TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 57: BERBAGILAH DENGANKU


__ADS_3

"Ceyda? Kau kah itu?" suara seorang wanita paruh baya, membuat Ceyda dan Syma menoleh.


"Karla?"


"Oh temanku, rupanya benar itu dirimu. Siapa wanita cantik yang kau bawa ini?" Karla menatap Syma dengan pandangan kagum.


"Dia menantuku. Istri dari Ersad."


"Menantu? Jadi kau sudah berbaikan dengan putramu? Oh syukurlah kalau begitu."


"Ibu, aku pergi kekasir dulu. Ibu ngobrol saja dulu disini." Syma menghentikan ucapannya dan menoleh kearah Karla. "Nyonya saya permisi sebentar."


Karla mengangguk dan tersenyum ramah padanya.


"Ceyda, kau sangat beruntung sekali. Menantumu cantik dan sopan. Dia juga terlihat baik."


"Dia memang wanita baik. Aku beruntung memiliki menantu sepertinya. Bukankah kau juga sudah punya menantu? Kalau begitu kita sama-sama beruntung."


"Beruntung apanya. Menantuku itu sudah seperti musibah besar bagiku. Aku sendiri bingung, anakku yang bodoh itu menemukan wanita seperti itu dimana. Padahal dia itu lulusan terbaik. Tapi mencari istri sembarangan. Hanya tamatan SMA. Memalukan sekali," Karla mencebik kesal saat ingat tentang menantunya dirumah.


"Jangan merendahkan menantumu sendiri, Karla. Itu tidak baik. Bagaimana pun juga, dia adalah wanita pilihan anakmu. Dia juga yang akan mengandung penerus kalian. Dan disaat kau tua nanti, para menantulah yang lebih banyak berperan merawatmu. Jadi perlakukan dia seperti anakmu sendiri. Karena dia keluar dari rumah orang tuanya untuk masuk ke lingkungan baru itu tidak mudah." Ceyda mencoba untuk mengubah sudut pandang Karla. Namun sayangnya Karla tetaplah Karla yang keras kepala dan ingin menang sendiri.


"Merawatku? Asal kau tahu Ceyda. Menantuku itu bangunya saja siang. Bagaimana dia akan merawatku nanti! Menyebalkan sekali bukan. Padahal aku ini sudah tidak pantas lagi mengerjakan pekerjaan rumah. Karena ulahnya aku jadi seperti pembantu dirumahku sendiri. Kau tidak mengerti menantuku itu seperti apa, Ceyda." Karla terus saja menggerutu. Menceritakan aib menantunya sendiri. Membuat Ceyda lama-lama bosan mendengarnya.


"Terserah kau saja Karla. Aku memang tidak tahu siapa menantumu itu. Tapi saranku, lebih baik kau perlakukan dia dengan baik. Karena biasanya orang akan bersikap, bagaimana cara kita bersikap pada orang tersebut. Intinya jika kita baik, maka orang juga pasti akan baik.


Sudahlah...


Sebaiknya aku melihat Syma, kenapa dia lama sekali. Sampai jumpa lagi ya... " Ceyda segera menyusul Syma karena takut terjadi sesuatu padanya.


*****


"Maaf Nyonya, kartu ini sudah tidak bisa digunakan lagi," ucap pegawai kasir mengembalikan kartu ATM Syma. Tentu saja Syma heran, padahal dia tidak pernah boros membelanjakan uang yang diberikan Ersad padanya.

__ADS_1


"Coba yang satu ini... " Syma memberikan ATM yang satunya. Jika itu juga tidak bisa, maka dia benar-benar tidak bisa membayar semua belanjaannya.


"Nyonya sepertinya ini juga tidak bisa."


Sontak Syma terkejut dan merasa tidak enak hati. Dia semakin bingung, ditambah lagi belanjaannya yang begitu banyak. Dia tidak punya pilihan selain membatalkan semua belanjaannya. Meski harus menanggung malu diperhatikan banyak orang.


"Em, maaf mbak. Kalau begitu saya tidak jadi beli. Sepertinya ada kesalahan. Sekali lagi saya minta maaf." Syma menunduk malu sembari berjalan keluar dari sana. Namun suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Biar saya yang bayar semuanya. Berapa jumlahnya?"


Syma yang merasa tidak asing dengan suara itu, segera menoleh.


"Revan? untuk apa kau membayarnya. Aku sudah membatalkannya."


