
"Pak Hariz cemburu?" Aina tidak kuasa menahan pertanyaannya lebih lama lagi. Sepanjang perjalanan, Hariz hanya diam. Namun keterdiamannya terlihat jelas, bahwa dia sedang kesal.
"Anak kecil mana tahu?" ketusnya.
Aina hanya mengangkat bahu, seolah tak perduli.
"Apa Kau tidak lihat, bagaimana pria itu dengan sengaja..... " Hariz bahkan terlalu malas untuk menjelaskannya.
"Aina lihat. Kan Aina punya mata. Tapi Aina memaklumi mereka, karena mereka pasangan halal."
Hariz tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Menatap Aina dengan pandangan tidak suka. Ucapan Aina membuat Moodnya semakin buruk.
"Turun," ucapnya dingin.
"Apa?"
"Aku bilang turun ! apa kau tuli? turun dari mobilku sekarang."
"Tapi... bagaimana Aina pulang?" Aina mulai ketakutan.
"Pikir saja sendiri."
Lama Aina menatap Hariz dengan bingung, sekaligus memelas agar pria itu tidak menurunkannya disana. Tapi Hariz yang keras kepala, tetap menurunkan Aina tanpa perduli bagaimana gadis itu bisa pulang.
Dan kini... Aina hanya menatap mobil Hariz yang telah melaju kencang, meninggalkannya dipinggir jalan seorang diri.
"Sial. Bagaimana aku pulang? panti kan masih sangat jauh dari sini.
Uh... dasar bandot tua! tidak punya hati. Awas saja dia, aku pasti akan membalasnya. Sekarang aku tidak peduli lagi dia itu siapa.
Aku benar-benar akan membalas perbuatannya." Aina memaki dan merutuk kesal disepanjang jalan. Tidak ada pilihan lain baginya selain jalan kaki. Dia bahkan tidak punya uang sedikitpun untuk membayar taxi.
*****
Dua bulan sudah berlalu. Akhirnya Syma diperbolehkan oleh suaminya untuk kembali mengurus panti seperti biasa. Namun dengan catatan Syma harus sering menghubungi suaminya, untuk memberitahukan keadaannya.
Syma kini menikmati lagi suasana ramainya anak-anak yang berada disana. Zea juga tidak kalah senang, karena banyaknya teman disana. Keceriaannya pun sudah mulai kembali secara perlahan.
"Bibi senang kau kembali lagi, Syma."
"Ah, Bibi Deriya. Aku jauh lebih senang, karena bisa melihat kalian lagi disini. Aku merindukan kalian semua. Anak-anak dan juga lantunan sholawat yang terdengar begitu indah disini." Syma tersenyum hangat.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong. Aku baru saja ingin membeli semua kebutuhan dapur, tapi Aina bilang itu tidak perlu karena kulkas selalu penuh. Apa ada Donatur yang datang kemari?"
"Iya. Sudah satu minggu lebih. Dia seorang wanita paruh baya. Setiap kali dia kemari, ada saja yang dia bawa untuk membuat anak-anak senang. Dia sangat baik." Deriya menghentikan ucapannya, ketika melihat orang yang baru saja dia ceritakan tiba-tiba datang.
"Nah, itu dia orangnya," tunjuk Deriya pada wanita paruh baya itu.
Wanita itu tersenyum lembut, dan segera menghampiri mereka.
"Syma, ini Ceyda. Dia wanita yang aku maksud tadi," ucap Deriya memperkenalkannya.
"Nyonya Ceyda, saya Syma. Saya senang bisa mengenal Anda. Dan terimakasih sudah menjadi Donatur dipanti ini. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu."
"Baiklah Syma Sama-sama, Aku justru sangat senang bisa melihat anak-anak disini. Mereka sangat ceria dan luar biasa pintar. Hari-hariku merasa lebih hidup, saat melihat mereka."
"Bagaimana dengan kandunganmu? apa semuanya lancar?" tanya Deriya.
Ceyda menatap takjub pada Syma. "Kau hamil, nak?"
"Benar Nyonya. Dan kandunganku alhamdulillah baik-baik saja. Mas Ersad selalu setia menemaniku untuk memeriksanya."
"Ersad?" Ceyda sedikit terkejut, mana kala mendengar nama yang tidak asing baginya.
"Iya Nyonya. Namanya Ersad Destara. Apa Anda mengenalnya?"
