TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
EPS 86 HARIZ&AINA: RASA BERSALAH


__ADS_3

Setelah segala macam bujuk rayu, akhirnya Aina mau belajar lagi agar kebutuhan mereka berdua terpenuhi.


Tentunya bukan perkara mudah bagi Hariz membujuk wanita keras kepala seperti Aina. Hariz mengeluarkan dalil dan juga kata indah serta azab bagi seorang istri yang tidak mau patuh pada suaminya. Sebab itulah Aina menjadi luluh dan tunduk pada suaminya.


*******


"Mas, kepalaku pusing dan perutku mual. Apa Aina hamil?"


"Mungkin kamu masuk angin."


Hariz bersikap acuh. Pria itu malah sibuk dengan laptopnya. Bahkan dia tidak menatap istrinya saat bicara.


"Tapi sejak pagi Aina mual Mas. Dan pusingnya belum ilang sampai sekarang."


"Mungkin kamu telat makan. Minum obat sana!"


"Mas tidak suka Aina hamil? Kenapa Mas bersikap seperti ini!" Aina mulai kesal setiap kali diacuhkan oleh suaminya.


Hariz menghembuskan nafas beratnya. Terlihat jelas bahwa dia yang lebih menahan kesal karena istrinya. Hariz kini menatapnya dengan jengkel.


"Kau mau membuat Mas gila mendadak, Aina? Mana mungkin kamu bisa hamil, sementara senjataku saja tidak pernah masuk sepenuhnya pada milikmu! Setiap kali mau masuk, kau selalu berteriak dan meringis kesakitan.


Kau lihat ini...


Ini lagi.... " Hariz menunjukan punggungnya yang memiliki beberapa bekas cakaran.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan, Aina? Kalau seperti ini terus, bisa dikira Mas habis dicakar macan!"


"Ap-apa harus masuk dulu biar bisa hamil?"


"Ternyata polos dan tolol itu beda tipis... " Hariz kini membuang wajahnya.


Entah mengapa melihat sikap Hariz yang seperti ini, membuat Aina merasa bersalah. Dia merasa sebagai istri tidak becus dalam memberikan hak suaminya. Padahal itu adalah kebutuhan sang suami yang mutlak harus dipenuhi.


******


Aina berkunjung kepanti asuhan untuk mengalihkan pikirannya. Dan kebetulan Syma juga ada disana.


"Aina, ada apa denganmu? Sedang bertengkar dengan suamimu ya...


Jangan lama-lama marahannya. Tanamkan syukur dalam hatimu Aina. Diluar sana banyak yang ingin berpasangan. Mereka bahkan mengulang-ulang doa yang sama, namun ikhtiar itu belum terwujud."


Bahkan hanya dengan melihat ekspresi wajah Aina saja, Syma sudah tahu bahwa wanita itu tidak sedang baik-baik saja.


"Kak, apa boleh Aina bertanya tentang masalah pribadi antara suami istri?"


"Tentu saja boleh. Katakan apa yang mengganggu pikiranmu?"


"Em, apa Kak Syma juga merasakan sakit saat melakukan malam pertama?" suara Aina terdengar pelan, namun masih bisa didengar oleh Syma. Itu karena Aina masih merasa malu dengan pertanyaannya.


"Kenapa bertanya seperti itu? Jangan bilang Aina belum memberikan kewajiban Aina sama Hariz?"

__ADS_1


Aina menggeleng lemah. Terlihat jelas rasa bersalah didalam dirinya.


"Kalau sakit, semua wanita pasti merasakan hal yang sama, Aina. Tekankan dalam hatimu bahwa semua itu harus ditahan demi memberikan hak dan kewajibanmu pada suamimu. Yakinlah pada dirimu bahwa kau bisa melakukannya."


"Apa semudah itu?"


"Tentu saja. Kau hanya perlu rileks dan nikmati. Berhubungan suami istri itu pahalanya besar Aina. Apalagi istri yang meminta duluan. Pahalannya seperti ibadah umroh."


"Tapi Aina malu, Kak... "


"Untuk apa malu pada suami sendiri. Sebentar lagi dia juga pasti akan melihat semua yang ada pada dirimu. Apa salahnya... "


"Baiklah, Aina akan mencobanya."


*******


"Mas Hariz.... "


"Em.... " Hariz menyahuti dengan malas. Pikirnya, mungkin Aina ingin mengajaknya ribut.


"Kalau Aina lagi ngomong, Mas Hariz liat Aina dong!"


"Lebih baik jangan. Nanti Mas khilaf. Aina teriak-teriak kesakitan. Nangis lagi."


Aina mengerucutkan bibirnya.


"Mas..... "


"Kenapa Mas Hariz jadi dingin seperti ini. Aina tidak bermaksud mau ngajak ribut."


