TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 51: ASSALAMU'ALAIKUM IBU MERTUA


__ADS_3

Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tangannya bergetar, ketika melihat hasil DNA yang menjadi bukti semua kebenarannya. Kecurigaan Syma selama ini ternyata benar. Pantas saja Ceyda selalu menghindar setiap kali Syma akan mempertemukan Ersad dengannya.


"Ada apa Syma? Apa kau sakit?" Deriya menatapnya khawatir.


"Bibi Deriya. Apa Bibi tahu dimana Nyonya Ceyda tinggal?"


"Tidak tahu. Tapi aku punya kartu namanya, tunggu sebentar." Deriya bergegas mengambil sebuah kartu untuk diberikan pada Syma.


"Ini.... " Syma segera mengambilnya.


"Terimakasih Bibi. Aku harus pergi sekarang. Katakan juga pada Aina, aku akan segera kembali."


Deriya hanya mengangguk bingung. Karena ingin bertanya sekalipun sudah terlambat. Syma sudah pergi lebih dulu.


******


Syma akhirnya sampai dikediaman Ceyda. Sesuai dengan alamat yang tertera dikartu itu. Dan disekitar tempat itu, hanya ada satu rumah sederhana namun indah. Tidak ada kesan mewah sedikitpun namun sedap dipandang mata.


Rumput dan bunga-bunga berjejer dan tertata rapi dihalaman rumah itu. Hanya saja rumah itu terlihat sepi bagai tak berpenghuni.


Syma mencoba mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Dia mencobanya lagi dan lagi, sampai akhirnya Ceyda keluar membuka pintu secara perlahan.


Ceyda berkerut heran ketika melihat siapa yang datang ke rumahnya.


"Syma?"


"Assalamu'alaikum Nyonya Ceyda. Ah, maaf... mungkin saya kurang sopan memanggil Anda seperti itu.


Assalamu'alaikum Ibu Mertua," ucap Syma dengan senyuman misterius yang terukir diwajahnya.


Sontak hal itu membuat Ceyda kaget setengah mati. Wanita itu tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Dia sangat belum siap dengan kebenaran ini.


Tiba-tiba saja Ceyda menutup kembali pintu rumahnya. Namun dengan sigap, Syma menahannya sehingga pintu itu tidak tertutup secara sempurna.


"Ibu Mertua jangan tutup pintunya. Kita harus bicara... " Syma berusaha sekuat tenaga membuka pintu yang akan tertutup rapat itu.

__ADS_1


"Pergi dari sini, Syma. Aku bukan mertuamu! Kau salah orang."


"Aku sudah tahu semuanya. Aku punya semua bukti. Ibu tidak bisa mengelak lagi sekarang. Aku mohon buka pintunya dan biarkan aku bicara."


"Tidak Syma.


PERGI!


Aku bukan Ibu Mertuamu. Pergi dari rumahku!"


Karena terlalu kesal dengan ucapan Ceyda. Syma membuka lebar pintu itu dan masuk kedalam rumahnya. Nafasnya naik turun karena amarah.


"Apa yang Ibu sembunyikan sebenarnya? kenapa Ibu lakukan ini pada Mas Ersad. Dia darah dagingmu! bagaimana Ibu bisa tega melakukan hal ini padanya, apa kesalahan suamiku?" Syma mengeluarkan semua amarahnya. Berharap wanita itu sadar akan perbuatannya.


"Karena aku membencinya... aku sangat membencinya."


"BOHONG!


Bahkan dari tatapan Ibu saat melihatnya saja, aku tahu bahwa itu adalah cinta. Bukan kebencian!


Kenapa Bu? kenapa Ibu lakukan ini... jawab pertanyaanku sejujurnya, apa yang mengharuskan Ibu meninggalkannya?" Ceyda menggeleng keras. Dia tidak ingin mengeluarkan suaranya sedikit saja untuk menjawab pertanyaan Syma.


Tapi apa yang dia dapat?


Didikan dari kakeknya, menjadikan dia pria pengecut. Kakeknya sendiri bahkan dengan tega menciptakan trauma hingga saat ini.


Mas Ersad selalu mengurung dirinya. Setiap malam dia menangis hanya ingin agar Ibu berada disampingnya.


Bayangan wajah Ibu selalu terngiang dikepalanya. Dia hanya ingin Ibu...


Hanya Ibu yang dia butuhkan."


