TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 52: BIARKAN DIA PERGI


__ADS_3

"Zea bukan putri kandung Mas Ersad. Zea adalah anak dari mantan suamiku, Revan. Tapi Mas Ersad tidak suka mengungkit hal itu. Baginya Zea adalah putrinya."


Syma menjelaskan pada Ceyda tentang dirinya. Kemudian mengusap pelan, perutnya yang mulai membesar itu. "Cucumu yang sebenarnya adalah bayi yang sedang kukandung."


"Bagiku tidak ada bedanya Syma. Mau Zea ataupun bayi didalam perutmu, mereka sama-sama cucuku. Dan aku menyayangi mereka berdua."


"Kalau begitu ikutlah denganku, Bu. Kita selesaikan semuanya secara damai. Saatnya Ibu menjalani masa tua dengan penuh ketenangan." Syma membujuknya dengan lembut.


Ceyda sendiri bingung dengan pilihannya. Apa yang dikatakan Syma memang benar. Namun dia masih belum siap, jika nanti Ersad membencinya. Meski selama ini, anak itu memang sudah membencinya. Hanya saja Ceyda tidak akan sanggup jika melihat kebenciannya secara langsung.


*******


"Aina... kau terlambat lagi. Apa kau sibuk memompa asi untuk anakmu dulu!" celetuk Vio yang kesal karena menunggu Aina terlalu lama.


"Jangan banyak bicara. Sebaiknya kita masuk sekarang. Jika tidak, guru menyebalkan itu pasti akan mendapatkan alasan untuk mengusir kita." Aina berjalan dengan tergesa-gesa menuju kelasnya. Diikuti oleh Vio dibelakangnya.


Saat sampai didepan kelas. Aina mengucapkan salam, namun sang guru membalasnya dengan tatapan tajam.


'Aku benci dengan tatapan guru ini. Matanya seakan ingin lepas dari tempatnya. Dia selalu saja mencari alasan untuk memarahiku.'


"Vio, masuk." titah guru itu. Sementara Aina masih berdiri santai disana. Belum ada ijin dari guru itu agar menyuruhnya masuk.


"Dan kau... Kau dihukum! Bersihkan toilet sekarang!"


Sontak semua murid bersorak senang mendengarnya.


"Tapi apa kesalahanku?" tanya Aina dengan nada tinggi. Wajahnya terlihat jelas, bahwa dia sedang kesal.


"Kesalahanmu karena sepatu yang kau kenakan sangatlah jelek. Coba lihat... Sepatu itu sudah tidak layak pakai. Lebih pantas diletakkan ditempat sampah. Kau hanya mengotori sekolah elite ini dengan penampilanmu yang kumuh itu.


Menjijikan.... "


"Lalu kenapa Ibu menghukumku? Jika aku punya uang, aku juga tidak akan memakai sepatu ini. Aku akan membeli sepatu bahkan yang lebih mahal dari yang kalian pakai. Itu jika aku punya uang... " Teriak Aina menahan kesal.


"Dan sayangnya kau tidak punya uang. Jadi sebaiknya pergi, bersihkan toilet sekarang!"


Aina tidak punya pilihan lain. Meski dia sangat ingin memaki guru ini, namun rasanya percuma. Hal itu akan semakin memperbesar masalah. Tidak akan ada yang membelanya. Orang-orang akan merasa simpati pada guru itu.


Dengan langkah gontai, Aina pergi ke toilet. Mencoba menguatkan dirinya sendiri, untuk tetap berdiri melawan ketidak adilan.


'Guru sialan itu, selalu saja mencari alasan untuk mengusirku dijam pelajarannya. Jika seperti ini terus, bagaimana aku bisa mendapatkan nilai tinggi?'


"Apa yang kau lakukan disini, Aina? Tidak bisakah sekali saja tidak membuat masalah?"


Suara Hariz tiba-tiba menghentikan kegiatannya yang sedang sibuk menyikat. Aina mengambil nafas panjang. Dia terlalu lelah untuk membela diri, maupun menjelaskan semuanya. Aina memilih melanjutkan kegiatannya, tanpa memperdulikan kehadiran Hariz disana.


Merasa diabaikan, Hariz pun merebut sikat panjang yang ada ditangan Aina dan melemparnya asal.

__ADS_1


"Katakan... "


"Apa yang harus aku katakan, Pak? Tidak akan ada yang mau percaya dengan ucapan gadis miskin sepertiku."


"Ikut aku... "


Tanpa menunggu jawaban dari Aina. Hariz menariknya keluar dari sana. Dan Menuju kelasnya. Aina hanya diam, tidak ada perlawanan sedikitpun.