"Lalu apa?"


"Anu... Aina mau ngajakin Mas Hariz duluan."


"Ngajakin apa Aina. Kalau bicara yang jelas."


"Itu..... "


"Itu apa?" Hariz menatapnya jengkel. Namun ada rasa aneh juga karena Aina menunduk tanpa menatapnya.


"....... "


"Sudahlah, Mas masih ada urusan. Bicaranya nanti saja, setelah pulang." Hariz mencoba melangkah pergi, namun suara Aina menghentikan langkahnya.


"Aina mau ngajakin Mas Hariz bercocok tanam!"


Entah bagaimana cara Aina menyembunyikan rona merah diwajahnya. Yang jelas, saat ini dia benar-benar tidak berani menatap suaminya.


"Kamu yakin?" Hariz berucap sembari menaikan dagu Aina, agar wajah wanita itu menghadapnya.


Aina mengangguk malu. Dan hal itu membuat Hariz mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu yakin, Aina. Jika belum siap, Mas masih bisa menahannya," bohongnya. Padahal Hariz kerap kali marah tidak jelas pada siapapun karena selalu gagal dalam aksinya.


"Karena Aina tidak mau jadi istri durhaka. Aina juga mau memberikan hak Mas Hariz. Aina juga takut dosa. Apalagi sampai dilaknat malaikat.


Maafin Aina yang berlebihan ya Mas. Kali ini Aina janji tidak akan membuat Mas Hariz kecewa. Lakukan saja apa yang sudah menjadi hak Mas Hariz pada Aina. Aina sudah siap lahir batin." kenyataannya, batin Aina tidak sesuai dengan ucapannya. Masih terbesit rasa takut didalam dirinya. Namun Aina menekannya sekuat tenaga.


'Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi.' pikirnya.


Sementara Hariz sendiri begitu senang. Dalam hatinya bersorak gembira.


"Baiklah. Mari kita lakukan...... " Hariz menatapnya penuh arti. Sementara Aina tidak bisa menghindar lagi dari tatapan suaminya. Dia seolah terhipnotis dan masuk kedalamnya.


Mereka berdua akhirnya melakukan hubungan suami istri sebagai mana mestinya.


Meski tetap saja Aina meringis kesakitan. Namun wanita itu tidak berniat untuk menghentikan suaminya. Dia berusaha rileks dan menikmati permainan sang suami. Sampai akhrinya rasa sakit itu hilang, digantikan dengan rasa nikmat yang tiada tara.


Hariz memperlakukan Aina benar-benar lembut dan sesuai anjuran agama.


Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka berdua. Merasakan hal yang baru. Sesuatu yang membuat keduanya terbang melayang. Menikmati indahnya surga dunia dalam ikatan yang halal.


********


Setelah kejadian itu. Suasana hati Hariz berubah seketika. Pria itu tidak bisa jauh dari istrinya walau sebentar saja. Dan setiap kali berdekatan. Hariz tidak melewatkan kesempatan untuk bermesraan dan bercumbu mesra dengan Aina.


"Mas, Aina mau tanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Tapi Mas Hariz nya minggir dulu. Jangan seperti cicak yang menempel terus."


"Masalahnya dimana nempel sama istri sendiri? Dari pada wanita lain, kan dosa!"


"Masalahnya Mas Hariz berat."


Hariz menggeser sedikit tubuhnya. Namun tangannya tetap merangkul pundak sang istri.


"Sudah. Aina mau tanya apa?"


"Aina mungkin bukan istri yang shalehah seperti Kak Syma. Banyak kekurangan didalam diri Aina. Apalagi masalah agama. Yang Aina tahu, hanya tentang kewajiban sholat dan menutup aurat.


Aina juga ingin seperti Kak Syma. Jadi wanita lemah lembut dan juga penyabar. Tapi...


Aina tidak yakin, Mas. Emosi Aina tidak bisa dikontrol. Rasanya sulit sekali berubah menjadi wanita baik-baik. Pantaskah Aina yang pendosa ini, menjadi wanita seperti itu? Aina khawatir dengan dosa Aina, akan membuat Mas Hariz ikut menanggungnya juga."


"Perjuangan seorang pendosa memang begitu berat dalam menemukan jalan kembali, Aina. Tapi apa kamu tahu, bahwa Allah lebih menyukai ahli maksiat yang bertaubat. Daripada ahli ibadah yang sombong akan amalannya.


Maka dari itu...


Inilah tugas Mas sebagai suami Aina. Menuntun Aina kejalan yang benar. Jika sudah terbesit didalam diri Aina untuk berubah. Insya Allah, Allah akan memudahkan jalan Aina untuk meraih kebaikan.


Dan mulailah dari yang paling mudah. Yaitu ucapan dan cara bicara."

__ADS_1


__ADS_2