TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 40 : PERSETERUAN


__ADS_3

Ersad tidak bisa duduk dengan tenang ditempat kerjanya.


Bagaimana tidak.


Nora sudah menemaninya hampir seharian. Wanita itu tidak membiarkan Ersad beranjak sedikit saja dari sana. Seakan sedang menahannya mati-matian.


Ditambah lagi sikap Nora yang menyebalkan. Selalu mengambil kesempatan untuk menyentuhnya. Namun Ersad selalu saja menepis tangannya dengan berbagai macam alasan.


"Sebaiknya kita pulang. Aku lelah.... " ujarnya segera beranjak dari sana.


"Tunggu dulu, Mas. Aku lapar, bagaimana kalau kita makan diluar dulu," rengek Nora memegang perutnya.


"Kita makan di rumah saja, Nora. Untuk apa ada Syma, jika tidak bisa diandalkan."


Nora mencebik kesal. Namun tidak ada alasan untuk menyela. Diapun mengikuti ucapan Ersad dengan langsung pulang ke rumah.


******


"Kami ingin bertemu dengan Pak Ersad !" teriak Aina pada satpam yang bertugas.


"Maaf Nona, Anda tidak bisa masuk. Kami tidak bisa membiarkan sembarangan orang boleh masuk kesini."


"Tapi ini penting. Aku harus menyampaikan sesuatu padanya."


"Memangnya Anda siapanya Pak Ersad?"


".... " Aina bingung jawaban apa yang harus dia berikan. Lalu matanya menatap Vio penuh pertanyaan. "Vio, aku ini siapanya?"


"Mana aku tahu." Vio mengangkat bahunya.


Satpam itu menghela nafasnya. Dan menggeleng kepala melihat tingkah mereka.


"Kau memang tidak berguna!" maki Aina kesal.


"Sudahlah Nona. Sebaiknya Anda pulang. Nanti orang tua kalian akan khawatir," satpam itu memberi gestur agar Aina dan Vio pergi. Namun Aina tidak ingin menyerah sampai dia bertemu dengan Ersad.


Aina menatap Vio lagi. Kali ini dengan penuh rencana dikepalanya. Matanya menatap Vio penuh isyarat. Vio yang mengerti pun, langsung menjalankan aksinya.


"Baiklah kami akan pergi," ucap mereka membalik badan untuk pergi dari sana. Lalu Aina tiba-tiba saja, berlari masuk kedalam dengan menerabas tubuh satpam itu. Karena sedikit lengah, Aina berhasil melewatinya.


Aina berteriak keras, memanggil-manggil Ersad.


Sementara Vio menarik baju satpam itu agar berhenti mengejar Aina. Namun karena tenaganya kalah jauh, Vio akhirnya terlempar oleh satpam itu. Dan berhasil menangkap Aina.


"KAK ERSAD... KAK SYMA DICULIK!" Teriak Aina sembari memberontak dari satpam yang mencekalnya.


Suara nyaring Aina, berhasil didengar oleh Ersad yang baru saja keluar. Ersad bergegas mendekati Aina yang sudah diseret oleh satpam itu sampai tersungkur di tanah.


"Auh...

__ADS_1


Satpam sialan! Kau pikir aku takut padamu..."


"Ada apa ini?"


Aina berbinar ketika melihat Ersad yang sudah berdiri dihadapannya. Cepat-cepat dia bangkit untuk menjelaskan semuanya. Namun sayangnya Satpam itu lebih dulu berucap.


"Anak ini hanya ingin berbuat rusuh Pak. Saya sudah memperingatinya, tapi dia tetap nekat menerabas masuk."


"Apa yang kau lakukan pada Adikku?" Aina Tercengang mendengar Ersad menyebutnya adik. Begitu pula dengan satpam itu, yang tidak kalah kaget.


"Adik?"


"Katakan ada apa, Aina? kenapa kau terlihat cemas?"


"Kami melihat Kak Syma diculik," ucap Vio tiba-tiba menyahut. Membuat Aina menelan kembali ucapannya.


Sontak hal itu membuat Ersad kaget setengah mati.


"Drama. Jangan percaya pada bocah ingusan ini, Mas. Mereka hanya mencari perhatianmu," ucap Nora mendelik menatap mereka.


"Hey, Nenek sihir. Jaga bicaramu!"


"Kenapa? ucapanku benar kan? kalian ini manusia tengik yang haus perhatian. Katakan saja jika kalian mau uang," sarkasnya. Membuat Aina semakin naik pitam.


"Dasar wanita siluman....


