TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
SEASON 2 (KEHIDUPAN BARU MIA)


__ADS_3

Tiga tahun sudah berlalu. Mia sudah terbiasa menjalani harinya dipanti asuhan. Dimana tempat sejak kecil ia dibesarkan. Tidak mudah memang, namun perlahan tapi pasti Mia sudah berdamai dengan masa lalunya dan melupakan Revan sebagai suami yang pernah dia cintai.


Perubahan didalam diri Mia juga sudah menunjukkan tanda kebaikan. Dimana tidak ada lagi yang mengungkit tentang kesalahannya dimasa lalu. Bibi Deriya juga memperlakukannya dengan baik seperti dulu saat dia kecil.


Mia telah bertekad untuk mengabdikan sisa hidupnya dipanti asuhan. Menjadi pengurus anak-anak panti disaat Syma sudah tidak lagi bisa karena terlalu repot dengan anak-anaknya. Syma memutuskan untuk berhenti dan menunjuk Mia sebagai penggantinya.


Dan disinilah Mia sekarang.


Tersenyum menatap keceriaan anak-anak yang bermain sementara dirinya baru saja selesai dengan mengerjakan tugasnya pemindahan anak kesekolah lain untuk melanjutkan pendidikan mereka.


"Mama!" Pekik seorang anak kecil berusia dua tahun lebih itu membuat Mia langsung merentangkan kedua tangannya. Karena anak itu sedang berlari menuju dirinya sementara dibelakangnya ada Deriya yang berlari mengejarnya.


Hap


Mia berhasil menangkapnya. "Apa yang kau lakukan Zico, Mama sudah bilang jangan lari-lari. Kau bisa jatuh!"


"Mia, anakmu sungguh keterlaluan! dia menumpahkan lelehan mentega yang telah dengan susah payah aku buat untuk membuat kue. Bukannya minta maaf, dia malah kabur!"


Ya, Zico adalah putra kandung Mia. Anak dari Revan. Saat terakhir kali Mia menemui Revan dipenjara. Dia sangat ingin memberitahukan berita kehamilannya. Namun hal itu dia urungkan, mana kala mendapati Revan yang tidak juga berubah. Revan tetap pada ambisinya. Mia tidak akan bisa hidup dengan lelaki yang tidak pernah mencintainya.


"Katakan maaf pada Nenek!" Mia mengeluarkan sikap tegasnya. Namun tidak sedikitpun Zico takut.


"Tidak mau!"


"Zico!" Mia mulai kesal dengan sikap anaknya yang keras kepala. Sangat sama persis seperti Revan.


"Apa yang dilakukan Jagoanku hingga Mama begitu marah?" Tiba-tiba suara bariton seorang pria membuat Zico tersenyum sumringah. Seolah penyelamatnya telah tiba.


"Papa!" Zico langsung melepaskan diri dari Mia dan menghambur kepelukan pria itu.


"Azkhan? sejak kapan kamu kembali ke istanbul?"


Azkhan mengeluarkan senyuman manisnya sembari membawa Zico kedalam gendongannya. "Semalam. Aku langsung melakukan penerbangan karena sudah sangat merindukan jagoanku," ucapnya sembari mencium Zico.


"Jadi... katakan apa lagi yang dilakukan Zico saat Papanya pergi keluar kota?"


"Jika harus dikatakan semuanya satu hari tidak akan selesai, Azkhan. Tapi jika kau ingin tahu apa yang baru saja dilakukan anak nakal itu, maka aku beritahu bahwa dia menumpahkan lelehan mentega sampai tercecer dilantai. Bukan lelehan menteganya yang aku risaukan. Tapi bagaimana jika itu mengenai tubuhnya. Itu masih sangat panas." Deriya mencoba menjelaskan dengan kekesalannya.


Azkhan menatap Zico meminta penjelasan darinya. Zico kecil hanya menyeringai sembari memperlihatkan giginya yang masih jarang. "Zico tidak sengaja," ucapnya polos.

__ADS_1


"Hah, selalu saja itu alasannya." Deriya mencebik kesal.


"Mau sengaja atau tidak. Kau harus meminta maaf pada Nenek Deriya. Karena ulahmu dia harus membuat kembali lelehan mentega."


"Maaf Nenek."


Mia mendengus. Bukan tidak suka, hanya saja Mia merasa cemburu karena Zico malah jauh lebih menurut dengan Azkhan dari pada dirinya. Padahal dia tahu bahwa Azkhan bukanlah ayah biologisnya. Namun kedekatan keduanya membuat Zico merasa nyaman dan merasakan kasih sayang dari seorang ayah yang selama ini tidak pernah dia rasakan.


Meski hubungan Mia dan Azkhan hanya sebatas pertemanan. Bukan karena Azkhan yang tidak ingin melakukan hubungan ke jenjang yang lebih serius, hanya saja Mia belum siap untuk kembali menikah. Mengingat masa lalunya yang begitu kelam.


Dan lagi...


Sampai saat ini Mia belum juga resmi bercerai secara hukum. Entah apa yang membuatnya sangat sulit untuk mengajukan perceraian. Para pengadilan agama begitu mempersulitnya. Mungkin hal itu dikarenakan keberadaan Revan di penjara.


"Zico, malam ini Papa mengadakan pesta kecil. Apa Zico mau datang?"


Mata Zico berbinar mendengar hal itu. Bocah itu mengangguk antusias. "Ya, Zico akan datang. Benar kan Ma?"