"Tidak masalah. Biar aku membantumu Syma. Aku tahu kau butuh semua barang itu."


"Aku memang butuh. Tapi aku belum bisa membelinya sekarang."


"Maka dari itu, biarkan aku yang membayarnya untukmu," Saut Revan mengeluarkan kartunya.


"Suamimu tidak akan marah, karena dia tidak akan mampu lagi membeli semua kebutuhanmu!"


"Apa maksudmu?"


"Oh. Kau tidak tahu? Kalau begitu sebaiknya kau tanya sendiri pada suamimu itu. Dan jika kau sudah tahu semuanya, datang saja padaku jika butuh. Kau masih ingat rumahku, bukan?" Revan segera pergi dengan ekpresi tak terbaca. Meninggalkan sejuta pertanyaan dibenak Syma.


'Apa yang terjadi sebenarnya?'


"Syma, kenapa diam saja disini? Apa semuanya sudah selesai?"


"Aku tidak jadi beli. ATM ku tidak bisa digunakan Bu." Syma menunduk lesu.


"Kalau begitu gunakan uang Ibu saja... "

__ADS_1


Syma langsung menggeleng keras. Sebagai penolakkan mentah-mentah. "Tidak Bu. Tidak perlu khawatir. Sepertinya hanya ada sedikit kesalahan. Sebaiknya kita pulang dulu. Aku juga khawatir, Zea akan mencariku."


Ceyda tidak menolak. Mereka akhirnya pulang dengan membawa tangan kosong.


*****


Sudah hampir larut malam, Ersad belum juga pulang. Syma menunggu dengan gelisah dikamarnya. Syma juga sudah menelponnya berkali-kali, tapi Ersad tidak mengangkatnya sekalipun. Sebab itulah Syma semakin gelisah.


Syma sampai sengaja membuka tirai di jendela kaca kamarnya, untuk melihat keluar. Apakah Ersad sudah pulang atau belum. Namun hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda kepulangan suaminya.


Akhirnya Syma menyerah, dan memilih untuk tidur. Meski matanya sulit sekali untuk terpejam. Namun Syma tetap memaksa memejamkan matanya.


Lalu derap langkah terdengar ditelinga Syma. Dia yakin bahwa itu adalah suaminya.


Cepat-cepat Syma beranjak dari tempat tidurnya. Dan benar saja... Ersad telah pulang. Tapi herannya, suara mobil pria itu bahkan tidak terdengar ditelinganya.


Dan yang semakin membuat Syma heran. Ersad pulang dalam keadaan kusut dan menyedihkan. Wajahnya nampak begitu kalut dan gusar. Syma yang ingin bertanya tentang masalah ATM tadi, segera dia urungkan.


Dia sadar bahwa suaminya sedang butuh ketenangan saat ini.


"Mas? Mau aku siapkan air hangat?"


Ersad hanya mengangguk pelan. Tanpa menoleh kearahnya. Syma sendiri tahu, bahwa Ersad sedang memendam sesuatu saat ini. Tapi apa? Pikirnya.


Syma segera menyiapkan air hangat. Dan saat air itu telah siap. Syma menunggu Ersad keluar dari kamar mandi dengan gelisah. Sampai Syma mondar-mandir karena tidak sabar mendengar keluh kesah suaminya tentang yang terjadi padanya hari ini.


Cukup lama Syma menunggu. Namun penantiannya itu tidaklah sia-sia. Ersad keluar dari kamar mandi dengan segar. Namun raut wajahnya tidak berubah sama sekali. Tetap kalut, terlihat jelas banyak beban yang dia pikul di pundaknya.


"Mas... Apa terjadi sesuatu? Berbagilah denganku. Aku tahu mungkin aku belum tentu bisa membantumu. Tapi setidaknya, bagilah sedikit denganku kesusahan hatimu itu, Mas... " Syma berucap begitu lembut sembari menyentuh tangan suaminya.


Ersad menatap kedalam mata istrinya sebelum menjelaskan semuanya. Ada rasa tidak tega untuk membagi beban berat yang dia pikul seorang diri. Dia ingin menanggungnya sendiri saja. Dia tidak ingin Syma jadi ikut Stress, karena masalahnya. Karena takut mengganggu janin yang ada didalam kandungan istrinya.


Namun melihat raut permohonan dari wajah Syma. Membuat Ersad luluh. Dan mau tidak mau dia akhirnya menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Kita bangkrut Syma.... "


BERSAMBUNG.....


__ADS_2