
Ersad tidak bisa berhenti menatap Syma yang sedang sibuk menidurkan Gokhan. Pemandangan yang menurutnya begitu indah. Ketika Syma sedang melantunkan sholawat penghantar tidur untuk anak-anaknya.
Tidak sulit bagi Syma menidurkan Zea, karena dia sudah tumbuh menjadi seorang kakak bagi Gokhan. Yang sulit adalah menidurkan Gokhan.
"Letakkan saja dia. Nanti tidur sendiri," ucap Ersad dari ambang pintu. Lalu perlahan mendekati Syma dan memeluknya dari belakang.
"Gokhan tidak bisa tidur, jika tidak ditimang seperti ini." Syma menyauti sedikit berbisik.
"Apa kau tidak ingin menimangku juga?"
Sontak hal itu membuat Syma memutar bola matanya sembari berdecak.
Ersad terkekeh dan mengecup lembut puncak kepala istrinya.
"Tidak pernah terbayangkan olehku akan dalam keadaan seperti ini."
"Kenapa?" Syma menoleh kearahnya.
"Aku hanya tidak menyangka. Tadinya aku pikir, aku akan hidup dengan Erika berdua saja, karena dia tidak bisa punya anak. Tapi akhirnya takdir membawaku bersamamu dan berurusan dengan para kurcaci ini."
Syma meletakkan Gokhan secara perlahan lalu menghadap suaminya dengan tatapan lembut.
"Apa Mas bahagia?"
"Kau tidak tahu betapa bahagianya aku, Syma."
"Aku senang, Mas bahagia."
"Dan itu berkat dirimu." Ersad memberikan kecupan-kecupan kecil dibibir istrinya.
"Hentikan Mas, jangan disini. Nanti Gokhan dan Zea bangun. Sebaiknya kita keluar dari sini." Syma menuntun suaminya agar keluar dari kamar itu. Dan menuju kamar mereka yang ada di sebelah.
"Besok malam aku mengadakan makan malam keluarga. Termasuk Hariz, aku juga mengundangnya. Bagaimana pun juga, pria itu telah banyak membantu."
"Boleh aku mengundang Aina?" Syma berucap antusias.
"Tentu."
****
"Hari ini, ikut aku kekantor ya.. "
"Untuk apa? Aku harus ke kedai."
"Sebentar saja. Setelah itu kau boleh pergi." Ersad memperlihatkan gestur tak ingin dibantah. Syma sendiri menyerah, sampai akhirnya setuju Ersad membawanya ke kantor.
Saat memasuki kantor. Tidak ada yang berubah. Semuanya nampak sama, bahkan suasana disana juga tidak begitu asing baginya. Padahal kantor ini sempat disita.
Syma berjalan perlahan. Sementara suaminya sedang sibuk dengan ponselnya dan nampak terburu-buru menuju ruangannya.
Syma menatap heran pada para karyawati yang mengenakan hijab tidak sesuai dengan pakaiannya. Terlihat jelas mereka melakukan itu hanya karena sebuah keterpaksaan.
__ADS_1
Dan yang membuatnya menghentikan langkahnya, ketika melihat seorang wanita yang tidak mengenakan hijab. Pakaiannya juga terkesan sexy. 'Sepertinya ini karyawan baru, pengganti receptionist kemarin,' batin Syma menatapnya datar. Sementara wanita itu sudah mendelik, menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Apa tidak ada yang memberi tahu Anda, bahwa wanita dikantor ini, dilarang berpakaian terbuka seperti ini... "
"Apa masalahnya dengan pakaianku, Nyonya?" wanita itu berucap pelan, namun sikapnya seakan menantang.
"Akan menjadi masalah bagi suami saya, karena dia selaku pemimpin di perusahaan ini. Anda hanya akan menyulitkan suami saya di akhirat nanti. Jadi, silahkan ganti pakaian Anda dan taati peraturan." Syma berucap tegas kali ini.
"Aku tahu alasan Anda tidak sepenuhnya seperti itu Nyonya. Jika Anda berpikir bahwa ini akan menggoda suami Anda, maka tenang saja. Saya bukan wanita penggoda. Saya sudah terbiasa memakai pakaian seperti ini. Dan para pria sendirilah yang mendekati bahkan tanpa saya goda sekalipun.
Jika Anda takut suami Anda tergoda. Maka jangan salahkan saya. Apalagi pakaian saya," sautnya sinis.
Namun Syma hanya tersenyum menanggapinya.
"Anda benar. Tapi masalah tergoda dan digoda, tidak akan membuat saya terancam sama sekali. Saya tahu bagaimana suami saya. Dan saya percaya padanya.
Apapun alasanmu, tetap patuhi peraturan kantor ini. Jika tidak, maka silahkan cari pekerjaan lain," ucap Syma sebelum berlalu pergi. Menuju ruangan suaminya.
Sementara wanita itu menatapnya dengan penuh kebencian.
