
Syma membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Tidak ada Ersad disana.
Syma segera beranjak untuk mengerjakan sholat subuh.
Dan setelah selesai sholat. Ersad belum juga terlihat.
Syma mencari-cari keberadaan suaminya itu. Sampai mengelilingi seluruh apartemen. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada Ersad dimanapun.
Dan yang lebih membuatnya bingung, Nora juga tidak terlihat.
'Dimana mereka?'
Syma mencoba menghubungi suaminya itu dengan menelponnya. Entah mengapa perasaannya menjadi was-was. Namun sayangnya Ersad tidak mengangkat telpon darinya. Syma mencobanya lagi, bahkan hampir puluhan kali. Namun hasilnya tetap sama. Ersad tidak mengangkatnya.
Lalu Syma memilih untuk menelpon Kevin. Dan benar saja. Tidak butuh waktu lama, Kevin mengangkatnya.
Assalamu'alaikum Kevin, maaf mengganggumu. Apa kau tahu dimana Mas Ersad?
Wa'alaikumsalam. Setahun saya, Pak Ersad ada di Hotel xxx sejak tadi malam.
Hotel? untuk apa?
Saya kurang tahu.
Apa bersama Nora?
Em... Saya rasa, ya.
Sontak hal itu membuat Syma terdiam. Hatinya begitu teriris. Seakan ada sebuah kerikil yang mengganjal ditenggorokannya. Begitu sesak seolah seluruh isi dunia sedang menimpa kepalanya saat ini.
Begitu sakit dan miris yang dia rasakan.
*****
Untuk mengalihkan pikirannya. Syma memilih untuk pergi kepanti asuhan. Semenjak dia keluar dari penjara. Dia belum juga melihat putri kecilnya.
Assalamu'alaikum
"Wa'alaikumsalam, Kak Syma?" Aina begitu terkejut sekaligus bahagia melihat Syma.
Aina langsung memeluknya dengan penuh kerinduan.
"Dimana Ze?"
Ndaaaa......
Syma langsung menghambur, ketika melihat Zea yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.
"Ndaa, Ze rindu.... "
"Bunda juga sayang,"
"Syukurlah kau sudah bebas, Syma. Aku sangat senang," ucap Deriya tersenyum haru menatapnya.
__ADS_1
"Iya Bibi. Ini semua berkat doa kalian. Dan Terimakasih banyak karena sudah menjaga Zea dengan baik,"
"Tidak perlu sungkan. Zea juga bagian dari kami."
Ketika mereka saling melepas rindu. Tiba-tiba saja Syma membeku melihat seseorang yang tiba-tiba datang.
"Revan," lirihnya.
"Ayah..... " Zea langsung memeluk Revan yang datang mendekati mereka.
"Apa Ayah rindu dengan Ze dan Bunda?"
"Tentu,"
"Kami juga rindu... Benarkan Nda," tanya Zea menatap Syma dengan senyum manisnya.
Syma sendiri mengangguk canggung.
"Ze, Ayah ingin bicara dengan Bunda dulu sebentar, ya. Ze main dengan Kak Aina dulu,"
"Oke Ayah.... "
Setelah melihat Zea yang pergi bersama Aina. Revan mulai mendekati Syma. Namun Syma sama sekali tidak berniat untuk menatapnya.
Deriya yang merasa canggung pun segera pergi, membiarkan mereka berdua untuk bicara.
"Bagaimana kabarmu Syma? Aku dengan kau tidak baik-baik saja,"
Syma menatapnya. Dia merasa heran, karena nada bicara Revan terkesan lembut.
"Ya, dan akulah penyebabnya. Maaf...
Maafkan aku Syma."
"Semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah semuanya." Syma menatap kosong ketika berucap. Terlihat jelas kepedihan dimatanya.
"Kau benar. Aku tahu tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan luka di hatimu. Tapi... biarkan aku mengobati semua rasa bersalahku pada Zea."
"Aku tidak pernah melarangmu untuk menemuinya. Meski aku sangat tidak ingin melihatmu lagi. Tapi aku sadar bahwa Zea juga membutuhkanmu." Syma berucap datar tanpa ekspresi sama sekali.
"Terimakasih,"
"Bagaimana keadaan Mia?"
