TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
RAPUH


__ADS_3

"Operasinya berjalan dengan lancar. Peluru berhasil dikeluarkan. Namun akibat dari lukanya menyebabkan kerusakan pada organ vital."


Revan terduduk lemas. Entah apa lagi setelah ini. Rasanya dia belum siap menerima kabar buruk yang lainnya lagi.


Revan menggenggam erat tangan istrinya. "Kau berjanji untuk memulai semuanya dari awal, Mia... kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita. Bagaimana kita bisa mewujudkan semua itu jika sampai saat ini kau belum juga membuka mata... "


Seseorang menepuk pelan pundaknya. Revan tidak menoleh. Namun dia tahu itu adalah Deriya.


"Aku masih mengingat dengan jelas, wangi parfum yang biasa dia gunakan. Senyuman manis yang membuat mata bulatnya bersinar. Caranya menatapku dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Aku bahkan masih ingat waktu pertama kali bertemu dengannya. Caranya bicara dan memanggil namaku dengan lembut. Semuanya terekam jelas di otakku. Apakah... apakah semua itu masih bisa kurasakan. Aku sangat takut, Bibi... aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Jika bisa ditukar, biar aku saja yang berada di posisinya saat ini. Kenapa ini harus terjadi padanya..." Revan berucap lirih. Baru kali ini seorang yang keras dan arogan seperti Revan terlihat sangat rapuh.


Tidak ada yang bisa Deriya lakukan selain menenangkannya. "Berdo'alah Nak... minta padanya keajaiban untuk istrimu. Pergilah bersihkan dirimu. Ada yang bilang bahwa Doa bisa mengubah takdir. Maka lakukanlah dan buktikan sendiri."


Revan tidak menyela ucapannya. Namun langkahnya juga terlalu berat untuk meninggalkan Mia.


"Aku akan pulang sebentar menemui putraku. Dia pasti membutuhkanku saat ini. Bibi... tolong jaga Mia. Aku juga sudah menyiapkan beberapa penjaga untuknya. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


"Baiklah..."


****


Revan pulang kerumahnya bersama Zico. Baru saja satu langkah dia masuk. Sekelebat ingatan tentang senyuman sang istri yang selalu menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat yang mengembang, membuat Revan kembali terhenyak.


Kini wanita itu sedang terbaring lemah dirumah sakit. Suasana rumah nampak sepi dan sunyi.


Revan berjalan dan tanpa sengaja melewati tempat dimana Mia menghabiskan waktunya untuk menyajikan menu yang lezat untuk mereka makan. Revan memandangi tempat itu seolah kini dia melihat sang istri sedang memasak makanan untuknya.


Revan tersenyum dalam diam. Halusinasinya terasa sangat nyata, saat wanita itu berbalik dan tersenyum padanya. Revan ingin semakin mendekat, namun sayangnya suara Zico membuat semua halusinasinya buyar.


"Papa, Zico rindu Mama." Zico merengek dan memeluk Revan. Hal itu membuat Revan hanya bisa menatapnya penuh ironi dan mengusap lembut kepalanya.


"Mama akan segera kembali."

__ADS_1


"Tapi kapan?"


Revan terdiam. Dia sendiri tidak tahu kapan hal itu bisa terjadi. "Mama pasti kembali. Selama Mama dirawat. Bagaimana kalau Zico jadi anak yang baik dulu. Jangan suka menangis dan merengek. Karena Mama akan semakin sedih jika tahu Zico menangis."


"Tapi Mama akan kembali, kan Pa?" Zico kembali meyakinkan.


"Benar sayang... "


****


"Aku merepotkanmu lagi."


Syma menyambutnya dengan antusias. "Aku sangat senang karena Gokhan memiliki teman bermain."


Revan tersenyum masam. Lagi-lagi dia harus menitipkan anaknya pada mantan istrinya. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan Mia terlalu lama.


"Ikutlah denganku, ada yang ingin kukatakan." Kali ini Ersad yang bersuara. Revan mengikutinya. Mereka pergi ke sebuah tempat. Dimana Ersad menyekap seseorang sebagai tersangka penembak kan pada Mia.


Mereka memasuki sebuah lorong gelap dengan udara lembab. Disana bahkan banyak terdapat katak betung yang menjijikan. Entah mengapa Ersad memilih tempat mengerikan seperti ini.


