
"Apa Kau sedang melawak, Hah ! Jika kau istrinya, kalau begitu perkenalkan aku selingkuhannya, bagaimana?" ucap Wanita itu dengan gaya mengejek Syma secara terang-terangan.
"Apa ada yang lucu?" Syma melipat kedua tangannya. Menatap wanita itu dengan tersenyum sinis.
"Tentu saja ini lucu. Karena setahuku, Istri Pak Ersad sudah meninggal. Apa kau ingin mengatakan bahwa Kau adalah Nyonya Erika, dan saat ini sedang bangkit dari kubur?"
"Saya bukan Erika, tapi Syma. Dan saya istri sahnya."
Lagi-lagi wanita itu tertawa terbahak-bahak. Dan hal itu mulai menyulut emosi Syma. Syma berusaha sekuat mungkin untuk menahan ledakkan amarahnya dengan tetap bersikap tenang.
"Apa begini cara Anda biasanya memperlakukan tamu? Dan apa Anda sadar, bahwa pakaian yang anda kenakan saat ini sangatlah tidak pantas?" Syma bertanya padanya.
"Cih, aku lebih senang berpakaian seperti ini, dari pada wanita munafik sepertimu yang merasa dirinya paling suci. Padahal kita ini hanya berbeda saja dalam memilih dosa," tukas wanita itu.
"Itu karena kau terlalu sombong. Dan sombong itu menutup pintu kebenaran.
Dan Kau mau tahu, apa yang lebih buruk dari pada hal ini? Yaitu orang yang sudah mengetahui hal itu adalah dosa, namun dia tetap melakukannya. Bahkan dengan bangganya dia menyebarkan aibnya. Naudzubillah...."
"Pergi sana ke Masjid. Jangan ceramah disini !"
Tanpa mereka sadari. Ersad telah menyaksikan keributan mereka sejak tadi. Pria itu segera mendekati istrinya, ketika melihat tingkah receptionis itu sudah sangat keterlaluan pada istrinya.
Ersad datang dengan langkah tegas dan tatapan tajamnya.
.
"ANDA DIPECAT."
.
Jika kalian berpikir itu adalah suara Ersad. Kalian salah besar. Suara itu berasal dari mulut Syma.
Semua orang kaget mendengarnya. Termasuk Ersad sendiri. Namun pria itu juga tidak menyelanya. Sementara Syma sendiri tidak menyadari kehadiran suaminya di belakang tubuhnya.
"Siapa Kau berani memecatku?" ucap wanita itu dengan geramnya.
"Aku tegaskan sekali lagi, bahwa aku adalah Istrinya
Ersad Destara. Istri pemilik perusahaan ini. Apa Anda masih belum mengerti? Biar aku jelaskan bahwa semua yang menjadi milik Suamiku, itu juga adalah milikku. Termasuk tempat ini ! PAHAM. Dan perusahaan ini, tidak membutuhkan pegawai culas sepertimu, yang memperlakukan setiap tamunya dengan tidak sopan." Syma sedikit mengeraskan suaranya dan menekankan ucapannya.
"Pak, lihatlah wanita gila ini. Dia bicara seenaknya. Lebih baik panggil saja security dan seret dia keluar," wanita itu langsung mengadu, ketika melihat Ersad dihadapannya.
Syma sendiri kaget dengan kehadiran suaminya disana.
"Siapa Kau berani memerintahku, memanggil security? dan lagi... wanita yang kau sebut gila ini adalah istriku.
Angkat kakimu dari sini, dan jangan pernah muncul lagi," ucapnya dingin.
__ADS_1
"Tapi.... "
"SECURITY !!"
Dengan cepat petugas keamanan datang dan membawa wanita itu keluar.
"Ayo keruanganku, kau pasti lelah." Ersad meraih tangan Syma untuk menuntunnya. Namun wanita itu masih bergeming ditempatnya dengan raut wajah tak terbaca.
"Tunggu, Mas. Sepertinya masih ada lagi yang harus aku urus," ucap Syma berjalan mendekati para karyawannya.
Syma memperhatikan setiap pakaian wanita yang ada disana. Tidak ada satupun wanita yang cukup waras, dalam mengenakan pakaiannya, pikir Syma.
"Apa disini ada yang Non-muslim?"
Mereka semua menggeleng ketika mendengar pertanyaan Syma.
"Mulai besok, para wanita yang bekerja disini, dilarang keras memakai pakaian minim seperti yang kalian kenakan saat ini. Para wanita diwajibkan berhijab menutupi lekuk tubuhnya. Tidak boleh lagi ada yang mengumbar auratnya.
