TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 36: MENGUNGKAPKAN SEMUANYA


__ADS_3

"Egois? Ya. Aku memang egois. Aku rasa Kau jauh lebih tahu bahwa Allah tidak pernah menuntut seorang laki-laki untuk setia pada satu wanita. Tapi Allah menuntut seorang laki-laki untuk bertanggung jawab atas wanitanya.


Aku rasa Kau jauh lebih tahu, bahwa wanita tidak akan dituntut di akhirat nanti, atas perbuatan suaminya. Tapi seorang suami, akan dituntut diakhirat nanti atas perbuatan istri dan anaknya."


Syma tercengang mendengar ucapan suaminya. Matanya menatap penuh kebingungan. Dari mana Mas Ersad mengetahui hal ini? Sejak kapan dia belajar tentang agama?


"Apapun yang ada dipikiranmu. Aku tidak akan menjawabnya sekarang.


Tapi Kau harus ikut aku sekarang. Akan kutunjukan sesuatu padamu." Ersad menarik tangan Syma tanpa menunggu persetujuan darinya. Dan mau tidak mau, Syma mengikuti langkah suaminya itu.


Ersad membawa Syma kesuatu tempat tersembunyi. Dimana dia menyimpan semua rahasianya disana. Ruangan itu begitu remang dan sedikit sempit.


Ersad melemparkan beberapa berkas dihadapan Syma. Sebuah lembaran kertas yang Syma sendiri tidak tahu apa isinya. Syma mengambilnya dengan ragu dan melihatnya satu persatu.


"Obsessive compulsive disorder? kelainan prikologis yang mengidap manusia,"


"Ya.


Nora menderita penyakit itu. Karena keturunan dari ayahnya.


Nora memiliki kelainan sebuah obsesi yang berlebihan pada apapun yang dia inginkan. Jika sesuatu itu tidak bisa dia dapatkan, maka dia akan merasa cemas, stres dan frustasi. Dan karena hal itu, dia bisa melakukan apapun. Termasuk menghabisi siapa saja yang menghalanginya."


"Menghabisi?"


"Erika bukanlah saudara kandungnya. Dan meskipun Erika adalah saudara kandung. Nora tetap akan membunuhnya. Karena dia menginginkanku.


Setelah kematian Erika. Target berikutnya adalah dirimu."


"Dari mana Mas mengetahui semua ini?"


"Mia... "


"Mia?"


Ersad mengangguk sebagai jawabanya. "Aku mengeluarkan Mia dari penjara bukan tanpa alasan. Semua jni aku lakukan semata-mata untuk mengorek informasi lebih dalam mengenai Nora dan penyakitnya. Beserta kelemahannya.


Dan Mia mengetahui semuanya, karena mereka cukup dekat waktu sekolah dulu. Mia bahkan sempat mengatakan bahwa Nora pernah menyukai gurunya sendiri. Lalu karena ada salah seorang murid yang menjadi anak kebanggaan guru itu. Nora membully nya sampai akhirnya murid itu meninggal."


Syma menutup mulutnya, dia begitu syok mendengarnya.


"Lalu apa yang terjadi dengan guru itu?"


"Guru itu melaporkan Nora kepolisi. Karena dia masih dibawah umur, Nora tidak bisa ditahan. Namun Nora dibawa ke psikiater untuk diperiksa psikologinya. Dan selang beberapa tahun, Nora dinyatakan sudah pulih dari penyakitnya.

__ADS_1


Tapi Mia berkata bahwa itu hanyalah akal-akalan Nora untuk keluar dari sana. Dan saat dia ingin mengejar guru itu kembali, guru itu sudah pindah keluar negri. Sehingga Nora kembali stress."


"Jadi Nora sengaja membunuh Erika, hanya untuk mengkambing hitamkan aku?"


"Sejak awal aku sudah tahu Kau tidak mungkin melakukannya Syma. Aku sengaja berpura-pura tidak mempercayaimu, agar Nora berpikir dia berhasil dalam tujuannya.


Aku tidak pernah menikahinya. Aku memanipulasi semuanya. Agar Nora berpikir bahwa dia benar-benar aku nikahi." Ersad menghentikan ucapannya, matanya menatap teduh pada wanita yang kini masih diliputi kebingungan diwajahnya.


Ersad menangkup kedua pipi Syma dan memaksa menatap matanya. "Nora tidak merencanakan semua ini sendirian, Syma. Ada seseorang yang telah membantunya sampai semua bukti bahkan rekaman cctv lenyap begitu saja. Rencananya berjalan dengan sangat mulus.


Percayalah padaku Syma....


