
"Lima tahun bukan waktu yang singkat." Syma menatap lurus dengan pandangan kosong. Kekecewaan terlihat jelas diwajahnya. "Selama lima tahun, aku berjuang untuk anak-anakku. Dan itu tidaklah mudah.
Selama lima tahun, kau membiarkan aku kedinginan karena kerinduan.
Selama itu pula, kau menyiksaku dengan keterpurukan dan ketidakpastian dalam penantian....
Jika hatimu tak mampu menggenggam erat hatiku, kenapa kau bersikap seolah tanganmu masih menggenggam erat cintaku...
Dari segi fisik aku terlihat kuat Mas...
Bahkan wajahku masih bisa tersenyum untuk anakku.
Tapi....
Tidak ada satu orangpun yang tahu bahwa dari segi mental, aku cacat.
Dari segi perasaan, aku begitu rapuh.
Selama lima tahun itu. Aku menanggung rindu karena kehilanganmu." Syma kini menatap kedalam manik mata Ersad. Menumpahkan semua kesedihan yang dia tanggung.
"Kau hanya merindukanku, Syma...
Tapi pernahkah kau berpikir bagaimana aku?
Aku bukan hanya merindukanmu, tapi juga kedua anakku! Aku juga harus menanggung rindu pada Gokhan dan juga Zea. Bayangkan betapa tersiksanya aku jauh dari kalian." Ersad berucap pelan. Namun Syma juga bisa melihat keseriusan dari wajahnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Ersad juga nampak rapuh.
"Memangnya siapa yang memintamu melakukan itu, Mas? Apa aku menyuruhmu pergi meninggalkan kami? kami lebih baik hidup miskin namun bahagia selalu bersamamu, dari pada hidup bergelimang harta tapi jauh darimu!"
"Sayangnya hidup kita tidak semudah itu, Syma. Revan tidak akan berhenti sebelum melihat kita berpisah.
Jika saja aku tidak pergi ke Italy. Dan menjalani hidup denganmu apa adanya. Sudah pasti Revan akan mencari cara lain untuk menghancurkan kita. Entah memisahkanmu dari Zea atau yang lainnya. Aku tidak ingin itu sampai terjadi. Bahkan penggusuran di panti asuhan itu juga ulahnya...
Sejak aku mengetahui dia adalah penyebab kehancuran ini. Rasanya aku sangat ingin menghabisinya saat itu juga. Tapi Hariz tiba-tiba datang dan mencegahku.
Aku tidak tahu, kenapa pria itu tiba-tiba datang dan sangat ingin membantuku. Dia mengajakku untuk membalas perbuatan Revan dengan cara yang lebih menyakitkan tanpa harus mengotori tangan untuk menyentuhnya.
Hariz mengajakku ke Italy. Menemui beberapa rekan terbaiknya untuk mengusut semua masalah ini. Dan waktu yang dibutuhkan tidaklah singkat Syma. Butuh bertahun-tahun lamanya. Revan harus dihentikan sebelum dia bertindak terlalu jauh. Sampai akhirnya aku berhasil dengan tujuanku. Bukan hanya asetku yang kembali, tapi juga Revan telah dihukum seberat-beratnya.
Dan semua ini atas bantuan dari Hariz."
Syma terdiam mendengar semua penjelasan Ersad. Cukup masuk akal secara logika. Namun tetap saja. Keputusan Ersad meninggalkannya waktu itu, cukup menoreh luka teramat dalam. Hingga Syma merasa trauma akan rasa cintanya.
__ADS_1
"Saat ini hati dan pikiranku sedang tidak membaik, Mas...
Aku harus melewati fase dimana batinku di serang secara brutal oleh keadaan. Jauhi aku untuk sementara waktu. Aku tidak bisa memutuskan apapun sekarang. Aku harap kau mengerti!"
Ersad tersenyum getir. Dia mendekati Syma dan memegang kedua pundaknya.
"Aku mengerti, tidak mudah bagimu menerima semua ini. Aku akan memberimu waktu untuk itu. Tapi...
Ada satu hal yang harus kau pahami. Bahwa kau tetaplah istriku. Baik sekarang maupun nanti. Aku tidak akan pernah melepaskanmu Syma. Dan aku harap kau mengerti hal itu!" ucap Ersad sebelum keluar dari kamar itu. Meninggalkan Syma yang kembali terisak.
******
"Ze senang Papa sudah kembali."
