TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
EPS 80 HARIZ&AINA: SUAMI BAJINGAN


__ADS_3

Hariz nyaris frustasi akibat ulah nakal istrinya. Untungnya hal itu segera reda, setelah kedatangan Ersad yang mengantarkan kado untuk mereka.


"Aina buka pintunya. Ada yang ingin aku bicarakan padamu!" Hariz menggedor pintunya dengan keras. Namun Aina sendiri tidak yakin dengan ucapan pria itu.


Dia takut Hariz akan balas dendam.


"Tidak mau!!"


"Aina jangan membuatku semakin kesal. Cepat buka atau aku hancurkan pintu sialan ini!"


"Coba saja kalau bisa."


Hariz nekat mendobrak pintunya. Dan hal itu tidak sesuai dengan prediksinya. Dia pikir bisa mendobrak pintu dengan mudah seperti yang ada difilm-film. Ternyata hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Malah bahunya sendiri terasa remuk.


'Sial! Kenapa aku jadi bodoh begini. Bukankah aku punya kunci cadangan? Wanita sialan, awas kau ya!'


Hariz segera mengambil kunci cadangan kamar itu.


Aina yang sangat yakin bahwa Hariz tidak akan bisa membuka pintu itu. Memilih merebahkan tubuhnya.


Saat knop pintu itu bergerak, Aina langsung terlonjak dan menatap waspada.


Ketakutannya semakin menjadi saat Hariz masuk dengan santainya. Seringai iblis terukir jelas diwajah pria itu.


"Permainanmu sudah selesai, Aina. Sekarang giliranku... " ucapan Hariz yang seakan menjadi ancaman berat baginya.


Aina tidak bisa kabur lagi sekarang. Dia benar-benar merasa terpojok. Satu-satunya cara yang terlintas dipikirannya hanya satu. Yaitu melawan.


Ya.


Aina mencoba melawan apapun yang akan dilakukan Hariz padanya. Namun sayang kekuatannya sangat berbanding jauh dari Hariz.


Hariz memikulnya seperti karung beras. Tentu saja Aina memberontak sekuat tenaga. Namun sialnya Hariz malah memukul bokongnya hingga terdengar suara...


PLAK


Aaaaaaa


"Pria kurang ajar!! Turunkan aku sekarang juga."


"DIAM."


Hariz tiba-tiba menurunkan Aina ditempat yang cukup luas. Aina berkerut heran, "Kenapa membawaku kesini?"


Hariz tidak menjawab. Pria itu justru meninggalkannya begitu saja dan mengurung Aina didalam sana seoarang diri.


Aina yang belum mengerti maksud Hariz, hanya terdiam. Jika Hariz hanya ingin mengurungnya disana, baginya tidak masalah. Tempat itu tidak begitu buruk. Aina bisa menikmati pemandangan taman dan juga air mancur yang begitu indah.


Namun siapa sangka, dibalik keindahan tempat itu terdapat seekor hewan yang mengerikan.


Aina menyadari hal itu, saat mendengar suara gonggongan dari seekor anjing yang tiba-tiba saja keluar dibalik semak-semak.


Sontak saja Aina melebarkan matanya. Ternyata Hariz mengurungnya dikandang anjing mengerikan. Sialnya bukan hanya satu, tapi ada tiga ekor anjing yang masing-masing memiliki warna yang berbeda.


"Ya Allah, apa hidupku akan berakhir disini? Aku takut sekali dengan anjing."

__ADS_1


Aina semakin takut, saat anjing-anjing itu menggonggong kearahnya. Dan tiba-tiba saja mengejarnya.


Aaaaaaaaaaaaaaaaa


Aina berteriak keras sembari berlari sekencang-kencangnya. Semakin kencang dia berlari, maka semakin kencang pula anjing itu mengejarnya.


Hariz hanya melihat pemandangan itu dari atas dengan santainya, sembari menyesap minumannya. Baginya itu adalah hukuman yang tepat, bagi wanita pembangkang seperti Aina.


"TOLONG.....


SIAPAPUN TOLONG AKU!!" Aina menggedor pintu sembari berteriak kencang.


Anjing itu sudah semakin dekat kearahnya. Untungnya seseorang membukakan pintu dan mengeluarkannya dari sana. Aina bisa bernafas lega setelah berhasil menyelamatkan diri dari keganasan anjing disana.


"Apa yang anda lakukan disini, Nyonya?" Tanya seorang pria tua pada Aina yang berusaha menguasai dirinya dari ketakutan.


"Suami bajinganku yang melakukan ini padaku, Pak. Apa anjing ini milikmu?"