Mia menggeleng. "Sepertinya tidak, Zico. Maaf Azkhan. Kami tidak bisa datang. Mungkin lain kali."


Sayangnya hal itu membuat Zico tiba-tiba menangis. Anak itu mengamuk tidak setuju dengan keputusan Mia.


"Kau lihat, Mia. Kasihan putramu dia sangat menyukai pesta. Lagi pula ini hanya jamuan kecil. Sekali-sekali runtuhkan egomu dan biarkan anakmu bersenang-senang," ucap Azkhan sengaja membela Zico. Karena dia juga sangat ingin Mia datang kesana.


Zico tersenyum senang. Begitu pula dengan Azkhan.


******


"Mama, ayo cepat."


Mia sedikit terkejut melihat Zico yang begitu antusias. Rupanya anak ini benar-benar ingat dengan pesta yang dikatakan Azkhan siang tadi. Mia pikir Zico akan lupa setelah mereka selesai bermain bersama.


"Em, memangnya kita mau kemana?" Mia sengaja bertanya. Mungkin saja Zico membicarakan hal lain. Bukannya Mia tidak ingin datang kesana. Hanya saja Mia takut bertemu kembali dengan kedua orang tua Azkhan. Yang mana secara terang-terangan tidak menyukainya. Hal itu juga salah satu alasan Mia tidak mau menerima Azkhan. Hanya saja Azkhan begitu gencar dalam mendekatinya. Mia juga tidak bisa berbuat apapun setiap kali Azkhan datang menemui mereka. Hanya saja Mia selalu menjaga jarak agar tidak menimbulkan fitnah.


Bahkan Deriya saja sangat setuju jika dia menikah lagi. Apalagi dengan pria baik seperti Azkhan. Deriya bahkan menyukai setiap kali Azkhan bersama Zico. Bocah kecil itu berubah menjadi penurut setiap kali bersamanya. Berbeda ketika jauh dari Azkhan, Zico kembali menjadi anak yang super aktif dan tidak mau dicegah.


"Mama, kita kan mau ketempat Papa. Apa Mama lupa?" ucap Zico dengan polosnya.


Mia memutar matanya. "Iya. Maaf Mama lupa. Ayo kita siap-siap."

__ADS_1


"Oke!" Zico mengacungkan jempolnya.


Tadinya Azkhan ingin menjemput mereka. Namun Mia menolak. Lagi-lagi karena alasan tidak mau merepotkan dan tidak suka dengan balas budi.


Mia dan Zico masih sangat ingat dimana rumah Azkhan. Perumahan mewah elit yang berada di pusat kota. Tentu saja ada rasa tidak percaya diri setiap kali Mia menapaki kaki ditempat itu. Dia ingat terakhir kali datang kesana, dan bertemu dengan orang tua Azkhan.


Ibu Azkhan mencibirnya secara terang-terangan. Bahkan kata-katanya masih teringat jelas sampai saat ini dibenak Mia. Namun demi anaknya, Lagi-lagi Mia harus berhadapan dengan orang tua Azkhan. Jangankan hubungan serius, bahkan pertemanan mereka saja tidak disukai oleh orang tua Azkhan.


Mia menarik nafasnya sebelum masuk kedalam sana. Salah satu asisten Azkhan telah menunggunya didepan.


"Mari saya antar, Nyonya."


Mia mengangguk sopan. Dan mengikuti arahan dari Asisten itu. Sedangkan Zico berjalan dengan lincah seolah tak sabar.


Saat telah sampai. Zico langsung berteriak keras ketika melihat Azkhan yang sedang sibuk berbincang dengan seseorang.


"PAPA!!"


Bukan hanya Azkhan yang menoleh. Tapi juga beberapa orang yang hadir disana. Menatap heran pada sosok anak kecil yang berlari sembari memanggil Azkhan dengan sebutan Papa.


"Papa? apa anak itu tidak waras! setahuku Azkhan belum menikah."


Mia menelan ludahnya. Merasa tidak enak dengan tingkah anaknya itu. Lalu berjalan mendekati mereka.


Satu hal yang dia syukuri. Tempat itu masih sepi. Hanya ada Azkhan dan kedua teman kerjanya. Bahkan orang tua Azkhan juga tidak ada.


Dimana mereka?


"Aku senang kalian benar-benar datang."


Mia hanya tersenyum. Sementara Azkhan menarik kursi untuknya. Mia duduk dengan tenang. Sampai akhirnya ketenangan itu hilang saat matanya menangkap sosok yang entah sudah sejak kapan menatapnya dengan tajam.


Mata yang selama ini mengintimidasinya. Bahkan Mia tidak bisa lepas dari tatapan itu. Dunianya seolah berhenti seketika. Nafasnya seakan tercekat.


"Ya Tuhan, apa itu dia?"


*******


INI ADALAH KELANJUTAN KISAH MIA YANG BARU SAJA HIJRAH DAN BERUBAH DARI SIFAT BURUKNYA. MENCOBA MENCARI KETENANGAN SETELEH BERDAMAI DENGAN MASA LALUNYA.

__ADS_1


NAMUN SIAPA SANGKA DISAAT DIA BENAR-BENAR SUDAH MELUPAKAN MASA LALUNYA. TIBA-TIBA SAJA ORANG YANG SANGAT INGIN DIA HINDARI MUNCUL DIHADAPANNYA.


AYO IKUTI KISAHNYA YANG TIDAK KALAH SERU DAN MENGURAS EMOSI. JANGAN LUPA TEKAN LIKE VOTENYA YA GUYS


__ADS_2