*******
Entah ada angin apa, Setelah sekian lama tiba-tiba Revan muncul lagi dipanti asuhan itu. Dan secara kebetulan dia bertemu dengan Zea dan Syma. Tidak bisa dipungkiri bahwa pria itu begitu merindukan keduanya.
"Bagaimana kabarmu Syma?" tatapan mata Revan begitu sendu.
"Alhamdulillah baik." Syma merasa sedikit tidak nyaman, karena hanya ada mereka berdua disana.
"Bagaimana dengan Mia? apa sudah ada tanda-tanda?"
"Aku tidak pernah berniat untuk memiliki anak dengannya," ucapnya pahit.
"Kenapa?" terlihat jelas, Syma tidak suka dengan ucapannya.
Namun bukannya menjawab, Revan malah menanyakan hal lainnya padanya.
"Apa tidak ada lagi Kesempatan untuk kita, Syma? tidak bisakah kau memberiku sekali lagi saja. Aku akan memperbaiki semuanya," ucapnya dengan penuh permohonan.
__ADS_1
Syma sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Tidakkah Kau sadar, bahwa ucapanmu ini telah menyakiti wanita yang lainnya. Kesempatan tidak akan pernah datang lagi, Revan. Dan kalau pun ada. Aku tidak akan pernah membuka kesempatan itu untukmu.
Kau masih punya kesempatan. Tapi tidak denganku, melainkan Mia."
"Aku tidak bisa. Sangat sulit bagiku untuk bisa. Wanita gila itu bahkan tidak mau pergi dari rumahku,"
"Kalau begitu cobalah untuk menerimanya. Jika kau tidak bisa menghindar darinya, cobalah untuk ikhlas dulu menerimanya. Dengan rasa syukur itulah, maka kehidupan akan menjadi lebih baik. Kau tidak akan terjebak dimasa lalu lagi. Buka hatimu untuknya, bagaimana pun juga dia istrimu, dan dia berhak atas itu.
Gunakanlah kesempatan ini selagi ada. Jangan sampai kau menyesali kesalahan yang sama lagi.
Dan satu lagi.
Diantara kita sudah memiliki jarak. Sebuah batasan sudah membentang diantara kita. Alangkah baiknya jika kita saling menjaga perasaan pasangan kita satu sama lain. Apalagi, ketika kita sedang jauh dari mereka saat ini. Kau mengerti maksudku bukan?" ucap Syma sebelum melangkah keluar dari sana. Namun suara Revan menghentikan langkahnya.
"Aku mengerti Syma. Aku sangat mengerti maksudmu. Dan aku mungkin bisa melakukannya, aku bisa menjauh darimu. Aku bahkan bisa tidak menghubungimu lagi. Tapi... aku tidak bisa memastikan bahwa aku bisa berhenti mencintaimu.
Maaf."
*******
Sebagai pelarian dari Revan yang semakin membuat kepalanya pusing. Syma memilih menemui suaminya dikantor.
Ini adalah kali kedua baginya menginjakkan kaki dikantor milik suaminya. Namun suasananya sedikit berbeda. Karena saat masuk kesana dulu, ada Kevin yang membantunya. Kini tidak ada lagi pria itu. Yang ada hanya recepsionis muda nan cantik. Sedang berdiri dan menyadari kedatangannya disana.
Wanita berseragam ketat itu menatap Syma dengan pandangan menyelidik. Dari atas sampai kaki, matanya tidak luput menilai penampilan Syma yang berpakaian syar'i. 'Wanita seperti ini... sudah biasa aku lihat. Pakaiannya tidak salah, menutup seperti karung. Tapi kelakuannya menjijikan,'
"Ada perlu apa Nyonya?" ucap Recepsionis itu angkuh.
"Em, saya ingin keruangan Ersad," jawab Syma dengan ramahnya. Namun wanita itu lagi-lagi mendelik.
"Anda siapa? sudah buat janji?" pertanyaan dengan nada yang tidak bersahabat. Bahkan Syma sudah bisa merasakan bahwa wanita ini sepertinya tidak suka dengannya.
"Saya Istrinya. Saya rasa tidak perlu membuat janji bagi seorang istri yang datang untuk bertemu dengan suaminya," ucap Syma mengangkat dagunya. Menunjukkan keberaniannya pada wanita itu.
Tentu saja wanita itu tertawa mendengarnya.
HAHAHA......
.
__ADS_1
TBC
AFF REAL