TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 KEJADIAN TAK TERDUGA


__ADS_3

"Apa ini?" Revan begitu terkejut dengan lembaran berkas yang dilemparkan oleh Azkhan diatas meja kerjanya. Saat dia mengangkat wajahnya, terlihat Jelas Azkhan yang menatapnya dingin dengan aura permusuhan yang kental.


"Itu surat perjanjian yang telah aku buat. Aku ingin menarik kembali semua saham yang telah aku tanam diperusahaanmu," ucapnya dengan tenang. Namun cukup membuat Revan terlonjak.


Betapa tidak, Azkhan adalah penanam modal terbesar. Jika dia menariknya, maka sudah bisa dipastikan perusahaan Revan hanya akan tinggal nama.


"Kenapa kau melakukan ini, Azkhan? Apa salahku!"


"Cih, salahmu? Aku rasa kau sudah tahu apa kesalahanmu, Revan. Tapi jika kau mau menceraikan Mia, mungkin aku akan mempertimbangkannya... "


Revan tertawa hambar mendengarnya. Menatap Azkhan tidak percaya. "Kau melakukan ini hanya karena Mia? Apa kau tidak waras!"


"Anggap saja seperti itu. Aku memberimu sebuah pilihan yang akan menunjukkan siapa kau sebenarnya, Revan. Aku tahu Mia tidak berarti bagimu. Kau hanya menganggapnya seperti sampah. Aku bersedia menampungnya dan menjadikan dia berlian termahal yang pernah ada. Mia akan bahagia bersamaku," ucap Azkhan begitu arogan.


"Kau benar-benar sudah tidak waras. Sebegitu hebatnya kah Mia memberimu kepuasan, hingga kau tega menjatuhkan sepupumu sendiri demi seorang jalang seperti Mia!"


"TUTUP MULUTMU!!" Azkhan mengepalkan tangannya. Tatapannya begitu tajam seolah sedang menguliti Revan hidup-hidup. "Bicara lagi tentang keburukan Mia, maka akan kupastikan bukan hanya perusahaanmu yang bangkrut. Tapi juga hidupmu yang bahkan kubuat menderita sampai kau mengharapkan kematianmu sendiri," sambung Azkhan dengan peringatan keras.


Revan merasa kalap. Dia bingung harus berbuat apa. Menghadapi sikap Azkhan yang nampak sangat mengerikan. Tidak pernah dia Melihat Azkhan yang seperti ini. Pria ini biasanya hanya menunjukkan sikap manis dan lembut. Baru kali ini sifat aslinya dia tunjukkan.


"Aku memberimu dua pilihan. Tanda tangani surat itu, atau ceraikan Mia. Kau bisa memberikan padaku jawabannya besok." Azkhan segera pergi dari ruangan Revan. Meninggalkan pria itu dengan perasaan gusar semakin dalam.


Revan menarik kasar rambutnya. Nafasnya terdengar keras. Dia tidak menduga bahwa sepupunya sendiri akan bertindak seperti ini padanya.


'Sialan kau Mia... Kau telah berhasil membuat mangsamu menggila! Hebat sekali permainanmu. Dasar ular licik!'


*****


Mia melirik jam kecil yang ada dimeja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore hari. Wanita itu segera membereskan semua berkas dan merapikannya kembali. Mengingat Revan akan segera tiba di rumah sebentar lagi. Tidak pernah sekalipun Revan pulang tanpa melihat Mia yang menyambutnya didepan pintu. Meski sambutan itu tak pernah sekalipun berarti apa-apa bagi suaminya. Namun Mia tetap melakuannya demi menghormati dan menghargai suaminya.


"Dimana Zico?" Mia bertanya pada salah satu anak panti saat baru saja keluar ruangannya.


"Dia bersama Kak Azkhan," ucapnya.

__ADS_1


"Azkhan?"


Perasaan Mia jadi tidak enak. Dia telah menyinggung perasaan pria itu. Yang telah bersikap baik padanya selama dua tahun terakhir ini. Disaat Revan tidak ada, terkadang Azkhan yang selalu saja berada didepan untuk menggantikan peran ayah pada anaknya. Sebab itulah Zico memanggilnya dengan sebutan, papa.


Namun kejadian kemarin malam. Membuat Mia tak bisa berpikir bagaimana cara menghadapi pria itu kali ini. Tentu saja rasa bersalah menyertainya. Namun mau tidak mau, Mia tetap akan bertemu dengannya.


Dengan langkah lambat, Mia perlahan melihat kedekatan kedua orang itu. Tidak memiliki hubungan darah tetapi sudah seperti ayah dan anak. Bahkan Revan saja tidak sedekat itu dengan Zico. Tentu saja itu karena Mia tidak berani mengungkap siapa itu Zico.


"Mama!" pekik Zico saat melihat kehadiran Mia. Sembari memegang sebuah bola ditangannya.


Mia tersenyum canggung menghadapi keduanya. Meski Mia tidak sedang melihat kearah Azkhan. Namun dia tahu sejak tadi Azkhan menatapnya penuh arti.


"Zico sayang, sebaiknya kita pulang sekarang. Sebentar lagi Ayah Revan pulang. Ucapkan salam pada Papa Azkhan."