Hariz membuka pintu kelas secara tiba-tiba. Menghentikan aksi belajar para siswa yang dibimbing oleh guru Clara.


"Kenapa Aina dihukum?"


Clara merasa kikuk ketika melihat tatapan mematikan dari Hariz.


"Em, dia menyalah gunakan peraturan, Pak."


"Apa yang dilakukannya?"


"Se-sepatu yang dia kenakan tidak pantas. Hanya membuat malu sekolah ini. Aku mengukumnya agar dia tidak memakai pakaian kumuh seperti ini lagi."


"Jika itu letak permasalahannya. Seharusnya kau bicarakan padaku. Sekolah akan memberikan atribut lengkap untuknya. Bukan malah menghukumnya.


Hukumanmu itu hanya akan membuatku malu!"


"Maaf Pak." guru itu menunduk takut. Ada rasa kesal dihatinya pada Aina yang mendapatkan pembelaan.


Seulas senyuman terbit diwajahnya. "Terimakasih," cicitnya.


******


"Syma sebaiknya Ibu pulang saja," ucap Ceyda segera bangkit dari duduknya. Dia sangat tidak nyaman sekarang. Dia sangat takut dengan kemarahan Ersad nanti.


"Tidak Ibu. Tunggulah sebentar lagi... Mas Ersad akan segera pulang." Syma berusaha menahannya.


"Bagaimana jika dia murka. Ibu belum siap, Syma tolong mengertilah. Biarkan Ibu pergi sekarang."


"Tidak.


Sekali tidak, tetap tidak. Ibu tidak akan kemana-mana. Sudah saatnya kalian selesaikan urusan kalian," ucap Syma tegas.


"Nyonya Ceyda. Mau main bersama Ze?"


"Ze... panggil dia Nenek."


"Nenek?" Zea membeo bingung. "Ze punya Nenek?"


"Ya, Nyonya Ceyda adalah Nenek Ze. Jadi Ze harus memanggilnya Nenek mulai sekarang."

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Suara Ersad tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.


Ceyda menegang ditempatnya. Matanya langsung ditangkap oleh sosok Ersad yang berdiri tegap dihadapannya. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Antara senang, namun juga takut dengan amarah anaknya itu.


Tadinya Ersad tidak sadar siapa wanita dihadapannya saat ini. Karena waktu Ceyda meninggalkannya. Dia masih sangat kecil. Namun dari tatapan wanita itu, Ersad mulai paham dan mengenalinya.


Tatapan Ersad berubah tajam. Raut wajahnya tak terbaca. Aura yang dia keluarkan begitu dingin dan mencekam.


Syma mencoba untuk mencairkan suasana dengan mendekati suaminya. Namun Ersad sama sekali tidak memperdulikan istrinya itu. Tatapannya bahkan tidak lepas dari Ceyda, seakan sedang mengulitinya hidup-hidup.


"Mas.... "


"Keluar dari rumahku... " titah Ersad pada Ceyda begitu dingin dan kejam.


Syma berusaha untuk menenangkan suaminya. Namun hal itu sia-sia karena Ersad sudah dikuasai oleh amarahnya.


"APA KAU TULI! KELUAR DARI RUMAHKU SEKARANG!"


Begitu sakit yang Ceyda rasakan. Dadanya terasa sesak, mendengar bentakkan dari putranya. Cepat-cepat dia keluar dari sana. Namun dengan sigap, Syma menahannya.


"Tidak, Ibu tidak boleh pergi. Mas harus mendengarkan penjelasannya dulu, Mas... " Syma memelas pada suaminya.


"Biarkan dia pergi, Syma!"


Syma menggeleng keras. "Tidak. Dengarkan dia dulu Mas... "


"AKU BILANG BIARKAN DIA PERGI!"


Ceyda segera pergi. Tanpa menoleh lagi ke belakang.


Sementara Syma masih saja ingin mengejar Ceyda. Namun tangannya langsung dicekal kuat oleh Ersad.


"Lepaskan aku, Mas. Ibu tidak boleh pergi. Ada yang ingin dia katakan padamu... Kumohon biarkan aku mengerjarnya!" Syma terus memberontak dari cekalan suaminya, berusaha untuk melepaskan diri dan mengejar Ceyda. Namun sayangnya cekalan Ersad begitu kuat, hingga semua yang dia lakukan hanyalah sia-sia.


PLAKKKKK


.


TBC


JIKA SUKA JANGAN LUPA JEMPOLNYA YA


LIKE RATE AND VOTE.


TERIMAKASIH

__ADS_1


AFF REAL


__ADS_2