'Cih, dia pikir aku tidak tahu ada sosok iblis dibalik sikapnya yang sok suci itu! Lihat saja bagaimana Pak Ersad akan tergoda melihatku. Kau akan menangis darah, setelah aku berhasil merebut suamimu. Wanita munafik!'
*****
Mereka mengadakan acara makan malam keluarga, disebuah restaurant ternama. Tidak ada yang terlewat, semuanya ikut hadir, kecuali Ceyda. Wanita paruh baya itu memilih untuk tidak ikut, karena mengeluh kakinya sering sakit.
Tanpa mereka duga, Aina dan Hariz sudah hadir disana. Dari kejauhan mereka terlihat sedang bertengkar. Namun Syma tidak begitu menanggapinya.
"Memangnya kenapa?" Syma menatapnya heran.
"Em, tidak ada. Aku hanya terlalu senang." Aina memperlihatkan senyuman terpaksa nya. Lalu matanya beralih ke Zea yang nampak cantik.
"Ze... Kau cantik sekali."
"Tabarakkallah... " saut Syma.
"Astaga, siapa yang memoles lipstik dibibirmu. Itu tidak boleh Ze, tanpa dipoles saja, wajahmu sudah sangat menarik. Banyak pria yang memiliki penyakit pedofil. Dan itu mengerikan!" Aina sengaja berucap sembari menatap kearah Hariz. Dengan maksud menyinggung pria itu.
Namun pria itu hanya menanggapi dengan seringai aneh diwajahnya. Membuat Aina semakin bergidik.
"Apa itu pedofil Papa?" Zea menatap Ersad untuk meminta penjelasan.
"Em... Nanti saja kita bahas itu. Sekarang duduklah."
Mereka semua mengambil tempat duduk. Aina lagi-lagi merasa sial, karena tujuannya ingin duduk bersebelahan dengan Zea dan Gokhan. Namun sayangnya kedua bocah itu ingin berdekatan dengan Ersad. Sehingga dengan sangat terpaksa, Aina kembali duduk disebelah Hariz.
Pria itu tertawa kecil, melihat tingkah konyol Aina.
"Tidakkah kau sadar, kau telah mencemari pikiran Zea." Hariz setengah berbisik.
"Diam kau, pedofil!"
__ADS_1
Syma memperhatikan interaksi mereka dengan seksama. Dia mulai menaruh curiga pada keduanya. Namun tingkah anak-anaknya membuat Syma tidak begitu memikirkannya.
"Kebetulan kita mengadakan acara ini. Jadi... Sekalian saja ada yang ingin aku katakan pada kalian. Lebih tepatnya untukmu, Syma. Aku ingin meminta ijin padamu."
"Aku? Ijin apa?" Syma menunjuk dirinya sendiri.
"Aku ingin menikahi Aina."
"APA!!"
Semua mata tertuju pada suara melengking Aina.
"Hey Aina. Kenapa kau yang kaget?" Hariz berdecak sebal melihat tingkah konyol darinya. Seakan mereka tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya.
Aina memang syok mendengarnya. Dia pikir kejadian waktu itu hanya main-main. Dia tidak menduga bahwa Hariz benar-benar serius dengan ucapannya.
"A-aku hanya... "
"Apa kalian tidak membicarakan hal ini dulu?"
"Kami sudah membicarakan hal ini. Dan Aina sudah setuju."
"Atas dasar apa? Kau tidak memaksanya kan!" Kali ini Ersad yang bersuara, menatap Hariz dan Aina secara bergantian dengan penuh selidik.
"Oh ayolah brother. Berhenti menatapku seperti itu. Kau seharusnya mendukungku. Apa perlu aku ingatkan padamu atas jasaku?"
Ersad berdecak kesal. "Jangan jadikan itu sebagai senjatamu, Hariz. Pernikahan bukanlah permainan. Kenapa harus Aina. Umur kalian terpaut jauh."
"Lalu apa masalahnya? Kami saling mencintai...
Benarkah sayang.. " Hariz merangkul pundak Aina dengan mesra. Sementara Aina sendiri bingung harus bagaimana. Dia takut Hariz akan nekat dengan ancamannya waktu itu, jika dia menolak.
Aina mengangguk pelan. Namun matanya menatap Syma seakan meminta pertolongan agar wanita itu tidak setuju.
"Jauhkan tanganmu Hariz. Kalian belum halal."
Hariz langsung mengangkat tangannya saat mendengar ucapan Syma.
"Jadi bagaimana, para Kakak ipar. Apa kalian setuju?"
"Tidak."
TBC
JADI GIMANA NIH READERS, KALIAN SETUJU GAK AINA NIKAH SAMA HARIZ??
BERHUBUNG INI HARI SENIN. YUK BANTU AUTHOR DENGAN VOTE NYA.
JAZZAKALLAH KHAIRAN
AFF REAL.
__ADS_1