TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 22: IKUT BAHAGIA MENDENGAR NYA


__ADS_3

"Aku ikut senang mendengar kabar baik ini. Semoga Erika segera pulih.


Dan mengenai aku. Aku tidak memusingkan rencana Allah tentang hidupku, maupun jodohku. karena aku yakin, Allah lebih tahu kapan waktu terbaik bagiku untuk mendapatkannya.


Karena jika memang kami berjodoh. Allah pastinya akan semakin mendekatkan, bukan menjauhkan," ucap Syma begitu tenang. Wajahnya terangkat, seakan memberi tahu Nora bahwa dia tidak takut dengan apa yang akan terjadi nanti.


"Dasar ja*ang tidak tahu malu ! bisa-bisanya kau berbicara seakan kau wanita baik-baik. Padahal kau hanya sampah, yang telah merusak rumah tangga orang." hardik Nora dengan tajam.


"Kau benar. Aku memang bukan wanita baik. Aku sadar perbuatan burukku mungkin jauh lebih banyak dari pada kebaikanku yang hanya bisa dihitung dengan jari.


Dan jikalau bukan karena Allah yang menutup aibku, maka sudah dipastikan bahwa aku begitu hina. Aku memang bukan manusia baik, tapi aku selalu berusaha agar menjadi baik." Syma memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Menunjukan pada Nora bahwa dia bukanlah wanita lemah yang bisa ditindas.


"Lalu... bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa dengan mencela orang lain, kau sudah merasa jauh lebih baik? Aku memang bukan orang baik... Tapi aku juga tidak yakin bahwa kau jauh lebih baik dariku. Ingatlah satu hal Nora, pada dasarnya kita ini sama-sama hina. Hanya saja Allah menutupi aib kita !" Syma berucap sembari mencondongkan tubuhnya.


Sementara Nora sudah begitu geram dengannya. Namun sepertinya ucapan Syma belum selesai sampai disitu saja.


"Dan satu lagi....


jangan suka menilai orang lain lebih buruk dari dirimu hanya karena kamu tau dia pernah melakukan beberapa kesalahan. Kau tak pernah tau apa yang kamu pandang buruk dari dirinya ternyata bukanlah sesuatu yang buruk bagi orang lain," ucap Syma sengaja menekankan ucapannya.


Matanya beralih menatap Ersad yang menuruni tangga dan menatap kerah mereka dengan pandangan bertanya-tanya. "Nora tidak mengatakan hal yang buruk padamu, kan?" tanya Ersad yang langsung disambut senyuman hangat dari Syma.


"Em, aku rasa tidak. Nora hanya mengingatkan aku tentang kebaikan," ucap Syma menatap Nora. "Benarkan Nora? aku pikir itu adalah maksud ucapanmu tadi," Tambahnya lagi.


Nora tidak menjawab sama sekali. Wanita itu menunjukan sikap permusuhannya secara terang-terangan. Dan berlalu begitu saja tanpa berucap sepatah katapun.


Sementara Ersad yang sudah sangat paham dengan sikap Nora. Tentunya tahu bahwa gadis itu telah bersikap kasar pada Syma.


"Jangan perdulikan apapun yang dia katakan," ucap Ersad memberikan kecupan ringan di dahi istrinya. Dan juga Zea. "Aku pergi dulu," tambahnya lagi dan Syma menyium punggung tangannya sebelum pergi.


"Hati-hati dijalan, Mas."


Ersad tersenyum menanggapinya.


Sementara Syma sendiri merasakan suatu yanga aneh didalam dirinya. Sebuah ketakutan. Takut dengan waktu yang akan bergulir cepat dan akan membuat mereka berpisah. Dan hal ini membuatnya sadar, bahwa ucapannya yang seolah memperlihatkan bahwa dia adalah wanita yang kuat, ternyata tidak sepadan dengan hatinya.

__ADS_1


'Bersabarlah duhai hati, suatu hari akan hadir tempat terbaik yang dapat menjadi pelabuhan terakhirmu,' batin Syma menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang.


Dia benar-benar sudah pasrah apapun yang akan terjadi nanti.


*****


Seperti biasa, Syma datang ke panti asuhan. Suasana yang berbeda karena tidak ada lagi Alma disana. Namun Syma tidak bisa melupakannya. Hanya tempat inilah yang membuatnya merasa bahwa Alma masih ada didekatnya.


