TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 INIKAH KEAJAIBAN?


__ADS_3

"Apa aku terlambat?"


Sontak pandangan semua orang tertuju pada sosok yang kini berdiri dengan gagahnya diambang pintu. Dengan kharisma dan wibawa mereka masing-masing. Revan terkejut, begitu pula yang lainnya.


"Ersad...? Hariz?" Revan menatap kedua orang itu secara bergantian. Ada rasa heran didalam dirinya. Untuk apa kedua orang ini datang? apakah untuk ikut andil dalam kehancurannya?


"Kami tidak diundang dirapat ini. Tapi kami cukup tertarik untuk ikut serta dalam pembelian saham."


Revan terkejut. Ersad berucap dengan tenangnya. Apakah pria ini yang akan menyelamatkan perusahaannya? tapi kenapa? bukankah dia membencinya?


Segala macam pertanyaan muncul didalam benak Revan hingga membuat Hariz mulai kesal karena berdiri terlalu lama.


"Apa kau tidak ingin kami duduk?!"


Revan teragagap. "Si-silahkan duduk."


"Jadi begini. Perusahaan akan mengalami kebangkrutan. Banyak pegawai yang meminta hak mereka sementara penjualan diberhentikan. Dikarenakan para penanam modal membatalkan perjanjiannya. Tidak ada solusi terbaik yang bisa dilakukan selain menyerah-"


"Kami setuju."


HAH!!


Sontak semua orang menatap Hariz dan Ersad dengan heran. Setuju? mereka bahkan belum mendengar penjelasan Revan lebih jauh. Tapi langsung memberikan keputusan menyetujui.


"Setuju dalam artian apa?" ucap Revan dengan kebingungannya.


"Kami setuju meminjamkan modal terbesar disini. Kami tidak berniat membeli perusahaan ini. Karena perusahaan kami saja sudah sangat merepotkan. Berikan pada kami berkasnya, biar ditandatangani," ujar Hariz dengan santainya. Membuat semua orang melongo kaget.


"Apa kalian tidak waras?! perusahaan ini nyaris bangkrut. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menjualnya. Perusahaan ini tidak akan bisa bangkit kembali," Esme mulai kesal karena keinginannya gagal hanya karena dua orang yang dianggapnya idiot.


"Memangnya Anda siapa? apa hak Anda bicara seperti itu? siapa yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Jangan suka meremehkan orang Nyonya, bahkan nasib Anda sendiri saja tidak ada yang tahu kedepannya," ucap Ersad dengan gaya penyindirian yang kental.


"Kau...!"

__ADS_1


"Sudahlah. Kami tidak suka terlalu lama. Kemarikan berkasnya biar kami tanda tangani." Kali ini Hariz bersuara dengan nada tak sabar.


Asisten Revan segera menyerahkan berkasnya untuk ditanda tangani. Setelah selesai. Mereka berdua ingin beranjak pergi begitu saja. Seolah saat ini mereka sedang membeli kacang. Padahal uang yang mereka keluarkan tidaklah sedikit.


Setelah rapat dibubarkan. Revan menghentikan Ersad dan juga Hariz.


"Tunggu dulu!"


Kedua orang itu menatapnya malas.


"Terimakasih atas bantuan kalian. Tapi apa yang membuat kalian melakukan ini?"


"Kami tidak ingin melakukan hal semacam ini. Tapi para istri kami lah yang merengek ingin kami agar membantumu. Jika tidak, maka... " Ersad menghentikan ucapannya. Dia tidak ingin di cap sebagai suami yang takut istri jika mengatakan yang sebenarnya.


"Ah sudahlah. Itu tidak penting. Urus saja perusahaanmu dengan baik. Dan berhentilah bersikap menjadi pria bajingan pada istrimu." Hariz segera menyusul Ersad yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Membuat Revan tersenyum samar. Merasa begitu bahagia bisa menyelamatkan perusahaannya.


Kabar gembira ini tidak sabar ingin dia bagi dengan istrinya. Mia pasti sangat senang mendengarnya.


Senyuman diwajahnya tidak juga luntur. Sampai akhirnya dia sampai dipanti asuhan. Dengan langkah tak sabar ingin menemui istrinya. Dari kejauhan Dia sudah bisa melihat Mia yang tengah asyik dengan anak asuhnya. Revan melambaikan tangan dengan senyuman manis yang sejak tadi terukir diwajahnya.


