
Acara mereka cukup sederhana. Hanya orang terdekat saja yang diundang. Karena Revan tidak terlalu suka keramaian. Dan lebih nyaman bicara pada orang-orang terdekat saja.
Suara tawa dan canda dari anak-anak mereka menggema seakan ikut memeriahkan acara sederhana itu. Mia berdiri dengan anggunnya menyambut kedatangan Syma dan suaminya. Begitu pula dengan Hariz dan Aina. Di iringi oleh Deriya dan anak-anak panti asuhan lainnya di belakang mereka. Seolah mereka memang sengaja datang secara bersamaan.
"Selamat atas keberhasilan kalian. Aku ikut senang mendengarnya," ucap Deriya dengan binar dimatanya.
"Terimakasih Bibi. Ini juga berkat bantuan dari Ersad dan juga Hariz. Terimakasih banyak untuk itu. Aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya," saut Revan begitu ramah dan bersahabat.
"Tidak perlu sungkan. Kami sudah mendapatkan balasannya dari istri kami. Benar kan?" Ersad tersenyum aneh pada Syma. Membuat wanita itu tersenyum malu kemudian mencubit perut suaminya.
Mereka para lelaki memilih berbincang dengan urusan mereka sendiri.
Hariz membisikkan sesuatu ketelinga istrinya sebelum ikut bergabung pada para lelaki.
"Jangan membuat keributan."
"Ck, memangnya aku biang ribut! Kenapa Mas Hariz begitu khawatir."
"Tentu saja aku khawatir. Mengingat sifatmu yang seperti biawak liar." Tanpa memperdulikan kekesalan Aina. Hariz pergi begitu saja.
"Terkadang aku merasa punya suami idaman yang sholeh. Terkadang juga aku merasa punya suami laknat seperti setan. Huh, untung aku sayang."
"Hey Aina, kau sombong sekali. Sejak tadi aku memanggilmu, tapi kau berlalu begitu saja. Mentang-mentang punya suami kaya, kau mulai berlagak sok jadi nyonya, ya!"
Dari cara bicaranya. Tentu saja Aina ingat siapa orang ini. Meski penampilannya berubah drastis. Yang biasanya terkesan culun dan jorok. Kini sosoknya berubah menjadi lebih rapi dan tampan dengan setelan jas yang melekat ditubuhnya. Bahkan kaca mata yang sering dia kenakan dulu tidak ada lagi disana.
"Vio?"
"Ya, memangnya siapa lagi?"
Aina menutup mulutnya. "Astaga...! Ini benar kau?!"
"Huh, punya sahabat idiot memang susah!"
"Aku hanya syok. Penampilanmu sangat berbeda. Kau keren juga dengan setelan jas itu. Tidak terlihat tolol lagi seperti biasanya."
"Aku tahu aku keren." Vio menyahuti dengan sombongnya. Sembari mengusap jas yang menjadi kebanggannya.
"Tapi... Kenapa kau bisa datang kesini? Apa kau sengaja berpakaian seperti ini, supaya mendapatkan makanan enak?"
"Mulutmu memang tidak pernah berubah, Aina. Apa kau tidak tahu, sekarang aku bekerja pada siapa?"
"Siapa?"
__ADS_1
"Bos Revan," jawab Vio menaikan wajahnya.
"Tidak mungkin."
"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini."
"Ah sudahlah. Aku senang melihatmu sudah berubah. Apa kau sudah punya pasangan untuk menikah?"
"Uh, aku benci pertanyaan itu! Aku belum ingin menikah dalam waktu dekat. Karirku sedang meroket sekarang. Aku belum butuh wanita. Bagaimana jika aku balik bertanya, kapan kau akan punya anak? Sudah bertahun-tahun menikah, tidak juga menggandeng anak. Apa kalian sepayah itu?"
"Kau mau aku pukul, ya?! Ini bukan salahku. Tapi Mas Hariz yang mungkin kurang adukan. Padahal kami sudah sering mencobanya. Sampai berkali-kali. Saat aku mulai jengah, aku mendorong tubuhnya. Aku bilang aku tidak kuat lagi. Tapi dia tetap memaksa! Dia sangat menyebalkan...!"
Sialnya ucapan Aina bukan hanya didengar oleh Vio. Tapi juga Syma dan Mia. Suara tawa dari mereka menggelegar, bergemuruh membuat perhatian orang-orang hanya tertuju pada mereka.
Para wanita kini tengah asyik membicarakan hal absurd dari Aina tentunya. Dan Vio adalah orang yang paling ingin tahu lebih lanjut tentang kekonyolan Aina dan suaminya. Kehadirannya disana mengundang tawa yang membuat para suami mereka menatap heran. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan hingga suara tawanya menular kemana-mana.
Menyadari ada yang tidak beres. Membuat Hariz tiba-tiba saja mendekati mereka. Dengan langkah tegasnya.
"Lalu bagaimana lagi, Aina? Apa Pak Hariz mengamuk saat tahu kau membohonginya. Dia pasti marah besar, karena tahu kau ternyata tidak sedang haid." Vio semakin gencar bertanya. Meski Syma berkali-kali memperingatinya.
