TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 23: SEBUAH KEPAHITAN


__ADS_3

Tidak bisa dipungkiri bahwa Syma masih sangat kesal dengan pemimpin yayasan yang sombong itu. Namun di sisi lain dia juga merasa bingung. Bagaimana cara agar anak asuhnya bisa bersekolah di tempat yang baik, dengan cara pendidikan yang baik pula. Tentu Syma ingin seperti Almarhumah Alma yang selalu memikirkan yang terbaik untuk anak asuh nya.


"Apa yang membuat Kakak murung?" tanya Aina yang juga akan melanjutkan pendidikannya. Syma bingung harus menjawab apa. Dia tidak ingin mengecewakan Aina dan temannya yang lain.


"Tidak ada. Aku hanya lelah," sautnya dengan wajah memang terlihat lelah.


"Apa Kakak kesulitan memasukan kami kesekolah?" tanya Aina yang tepat pada sasarannya. Seakan dapat membaca pikiran Syma.


"Tidak juga. Jangan khawatir Aina. Kakak akan melakukan yang terbaik untuk kalian,"


"Tidak kak, maksudku jangan mempersulit diri Kas Syma sendiri. Kami masih bisa bersekolah ditempat yang biasa. Tidak perlu harus disana," ucap Aina begitu tulusnya. Meski Aina sedikit nakal. Namun dia tetap saja anak yang baik.


"Kakak tidak merasa seperti itu, Aina. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Tugasmu hanyalah belajar dan belajar sampai pandai. Jangan memusingkan hal yang lainnya lagi. Kau mengerti !" ucap Syma tegas.


"Baiklah Kak."


"Ze... kita pulang sekarang ya. Pamit dulu sama Kak Aina," ucap Syma segera beranjak untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Syma tidak ingin Aina ikut khawatir mengenai sekolahnya. Dia akan tetap berusaha memasukan Aina kesekolah favorit itu bagaimana pun caranya.


Namun Aina merasa bahwa dia telah membebani Syma. Meski usianya masih terbilang muda. Namun Aina selalu mengerti perasaan seseorang. Dia tahu bahwa saat ini Syma tidak sedang baik-baik saja.


Yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa agar Allah memudahkan semuanya.


******


...حَسْبِی رَبی جَلل الله * مَافِي قَلْبِی غَيْرُ الله...


...Hasbi robbi Jalallah, Ma Fi Qalbi Ghairullah...


...نُورْ مُحَملدْ صَلی الله * لَا إله إلا الله...


...Nur Muhammad Shalallah, Laa Ila Ha Ilallah...


...حَسْبِی رَبی جَلل الله * مَافِي قَلْبِی غَيْرُ الله...

__ADS_1


...Hasbi robbi Jalallah, Ma Fi Qalbi Ghairullah...


نُورْ مُحَملدْ صَلی الله * لَا إله إلا الله


Nur Muhammad Shalallah, Laa Ila Ha Ilallah.


Begitu lembut dan menyejukan hati, ketika Ersad yang baru saja pulang malam itu. Tidak sengaja mendengar lantunan Sholawat yang disenandungkan oleh Syma. Entah mengapa hatinya merasakan adanya getaran sehingga bulu kuduknya merinding. Ersad hanya mendengarnya dari balik pintu kamar Zea. Ersad yakin bahwa saat ini Syma sedang menidurkan putri kecilnya itu.


Ersad memejamkan matanya sejenak. Seolah menikmati setiap bait sholawat yang dilantuntan oleh Syma. Seakan maknanya tepat sekali tertuju padanya. Bahwa dia cukup pasrah dan bergantung kepada Allah SWT. Cukuplah Allah yang mencukupi nya dan memberi jalan terbaik baginya.


"Mas baru pulang?" suara Syma yang sudah ada di depannya membuat Ersad membuka matanya. Memandang sang istri yang selalu menyejukan matanya.


Ersad mengangguk pelan. Sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Syma memperhatikan raut wajah Ersad yang nampak lelah. Disana juga dia merasa bahwa suaminya itu sedang gusar, entah apa yang dipikirkannya.


"Aku ingin mandi," ujarnya sembari melangkah menuju kamarnya.


******


Setelah selesai membersihkan diri, Ersad menatap lurus keluar jendela kaca yang cukup besar dikamarnya. Sembari memegang secangkir kopi yang dibuat oleh Syma.


