TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 73: TIDAK ADA YANG SALAH PADA PERASAANMU


__ADS_3

"Aku dengar Ersad telah kembali, aku ikut bahagia mendengarnya."


Syma memperhatikan raut wajah Mia yang nampak berbeda. Meski ada sedikit senyuman diwajahnya. Namun Syma sadar, Mia sedang menanggung hal yang begitu berat.


"Ada apa, Mia? Pasti terjadi sesuatu denganmu?"


Mia tertawa getir. "Entahlah... Aku sendiri bingung dengan diriku. Terkadang aku merasa bersalah pada Mas Revan, karena telah meninggalkannya begitu saja disaat dia sedang terpuruk seperti ini.


Tapi sisi lain. Aku tidak bisa kembali padanya. Mas Revan tidak ingin berubah. Dia bahkan mengajakku melakukan kejahatan.


Aku bingung Syma. Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa surga seorang istri ada dibawah telapak kaki suaminya. Lalu bagaimana nasibku? Nasib memiliki suami yang suka memukul, tidak pernah mencintai bahkan menghargaiku. Apakah aku tetap harus mempertahankan surga itu?"


Syma terhenyak mendengarnya. Sekarang dia paham dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya. Mia begitu hancur dan rapuh menghadapi dua pilihan yang tidak mudah baginya.


"Memang benar surga istri ada pada suaminya. Tapi seorang istri juga punya hak untuk melepaskan diri, dari suaminya yang dzolim.


Nama hak nya adalah khulu. Sebuah sighat taklik yang dibacakan seorang suami setelah akad nikah.


Jika kau merasa dianiaya oleh suamimu, lalu kau hanya bisa pasrah dengan dalih surga ada dibawah telapak kaki suamimu, itu pembodohan namanya. Kau punya hak untuk melepaskan diri Mia. Jangan takut... "


Mia mengangguk sembari tersenyum haru. Kedua wanita itu kini berpelukan untuk memberikan kekuatan satu sama lain.


******


Syma seketika, memalingkan wajahnya ketika melihat Ersad sedang berbicara bahkan tertawa bersama Winda. Wanita yang menjadi pegawai baru di kantornya.


Keakraban mereka berdua membuat Syma merasa teriris. Namun dia tetap berusaha berpikir huznudzon pada suaminya. Namun meski begitu, Syma tetap tidak tahan menyaksikan pemandangan itu. Sampai akhirnya dia mengurungkan niat untuk menemui Ersad di kantornya dan memilih pulang.


Syma hanya bisa berucap istighfar sebagai penenang hatinya.


Sesampainya dirumah. Syma segera menenangkan diri dengan menyibukkan diri bersama anak-anaknya.


"Bunda, Kenapa tidak pulang bersama Papa?"


"Papa belum bisa pulang, Ze. Sepertinya banyak urusan penting yang harus Papa kerjakan."


"Dan Bunda tidak suka Papa banyak urusan?"

__ADS_1


Syma menatap putrinya dengan heran. Zea memang paling mengerti tentang perasaannya. Bahkan dengan senyuman palsu pun tidak mumpan jika berhadapan dengan Zea.


"Bunda hanya.... "


"Bunda jangan sedih. Papa orang baik, mana mungkin Papa tega menyakiti Bunda. Ze tahu kalau Papa sayang pada kita semua. Ze bisa merasakannya.


Bunda jangan sedih lagi ya... " Zea berucap lembut. Tangan kecilnya menyentuh wajah Syma.


Tentu hal itu membuat hati Syma menghangat. Dia hanya bisa mengangguk sembari memeluk erat putrinya.


******


Ersad menatap heran pada Syma yang terlihat begitu sibuk dengan urusannya sendiri. Sampai mereka tidak punya waktu berdua untuk bermesraan seperti biasanya.


Dan saat ingin tidur seperti ini sekalipun. Syma masih begitu sibuk dengan segala hal. Mulai dari pakaian serta beberapa data anak asuh dilaptopnya.


Sampai akhirnya Ersad kesal. Pasalnya Syma tidak mengangkat telepon darinya sama sekali. Dan juga tidak datang kekantor untuk pulang bersamanya.


"Kenapa tidak kekantor hari ini? kau bahkan tidak mengangkat telepon dariku. Apa kau tahu berapa kali aku menelponmu? Puluhan kali, Syma."


Syma menghentikan sejenak kegiatannya. Namun tidak menatap suaminya sama sekali. "Aku tahu. Maaf... "


"Em, tapi kan kita pasti bertemu dirumah, Mas." Syma masih bisa tersenyum, meski hatinya masih saja terasa ada yang mengganjal. Dan Ersad menyadari hal itu.