Wanita culas...


Aku akan merobek mulutmu!"


Melihat Aina dan Nora yang malah bertengkar, membuat Ersad semakin kalut dan pusing.


"HENTIKAN KALIAN BERDUA. KATAKAN PADAKU, AINA KEARAH MANA MEREKA MEMBAWA SYMA?"


Lagi-lagi Vio yang menjawab, bukan Aina. Karena Aina sedang disibukkan dengan Nora yang terus saja mengajaknya beradu mulut.


Tanpa basa-basi lagi, Ersad segera masuk kedalam mobilnya. Meninggalkan mereka yang masih berdebat. Ersad melihat Cctv melalui ponselnya yang dihubungkan dengan sekitar apartemen mereka. Dengan cara itu, dia bisa mendapatkan petunjuk yang lebih jelas.


"HEY KALIAN BERHENTI BERTENGKAR.. LIHATLAH KAK ERSAD SUDAH PERGI."


Vio berteriak untuk melerai mereka.


Dan benar saja. Tiba-tiba mereka diam dan menatap kepergian Ersad.


"Sial. Padahal aku ingin ikut," ucap Aina.


"Sudah terlambat bodoh. Jika ingin melanjutkan aksi kalian, maka lanjutkan saja."


Nora sendiri langsung menghubungi seseorang untuk mengikuti Ersad. Sebelum masuk kedalam mobilnya, dia sempat menatap benci kearah Aina dan Vio disana.

__ADS_1


"Dasar wanita gila," maki Aina menatap kepergiannya.


******


Syma bergidik takut, ketika seseorang menyeretnya dengan kasar, untuk masuk ke sebuah gudang. Matanya menatap sekitar yang berbau khas bahan bakar. Syma terus meronta saat orang itu mengikatnya dengan kasar.


"Siapa kau? kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Syma dengan tangan terikat.


Pria itu tidak menjawab. Namun kegiatannya yang sibuk, membuat Syma sempat berpikir siapa orang ini? dari perawakannya nampak tidak asing, batinnya.


Lalu perhatiannya teralihkan, ketika mendengar suara yang sangat dia kenali. Suara tangisan nyaring dari sosok anak kecil. Hatinya bergetar. Rasa khawatir dan takut tiba-tiba melandanya.


"ZEA!! Itu Zea...


KAU APAKAN ANAKKU? DIMANA ZEA!" Teriak Syma pada orang itu yang keluar dari sana.


Syma terus berteriak mencari keberadaan anaknya. Dari suaranya, terasa begitu dekat.


Dan benar saja.


Tidak menunggu waktu lama. Orang itu datang kembali dengan membawa Zea yang menangis histeris. Zea begitu ketakutan. Dan ketika dia melihat Syma, Zea semakin meraung.


Namun dengan kejamnya, pria itu tidak mengijinkan Zea mendekati ibunya.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU. LEPASKAN DIA...


JIKA KAU MEMBENCIKU, MAKA SIKSA SAJA AKU. TAPI JANGAN DIA." Lagi-lagi Syma berteriak histeris. Dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun hasilnya nihil. Ikatan itu sangat kuat.


Begitu pilu rasa hatinya, ketika melihat sang buah hati menangis ketakutan, sementara dirinya tidak bisa berbuat apapaun.


Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu. Ketika melihat anaknya menangis histeris karena ketakutan. Syma sangat ingin sekali memeluknya, namun ikatan di tangannya begitu kuat.


Bahkan karena frustasinya, Syma tidak perduli tangannya lecet akibat gesekan dari tali itu. Dipikirannya hanya ingin memeluk anaknya dan menyelamatkannya.


"Ze sayang, jangan menangis nak. Bunda disini, tidak akan ada yang menyakiti Ze disini." Syma berucap selembut mungkin, sembari terus berusaha melepaskan tali yang mengikatnya.


Namun tangisan Zea tak kunjung reda. Anak itu terus meronta, ingin mendekati ibunya. Namun tidak bisa, karena dia juga diikat, dan disatukan dengan tiang disana.


"DIAM. KALIAN BERDUA BERISIIK SEKALI!"


Syma terkejut mendengar suaranya. Dan yang lebih membuatnya terkejut. Pria itu membuka masker dan topinya. Melemparnya kesembarang tempat.


Syma menatapnya tidak percaya. Kenapa pria ini begitu tega melakukan hal ini padanya. Padahal dia begitu baik selama ini.


"KAU...... "


TO BE CONTINUE


AFF REAL

__ADS_1


__ADS_2