TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 TIDAK PUNYA CUKUP NYALI


__ADS_3

Revan hanya diam mematung dari kejauhan. Melihat anak dan istrinya kini bersama pria lain. Saat sisi lain didalam dirinya sangat ingin memeluk kedua orang itu, namun kenyataannya malah ia hanya bisa diam. Revan tidak memiliki nyali untuk berhadapan dengan Mia. Karena terlalu banyak luka yang ia torehkan. Revan tidak yakin Mia akan memaafkannya.


"Belum terlambat... " Suara Syma membuatnya terkesikap.


Revan menunduk lesu. Rasa putus asa sudah menjalar didalam dirinya. Revan sudah tidak memiliki kepercayaan diri lagi menghadapi istrinya.


"Aku tidak yakin," lirihnya.


"Maka dari itu cobalah. Kau tidak akan menyesal sekalipun itu gagal."


Revan kembali bungkam dan menatap kearah Mia yang kini disibukkan dengan Zico. Bahkan Azkhan sangat dekat dengan mereka seakan tak ingin menjauh lagi.


Hari ini mereka diperbolehkan pulang. Karena kondisi Zico sudah lebih baik.


"Aku akan mengantar kalian." Azkhan menawarkan diri. Namun Mia malah menatap Revan yang kini sedang tertangkap basah sedang memperhatikannya.


"Em, tidak perlu Azkhan. Terimakasih banyak. Kami bisa pulang bersama...," ucap Mia sembari sesekali melirik kearah Revan.


Azkhan yang melihat arah mata Mia kini mengerti. Dia sempat berpikir bahwa Mia begitu takutnya dengan Revan hingga tak berani berada terlalu lama didekatnya. Hingga Azkhan kembali mengubah ekspresinya dan mengepalkan tangannya karena kesal.


"Kau tidak perlu takut, Mia. Dia tidak akan bisa menyakitimu selama ada aku!" Azkhan sengaja sedikit mengeraskan suaranya agar Revan mendengar. Pria itu hanya membuang wajahnya. Seolah tak peduli dengan provokasi Azkhan.


"Tidak Azkhan. Tidak ada yang aku takutkan. Kami akan pulang kerumah."


Azkhan menyerah. Meski kesal, dia tidak bisa berbuat apapun. "Baiklah Mia. Jaga dirimu dan juga jagoanku." Azkhan mengusap lembut rambut Zico.


Mia hanya tersenyum canggung. Lalu beralih menatap Syma dan Revan yang berjalan kearahnya.


"Mia, aku pulang dulu. Mas Ersad sudah menelponku berkaki-kali dia pasti khawatir."


"Terimakasih Syma. Maaf merepotkanmu." Mia memeluknya.


"Tidak masalah. Aku pulang dulu, Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


Kini yang tersisa hanya mereka bertiga. Yang kini semakin dalam kecanggungan. Mia tidak terbiasa dengan sikap dingin Revan yang seperti ini. Biasanya pria itu selalu mengeluarkan suara meski itu akan menyakitinya. Tapi sekarang, pria itu hanya diam lalu berjalan lebih dulu. Membuat Mia hany bisa mengikutinya dari belakang. Sembari memegang Zico.


Saat masuk kedalam mobil pun, mereka tetap diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mia yang memilih duduk dibelakang membuat Revan berpikir bahwa begitu bencinya wanita itu hingga tak sudi duduk disebelahnya. Padahal Mia memilih seperti itu agar Zico lebih nyaman dan bisa berbaring dipangkuanya.


Revan menjalankan mobilnya hingga mereka sampai ke rumah dalam jangka waktu yang terasa singkat.


****


Saat malam tiba.


Revan memberanikan diri melangkah kekamar istrinya dan juga Zico. Awalnya dia hanya ingin melihat bagaimana keadaan mereka. Revan tidak bisa memungkiri dirinya sendiri bahwa dia merindukan Mia.


Saat membuka pintu kamar mereka, Revan sedikit lega karena mengira Mia dan Zico sudah terlelap. Sebab Mia memunggunginya. Revan hanya bisa menipiskan bibirnya. Menatap penuh ironi bagaimana wanita ini bisa sangat kuat berada di dekatnya yang tempramen. Bahkan kerap kali mendapatkan kekerasan fisik.