Aku melakukan ini untukmu. Keselamatanmu dan Zea sedang dipertaruhkan disini. Aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih berbahaya dari ini. Bersabarlah sampai Kevin berhasil menemukan Dokter yang membantu Nora. Jika semuanya sudah didapatkan, maka aku akan segera menghukum wanita itu dengan memenjarakannya. Sama seperti yang dia lakukan padamu waktu itu."


Syma mengangguk. Sebuah senyuman harus terukir diwajahnya. Dan rasa bersalah nampak jelas disana. "Maaf.... Maafkan aku telah meragukanmu, Mas. Aku telah berburuk sangka padamu. Maafkan aku," lirih nya.


"Tidak apa.


Aku hanya benci melihatmu bersama pria lain. Apalagi orang itu adalah Hariz. Kau tahu sendiri bagaimana hubungan diantara kami berdua. Jadi, jangan lagi mendekati pria itu. Dia juga tidak kalah berbahaya dari Nora."


Syma mengangguk. Kali ini ada kelegaan menyelimuti hatinya. Dadanya terasa lapang. Apalagi ketika Ersad memeluknya secara posesif seperti ini. Sudah lama sekali rasanya, Syma tidak merasakan dekapan hangat dari suaminya itu.


Sesekali Ersad mengecup keningnya. Lalu turun ke kedua pipinya. Sampai kepelabuhan terakhir, yaitu bibirnya. Ersad menciumnya dengan penuh kelembutan. Rasa hangat yang menjalar seakan menggelitiknya. Syma memejamkan matanya seakan menikmati sentuhan itu.


Ersad melepaskan ciumannya dan menatap wajah istrinya yang bersemu merah. Matanya seakan meminta ijin kepada sang istri untuk melanjutkan kegiatannya kelebih intim. Sang istri yang mengerti pun, mengangguk malu. Tanda persetujuan atas permintaan suaminya.


Dan akhirnya mereka melakukan pergelutan di ruangan rahasia itu. Ruangan yang sempit seakan menambah gairah diantara mereka berdua. Hanya deru nafas dan erangan memalukan yang memenuhi ruangan yang kedap suara itu. Sehingga siapapun tidak akan bisa tahu apa yang telah mereka lakukan didalam sana.


******


"Bagaimana? Apa Dokter itu sudah ketemu?"


"Maaf Pak. Dokter itu tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku sudah menyuruh orang-orangku untuk mencarinya. Tapi hasilnya nihil."


"Sial...


Kenapa sulit sekali. Apa tidak ada petunjuk sedikitpun?" Ersad nyaris mengerang karena begitu frustasi. Dia tidak bisa menahan Nora lebih lama didekatnya. Itu akan semakin membuat Syma dan Zea dalam bahaya.


Kevin menggeleng lemah.


"Hanya ada satu cara.... " Ersad bergumam pelan. Dan hal itu masih bisa didengar oleh Kevin.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu. Biar aku saja yang melakukannya. Sekarang keluarlah," Ersad memberi gestur pengusiran pada Kevin.


Kevin langsung mengangguk dan meninggalkan ruangannya.


*****


"Ayo minumlah Nora. Bukankah Kau suka minuman seperti ini, mari kita bersulang atas pernikahan kita." ucap Ersad memberikan segelas wine.


Tentu saja Nora menerimanya tanpa merasa curiga sedikitpun.


"Baiklah sayang," Nora mengangkat gelasnya dan menyatukannya dengan gelas Ersad. Kemudian meminumnya secara perlahan.


Saat isinya sudah habis. Ersad terus menambah dan terus menambah sampai Nora benar-benar mabuk.


Dan benar saja. Tubuh Nora mulai bereaksi. Dia nampak sempoyongan dan mulai berbicara ngelantur.


"Apa yang kau rencanakan Nora?"


"Hahahha.... Memangnya apa? Sayang? Aku hanya ingin dirimu,"


"Kenapa kau membunuh Erika?"


"Karena aku tidak suka dia menerima wanita murahan itu. Padahal aku sudah menantikan saat-saat dia mati dengan sendirinya. Tapi karena dia mau menerima Syma. Aku membunuhnya...


Aku tidak punya pilihan lain.


Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu," Tanpa diduga Nora mengeluarkan air matanya. Ersad sendiri bingung air mata apa itu? Kenapa dia nampak sedih.


"Kenapa kau menangis?"


"Meskipun Kak Erika bukan saudara kandungku. Tapi aku menyayanginya."


'Bodoh...


Mana ada istilah sayang dengan cara membunuhnya.' Ersad menggeleng. Tidak habis pikir dengan pikiran wanita ini.


"Lalu dimana kau menyembunyikan Dokter yang membantumu itu?"


*****


TBC


BOLEH DONG AUTHOR MINTA VOTE NYA DI HARI SENIN INI. SEMOGA TAMBAH LANCAR REJEKINYA PARA READERS KU TERSAYANG 💕

__ADS_1


__ADS_2