Mia yang melihat suaminya dari kejauhan langsung tersenyum sumringah. Dan berjalan kearahnya untuk menyambut sang suami dengan pelukan hangat. Pandangan mereka berdua bertemu dengan tatapan penuh cinta. Meski Revan belum menjelaskan apa yang terjadi padanya, namun Mia yakin, bahwa ada kabar baik hingga membuat suaminya nampak begitu bahagia.


Saat jarak mereka sudah begitu dekat. Revan mengerutkan dahinya, melihat perubahan seketika dari raut wajah Mia. Seiring dengan langkah istrinya itu yang juga melambat. Dari pancaran matanya, ada ketakutan dan keterkejutan secara bersamaan. Ada juga rasa khawatir yang mendalam. Sampai akhirnya Revan mendengar suara Mia berteriak.


"MAS REVAN, AWAS...!!"


Mia mengibaskan tangannya. Memberitahu sang suami agar segera menyingkir. Namun Revan tidak juga mengerti ada apa sebenarnya?


Mia semakin berteriak histeris. Matanya membulat sempurna dengan mulut yang juga terbuka. Revan yang melihat itu hanya menaikan wajahnya dengan bingung. Matanya menatap nanar, dia khawatir istrinya akan jatuh jika berlari sekencang itu.


"MAS REVAN, AWASS...!!" Mia kembali berteriak. Namun kali jni diiringi dengan langkah kaki seribu untuk mendekati suaminya. Berharap bisa menyelamatkan suaminya dari bahaya besar didepan mata.


Kali ini Revan yakin ada sesuatu yang tidak beres. Hingga pria itu menoleh kearah belakang. Dan benar saja...

__ADS_1


Seseorang tengah membidiknya dari kejauhan. Dengan memegang senjata api yang kini terarah padanya. Pakaian yang dia kenakan serba hitam dengan jaket tebal dan juga masker untuk menutupi wajahnya. Hingga Revan tidak tahu siapa orang itu.


Dan belum sempat dia berpikir panjang. Satu peluru melesat kearahnya. Seiring dengan tubuhnya yang ambruk dilantai.


DORRR


Suara teriakan histeris menggema. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Para pelaku itupun kabur setelah menjalankan misinya. Karena kehadirannya sudah diketahui banyak orang. Dia memilih menyelamatkan diri dengan masuk kedalam mobil hitam dan melaju dengan cepat.


Sementara itu....


Revan yang ambruk dilantai masih bisa merasakan dirinya. Tidak ada rasa sakit ditubuhnya. Saat peluru itu melesat, seseorang mendorongnya.


Jika bukan dia yang terkena tembakan senjata itu, lalu siapa?


Apa jangan-jangan...?


"MIA....!!"


Suara teriakan Deriya membuat jantung Revan berdetak keras. Dia tidak memberanikan diri untuk menoleh kebelakang. Namun Revan sadar bahwa dia harus memastikan sendiri bahwa dugaannya salah. Tidak mungkin Mia...


Namun saat dia menoleh. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tubuhnya membeku melihat darah mengalir dari tubuh istrinya. Revan terperangah dengan pemandangan yang mengerikan di depan matanya.


Istrinya... wanita yang sangat mencintainya...


Kini bersimbah darah karena menyelamatkan dirinya. Revan terduduk lemas. Menatap nanar pada wajah istrinya. Dalam kejadian tak terduga itu. Otaknya seakan berhenti bekerja. Revan bingung apa yang harus dia lakukan.


Air matanya mengalir begitu saja. Merasakan sesak didadanya saat melihat raut kesakitan dari istrinya.


"Mia... bertahanlah. Ku mohon... " Revan berucap lirih dengan air mata yang mengalir dan menetes sampai ke wajah istrinya.


Mia masih bisa tersenyum tipis sembari menahan sakit. "Jangan menangis... " Mia ingin mengangkat tangannya untuk menghapus air mata suaminya. Namun hal itu tidak terjadi, karena tangannya sudah kembali terhempas dilantai seiring dengan kesadarannya yang hilang.


"CEPAT BAWA DIA KERUMAH SAKITTT, REVAN....!!"

__ADS_1


__ADS_2