
Entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir. Perasaan gusar, sesak dan hancur bercampur aduk menjadi satu. Hati ibu mana yang tidak teriris melihat buah hatinya terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai macam selang untuk membantunya tetap bertahan.
Mia tertunduk lemas. Kakinya seolah tak sanggup untuk berpijak. Hanya menatap kosong dan penuh dengan penyesalan yang teramat dalam.
Jika saja dia tidak berdebat waktu itu?
Jika saja dia mengabaikan semua tuduhan Revan padanya. Jika saja dia tidak lengah dalam memperhatikan anaknya, mungkin Zico tidak akan mengalami kejadian mengerikan seperti ini.
Mia semakin terisak mengingatnya. Mengingat betapa bodohnya dia dalam menjaga buah hatinya.
'Maafkan Mama, Zico... Maafkan Mama yang tidak becus dalam menjagamu...' hanya kata itu yang terucap di mulutnya. Sembari menyentuh kaca yang menjadi penghalang antara dirinya dan si buah hati.
Sementara Revan. Entah mengapa kini dia terdiam seribu bahasa. Menatap pilu pada sosok mungil yang dia pikir bukan siapa-siapa baginya. Tapi entah mengapa rasa simpati dan sesak itu juga terasa. Perasaannya tersentuh. Hatinya ikut hancur, apalagi saat melihat kubangan darah anak itu. Apa yang telah terjadi padanya?
Padahal dia tidak begitu sering berinteraksi dengan bocah kecil itu. Tapi kenapa rasanya dia sudah merasakan kedekatan yang teramat sangat.
Saat matanya beralih menatap Mia yang nampak rapuh. Hati kecilnya sangat ingin memeluk wanita itu dan mengusap kepalanya. Memberikan ketenangan dan juga rasa nyaman. Namun saat tangannya ingin meraih puncak kepala Mia, saat itu juga tangannya tertahan. Semua yang ada dipikirannya sangatlah sulit dia lakukan.
Sampai akhirnya seorang dokter yang keluar dari ruangan anaknya dirawat. Mia langsung mendekatinya dengan tergesa-gesa dan perasaan cemas yang tak dapat terbendung.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tatapan Mia begitu berharap kabar baik akan mendekatinya. Sementara Revan hanya diam dan mendengarkan. Namun dari raut wajah dokter yang nampak ikut menyesal, membuat Revan mengerti akan adanya masalah sulit.
"Keadaannya kritis. Dia kehilangan banyak darah. Sementara stok darah di rumah sakit ini sudah habis. Kami membutuhkan pendonor darah secepatnya dari orang tuanya. Karena jika harus mencari dulu pendonor lain, kami takut terlambat dalam melakukan penanganan hingga nyawanya bisa tak tertolong."
Deg
Mia membeku ditempatnya. Begitu juga dengan Revan. Mereka berdua saling menatap dalam diam. Mia tahu golongan darahnya adalah A. Sementara Zico adalah O+. Mana mungkin bisa menjadi pendonor anaknya.
Revan mengerti dari tatapan Mia yang seolah memohon padanya. Yang dia pikir, Mia tak bisa memberikan darahnya karena tidak cocok. Tapi Azkhan lah yang cocok. Sebab itulah Revan langsung mengangguk.
"Aku mengerti. Aku akan menjemput Azkhan sekarang juga." Revan berbalik dan ingin melangkah meninggalkan Mia. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Mia.
__ADS_1
"Tunggu!" Revan berhenti. Menatap Mia bingung.
"Tidak bisa menunggu, Mia. Zico harus cepat ditangani."
"Tidak. Jangan pergi." Mia semakin tercekat. Perasaannya bercampur aduk. Akankah ini saatnya Revan mengetahui siapa Zico sebenarnya?
"Ada apa denganmu, Mia? Azkhan adalah ayahnya. Hanya dia yang bisa menyelamatkan Zico, kan?"
Mia menggeleng lemah. "Azkhan bukan ayahnya."
"Apa maksdumu? Jangan membuatku bingung, Mia. Keadaannya sekarang darurat!" Revan mulai tak sabar. Perasaannya tak enak.
Mia semakin terisak. Mia tak terberdaya. Dia harus mengatakannya agar anaknya selamat. "Zico bukan anak Azkhan. Tapi anakmu, Mas... Dia putramu, darah dagingmu."
Deg
Revan membeku ditempatnya. Menatap Mia dengan raut tak terbaca.