Tanpa diduga, Mia berbalik. Rupanya wanita itu belum tidur. Dan hal itu membuat Revan sedikit terkejut dan berdiri kikuk dihadapannya. Apalagi saat tatapan Mia bersibobrok langsung padanya. Revan sangat ingin segera pergi dari sana. Namun suara lembut Mia menghentikannya.


"Apa Mas butuh sesuatu?"


Dengan anggukan. Mia segera bangkit dan menuju kedapur. Revan mengikutinya dari belakang. Memperhatikan Mia yang sedang berkutat membuatkan sesuatu yang tidak begitu dia inginkan. Bahkan Revan sadar, sampai saat ini Mia tidak pernah mengeluh setiap kali mengerjakan perintahnya. Mengingat betapa kejamnya dia dengan wanita satu ini.


Jantung Revan berdetak begitu keras. Wanita ini bahkan tidak sedikitpun dendam padanya. Memperlakukan Revan layaknya raja, namun Revan memperlakukannya semena-mena.


"Sudah siap, Mas." Mia menyodorkan satu piring roti lapis kesukaan Revan. Dan juga segelas susu hangat. Revan menerimanya dengan canggung. Saat Mia ingin berbalik untuk meninggalkannya, karena setiap kali makan Revan seringkali mengusirnya dengan alasan tak berselera jika ada dirinya. Kali ini Revan menghentikannya.


"Mia... "


Mia berhenti dan menoleh kearahnya. "Ya."


"Jangan pergi dulu. Temani aku menghabiskan ini sebentar."


Mia menautkan kedua alisnya. Perasaannya mengembang hanya dengan kalimat seperti itu. Dengan sedikit senyuman, Mia mematuhinya. Mengambil tempat duduk dihadapannya dan menatapnya nanar. Namun Revan malah menunduk seakan hanya fokus pada makanannya. Revan terlalu takut saat manik mata Mia kembali menembus retina matanya.

__ADS_1


Saat Revan mengangkat wajahnya. Mia sudah tidak lagi menatap matanya. Wanita itu menatap kosong kelain arah. Entah apa yang dia pikirkan. Revan menyodorkan satu suapan roti padanya. Entah memiliki keberanian dari mana, hal itu membuat Mia terlonjak.


"Makanlah. Aku tidak bisa menghabiskan ini sendirian."


Mia menatap Revan dengan berkerut heran. Sikap pria ini semakin membuatnya bingung. Namun Mia tidak menolaknya. Suapan itu ia Terima dengan perlahan. Namun matanya tidak terlepas dari Revan.


"Maaf aku telah menyembunyikan Zico darimu..," lirih Mia dengan tatapan bersalahnya.


"Aku mengerti. Tapi tetap saja kau salah karena dia darah dagingku. Aku kehilangan banyak waktu berharga bersamanya."


Melihat Revan yang murung membuat Mia semakin merasa bersalah. "Aku akan memberitahunya secara perlahan. Dia harus tahu siapa dirimu."


"Tidak perlu. Biar aku saja memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya."


"Aku hanya-"


"Mia... " Revan memanggilnya begitu lembut. Tak pernah Mia mendengar nada selembut ini sebelumnya. Revan nampak rapuh dan hal itu membuat Mia menatapnya nanar. Apa yang terjadi dengan suaminya? kenapa Revan nampak sangat menyedihkan seperti ini?


Terdengar Revan menghembuskan nafas beratnya.


"Apa kau mencintai Azkhan?"


Mia terhenyak. Entah mengapa pertanyaan seperti itu malah membuatnya sakit.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Aku telah banyak melakukan kesalahan padamu. Jika kau ingin terlepas dariku, maka akan aku lakukan. Kau bisa berbahagia bersama Azkhan. Tapi... izinkan Zico tetap berada disampingku. Aku tidak punya siapapun yang menyayangiku. Dan aku berharap anak itu bersedia menyayangiku sebagai ayahnya sendiri."


Mata Mia berkaca-kaca. Tidak menduga hal seperti ini akan terlontar dari mulut Revan. Jadi dia pikir selama ini apa? Mia tidak mencintainya?


"Azkhan pasti bisa membuatmu bahagia. Tidak seperti aku yang hanya bisa menoreh luka. Sudah saatnya kita berpisah, Mia...


Mari berce-"

__ADS_1


"HENTIKAN!!"


__ADS_2