Deg


Perasaan Azkhan kembali teriris. Sungguh ironi sekali dia mencintai wanita yang sudah bersuami. Dia pikir Mia adalah seorang janda hingga dengan mudah akan dia dapatkan. Tapi kenyataannya, Mia adalah istri dari sepupunya sendiri. Yang selama ini menelantarkan mereka dan memberikan penderitaan pada Mia.


"Apa kau mencintainya, Mia?" Mia menoleh kearahnya saat mendengar pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Azkhan. Tatapan teduh pria itu membuatnya semakin merasa tidak enak.


"Dulu aku menikah dengannya karena cinta. Dan aku pikir karena cinta rumah tanggaku akan bahagia. Tapi ternyata aku salah. Ujian dalam rumah tangga bisa membuat seseorang berubah. Dan jika seseorang sudah berubah maka cinta pun akan berubah.


Dan saat ini. Bukan lagi kebahagiaan yang aku cari... Melainkan hanya ketenangan. Dan untuk mendapatkan ketenangan itu, aku mohon padamu agar menjaga perasaan suamiku untuk tidak sering menemuiku. Itu akan menimbulkan fitnah dalam rumah tanggaku."


Meski tidak ada niat untuk menyakiti Azkhan melalui ucapannya. Namun tetap saja pria itu merasa Mia kembali menoreh luka di hatinya. Azkhan menipiskan bibirnya. Sedikit kesal dengan Mia yang tak bisa melihat bagaimana Revan memperlakukannya. Sementara disini dia mati-matian ingin menjaga perasaan pria itu.


"Dia tidak pantas mendapat semua kebaikanmu, Mia. Dia tidak pantas menerima cinta darimu. Dia bahkan pantas menerima segalanya yang ada pada dirimu. Dengan melepaskannya aku yakin kau akan merasa tenang."


"Bercerai bukanlah satu-satunya solusi terbaik, Azkhan. Kami sama-sama memiliki kekurangan. Dan ketidak pantasan seharusnya diperbaiki dengan saling memantaskan satu sama lain. Menutupi kekurangan pasangan bukan mencari kesalahannya. Jika hanya kesalahan setiap pasangan yang dicari, maka masalah tidak akan pernah habisnya."


Azkhan tersenyum penuh ironi. Sungguh hatinya terhenyuh mendengar kalimat itu. Namun tidak sadarkah Mia bahwa hanya dia yang berpikir demikian, sementara Revan sendiri tidak. Suaminya itu selalu saja mencari-cari kesalahan untuk menghakiminya. Amarah serta kebencian melekat didalam diri Revan hanya untuk membuat Mia menderita.


Azkhan segera beranjak untuk pergi. Dengan hati yang sudah tak berbentuk lagi. Berharap takdir bisa membawanya bersama wanita pujaan hatinya.

__ADS_1


Setelah kepergian Azkhan. Mia berjalan keluar bersama Zico. Namun langkahnya terhenti saat melihat kehadiran Revan dengan tatapan misteriusnya, berjalan kearah mereka. Entah sejak kapan pria itu ada disana. Mia berharap tidak akan ada perdebatan kali ini.


"Mas, Revan?"


"Aku datang untuk menjemput istriku... " Entah mengapa ucapan itu tidak terdengar menyenangkan. Karena tatapan Revan yang nampak mengerikan. Namun Mia tidak menggubris hal itu dan mengikuti langkah suaminya yang membawanya menuju mobil yang diparkirkan Revan didepan panti.


Mia memegang erat tangan putranya. Perasaannya tidak enak.


Tidak tahan dengan kekesalan didalam dirinya, membuat Revan mulai angkat bicara saat keadaan sudah sepi. Bahkan Zico belum sempat masuk kedalam mobil.


"Apa kau puas membuat hidupku berantakan, Mia? Azkhan melakukan kegilaan hanya demi dirimu!"


"Jangan mengajakku berdebat disini, Mas. Akan mengundang perhatian banyak orang."


"Aku tidak bisa menahannya! Kau wanita licik. Selamat karena telah berhasil dengan tujuanmu. Kau akan segera terlepas dariku. Kau sangat hebat!" Revan bertepuk tangan, seolah memuji kehebatan Mia. Namun Mia malah menatapnya nanar penuh kebingungan.


"Aku tidak mengerti, apa lagi ini!!"


Mereka berdua akhirnya sibuk berdebat tanpa sadar pegangan tangan Mia dengan anaknya terlepas. Zico sibuk dengan bolanya, sementara kedua orang dewasa itu sibuk berargumentasi.


Hingga saat bola Zico terlepas dari tangannya dan menuju kejalan raya. Bocah kecil itu dengan lugunya mengejar bolanya.


Saat teriakan orang-orang disekitar menggema memekakkan telinga. Barulah Mia dan Revan menyadari bahwa Zico sudah tidak ada lagi didekat mereka.


BRUUKKKKKK


Suara decitan mobil serta suara keras itu membuat Mia langsung tertuju kearah jalan raya. Dimana orang-orang sudah ramai untuk melihat siapakah yang tertabrak.


Mia berlari sekuat tenaga. Berharap bahwa itu bukanlah putranya. Namun apalah daya, semuanya sudah terlambat. Saat Mia menerobos masuk kedalam kerumunan. Matanya membulat sembari berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak dan hancur berantakan. Seluruh dunia seakan kini menimpa kepalanya. Tubuh Mia terkulai lemas melihat darah anaknya yang berhamburan.


"ZICO..........!!"


*****

__ADS_1


__ADS_2