
"Aku tidak seperti Ersad yang sabar dalam menghadapi wanita, Aina....
Mulutmu telah banyak berkicau hari ini. Dan itu menyinggung perasaanku!" Hariz berucap pelan. Namun tatapannya begitu mengintimidasi Aina. Hingga gadis itu memundurkan tubuhnya secara perlahan. Saat Hariz perlahan mendekatkan dirinya.
"Em... Aku hanya bercanda Pak. Kenapa terlalu diambil hati." Aina memaksakan senyumannya mesin saat ini dia nyaris ketakutan.
"Bercanda ya... "
"AAAAAaaaaa....... "
Hariz menutup telinganya mendengar teriakan Aina. "Kenapa kau suka sekali berteriak!"
"Aku pikir Bapak akan menciumku. Aku hanya takut bibirku titanus." cicitnya yang masih bisa didengar oleh Hariz dengan jelas.
"Apa katamu...!"
"Ma-ma-maksudku, aku takut dosa Pak. Kita kan bukan mukhrim." Aina segera mengelak, saat Hariz kembali mengintimidasinya.
"Aku tidak akan menyentuhmu saat ini. Lagi pula kau bukan seleraku!" Bohongnya. Padahal sudah jelas sejak tadi Hariz berusaha menahan gejolak yang ada didalam dirinya untuk menyumpal mulut Aina dengan bibirnya.
'Hanya saat ini Aina. Tapi aku tidak bisa janji lain kali... ' gumamnya sebelum menjalankan mobil untuk mengantar Aina pulang ke panti.
******
'Siapa yang menghubungi Mas Ersad dijam seperti ini?' gumam Syma menatap ponsel suaminya. Dia sangat ingin membukanya, namun hal itu dia urungkan karena tidak ingin membuka privasi suaminya.
Matanya beralih kearah Ersad yang nampak segar, saat keluar dari kamar mandi.
"Mas, ada yang mengirim pesan sejak tadi. Sepertinya penting."
"Buka saja," Ersad menyahuti sembari memakai pakaian yang telah disediakan oleh Syma.
Kini tidak ada keraguan lagi didalam diri Syma. Dia membuka dan melihat siapa yang mengirim pesan.
"Nomor tidak dikenal?" Syma semakin penasaran, hingga dia memperbesar foto profilnya. Kini raut wajahnya berubah, saat menyadari bahwa wanita yang bernama Winda yang menghubungi suaminya.
Syma segera membuka isi pesannya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Syma sedikit kesal melihat Winda mengirimkan foto dirinya yang sedang memakai hijab. Namun belahan dadanya masih terpampang jelas. Hal itu sudah pasti bertujuan untuk menggoda suaminya.
"Siapa yang mengirim pesan?"
"Winda." Syma berucap lesu.
"Apa yang dia katakan?" Ersad bertanya sembari mendekat kearahnya.
"Mas lihat saja sendiri... " ucap Syma menyodorkan ponsel suaminya.
__ADS_1
Ersad mengambilnya. Dan membuka isi pesan tersebut.
Winda memang mengirim potonya. Namun Ersad hanya membaca tulisannya.
(Pak, apa saya harus mengenakan jilbab seperti ini setiap hari? Lihatlah, ini bahkan tidak cocok untukku.)
Ersad kini menatap Syma yang berubah dingin. Wanita itu seakan lebih tertarik pada kasur dan merebahkan tubuhnya disana.
Ada senyuman tipis yang terukir diwajah Ersad. Dia tahu bahwa istrinya sedang cemburu.
"Apa aku harus memblokir nomor Winda, agar berhenti menghubungiku?"
"Tidak perlu, Tanggapi saja pertanyaannya. Aku mau tidur," ucapnya ketus.
"Syma... "
Tidak ada jawaban dari wanita itu. Hingga Ersad memilih untuk meletakkan kembali ponselnya dan ikut berbaring di sebelah istrinya. Tangannya memeluk tubuh Syma dari belakang. Membuat Syma bisa merasakan hangat dari tubuh suaminya.
Syma tersenyum. Bahkan hanya dengan seperti ini saja, Syma sudah tenang. Tidak ada lagi kegelisahan didalam dirinya. Yang dia tahu, bahwa suaminya begitu mencintainya. Jadi tidak mungkin Ersad akan tergoda dengan wanita manapun.
******
Revan merasakan sebuah hantaman yang bergulir dan beruntun, ketika mendengar kabar mengerikan dari Mia. Melalui pembatas sel yang hanya terpisah oleh kaca. Revan mendengar semuanya dengan seksama, seakan seseorang sedang menoreh tepat pada jantungnya.