Sungguh terhenyak hati Ceyda mendengar hal yang tidak pernah ingin dia ketahui. Ceyda terduduk lemas sembari meratapi nasibnya. Air matanya mengalir deras. Hanya isak tangis yang terdengar pilu.


"Aku seorang Ibu. Aku memiliki putri kecil bernama Zea. Dan sebentar lagi, aku akan memiliki anak kedua. Aku tahu bagaimana sakitnya saat jauh dari anakku. Aku bahkan tidak bisa bernafas dengan lega, jika sehari saja tidak mendengar kabar tentang anakku.

__ADS_1


Lalu bagaimana Ibu bisa tega, menelantarkan Mas Ersad sejak kecil begitu saja? katakan padaku Bu? Hatimu terbuat dari apa, hingga tega membiarkan Mas Ersad berjuang seorang diri menghadapi kerasnya hidup. Katakan..... " Syma nyaris mengerang karena tidak kuasa menahan kesedihan bercampur amarah didalam dirinya.


"KAU PIKIR DIA SAJA YANG MENDERITA? AKU JUGA MENDERITA SYMA... AKU JAUH LEBIH MENDERITA DARINYA....


LUKA YANG DIA RASAKAN TIDAK SEBERAPA DIBANDING DENGAN RASA SAKIT HATIKU PADA AYAHNYA!"


"Lalu dimana letak kesalahan Mas Ersad? katakan padaku, apa itu kesalahannya?"


Ceyda menggeleng sembari terus terisak. tubuhnya bergetar karena tangisan yang tak kunjung reda.


"Aku memang bodoh, Syma. Aku sadar akan kebodohanku dulu. Aku marah pada suamiku, tapi malah melampiaskannya pada anakku sendiri yang tidak tahu apa-apa. Wajah Ersad yang sangat mirip dengan Ayahnya membuatku gelap mata dan meninggalkannya begitu saja. Aku benci setiap kali melihat wajahnya karena selalu teringat dengan Enggar Wijaya.


Aku memang bodoh, Syma. Aku adalah iblis berwujud manusia. Sebab itulah aku takut bertemu dengannya.


Aku takut dengan kebenciannya. Jika Ersad melihatku, aku yakin dia akan marah. Karena semuanya sudah terlambat. Sudah sangat terlambat untuk memperbaiki semuanya. Yang tersisa hanyalah rasa sakit akibat keegoisanku."


Raut penuh penyesalan terlihat jelas diwajahnya.


"Tidak ada kata terlambat, selama nafas masih berhembus. Sudah saatnya kalian memperbaiki hubungan yang retak."


"Tidak Syma. Ersad tidak akan pernah memaafkanku. Aku juga sadar, aku tidak pantas mendapatkan maaf darinya. Biarlah seperti ini saja, biarlah aku mencintainya lewat jarak jauh. Melihatnya dalam diam. Ini lebih baik."


"Tidak bisa seperti itu, Ibu. Kau adalah Ibu kandungnya. Hubungan diantara kalian tidak boleh seperti ini. Sudah saatnya kalian bahagia."


"Kau tidak mengerti Syma. Luka yang aku ciptakan begitu dalam. Meski dia bisa memaafkanku, tapi luka itu akan tetap membekas. Aku tidak sanggup melihatnya menderita lagi.


Berjanjilah padaku... berjanjilah untuk membahagiakan Ersad. Gantikan posisiku sebagai wanita yang mencintainya. Ibu mohon Syma... "


"Maaf Ibu. Tapi aku tidak bisa... Kami tidak akan pernah bisa bahagia jika kalian masih belum bisa berbaikan.


Memaafkan kadang tak mudah sebab luka di hati seringkali menyisakan bekas. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa. Sebab aku mencintainyalah aku ingin agar kalian kembali bersama. Berdamai dengan masa lalu, dan menjalani hari esok dengan penuh ketenangan.


Sebab surgaku memang ada pada Suamiku. Tapi surga suamiku... masih berada dibawah telapak kaki Ibunya. Dan tugasku sebagai seorang istri, membantu sang suami untuk meraih surganya itu." Syma berucap pelan, namun penuh penekanan.


Ceyda sendiri tidak dapat berkata-kata. Dia sangat tidak yakin Ersad akan memaafkannya, atas apa yang selama ini dia lakukan.

__ADS_1


Namun karena keteguhan hati Syma. Akhirnya dia setuju. 'Biarlah apa yang akan terjadi nanti. Setidaknya aku pernah mencoba,'


TBC


__ADS_2