
Revan yang tadinya berjalan tergesa-gesa karena tak sabar ingin bertemu istrinya. Terpaksa harus melambat, karena pada saat dia sampai. Pemandangan yang dia lihat begitu memuakkan.
Bagaimana tidak.
Orang yang seharusnya pertama kali ada saat istrinya membuka mata. Malah digantikan dengan pria lain yang menurutnya adalah penyebab semua kekacauan ini. Revan menatapnya murka. Dan ingin menghajarnya karena telah lancang menemui Mia.
Namun langkahnya terhenti, saat mendengar mereka berdua bicara.
"Kenapa kau lakukan ini, Mia...?" Azkhan menatapnya teduh.
Mia tersenyum tipis. "Aku tidak akan menyesali apapun yang aku lakukan untuk suamiku. Bagiku, apa yang aku lakukan ini sudah benar. Aku ingin menjadi istri yang terbaik untuknya. Karena aku sangat mencintai suamiku. Hingga aku rela melakukan apapun untuknya."
Meski Mia berucap lembut. Namun Azkhan justru merasa itu adalah ucapan tersakit yang dia dengar. Seakan saat ini Mia sedang menghujamnya dengan pisau tajam hingga langsung menembus ke jantungnya. Begitu sakit dan menyesakkan.
Dan kini Azkhan sadar. Meski sekuat apapun dia mencoba untuk mendapatkan wanita yang dia cintai. Hal itu hanyalah sia-sia karena dia tidak akan pernah bisa meraih hati dan perasaannya. Mia memilih Revan. Dan Azkhan menelan bulat kenyataan pahit itu.
Dengan tertunduk lesu. Azkhan pun berucap: "Baiklah, Mia. Mulai sekarang aku tidak akan pernah mengganggu rumah tangga kalian lagi. Aku sadar sikapku sudah menyakiti kalian terlalu jauh. Pergilah bersama orang yang mampu membuatmu bahagia.
Aku ikhlas melepasmu...
Aku juga sadar, memaksakan dirimu untuk bersama denganku juga belum tentu bisa menjamin hidupmu bahagia.
Sekarang aku sadar, mau sejahat apapun seseorang dimataku, jika dia mampu membuatmu bahagia maka aku bisa apa?
Temuilah kebahagiaanmu, Mia...
Sebagai mana yang tidak akan pernah mampu aku lakukan untukmu." Azkhan berucap pahit. Dia tahu ucapannya sendiri juga melukai perasaannya.
Namun dia sadar bahwa tetap mempertahankan ambsi juga hanya akan memberi rasa sakit lain lagi. Saat ini Azkhan mulai menyerah. Logikanya mungkin bertentangan dengan hati. Namun ini keputusan terbaik agar wanita yang dicintainya tetap baik-baik saja.
__ADS_1
Dan disisi lain. Revan yang mendengar itu hanya membeku ditempatnya. Rasanya sangat bertolak belakang sekali dengan pengorbanannya yang hanya secuil, sementara Mia mengorbankan nyawa untuknya.
Revan hanya terdiam seribu bahasa.
Dan pada saat Azkhan berbalik untuk meninggalkan Mia. Mata keduanya saling berpadu. Azkhan langsung berhadapan dengan Revan yang sejak tadi mendengar percakapan mereka.
Namun kali ini bukan pandangan penuh permusuhan. Melainkan tatapan persaudaraan yang selama ini mereka lakukan.
Azkhan menyentuh bahu Revan. "Jaga Mia dan Zico. Dia ingin bersamamu. Dia memilihmu. Jangan lagi sakiti dia. Sebab jika itu terjadi, maka aku akan datang kembali untuk merebutnya darimu..," ucap Azkhan sampai akhirnya benar-benar pergi meninggalkan mereka.
Mia langsung mengembangkan senyumannya saat melihat suaminya yang kini berjalan kearahnya. Wanita itu ingin segera bangkit untuk menyambut suaminya. Namun dengan cepat, Revan menahan tubuhnya.
"Kau mau apa, Mia? kondisimu masih lemah. Jangan terlalu banyak bergerak." Revan berucap lembut sembari mendorong pelan tubuh Mia agar kembali berbaring.
"Aku merindukan kalian."
"Aku ingin segera pulang, Mas. Aku ingin bertemu Zico," rengek Mia padanya.
"Aku akan menanyakan pada Dokter dulu. Apakah kau bisa pulang atau belum."
