istri Revan.
Azkhan dan Esme yang menghadiri rapat itu tersenyum angkuh. Menatapnya seakan saat ini sedang memberikan pukulan telak, agar Revan tak dapat berkutik.
"Kau seharusnya sadar berhadapan dengan siapa, Revan! Sekarang kau hanya punya satu pilihan. Bersimpuh dikaki anakku untuk memintanya membantumu, atau perusahaanmu akan rata dalam hitungan jam!" ujar Esme dengan seringai sinisnya.
Revan diam saja. Dia nyaris menyerah, namun tidak akan pernah bersimpuh dikaki Azkhan. Revan lebih memilih menjual perusahaannya untuk menutupi hutang dan membayar semua hak para karyawannya.
Namun entah mengapa, tangannya masih sangat ragu untuk menandatangani penyerahan itu. Rasanya berat sekali melepas usaha yang telah susah payah dia rintis.
"Jika perusahaan ini beralih posisi. Maka ratusan karyawan akan kehilangan mata pencarian mereka Pak. Tolong pikirkan kembali," bisik asisten Revan lagi-lagi semakin membuatnya merasa bersalah.
"Menyerahlah... sadarlah bahwa kau hanya pecundang! dan sujudlah dikakiku untuk memohon belas kasih. Maka aku akan mempertimbangkannya," ucap Azkhan dengan nada arogan.
"Berhentilah bermimpi, Azkhan!" ucap Revan dengan nada tegasnya. Dan bergerak untuk menandatangani penyerahan perusahaannya. Tanda bahwa dia telah gagal.
__ADS_1
Namun sebelum hal itu terjadi. Tiba-tiba saja seseorang masuk kedalam ruang rapat itu dengan suara tegasnya.
"Apa aku terlambat...?"