"Katakan ada apa? Kenapa kau terlihat sedang menghindar dariku. Aku tidak bisa menebak-nebak apa yang ada didalam pikiranmu, Syma. Jadi tolong jelaskan padaku, ada apa sebenarnya?" Ersad menutup laptop Syma dan memaksa wanita itu menatapnya.


"Memangnya apa Mas? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Mas terlihat sibuk dengan Winda. Kalian tertawa bersama dan kebetulan saat itu aku menyaksikannya. Kalian terlihat begitu akrab. Jadi aku tidak ingin mengganggu kalian. Sebab itulah aku pulang.


Jadi kalau aku sedang mendiamkanmu, atau mencoba menghindar sebentar, tolong dimaklumi Mas...


Karena pada saat itu, aku sedang menenangkan diriku sendiri dari segala macam pikiran buruk. Aku juga sedang membenahi kembali perasaanku yang hancur. Dan rasa cemburu yang menyeruak didalam diriku." Ada senyuman getir dari nada Syma berbicara. Dan hal itu membuat Ersad terdiam dan menatapnya begitu dalam.


Kini Ersad mengerti bahwa wanita ini sedang salah paham terhadapnya. Dan dia juga tidak bisa menyalahkan Syma, karena dia sendiri tidak menjelaskannya terlebih dulu.


"Kau adalah anugrah terindah dalam hidupku.

__ADS_1


Kau wanita yang selalu mencium punggung tanganku setiap aku pergi dan pulang bekerja.


Kau juga wanita yang telah merawat dan mendidik anak-anakku. Sebagai seorang istri, kau rela melakukan apapun bahkan tanpa diminta.


Lalu bagaimana bisa, aku tega dengan sengaja menyakitimu Syma?"


Ersad mendekap istrinya dengan penuh kasih sayang. Sesekali dia mencium wajah istrinya itu.


"Apa yang kau lihat, mungkin membuatmu sakit hati. Dan aku memaklumi hal itu. Sekaligus minta maaf karena tidak menceritakannya lebih dulu.


Winda ternyata istri dari temanku. Kami baru saja menyadarinya saat kemarin suaminya datang menjemputnya. Dan tidak sengaja kami bertemu.


Dia memang wanita menyebalkan karena suka mengganggu hubungan orang. Dia sendiri yang cerita, bahwa dia sengaja membuatmu cemburu Syma. Hanya karena tidak suka dengan sikapmu yang sok mengatur itu.


Setelah dia menyadari siapa aku, mulai saat itu juga dia berhenti menggangguku. Sebab itulah kami tertawa karena dunia begitu sempit. Dan dia sudah meminta maaf padaku. Begitupun suaminya."


Syma masih terdiam. Dia sengaja membiarkan suaminya berucap tanpa menyela sepatah katapun. Bukan karena dia masih marah.


Hanya saja Syma ingin mendengar semua cerita yang tidak dia ketahui dari suaminya langsung. Agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.


Bahkan saat ini satu hal yang dia sadari. Bahwa semua ucapan Zea tentang Papa nya adalah benar.


Dia malu pada anaknya sendiri yang lebih memahami Papanya. Padahal mereka tidak memiliki ikatan darah sama sekali.


"Jangan lagi memendam sesuatu seorang diri Syma. Kau tahu setan bisa menggoda pikiranmu kapan saja. Tanyakan padaku apapun yang ingin kau tanyakan. Komunikasi dalam rumah tangga itu penting. Jadi jangan pernah menganggap sepele akan hal ini. Kau paham!" Ersad berucap lembut sembari mengangkup kedua pipi istrinya.


Dan Syma hanya bisa bersemu malu, karena cemburu tanpa alasan pada suaminya.


"Ini semua salah perasaanku Mas. Dengan mudahnya aku cemburu buta melihatmu bersama wanita lain. Padahal aku... " Syma tidak sempat meneruskan ucapannya, karna Ersad telah membungkam mulutnya dengan bibir pria itu.


Syma terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Namun sesegera mungkin dia menguasai dirinya dan ikut menikmati sentuhan lembut dari sang suami.


Ersad melepaskan pertautannya sampai terdengar suara cecapan. Matanya menatap sendu dengan penuh hasrat yang berkilat ingin segera dituntaskan.


"Tidak ada yang salah pada perasaanmu, Syma. Itu normal, karena kau mencintaiku! Dan aku beruntung mendapatkan cintamu," ucapnya sebelum melanjutkan kembali aksinya.


Mengajak sangat istri memadu kasih di tengah gelapnya malam. Bersama-sama menggapai pahala besar yang indah dalam ikatan halal. Tidak lupa mereka menyematkan doa didalamnya. Agar keberkahan senantiasa menyertai rumah tangga mereka.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka berdua pun bergelut didalam heningnya malam. ❤


"


__ADS_2