"Dia orangnya. Tapi sampai saat ini, dia tidak juga membuka mulutnya siapa orang yang telah menyuruhnya," ucap Ersad dengan raut datarnya. Menunjuk seseorang yang sedang terikat dengan wajah yang ditutupi oleh sarung kecil.


"Katakan padaku, siapa yang telah menyuruhmu?!"


Pria itu terkekeh. Menatap Revan dengan eringai ejekan yang kental.


"Bunuh saja aku! matipun kau tidak akan mengetahuinya... "


BUGH


Revan menendang wajahnya. hingga hidungnya mengeluarkan darah. Pria itu hanya meringis tak berdaya.


"Apa yang telah diberikan oleh tuanmu hingga kau begitu melindunginya. Bajingan!!"


Revan kembali menendang, memukuli hingga tidak segan membenturkan kepalanya ke tembok. Namun pria itu tetap saja tidak mau membuka mulutnya. Bahkan Revan nyaris frustasi karenanya. Jika ini tetap berlanjut maka pria itu benar-benar akan mati di tangan Revan.

__ADS_1


Sebab itulah Ersad menahannya. Agar Revan berhenti seperti orang kesetanan yang diluar kendali.


"Kau tidak bisa seperti ini, Revan. Dia bisa mati. Dan pelakunya tidak akan pernah bisa kita temukan." Ersad mencoba memperingati.


Revan membuang kasar nafas beratnya. Dia sadar yang dikatakan Ersad benar. Namun Revan juga merasa kesal karena tidak mendapat informasi apapun.


Dalam kegusaran itu. Mereka hanya bisa memikirkan cara terbaik agar pria ini membuka mulutnya.


"Istriku kesakitan karena ulahnya... apa yang harus aku lakukan? aku merasa gagal sebagai seorang suami dalam melindunginya... " Revan kembali terduduk lemas. Ingatan tentang Mia yang terbaring lemah membuatnya begitu rapuh. Revan merasa dunianya hancur.


"Ini belum berakhir. Setidaknya kau masih punya harapan. Lihatlah Syma yang selama ini mengalami penderitaan. Sekarang dia mendapatkan kebahagiaannya, lalu apa menurutmu Mia akan berakhir menyedihkan begitu saja?


Meski pun benar. Dia akan tetap berakhir bahagia. Tidak didunia, mungkin di syurga... "


"Jangan katakan hal itu! Mia tidak akan meninggalkanku begitu saja. Dia tidak akan membiarkan aku hidup dengan kekosongan. Aku tidak bisa mengurus Zico seorang diri. Aku membutuhkannya, aku sangat membutuhkannya... " lirihnya dengan mata kembali memerah.


"Tidak ada satu orangpun yang menginginkan musibah terjadi. Semuanya pasti atas kehendak Tuhan. Dan akan ada hikmah dibalik semua ini. Bersabarlah..."


"Apa ini hukuman untukku?! selama ini aku tidak pernah membahagiakan istriku. Selama ini aku selalu menyiksanya dari segi fisik maupun mental. Apakah penyesalanku sudah terlambat...? tidak bisakah aku saja yang berada diposisi Mia saat ini..." Revan nyaris mengerang. Dengan ujian yang datang bertubi-tubi. Seakan tak memberinya celah untuk bernafas barang sedetik saja.


Begitu menyesakkan dan membuatnya nyaris ingin menyerah.


"Sudahlah. Tidak ada gunanya berkubang dalam penyesalan. Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan saat ini. Untuk memperbaiki semua kesalahan dimasa lalu."


Revan masih bergeming ditempatnya. Tubuhnya seakan terlalu lemas untuk berdiri. Dia ingin segera mengakhiri semua penderitaan ini. Namun apalah daya. Revan pasrah.


Biarlah bagaimana Tuhan mengatur semuanya.


Revan mencoba ikhlas, karena memang dia juga tidak bisa melakukan apapun.


Revan berdiri dengan lesunya. Kakinya melangkah untuk keluar dari sana.


Saat membuka pintu mobil. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Dan itu panggilan dari Deriya. Revan langsung mengangkatnya dengan tangan bergetar. Berharap kali ini bukan kabar buruk yang dia dengar. Revan menarik nafasnya, sebelum akhirnya dia mendengar suara Deriya mengatakan:

__ADS_1


"Revan, Mia sudah sadar."


DEG


__ADS_2