"Ap-apa yang kau katakan, Mia?" Revan bertanya sembari menatapnya nanar.
Revan terlalu keluh untuk menyela ucapan Mia. Nafasnya memburu, seakan semua yang dikatakan Mia hanyalah bualan belakang.
"Keparat!!
Pria itu telah berhasil menghancurkanku. Sekarang aku mendekam disini, dan tidak tahu kapan aku bisa bebas."
"Ini karma untukmu. Seharusnya kau sadar dan bertobat Mas... "
"Mia, kau harus membantuku. Bantu aku keluar dari sini. Lalu kita balas mereka dengan lebih parah dari ini. Jangan biarkan mereka bahagia, Mia. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik setelah ini." Revan menatap Mia dengan penuh permohonan.
Mia sendiri menatapnya datar. Seakan kecewa dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Aku memang mencintaimu, Mas. Bahkan lebih dari diriku sendiri.
Tapi meski begitu, aku tidak bisa membantumu dalam melakukan aksi kejahatan pada sahabatku sendiri. Sudah cukup aku menyakitinya. Aku datang kesini berharap Mas bertobat dan menyesali semua perbuatanmu. Lalu kita bersama-sama memulai semuanya dari awal.
Tapi ternyata aku salah.
Aku kecewa.
Kecewa pada diriku sendiri, karena tidak bisa mengajakmu kejalan yang lebih baik. Aku bahkan tidak bisa menghilangkan amarah didalam dirimu.
__ADS_1
Aku sadar, itu semua karena aku tidaklah berati apa-apa bagimu.
Dan sekarang.
Aku akan memilih menjadi wanita bijaksana dan tahu akan nilai diriku.
Aku tidak akan lagi mengemis cinta, perhatian dan kasih sayang pada seorang pria. Bagiku apa yang bisa aku lakukan sendiri maka akan aku lakukan sendiri. Dan aku tidak akan mengharapkan sebuah ketulusan, sebelum orang itu menunjukkan padaku, bahwa dia benar-benar tulus mencintaiku." Mia berucap lirih. Wajahnya nampak begitu kecewa. Dia bahkan tidak ingin menatap Revan yang menatapnya dengan geram.
"Kau penyebab semua kekacauan ini, Mia. Ini tidak akan pernah terjadi jika bukan karena ulahmu! Apa kau lupa akan hal itu!!" Revan mendesiskan kalimat yang membuat Mia kembali merasa bersalah.
Mia menatap wajahnya. Matanya memerah karena amarah bercampur kesedihan yang mendalam.
"Kau benar Mas. Semua ini terjadi karena ulahku! Tapi bukan berarti aku akan melakukan kesalahan yang sama dengan menyakiti Syma.
Itu adalah masalaluku, dan aku juga sudah meminta maaf padanya. Hubungan diantara kami sudah membaik.
Berhenti mengungkit-ungkit kesalahan dimasa laluku. Karena kau tidak akan pernah tahu sesulit apa aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri untuk melepas masalaluku."
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Mia. Kau harus membantuku keluar dari sini. Jangan menjadi istri pembangkang yang tidak taat pada suamimu sendiri." Revan nyaris mengerang saat mengatakannya. Sementara Mia hanya tertawa getir.
"Taat?
Dalam Hadist Al-Bukhori menyebutkan bahwa tidak ada taat dalam hal kemaksiatan dan kejahatan. Jangan menyalah gunakan adab dan perintah islam Mas.
Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Dan sekarang aku sudah mengambil keputusan.
Aku akan mengabdikan seluruh hidupku dipanti asuhan. Meski aku tidak tahu hal itu bisa menebus semua dosaku atau tidak. Tapi setidaknya aku ingin mengubah hidupku menjadi lebih baik.
Dan lebih damai tentunya.
Sampai disini akhirnya aku mengerti.
Mau sebaik apapun aku...
Secinta apapun aku. Sebanyak apapun pengorbanan yang telah aku lakukan. Sesayang atau setulus apapun diriku.
Semua itu tidak akan pernah ada artinya, dimata orang yang tidak pernah bersyukur memilikiku..." Mia menghapus jejak air matanya. Dan memaksakan diri untuk tersenyum dihadapan Revan.
"Sepertinya pertemuan kita cukup sampai disini. Selamat tinggal... "
Revan terdiam di tempatnya. Dia tidak menyangka hidupnya akan berakhir menyedihkan seperti ini. Dia berteriak memanggil Mia. Namun wanita itu melenggang pergi tanpa memperdulikannya.
*****
HAYUK BANTU AUTHOR BIAR SEMANGAT NULISNYA. LIKE KOMEN AND VOTE
TERIMAKASIH
__ADS_1
AFF REAL