Syma mendekati suaminya secara perlahan. Mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang di risaukan oleh Ersad. Namun belum sempat dia bertanya, Ersad sudah lebih dulu membuka suaranya.


"Apa yang membuatmu begitu menyayangi Zea, Syma." Ersad berucap tanpa menoleh sedikitpun padanya. Dan pertanyaannya itu membuat Syma bingung. Pertanyaan macam apa itu? kenapa hal seperti itu harus ditanyakan? pikirnya.


"Tentu saja karena dia putriku. Tidak ada yang bisa menyayangi seorang anak, kecuali orang tuanya sendiri. Dan itu sudah menjadi tanggung jawab para orang tua, untuk menjaga dan mendidik anaknya dengan baik."


"Tapi ibuku tidak seperti itu," ujarnya pahit. Kali ini Ersad menundukan wajahnya. Sebuah kepahitan yang tidak pernah dia bagi pada siapapun. Selain Syma. "Ibuku meninggalkanku. Disaat aku butuh kasih sayang seorang ibu. Ketika malam aku kesepian, aku tidak pernah merasakan dekapan seorang ibu.


Tidak ada tempat bagiku untuk bercerita dan mencurahkan semua kegundahan didalam hatiku.


Ibu..

__ADS_1


Siapakah ia?


Dimanakah ia?


Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di benakku. Menghantuiku siang dan malam. Menjadi mimpi buruk di setiap tidurku. Dan sayangnya, tak pernah ada jawaban yang kudapat. Buntu


Orang lain berpikir bahwa aku baik-baik saja, tapi mereka tidak tahu bahwa sebenarnya jiwaku cacat. Hidupku bagaikan tanpa ruh. Hatiku terluka. Yang hanya bisa kulakukan hanya menangis di sudut kamar setiap kali aku merindukan ibu. Tak ada orang yang tahu. Tak pernah ku ceritakan lara ini pada siapapun. Yang orang lihat, aku tumbuh layaknya anak lainnya. Yang orang tahu, aku selalu tersenyum dan yang orang tahu aku selalu baik-baik saja. Karena apa yang tampak di mataku belum tentu itu yang dirasakan hatiku."


Syma menyentuh lembut tangan suaminya. Menatap kedalam manik matanya. Meski Ersad tidak mengeluarkan air mata. Namun Syma bisa merasakan begitu pedih luka yang dia rasakan. Seolah semua luka itu ditransferkan padanya, yang membuat Syma juga merasakannya saat ini.


"Apapun yang ibumu lakukan. Aku yakin, pasti ada alasan dibalik semua itu. Jika kau merindukannya berkali-kali, maka ibumu pasti merindukanmu berjuta-juta kali. Jika Kau mencintai ibumu sebesar dunia, maka dia pasti mencintaimu sebesar angkasa.


Kau hanya perlu berdamai pada hatimu. Mencoba menerima setiap takdir yang telah Allah tuliskan untukmu. Jika kita bersyukur, maka Allah SWT akan menambah lagi nikmatnya. Aku yakin akan ada hikmah dibalik semua ini. Mungkin saja karena Allah SWT sedang merencanakan sesuatu yang indah untukmu. Yang perlu dilakukan hanyalah sabar dan tawakal. Berserah diri kepada Allah Azza wajallah," ucap Syma begitu lembut.


Kini Ersad menatapnya. Pancaran kepedihan terlihat jelas. Namun kali ini bukan tentang ibunya lagi. Melainkan hal yang lainnya. Yang Syma sendiri tidak tahu, hal apa itu.


"Aku sudah menerima hal itu sebelumnya, Syma. keputusan ibu meninggalkanku sejak aku balita adalah kesalahan terbesar yang ia perbuat. Aku tak peduli apapun alasannya. Untuk masa depanku lah, untuk aku bisa bertahan hidup lah, untuk aku sekolah, intinya sekali ia memutuskan untuk pergi, ia telah pergi dari kehidupanku.


Yang aku pikirkan sekarang adalah dirimu.... "


Sontak Syma terkejut mendengarnya. Menatap Ersad penuh kebingungan yang terpancar jelas dimatanya. Syma menatap nanar suaminya itu, mencoba memahami setiap ucapannya.


"Aku?


Kenapa denganku?"


*****


To be continue......


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE NYA YA


AFF REAL

__ADS_1


__ADS_2