"Demi Allah, aku tidak berbohong. Dia putramu, Mas. Hanya kamu yang bisa menyelamatkannya sekarang. Zico memiliki golongan darah yang sama denganmu. Pergilah berikan darahmu padanya... "
Mata Revan mulai berkaca-kaca. Belum siap menerima semua kebenarannya. Revan mendekati Mia dan mengguncang tubuhnya dengan memegang kedua bahu wanita yang nampak lemah itu.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, Mia! Kenapa?!"
"Ini bukan saatnya untuk berdebat, Mas. Masuklah kesana dan selamatkan anakku. Dia membutuhkanmu. Aku mohon... Kau bisa mengambil apapun yang ada didalam diriku, bahkan nyawaku jika perlu. Tapi aku mohon selamatkan Zico, Mas.... Selamatkan anakmu." Mia terduduk dan bersimpuh dikaki Revan. Dengan isak tangis yang memilukan.
Revan terhenyuh. Namun tidak sedikitpun dia merasa kasihan melihat wanita itu. Revan masuk kedalam ruangan itu untuk memberikan darahnya. Untuk memastikan kembali bahwa ucapan Mia adalah benar, bahwa dialah ayah biologis Zico.
****
Revan menatap putranya dengan miris. Sosok bocah kecil yang kini terbaring lemah dengan balutan perban dikepalanya. Tidak menduga bahwa Zico benar-benar putranya.
__ADS_1
Revan menggenggam tangan Zico. Sesekali menghirup punggung tangan anaknya. Rasa sesal kini juga dia rasakan. Dia bahkan tidak menyadari beberapa kemiripan antara dirinya dan juga anaknya. Semua itu terhalangi oleh prasangka buruk terhadap Mia.
'Mulai saat ini hanya aku yang boleh kau sebut dengan panggilan, Papa. Jangan lagi orang lain. Kau hanya anakku. Bukalah matamu, nak. Papa ingin mengatakan padamu kalau Papa sangat menyayangimu. Papa ingin memperbaiki semuanya. Izinkan Papa menjadi orang tua yang baik untukmu.'
Revan menghapus sisa-sisa air matanya. Lalu mencium dahi putranya sebelum akhirnya keluar dari sana.
Saat dia membuka pintu. Tatapannya tertuju pada Mia yang duduk sembari memeluk dirinya sendiri. Revan menatapnya datar. Mia bahkan tidak menyadari bahwa Revan telah selesai mendonorkan darahnya dan kini sedang berjalan kearahnya.
Namun saat Revan hendak mengeluarkan suara. Tiba-tiba saja, Bibi Deriya muncul dengan langkah tergesa-gesa. Serta kepanikan yang luar biasa. Dan yang membuat Revan begitu kesal, kenapa Bibi Deriya mengajak Azkhan bersamanya.
"Mia! bagaimana keadaannya?" ucap Deriya dengan air mata yang sudah menggenang.
Mia memeluknya. Menumpahkan semua kesedihannya. "Dokter bilang dia kritis, Bibi. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku tidak bisa hidup tanpanya, Bibi. Zico adalah duniaku, hanya dia yang mampu menguatkanku..," ucap Mia disela isak tanginya.
Deriya mengusap punggung Mia sembari tak kuasa menahan tangis. "Bersabarlah Mia. Ini ujian untukmu. Kalian pasti bisa melewati ini. Do'akan saja yang terbaik untuk anakmu. Dia akan baik-baik saja, percayalah... "
"Ini semua salahku, Bibi. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku seorang Mama yang buruk baginya. Aku tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Aku telah gagal, Bibi... "
"Ssssttt, jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mia. Itu tidak baik. Tidak ada satu orangpun yang menginginkan hal ini terjadi. Ini terjadi atas kehendaknya, dan kau harus bersabar dalam menghadapi ujian ini. Percayalah ini akan segera berakhir, Mia."
Azkhan yang tak tega melihat Mia yang nampak murung. Langsung saja menepuk pelan pundaknya untuk menenangkan. "Benar, Mia. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku tahu dia adalah anak yang kuat. Jagoanku tidak akan kalah begitu saja. Aku yakin itu."
Ekspresi Revan mengeras. Mulai dari menatap tangan yang telah lancang menyentuh bahu istrinya dan juga mengatakan bahwa Zico adalah putranya. Revan ingin sekali memukul wajah Azkhan saat itu juga. Namun dia sadar posisinya sekarang sedang berada dimana. Dia tidak mungkin melakukan hal itu.
Yang bisa dia lakukan, hanyalah pergi untuk menghalangi naluri didalam dirinya yang sangat ingin melampiaskan amarah. Dan mencari orang untuk disalahkan.
TBC
JANGAN LUPA VOTE NYA YA😍
*
__ADS_1