Ersad tersenyum lembut mendengar penuturan putri kecilnya itu. Seolah sedang menghibur perasaannya yang sedang kalut.
"Papa juga senang bisa bertemu Ze dan Gokhan. Apa kalian merindukan Papa?"
Zea mengangguk. "Ze sangat rindu. Tapi... "
"Tapi apa?"
"Tapi Bunda lebih rindu.
Ersad terenyuh mendengarnya. Rasa penyesalan menyelimuti pikirannya. Menjadi beban kembali yang harus dia tanggung.
"Maafkan Papa Ze. Papa tidak akan membiarkan Bunda sedih lagi. Ketahuilah Papa selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian," ucap Ersad memeluk putrinya itu.
"Terimakasih Papa. Ze sayang Papa."
"Benarkah?"
Zea mengangguk.
"Kalau begitu, maukah Ze membantu Papa?"
"Tentu saja... Apa yang harus Ze lakukan Pa?"
"Begini.... " Ersad membisikkan sesuatu ketelinga bocah itu. Zea yang mengerti apa yang harus dilakukan pun mengangguk setuju dengan senyuman lebar diwajahnya.
"Bagaimana keadaanmu Nak?" Suara Ceyda mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
"Aku baik Bu. Terimakasih sudah membantuku." Ceyda menyadari ada sesuatu yang mengganjal dihati Ersad. Meski mulutnya berucap baik-baik saja.
"Berusahalah lebih keras lagi Nak. Syma masih syok dengan kepergianmu. Dan keterkejutannya semakin menjadi setelah kau kembali begitu saja. Dia begitu trauma hingga menutup hati untuk siapapun. Keceriaannya berubah seketika menjadi wanita dingin. Tatapannya selalu kosong. Tidak mudah baginya menjalani hidup tanpamu.
Ibu yakin hanya kau yang bisa mengembalikan Syma yang dulu lagi... "
Ersad mengangguk. "Aku akan melakukannya Bu. Aku akan mengembalikan kepercayaannya padaku. Aku akan membawanya kerumah baruku. Kita akan memulai semuanya lagi dari awal."
"Ibu tidak yakin dia akan mau dengan begitu cepat. Tapi meski begitu, teruslah berusaha dan berdoa nak. Ibu yakin kalian pasti bisa melewati ujian ini."
Ersad terdiam ditempatnya. Dia juga sadar bahwa Syma saat ini sangat sulit ditaklukkan. Sikapnya berubah keras kepala dan dingin. Akan sangat sulit bagi Ersad meyakinkan wanita itu.
Dian berpikir keras bagaimana cara mengembalikan Syma yang dulu.
Lalu dia tersenyum kecil saat menyadari satu hal.
Bahwa kelemahan Syma, ada pada anaknya. Ya, Ersad akan menggunakan anaknya untuk membuat Syma kembali yakin padanya. Dan memulai kembali semuanya dari awal.
*****
"Kenapa masih disini?" Syma menatapnya sambil bersidekap. Matanya menatap Ersad penuh selidik.
"Aku ingin melihat anakku," sautnya santai.
"Bunda... Ze mau sekolah diantar Papa." Suara Zea membuat Syma menatap heran pada anak itu.
"Kenapa tidak Bunda saja yang antar. Biasanya juga seperti itu!"
"Tapi Ze mau Papa... "
"Bagaimana dengan pertemuan wali murid Ze. Bukankah gurumu meminta Bunda untuk datang?"
"Kalau begitu Bunda ikut saja. Ze akan lebih senang jika diantar oleh Papa dan Bunda."
"Astaga, jangan berlebihan Ze. Biar Bunda saja yang antar ya. Papa sepertinya tidak bisa, dia sibuk."
"Siapa bilang aku tidak bisa. Aku punya banyak waktu hari ini." Ersad menyela diantara perdebatan mereka. Hingga Syma menatapnya tajam.
Lalu tiba-tiba saja suara Gokhan membuat Syma berkerut heran. Pasalnya bukan dia yang dipanggil, melainkan Ersad.
"Papa... "
__ADS_1
Keterkejutannya semakin menjadi, saat bocah kecil itu langsung memeluk Ersad. Padahal anak itu belum pernah bertemu dengan Ayahnya. Dan ini adalah pertemuan mereka yang pertama. Tapi kenapa Gokhan sudah sedekat ini dengannya? pikir Syma.