Peraturan ini dibuat untuk menyelamatkan Suamiku diakhirat nanti. Karena dia adalah pemimpin kalian disini. Dan seorang pemimpin, akan dimintai pertanggung jawabannya diakhirat kelak, atas kepemimpinannya." Syma berucap sedemikian tegas.
Mau tidak mau, para karyawan pun mengangguk setuju. Karena mereka tidak ingin bernasib sama dengan reseptionis tadi. Meski kenyataannya mereka begitu jengkel dengan peraturan itu.
Ersad sendiri hanya diam. Senyuman samar terukir diwajahnya. Semakin hari sikap Syma semakin menantang. 'Hormon ibu hamil memang luar biasa,' batinnya.
******
"Tidak Sayang, kau melakukan hal yang benar," ucap Ersad merangkulnya.
"Jangan membual Mas, Aku serius."
"Astaga... kenapa wanita lebih percaya kebohongan daripada kejujuran," ucap Ersad berdecak sebal.
"Tapi aku tidak menyesal dengan apa yang aku lakukan. Lebih baik bersikap tegas, dari pada diam tapi menjerumuskan."
"Seharusnya kau mengerti maksud ucapanku tadi seperti itu. Kenapa akhir-akhir ini Kau jadi menyebalkan, Syma."
"Aku menyebalkan?" Syma membeo. Namun Ersad bisa melihat wanita itu tidak Terima dengan ucapannya.
"Tidak, Tidak. Kau pandai. Sudahlah... berhenti membahas itu.
Dimana Zea?" Ersad sengaja mengalihkan pembicaraan agar Syma berhenti mengajaknya berdebat.
"Ah, Mas tidak tahu, kalau Zea sudah berada dipanti rasanya sulit sekali mengajaknya pulang. Apalagi ada Revan disana."
Syma tidak sadar, bahwa ucapannya membuat Ersad merubah ekspresi wajahnya menjadi dingin.
"Pria itu... kalian bertemu lagi?"
__ADS_1
"Itulah sebabnya aku mengungsi kesini, Mas. Jelas-jelas untuk menghindar dari Pria itu. Lagi pula ada Aina disana yang mengawasinya," ucap Syma yang membuat perasaan Ersad sedikit lapang.
"Bagus. Itu baru istriku... jangan pernah mendekati lelaki manapun, baik itu Revan ataupun siapa aku tidak peduli."
"Jangankan mendekati... bahkan mengenalnya saja aku tidak ingin." Tanpa Syma sadari, ucapannya itu justru menyulut naluri kelelakian suaminya. Karena terkesan menggoda baginya.
"Kau pandai menggoda sekarang.... "
"Menggoda? menggoda apanya?"
Ersad memeluknya mesra serta memberikan kecupan-kecupan ringan diwajah Syma. Syma sampai kewalahan menghadapi suaminya yang tidak mau berhenti.
"Sebaiknya kita jemput Zea sekarang. Kasihan Aina jika terlalu lama."
"Baiklah...."
******
Ketika sampai dipanti asuhan. Syma segera masuk bersama Ersad. Mencari keberadaan putrinya yang sudah berjam-jam ditinggalkan.
Pada saat itu, kebetulan Zea sedang bermain dengan Aina dan Ceyda. Ada juga beberapa anak yang lainnya bersama mereka. Dan sepertinya, Revan sudah pulang.
Melihat kedatangan Syma dari kejauhan. Zea langsung bersorak senang. Namun saat mendekat, Tiba-tiba saja ponsel Ersad berdering. Dia terpaksa mengangkat dulu panggilan itu, karena menurutnya penting.
Sementara Ceyda yang merasa tidak asing, dengan pria yang ada di sebelah Syma. Langsung membeku ditempatnya. Matanya membulat sempurna. Keterkejutan terlihat jelas diwajahnya.
Dan ekspresi itu tidak luput dari perhatian Syma. Tentu saja Syma mulai curiga padanya.
"Ada apa Nyonya Ceyda? apa Anda mengenal suami Saya?" tanya Syma menatapnya bingung.
Ceyda segera memalingkan wajahnya. Untung saja Ersad tidak melihatnya karena sibuk dengan panggilan telepon.
"Em... tidak Syma. Maaf, sepertinya perutku masih sakit. Aku harus ke toilet sebentar," ucap Ceyda mencari alasan untuk pergi dari sana. Sebelum Ersad menyadari kehadirannya.
"Baiklah. Jika sudah selesai segeralah kembali. Akan Aku perkenalkan dengan Suamiku."
Ceyda hanya mengangguk pelan, sebelum akhirnya keluar berlawanan arah dengan Ersad. Sehingga pria itu benar-benar tidak menyadari kehadirannya disana.
.
TBC
WAH UDAH SENIN AJA NIH....
BOLEH DONG AUTHOR MINTA VOTE NYA. 😇
AFF REAL.
__ADS_1