"Dia baik-baik saja. Beberapa hari yang lalu dia dibebaskan. Suamimu yang mencabut tuntutannya. Dan saat itu juga, dia mengakui semua kejahatannya," Revan memberanikan diri melihat ekspresi Syma mendengar ucapannya. Namun tetap saja. Syma menatap datar dan kosong.
Revan kembali berucap ketika tidak ada jawaban dari mulut Syma. "Syma... Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu suamimu akhir-akhir ini bersikap buruk padamu. Atas tuduhan pembunuhan istri pertamanya.
Aku tahu semuanya Syma. Aku juga tahu, bahwa dia akan menikahi adik iparnya sendiri."
"Lalu?" Syma menatapnya angkuh.
"Jika kau merasa tertekan. Tinggalkan saja pria itu. Aku akan membantumu. Kau bisa pergi jauh darinya."
__ADS_1
Syma tertawa hambar mendengarnya. "Hidupku biarlah aku yang mengurusnya. Kita sudah berada dijalan masing-masing. Kau sudah punya Mia dan aku sudah punya Mas Ersad. Aku akan tetap mempertahankan rumah tanggaku dari para pengacau yang ingin menghancurkannya.
Mau seburuk apapun suamiku dia tetaplah suamiku. Aku akan tetap bertahan, sampai akhirnya dia sendiri yang menceraikanku." Begitu mantap ucapan yang Syma katakan.
Namun Syma sendiri tidak yakin, apa perasaannya juga sama dengan ucapannya. Atau malah sebaliknya.
"Ya. Kau benar...
Aku tidak memaksamu untuk itu. Tapi... Aku hanya akan mengatakan. Jika suatu hari kau lelah dan ingin pergi. Maka aku bisa membantumu."
"Terimakasih atas tawaranmu. Tapi maaf, sebaiknya kau tarik kembali tawaran itu. Karena aku tidak akan pernah melakukannya. Meski suatu hari nanti aku akan pergi, aku tidak akan meminta bantuanmu."
*****
Keputusan Syma mengajak Zea kembali sudah bulat. Dia tidak mungkin membebani Deriya dan juga Aina untuk mengasuh Zea. Dia juga tidak bisa berada jauh dari putri kesyangannya itu.
"Dimana Papa?" mulut kecil Zea kembali mengeluarkan suara.
"Papa sedang kerja sayang," bohongnya. Padahal Syma sendiri tidak tahu Ersad ada dimana dan sedang apa.
Dan untungnya Zea percaya dan langsung menuju kamarnya.
Ketika malam sudah semakin larut. Syma menatap kearah pintu yang terbuka. Menampilkan Ersad yang sepertinya baru saja pulang. Ekspresi wajahnya tetaplah dingin.
Syma yang ingin menghambur karena begitu merindukan suaminya langsung terhenti, ketika melihat Nora yang berada dibelakang Ersad.
Syma menatap mereka secara bergantian.
"Apa yang terjadi? Kenapa Mas baru pulang?"
Ersad tidak menjawab dan lebih memilih pergi menuju kamarnya. Sementara Nora menatap Syma dengan senyuman liciknya.
"Biar aku saja yang memberitahumu. Kami baru saja melangsungkan pernikahan.
Kenapa? Kau pasti terkejut, bukan?
Mas Ersad menikahiku diam-diam agar tidak ada yang menghalangi acara sakral kami. Dan akhirnya berhasil. Sekarang kami resmi menjadi suami istri." Nora langsung pergi setelah mengatakan itu.
Tentu saja Syma meneteskan air matanya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuntut penjelasan pada Ersad.
Syma langsung menemui Ersad dikamarnya.
"Katakan padaku bahwa yang dikatakan Nora tadi bohong, Mas? Katakan.... "
Keterdiaman Ersad membuat isak Syma semakin menjadi.
"Apa alasanmu menikahinya, Mas. Kau menikahiku karena Erika tidak bisa memenuhi kebutuhan biologismu. Tapi Nora? Bukankah Kau sudah mendapatkan semuanya dariku? Lalu untuk apa lagi menikahinya?"
"Berhenti bertanya. Kau hanya membuat kepalaku semakin pusing. Diam dan ikuti saja alurnya."
'Kau akan mengerti sendiri nanti, kenapa aku melakukan semua ini. Bersabarlah sedikit lagi Syma' batin Ersad menyambung ucapannya.
**TBC
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MENYIMAK CERITA INI DENGAN BAIK. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK TERBAIK KALIAN YA....
AFF REAL**.