TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 CERAIKAN DIA


__ADS_3

.


Kedua orang itu hanya bisa saling menatap dalam diam. Yang satu penuh kebencian dan yang satunya lagi bersikap tenang seolah tak terjadi apapun.


"Kau keliru, Azkhan. Aku melakukan ini demi kebaikanmu... " Revan mulai menjelaskan saat Mia berhasil menengahi mereka. Namun tidak sedikitpun Mia beranjak dari sana.


"Kebaikanku? cih!" Azkhan masih mentapnya kesal.


Revan menatap Mia sekilas, sebelum melanjutkan kembali ucapannya. "Kau tidak tahu seperti apa wanita ini. Dia berbahaya, Azkhan. Ketahuilah bahwa semua yang dikatakan ibumu adalah benar."


Azkhan semakin mengetatkan rahangnya. Dia tidak Terima Mia dipermalukan seperti ini dihadapannya. Padahal Revan adalah suaminya.


Sementara Mia sendiri tentu saja merasakan sesak didadanya. Wanita itu hanya menunduk sembari menahan air matanya agar tidak jatuh. Pandangannya hanya fokus pada jari-jarinya, seolah memastikan apakah masih lengkap ada sepuluh.


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu, Revan. Kau memang bajingan!"


"Aku mengatakan fakta. Mia adalah satu-satunya wanita yang menyebabkan pernikahanku dengan istri pertamaku kandas. Dia sengaja memanipulasi kejahatan istriku agar bisa memenuhi ambisinya untuk menikah denganku. Dan saat ini... saat aku masuk kedalam sel tahanan. Dia memilih pergi dan mencari mangsa baru. Dan itu adalah dirimu. Aku hanya tidak ingin kau bernasip sama denganku, Azkhan."


Entah karena hatinya sudah terlanjur patah. Atau karena mentalnya sudah sekuat baja. Mia tetap bertahan menahan air matanya. Wanita itu hanya menatap kosong dengan perasaan hampa. Perasaan sesak didadanya semakin mendalam hingga tak terasa. Sementara tenggorokannya seakan tercekat oleh batu kerikil. Begitu pahit mendengar suami sendiri membuka aibnya yang telah dengan susah payah dia tutupi dan perbaiki.


"Mia adalah-"


"CUKUP. Berhenti mengatakan hal buruk tentang Mia! jika kau menganggapnya seperti sampah, maka aku akan memungutnya seperti berlian. Ceraikan Mia!! biarkan aku menikahinya... "


"Tidak. Kau tidak mengerti. Aku tidak akan menceraikannya karena Mia akan membawamu pada pengaruh buruknya. Mengertilah bahwa kau akan menyesal nantinya, Azkhan."


"Kaulah yang akan berkubang dengan penyesalanmu, Revan. Serahkan Mia dan Zico padaku. Biarkan aku membahagiakan mereka berdua." Kali ini Azkhan menekannya.


Mia mengangkat wajahnya. Memperhatikan raut wajah Revan saat Azkhan bicara mengenai Zico. Ada rasa khawatir dalam dirinya, jika pembicaraan ini dilanjutkan.

__ADS_1


"Kau bisa membahagiakan anakmu sendiri jika kau mau. Sementara Mia, aku tidak akan membiarkannya bersamamu. Karena jika tujuannya berhasil dia akan membuangmu juga seperti sampah."


"Kau memang iblis tak berperasaan. Bahkan anakmu sendiri-"


"CUKUP! Hentikan Azkhan. Sebaiknya kau pulang sekarang juga. Ini sudah sangat larut." Mia berdiri dari duduknya. Dengan perasaan paniknya. Hanya itu yang Mia katakan, sebelum Azkhan meneruskan ucapannya. Mia takut Azkhan akan mengatakan bahwa Zico bukan anaknya. Dan akan sangat berbahaya jika Revan sampai mengetahuinya.


Azkhan menatapnya dengan pandangan terluka. Terlihat jelas betapa dia sangat kecewa. "Apa yang kau pikirkan, Mia. Aku yakin kau bisa menilai sendiri siapa suamimu ini. Siapapun bisa melihat bahwa akulah yang lebih pantas untukmu." Azkhan menatapnya begitu teduh.


Mia menguatkan hatinya. Semata-mata demi anaknya. "Kau salah Azkhan. Semua yang dikatakan suamiku adalah benar. Aku bukanlah wanita baik-baik seperti yang kau pikirkan. Semua perasaanmu padaku hanyalah kesalahan besar. Sebaiknya kau buang perasaan itu sebelum terlambat."