"Nda... Ze mau main dengan kak Aina," ucap Zea meminta izin pada ibunya.


"Baiklah sayang. Jangan nakal ya."


Zea segera pergi dibawa Aina untuk bermain. Sementara Syma masih disibukkan dengan pekerjaannya untuk mendaftarkan beberapa anak yang ingin masuk sekolahsekolah menengah atas.


'Semua berkasnya sudah selesai. Sepertinya aku harus menemui ketua yayasannya sekarang' gumam Syma bergegas pergi dari sana.


Syma melangkahkan kaki untuk menemui ketua yayasan disekolah favorit disana. Yang mana merupakan tempat dia sekolah dulu. Menjadi siswi tauladan karena kepintarannya sehingga mendapat beasiswa


disana.


"Silakan masuk," ucap penjaga yang ada disana.


Syma segera masuk kedalam sana dan mendapati sang ketua yayasan sedang sibuk dengan berkasnya.


"Assalamu'alaikum," Syma memberi salam.


"Wa'alaikumsalam."


Syma terkejut dengan ketua yayasan itu. Wajahnya tidak begitu asing, namun dia juga tidak bisa mengingat siapa pria itu.


"Ada perlu apa Anda datang kemari nyonya?"


"Saya pembimbing panti asuhan As-safaat. Kedatangan saya kemari ingin mengajukan beberapa anak asuh saya untuk mendaftar disekolah favorit milik Anda, Pak. Dan ini..... "


"Memagnya apa yang mereka miliki sampai beraninya Anda mendaftarkan mereka kesekolah saya? Anda tahu sendiri biaya pendaftarannya saja sangat mahal, apalagi perbulannya," ucapnya setengah meremehkan.

__ADS_1


"Anda benar. Kami memang tidak akan sanggup membayar biayanya. Tapi mereka siswi berprestasi. Saya datang kemari ingin mengajukan beasiswa bagi mereka, Pak."


Tanpa diduga, pria itu justru terkekeh mendengar penuturan Syma.


"Anda sepertinya percaya diri sekali bahwa anak asuh Anda ini sangat pintar. Apa Anda tidak tahu bahwa disekolah ini begitu banyak siswa dan siswi yang kepintarannya melebihi rata-rata. Mereka dididik dengan baik, dan juga diberi asupan makanan yang penuh gizi.


Sedangkan anak asuhmu? Saya rasa makan daging saja mungkin setahun sekali, benar kan?"


Syma tergelak mendengarnya. 'Rupanya tampang pria ini, tidak sesuai dengan ahklak nya. Bisa-bisanya dia merendahkan orang lain dengan begitu mudah.


Meski sekuat apapaun Syma, tetap saja emosinya mulai terpancing. Namun dia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya.


"Tapi... "


"Disekolah ini tidak menerima lagi beasiswa. Jika ingin masuk maka Anda harus membayar. Jika tidak ada kepentingan lagi silahkan Anda keluar. " Lagi-lagi ucapan Syma langsung disela dengan pedasnya. Lalu pria itu menunjukan gestur pengusiran secara kasar.


Tangan Syma terkepal kuat. Emosinya sudah berada di ubun-ubun. Ingin sekali dia mencabik-cabik pria sombong yang ada dihadapannya ini.


"Dasar sombong!"


Syma segera beranjak dari sana dengan perasaan kesal. Dia tidak hentinya mengusap dadanya untuk beristighfar.


Sementara pria itu menatap penuh sinis kearah Syma yang mulai menghilang dari balik pintu.


'Bisa-bisanya kau melupakan siapa aku, Syma. Dendam masalalu ku tidak akan pernah aku lupakan. Kau akan lihat bagaimana aku akan mempersulit hidupmu seperti dulu kau selalu menyulitkanku'


Namanya Hariz Enggar Wijaya. Ketua yayasan yang baru, yang baru saja dilantik setelah menggantikan ayahnya.


Perawakan yang tinggi dan bertubuh kurus atletis. Berkulit putih dengan wajah yang memiliki kharisma nya sendiri.


Sudah sejak lama Hariz dendam dengan Syma yang membuatnya selalu dalam masalah. Dan sekarang, dia ingin menuntut balas dengan wanita itu. Dengan cara mempersulit hidupnya. Hariz sengaja merencanakan semuanya. Hanya untuk melihat Syma merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu.


TO BE CONTINUE......


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE NYA YA BUN😘

__ADS_1


AFF REAL


__ADS_2