"Saat Mas Hariz tahu, matanya melotot kearahku. Dia sangat mengerikan kalau sedang marah. Untungnya aku punya jurus jitu. Yaitu-"
"Sudah cukup Aina." suara bariton dari seseorang membuat Aina tiba-tiba saja menghentikan ucapannya. Vio yang merupakan tersangka segera melarikan diri dari amukan Hariz yang kini menatap Aina dengan tatapan tajam.
"Aku sudah memperingatimu, Aina. Sekarang nikmati kemarahan suamimu," bisik Syma segera menarik Mia untuk kabur. Sembari tertawa cekikikan.
Sementara Aina semakin merasakan adanya aura tidak mengenakan dari suaminya.
"Kau tidak boleh membicarakan urusan pribadi kita, Aina. Itu dilarang." Hariz mencoba menahan amarahnya. Namun ekspresinya masih tetap saja mengeras.
"Mereka bertanya, aku hanya menjawab. Salahku dimana?" Aina menatapnya polos. Membuat Hariz mengusap kasar wajahnya.
"Jika pertanyaan mengenai masalah pribadi. Itu tidak perlu dijawab. Mereka tidak perlu tahu. Tidak baik mengumbar aib pasangan sendiri. Kau mengerti!!"
Aina menunduk lesu. Dia merasa bersalah karena ucapannya yang mungkin menyakiti suaminya. "Maaf... "
Melihat Aina yang memelas. Membuat kemarahan Hariz reda begitu saja. Pria itu menarik tangan istrinya dan memeluknya. Menghadiahkannya kecupan singkat di puncak kepalanya.
"Jangan lakukan lagi," bisik Hariz didekat telinganya. Aina mengangguk patuh. Dan Hariz semakin mengeratkan pelukannya.
Mereka berdua menjadi tontongan para tamu yang ada disana. Mereka menatap kagum pada Hariz yang tidak mudah dikuasai amarah. Meski kelakuan istrinya sering diluar batas. Mereka memaklumi, karena usia Aina yang masih sangat muda. Hingga kelakuannya masih terbilang kekanak-kanakan.
"Pasangan aneh, tapi romantis." Mia berucap pelan namun masih bisa didengar oleh suaminya. Hal itu membuat Revan tiba-tiba merangkul pinggang istrinya.
__ADS_1
"Apa kita tidak romantis?"
"Tentu saja, cara kita menyayangi pasangan berbeda-beda. Dan aku tetap menyukai caramu mencintaiku... "
Ersad menatap malas pada kedua pasangan itu. Hariz dan Aina yang berpelukan. Begitu pula Revan yang seakan tidak mau kalah. Sementara kini dia harus bingung istrinya malah kabur kemana.
"Sial! Sebenarnya acara apa ini?!" Ersad merutuk kesal. Menjauhi mereka dan mencari keberadaan istrinya.
****
"Disini kau rupanya...!" Ersad mendekati Syma yang kini malah tersenyum hari dari kejauhan. Melihat kebahagiaan tak terduga dari orang-orang disekitarnya.
"Aku sangat bersyukur mereka mendapatkan kebahagiaannya. Itu sangat pantas atas penderitaan yang selama ini mereka rasakan."
Ersad memeluknya dari belakang. Meletakkan dagunya dibahu istrinya. "Aku juga tidak menduga manusia seperti Revan bisa berubah."
"Ternyata benar. Tidak perlu membalas untuk mematahkan jika kita dipatahkan. Dilukai juga tak perlu dibalas dengan melukai.
Ternyata bicara pada diri sendiri jauh lebih baik. Mencari solusi apa yang salah dan yang benar untuk diperbaiki. Jangan menjadi manusia amatir yang ingatannya hanya dipakai untuk menyimpan dendam. Lalu amnesia dalam segala bentuk kebaikan."
"Kita belajar dari Mia. Bahwa kekuatan sesungguhnya bukan berasal dari fisik. Melainkan saat emosi sedang meledak-ledak ingin luapkan. Tapi hati memilih diam. Saat air mata tak kuasa ingin jatuh, namun bibir masih tetap bisa tersenyum."
"Itu benar."
...Terkadang manusia lupa bahwa ALLAH SWT maha membolak balikan hati manusia. ...
...Siapa tahu dengan ketulusan dan keikhlasan hati dari seorang istri, bisa meluluhkan hati suaminya? Dan doa dari seorang istri untuk suaminya mampu menembus kelangit. Hanya takdir yang bisa berbicara. Dan Doa yang mampu mengubahnya. ...
...Semua orang punya cerita tentang rumitnya perjalanan hidup dan dahsyatnya ujian didunia....
...Likuan terjal, kerap kali mematahkan langkah kaki. Namun nyatanya hingga saat ini semunya masih bisa teratasi......
...Kuncinya hanya satu. Jalani semua apapun ujian itu. Semua sudah ada porsinya dan ALLAH SWT maha Tahu segalanya......
THE END
Selesai sudah cerita ini. Maaf tidak terlalu panjang. Karena ada cerita baru yang akan segera launching. Eyaaaa🤣🤣
Lebih dan kurangnya tolong dimaafkan. Saya hanya author receh kalau bisa jangan dibully ya guys. Karena dibully itu nggak enak😚
.
Terimakasih atas Vote like dan komentar terbaik kalian. 🥰🥰
__ADS_1