
Hari ini, Mia bangun sedikit lebih siang dari sebelumnya. Bahkan dengan tergopoh-gopoh Mia tetap mengerjakan sholat subuh meski sedikit kesiangan. Ada rasa tidak nyaman ditubuhnya. Mungkin karena air kolam semalam begitu dingin. Sampai akhirnya Mia merasa pusing dan sedikit meriang di pagi hari.
Zico telah bangung dari tidurnya. Mendekati Mia yang sedang menyiapkan sarapannya. Zico duduk dengan manis. Tangan kecilnya mencoba meraih roti lapis yang ada dimeja. Namun sayang, tangan kecilnya kalah cepat dari Revan yang tiba-tiba sudah mengambil roti itu lebih dulu.
Zico meneriakinya begitu kesal. "Paman!! itu punya Zico... "
Revan menatapnya sekilas, kemudian menghabiskan roti ditangannya. Revan juga mengambil susu dan meminumnya. Padahal Mia sudah membuatkan teh hangat untuknya.
Zico menjerit karena susunya dihabiskan. Dan Mia Menatap mereka dengan bergantian.
Ya Tuhan, kenapa aku sampai lupa. Revan juga menyukai roti lapis dan susu hangat.
"Em, Mama akan buatkan lagi untuk Zico. Jangan menangis ya... "
Revan tiba-tiba beranjak dari kursinya. "Aku sudah selesai."
"Tunggu Mas!"
Revan berhenti saat mendengar Mia mencegahnya. Menatap Mia begitu dingin dan raut tak terbaca.
"Kami akan kepanti siang ini. Bibi Deriya pasti membutuhkan penjelasan dariku. Lagi pula, sekarang pengurusnya adalah aku."
"Terserah! dicegah juga percuma. Wanita pembangkang sepertimu juga pasti akan pergi tanpa sepengetahuan dariku!" Revan berbalik pergi. Namun tiba-tiba dia ingin melanjutkan ucapannya.
"Kalau sampai kalian kabur. Kau tahu sendiri akibatnya Mia."
"Baiklah."
******
"Syukurlah jika Revan sudah berubah, Mia. Memang sudah saatnya kalian bahagia. Kasihan Zico juga butuh kasih sayang dari ayah biologisnya." Deriya tersenyum haru. Sementara Mia tersenyum kecut.
Semoga ucapanku kali ini menjadi doa. Ya Robb, berdosakah aku menutupi aib suamiku dihadapan bibi. Aku hanya tidak ingin bibi Deriya khawatir...
"Mia!"
Mia menoleh ke sumber suara. Dan pemiliknya adalah Azkhan.
"Azkhan?"
"Mia, aku sangat khawatir. Sejak kejadian semalam. Aku terus mencoba menghubungimu. Aku mengerti jika kau marah karena sikap ibuku. Tapi tolong jangan pernah mengabaikan telpon dariku," ucap Azkhan nampak jelas kekhawatirannya.
__ADS_1
"Tidak, Azkhan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak marah pada siapapun. Semalam ponselku masuk kedalam air. Sampai akhirnya rusak dan tidak bisa digunakan lagi."
Mia tidak berbohong. Setelah Revan menghancurkan poselnya. Pria itu menendang ponsel Mia sampai jatuh kekolam. Sudah bisa dipastikan bahwa ponsel itu tidak bisa digunakan lagi. Apalagi karena harganya yang tergolong murah.
"Kalau begitu aku akan membelikan yang baru untukmu."
Mia langsung menyibakkan tangannya. "Tidak Azkhan tidak perlu. Aku masih punya uang untuk membeli yang baru."
Azkhan kini menatap Deriya. "Bibi, bisakah aku bicara berdua saja dengan Mia." Azkhan memohon.
"Baiklah Azkhan." Deriya segera pergi meninggalkan mereka berdua. Sementara Mia sendiri merasa tidak nyaman setiap kali berdua dengan Azkhan.
"Mia... setelah kejadian semalam. Aku telah memutuskan sesuatu. Mari menikah! jadilah istriku, Mia." Azkhan menatapnya teduh.
Tentu saja Mia terkejut mendengarnya. Selama ini Azkhan hanya meminta hubungan dekat seperti pacaran padanya. Dan Mia selalu menolak. Tapi kali ini, pria itu lebih nekat meminta menikahinya. Mia dibuat kalang kabut karenanya. Bagaimana bisa dia menikah disaat dirinya masih sah menjadi istri orang lain?