"Benar."


"Kurang ajar! Manusia terkutuk. Akan Aku bunuh pria itu sekarang juga!" Aina merutuk kesal. Namun pria tua itu menahannya.


"Tidak baik mengumpati suami sendiri seperti itu. Mungkin dia tidak sengaja."


Aina mendengus. "Tidak sengaja apanya? Aku hampir mati menjadi santapan para anjing itu. Bagaimana jika tubuhku dirobek dan dicabik-cabik oleh mereka! Ini sudah keterlaluan. Bisa-bisanya dia bermain-main dengan nyawa seseorang... "


"Anda salah paham Nyonya. Anjing-anjingku tidak ada yang menggigit. Meski itu orang lain. Mereka sudah dilatih dengan baik, jadi tidak ada satupun yang akan terluka karenanya. Mereka hanya ingin bermain denganmu."


"APA!! Bermain? Tapi aku tidak mau bermain dengan anjing. Memangnya aku sebangsa mereka. Sudahlah, aku pulang dulu. Terimakasih telah mengeluarkanku dari sini."


*****


BRAKK


Aina membuka pintu dengan kasar. Terlihat jelas, bahwa Hariz sangat menikmati pemandangan tadi. Dimana saat Aina berteriak dan berlari seperti pelari hebat. Hariz bahkan masih tertawa mengingatnya.


Amarah Aina yang sudah berada diubun-ubun kini akan segera meledak. Aina mengambil bantal sofa yang ada disana dan memukuli Hariz dengan brutal.


"Dasar manusia laknat! Pria jahat! Tidak punya hati! Katak betung! Kau menyebalkan.... "


"Hahahha hentikan Aina! Siapa suruh kau melawanku. Itu hukuman yang pantas untuk istri pembangkang sepertimu."


Bukannya berhenti, Aina semakin keras memukulnya. Kini tidak menggunakan bantal lagi, melainkan tangannya sendiri. Dan Hariz merasakan sakitnya.


"Pria gila! Sinting! Dasar kau manusia terkutuk! Aku membencimu, aku sangat membencimu... "


Aw


Sakit


Berhenti


Hariz menahan tangan Aina dan membalikan tubuhnya. Hingga saat ini tubuh wanita itu berada dibawah kungkungannya.


"Baiklah, aku minta maaf. Sebagai gantinya, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke Swiss. Bukankah itu impianmu sejak kecil? Aku akan mengajakmu liburan kesana, bagaimana?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja amarah Aina sedikit reda. Matanya menatap Hariz penuh selidik.


"Aku serius Aina. Kita akan pergi kesana besok."


"Baiklah."


"Bagus. Bersiaplah, besok kita akan berangkat. Istri kecilku yang nakal!"


Cup


Hariz mengecup kilat bibir Aina sebelum pria itu melepaskan kungkungannya. Dan masuk kedalam kamarnya.


Aina menatap jengkel kepergiannya dengan umpatan yang selalu keluar dari mulutnya. "Dasar kadal sialan! Awas saja, aku pasti akan membalasmu."


******


"Kau sudah siap?"


Aina mengangguk. Hariz menatap heran, pada Aina yang hanya membawa tas kecil dipunggingnya. Sementara Hariz sendiri membawa koper besar.


"Mana kopermu?"


"Aku tidak bawa koper."


"Kenapa?"


"Aku mau beli baju disana saja. Lagi pula bajuku jelek semua. Kau akan malu nantinya."


"Baiklah terserah kau saja. Kita pergi sekarang, jangan lupa baca doa."


"Ya."


Setelah sampai dibandara. Dan memilih tempat duduknya. Aina meminta ijin padanya untuk ketoilet.


"Mas, Aina ketoilet dulu ya."


"Jangan konyol Aina, kenapa tidak dari tadi. Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat."


"Sebentar saja. Ini tasku tolong dijaga," ucapnya sebelum pergi.


"Aku tidak suka menunggu lama. Jadi cepatlah... "


"Iyaiya cerewet!"


Hariz menunggu dengan gelisah. Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak. Sudah lebih dari setengah jam, Aina tidak kembali.


"Apa kau baru pertama kali naik pesawat? Tenanglah jangan takut! Kau akan terbiasa nanti," ucap seorang wanita dan pasangannya, yang memperhatikan kegelisahan Hariz sejak tadi.


'Apa yang orang ini bicarakan? Sepertinya ada lagi orang bodoh, selain Aina.


Kemana wanita itu?'


TBC


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE SEIKHLASNYA 😚

__ADS_1


AFF REAL


__ADS_2