"Tapi Mia-"


"Sebaiknya kau pulang sekarang!" Mia mengarahkannya pada pintu keluar. Dengan tatapan kosong dan dalam hatinya penuh perasaan bersalah pada seorang pria yang telah banyak melakuan kebaikan untuknya dan juga Zico.


Dengan penuh kecewa dan luka. Azkhan pergi meninggalkan mereka.


Saat punggung pria itu tak terlihat lagi. Mia menghembuskan nafas leganya. Wanita itu memegangi jantungnya yang seakan sempat ingin meloncat dari tempatnya. Kepanikannya sedikit menghilang.


Revan sejak tadi mencerna setiap ucapan Azkhan. Dan kini semakin curiga saat menyadari perubahan raut wajah Mia.


Mia ingin menghindar dengan berjalan melewatinya begitu saja. Namun hal itu percuma, karena Revan telah menahan tangannya.


"Apalagi, Mas? Aku lelah dan ingin istirahat." Mia berucap datar. Mencoba menutupi rasa ngeri saat tatapan Revan menembus sampai ke jantungnya.


"Katakan padaku anak siapa?" Revan berucap pelan. Namun aura yang dia keluarkan begitu mengerikan.


"Siapa yang anak siapa?" Mia masih berusaha bicara dengan tenang.


"Zico! Siapa ayah biologisnya?"

__ADS_1


Deg


Rasa takut, khawatir kini kembali Mia rasakan. Revan mulai curiga padanya. Namun sekuat tenaga Mia menanggapinya dengan tenang.


"Azkhan."


"Jangan berbohong!!" Revan mencengkram kedua pipi Mia dengan satu tangannya. Menyudutkan wanita itu didinding hingga tak dapat bergerak. Hembusan nafas kasar dari Revan membuat Mia tidak ingin menyerah dan terus menutupi kebenarannya.


"Kau sudah tahu sendiri jawabnya, Mas. Aku mencari pria lain saat kau dipenjara. Dan Azkhan adalah satu-satunya pria yang berhasil ku taklukan. Kau pikir hal apa yang membuatnya sampai saat ini begitu gencar menginginkanku? Tentu saja karena aku berhasil menjadi penghangat ranjangnya."


Amarah Revan semakin menjadi-jadi. Mendengar kenyataan semua tuduhan dan prasangka buruknya selama ini adalah benar. Kebenciannya terhadap Mia menyeruak. Hingga pria itu dengan tega membenturkan kepala Mia ke dinding hingga dahinya mengeluarkan darah. Sebelum akhirnya pergi kekamarnya meninggalkan wanita itu yang kini sedang meringis kesakitan.


Air matanya luruh membasahi pipi. Bercampur dengan darah dan rasa pening yang teramat sangat. Ada rasa sesal didalam dirinya setelah mengatakan hal itu. Dia telah menoreh perasaan suaminya dengan ucapan yang tidak benar sama sekali. Bahkan sampai saat ini, Mia masih memikirkan perasaan suaminya. Lalu bagaimana dengan Revan sendiri?


Entah sampai kapan Mia harus seperti ini. Menjalani hidup dengan penuh kebohongan dan air mata. Entah sampai kapan dia harus menyimpan rahasia antara ayah dan anak. Jika saja rasa takut tidak menghantuinya, mengingat betapa kejamnya Revan. Mungkin Mia akan dengan sangat senang hati memberitahu bahwa Zico adalah putranya. Namun rasa takut itu tidak kunjung hilang. Menjadikan sebuah mimpi buruk baginya.


Bagaimana jika Revan menyakiti Zico?


Bagaimana jika Revan tidak mau menerimanya, dan membuat perasaan anaknya hancur?


Dan lagi... Bagaimana jika suatu saat Revan merenggut Zico darinya. Memisahkan dia dari belahan jiwa yang sangat dia sayangi dan yang menjadi penyemangat hidupnya. Mengingat hal itu, membuat Mia semakin terisak. Merasakan dilema yang membuatnya semakin tersiksa.


Mia tidak bisa menerima hal itu. Sebab itulah dia bertekad, biarlah Revan membencinya. Asalkan Zico masih tetap bersamanya, maka dunianya masih baik-baik saja.


*****


...JANGAN LUPA TEKAN LIKE...


...VOTE SEIKHLASNYA☺...

__ADS_1


...AFF REAL...


__ADS_2