"Azkhan... aku tidak bisa." Mia menunduk bersalah. Lagi-lagi dia harus menolak.
"Kenapa Mia? kenapa kau selalu menolakku! katakan apa yang kurang dariku? hingga kau tidak pernah sedikitpun menginginkanku. Apa kau tidak kasihan melihat Zico. Dia juga butuh sosok seorang ayah. Dan aku yakin, aku adalah ayah yang tepat untuknya. Aku menyayanginya seperti putraku sendiri. Dan kau tahu itu."
Mia menggeleng lemah. "Bukan. Aku tidak bisa menikah denganmu karena ibumu tidak akan memberi restu. Dan lagi... aku juga belum bercerai dari suamiku."
"Kau tidak peduli, tapi aku peduli Azkhan. Ridho orang tua itu yang paling utama dalam rumah tangga. Jika ibumu saja tidak memberikan ridho itu bagaimana rumah tangga akan berkah. Setiap harinya pasti akan ada saja yang bertentangan."
Azkhan menghembuskan nafas beratnya. Tanda kegelisahan menyelimuti hatinya.
"Lalu bagaimana caraku mendapatkan restunya. Kau tidak mengerti bagaimana ibuku, Mia. Menikah saja dulu denganku, lambat laut ibu pasti akan menerimamu."
"Azkhan. Kau pria baik. Ibumu melakukan ini pasti demi kebaikanmu. Akan lebih baik jika kau menikahi wanita pilihan ibumu. Cobalah berpikir dari sudut pandangnya. Kau anaknya satu-satunya tentu dia ingin mendapatkan menantu yang sederajat dengan kalian. Sedangkan aku? statusku tidak jelas."
"Cukup Mia! jika kau belum siap untuk menikah denganku saat ini, aku bisa mengerti. Tapi jangan pernah paksa aku untuk menikahi wanita lain selain dirimu. Karena itu tidak akan pernah terjadi!" final. Azkhan tidak ingin dibantah kali ini. Pria itu tetap pada keputusannya untuk memperistri Mia sampai Mia siap dan mau menerimanya.
"Tapi Az-"
Azkhan mengangkat tangannya. Mengisyaratkan Mia agar berhenti bicara. Lalu pria itu pergi begitu saja.
Tentu saja Mia khawatir. Secara tidak langsung dia memberi harapan palsu pada Azkhan, meski dia tidak bermaksud melakukan hal itu. Padahal masalah terbesarnya bukan terletak disana. Melainkan Revan yang juga tidak akan pernah mau menceraikannya.
Mia dilema.
Apakah dia harus mengungkapkan semuanya pada Azkhan?
__ADS_1
Tapi bagaimana jika mereka bertengkar?
Dan lagi... bagaimana jika Revan benar-benar meratakan panti asuhan ini untuk dijadikan ladang bisnis.
Ya Robb... aku harus bagaimana?
******
"Kau terlihat kacau, Azkhan. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Sejak tadi Revan memperhatikan kegelisahan Azkhan. Sehabis dari panti, Azkhan langsung pergi kekantornya. Semua pekerjaannya terbengkalai karena pikirannya terlalu kacau. Dan kebetulan saat itu Revan sedang berkunjung kekantornya karena Azkhan adalah penanam saham terbesar di kantornya.
"Mia... dia menolakku!"
Deg
Revan mematung di tempatnya. Entah dia harus senang atau apa, yang jelas Revan lega karena Mia masih mau mendengarkannya.
Revan diam saja. Dia sendiri bingung bagaimana harus menanggapinya.
"Dia tidak mau menikah denganku karena ibuku tidak merestui hubungan kami. Aku sudah berusaha meyakinkannya, Revan tapi dia tetap saja menolak. Dia bahkan menyuruhku menikahi wanita lain agar ibuku senang. Sialan... aku punya segalanya tapi untuk mendapatkan hati seorang wanita saja serumit ini!"
"Jadi maksudmu, jika ibumu merestui kalian. Maka Mia akan setuju menikah denganmu, begitu?"
"Benar."
Ekspresi wajah Revan mengeras. Pria itu mengepalkan tangannya. Amarah kembali menguasai dirinya.
'Sialan kau Mia... rupanya kau masih tetap ingin bercerai denganku!'
*****
REVAN
AZKHAN
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA 😍
__ADS_1