Mia mengangguk setuju. Tangannya merengkuh lengan Revan dengan erat. Seakan takut pria itu akan meninggalkannya lagi. Mia bahkan menempelkan pipinya disana. Namun saat dia mengangkat wajahnya. Mia menatapnya nanar, karena melihat mata Revan memerah dan nampak berkaca-kaca.
"Mas... ada apa? apa aku menyakitimu? Azkhan hanya-"
Revan menyentuh bibir Mia dengan jarinya. Mengisyaratkan agar wanita itu tidak melanjutkan ucapannya. "Ssstt.... kau tidak pernah menyakitiku Mia... wanita sepertimu mana bisa menyakiti. Yang ada hanya membuat orang lain semakin menyayangimu. Sama hal nya dengan Azkhan yang sangat sulit melepasmu. Aku telah mendengar semuanya. Dan terimakasih... terimakasih telah memberiku banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku merasa tidak pantas mendapatkan kebaikanmu apalagi pengorbananmu. Namun aku juga tidak munafik. Aku sangat membutuhkan kesempatan itu.
Kesempatan dimana aku harus memperbaiki semuanya. Terimakasih istriku... terimakasih untuk segalanya," lirih pria yang nampak rapuh sekaligus bahagia.
Mia tersenyum hangat dan mengusap kepala suaminya yang kini ditenggelamkan ketubuh mungil nya. Revan merengkuh tubuh Mia dengan sangat hati-hati tentunya karena disana masih ada luka bekas oprasinya.
__ADS_1
Mereka berdua terlalu larut dalam kerinduan sekaligus perasaan yang dalam. Berharap ini adalah akhir dari segala macam penderitaan. Berharap kali ini mereka benar-benar akan menjalankan rumah tangga yang normal seperti orang lain pada umumnya. Dan Mia... dia merasa begitu lapang.
"Aku pernah berpikir bahwa aku sudah menghancurkan hatiku sendiri dengan menciptakan fantasy dikepalaku tentang kita bersama dan berpura-pura suatu hari nanti kamu akan mencintaiku lagi. Meski logikaku sering berkata bahwa itu tidak akan pernah terjadi.
Tapi hari ini aku membuktikan sendiri bahwa semua doa dan harapanku ternyata terkabul. Semua yang aku pikirkan dulu rupanya terjadi hari ini. Bahkan Zico pada akhirnya mendapatkan cinta dari ayahnya." Mia tersenyum haru. Matanya berkabut karena begitu bahagia.
Revan mengangkat kepalanya.
"Dan ini semua terjadi karena doa-doamu. Ketulusan dan keikhlasanmu...," ucapnya lembut. Mata mereka berdua berpadu. Saling memancarkan cinta satu sama lain. Seakan dunia hanyalah milik mereka berdua hingga tidak sadar ada orang lain yang kini berada disana untuk membesuk Mia.
"Ekhem! sepertinya kami datang disaat yang tidak tepat." suara bariton dari Ersad membuat kedua insan yang saling meluapkan cinta itu mengalihkan perhatiannya.
Merasa tidak enak dengan beberapa orang yang datang untuk membesuknya.
"Sudah cukup Lovely Dovey kalian, sekarang izinkan kami juga melepas rindu dengan Kak Mia," ucap Aina dengan nada menjengkelkan seperti biasanya.
Mia terkekeh dan secara spontan, Revan mundur untuk memberi celah pada orang-orang itu untuk mendekati Mia.
Syma dan Aina langsung memeluk Mia. Mereka melepaskan rindu dan saling bercengkrama dengan akrabnya. Berbeda dengan Ersad dan Hariz yang lebih memilih bergabung bersama Revan.
"Ada masalah lain lagi yang harus kau tahu, Revan."
"Aku belum siap untuk itu. Tapi aku harus mendengarnya," saut Revan dengan raut datarnya.
"Orang yang menembak Mia mengakhiri hidupnya. Dia ditemukan tewas, saat anak buahku kembali untuk mengecek keadaannya. Sekarang kita tidak bisa mengetahui siapa dalang dibalik semua ini. Ini akan sangat sulit."
Revan menggertakkan giginya. Dia hanya diam, guna mengendalikan emosi yang sangat ingin dia ledakkan. Revan ingin belajar bersikap tenang mulai saat ini dalam menghadapi masalah.
Dengan sekali tarikan nafas, diapun berucap : "Serahkan semuanya pada Tuhan. Pelakunya tidak akan bisa hidup tenang. Mau di dunia maupun di akhirat. Dia mungkin bisa lolos dari hukuman manusia. Tapi tidak dengan hukuman Tuhan."
__ADS_1