TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
EPS 15: AKU JAUH LEBIH BERHAK ATAS DIRIMU


__ADS_3

"Siapa kau? kenapa kau ada disini?"


Syma yang tersentak kaget, langsung menoleh kearah Ersad yang juga sedang mengawasi mereka. Ersad mendekat, mencoba untuk membuat Nora sedikit tenang.


"Sebaiknya kita bicara diluar," ucap Ersad menuntun mereka berdua. Tatapan permusuhan terpancar jelas diwajah Nora. Sementara Syma hanya menunduk dan mengikuti langkah suaminya.


"Cepat katakan padaku siapa wanita ini, Kakak ipar !" Nora bersidekap menanti jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan.


Dengan sekali tarikan nafas. Ersad berucap, "Nora... wanita ini bernama Syma. Dia istriku."


Sontak ucapan Ersad membuat Nora kaget. Wanita itu tertawa hambar sembari menatap tidak percaya pada kakak iparnya itu.


"Jangan bercanda, Kakak. Katakan padaku jika ucapanmu itu hanya lelucon. Selera humormu sangat rendah. Aku tidak suka!" tukasnya.


"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius... Syma istri sahku ! kami menikah sirih beberapa Minggu lalu,"


Nora menatap Syma dengan begitu murka. Bercampur jijik dan juga muak. Tangannya tiba-tiba merengsek maju dan menampar Syma.


PLAKKKK


Tamparan pedas itu mendarat sempurna dipipi Syma yang tidak siap dengan serangannya.


"DASAR JA*ANG SIALAN! BERANINYA KAU MEREBUT SUAMI KAKAKKU!"


Nora berteriak dan ingin menyerang Syma kembali. Namun dengan sigap, Ersad langsung menghalanginya.


"Apa yang kau lakukan, Nora ! Hentikan.... jangan membuat keributan disini. Ini rumah sakit!" Ersad berucap dengan tajam. Membuat Nora seketika menatapnya penuh kecewa.


"Kenapa Kakak membela Jal*ng ini? aku yakin pasti dia sengaja menggoda kakak hingga mau menikahinya. Aku membenci, wanita munafik yang menjadikan jilbab sebagai topeng kebusukannya ini seperti ini!" ucap Nora menunjuk kearah Syma.


"AKU BILANG HENTIKAN, NORA!" suara Ersad yang terdengar lebih keras dari sebelumnya, mampu membuat Nora seketika bungkam.


"Kami menikah bukan tanpa alasan."


"Memangnya alasan apa?


Kenapa Kakak tega melakukan ini? disaat Kak Erika terbaring lemah... Kakak malah tega berselingkuh dibelakangnya. Dan tanpa tahu malunya, malah membawa selingkuhan Kakak datang kesini!" Nora berucap lirih. Namun wajah bengisnya masih terlihat jelas.


"Kau tidak mengerti Nora...."


"Biarkan saja aku tidak mengerti, karena memang aku tidak ingin mengerti!


bagiku pengkhianatan tetaplah penghianat!" ucap Nora begitu histeris.


"Terserah kau mau bicara apa Nora ! aku hanya ingin kau tahu, bahwa semua ini adalah pilihanku!


Jangan pernah menyentuh Syma lagi, atau aku akan mematahkan tanganmu," tukas Ersad penuh dengan ancaman yang kental. Kemudian menarik tangan Syma untuk pergi dari sana. Meninggalkan Nora yang masih bergeming, dengan kemarahan yang masih meluap-luap.

__ADS_1


'Kenapa harus wanita lain, Kakak? kenapa kau tidak memilihku saja ! aku jauh lebih berhak atas dirimu dibandingkan wanita lainnya...


Tidak.


Aku tidak akan bisa menerima semua ini. Aku tidak akan pernah menyerah. Wanita itu... dia akan tahu akibatnya jika berurusan denganku.'


*****


"Apa masih sakit?" tanya Ersad menyentuh lembut pipi Syma.


"Sedikit,"


"Maafkan aku... seharusnya aku tidak perlu membawamu kesana. Aku bahkan lupa bahwa akan ada Nora yang tidak mungkin bisa menerima kehadiranmu," ucap Ersad dengan nada penuh penyesalan.


"Semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disalahkan.


Aku sendiri mengerti perasaan Nora. Sebagai seorang adik, tentu dia tidak rela ada yang merusak kebahagiaan kakaknya. Cobalah untuk bicara padanya dan jelaskan semuanya. Aku yakin dia tidak akan marah lagi padamu,"


"Untuk apa bicara padanya. Membuang waktu saja! kau tidak tahu bagaimana wanita seperti Nora itu," saut Ersad ketus.


"Aku memang tidak tahu bagaimana Nora. Tapi bagaimanapun juga, dia adik iparmu. Jelaskan padanya bahwa kita tidak akan selamanya seperti ini. Ketika Erika bangun nanti, kita akan berpisah."


Syma berucap begitu mudah. Namun tanpa dia sadari ada rasa sesak didadanya ketika mengatakan hal itu. Seakan tidak rela semua itu harus terjadi. Begitu pula dengan Ersad... entah mengapa ucapan Syma membuatnya kesal. Seakan tidak menyukai terlalu lama bersamanya.


"Baiklah... nanti akan aku jelaskan."


Dia tersenyum samar. Membayangkan hal seperti ini, tentu tidak akan pernah dia rasakan lagi bersama suaminya ketika Erika bangun nanti.


"Mas... aku ingin meminta ijin padamu,"


"Ijin? lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, Syma. Aku tidak akan melarang apapun yang menjadi kesenanganmu," saut Ersad seolah tak perduli.


"Tidak bisa. Kau suamiku, apapun yang aku lakukan dan kemanapun aku akan pergi, aku harus meminta ijin padamu terlebih dulu."


"Memangnya kau mau meminta ijin untuk


apa?"


"Jidah ingin aku mengurus panti. Anak-anak disana membutuhkan seorang pembimbing, sementara Jidah sudah begitu tua untuk mengurusnya. Jadi ... hanya aku yang dia harapkan untuk meneruskan panti itu,"


"Hanya itu?" Ersad menatapnya bingung. "Kau ini lucu sekali, Syma. Mana mungkin aku melarangmu melakukannya. Lakukan jika itu menurutmu benar."


"Terimakasih,"


******


Setelah disetujui oleh suaminya, akhirnya Syma dengan penuh semangat datang kepanti. Dia tidak menyangka impiannya menjadi pembimbing panti asuhan yang mana sebagai tempat kelahirannya itu, kini menjadi nyata. Syma sangat bahagia bisa berinteraksi dengan anak-anak disana. Dan kembali menjadi bagian dari mereka.

__ADS_1


"Aku senang, kau mau menerima tawaranku Syma," suara Alma membuyarkan lamunan Syma yang sedang menatap anak-anak yang sedang bermain dengan penuh tawa.


"Ah Jidah... aku juga senang, suamiku memberi ijin dengan mudah," ucapnya dengan senyuman yang merekah.


"Dimana putri kecilmu, Zea?"


"Dia sedang diajak main, bersama Aina."


"Aina?"


"Ya. Gadis cantik bermata coklat yang sering Jidah suruh menyiram tanaman," Syma mencoba mengingatkan Alma dengan gadis itu. Tidak hanya gemar menyiram bunga dia juga suka dengan anak-anak. Sama seperti Syma.


"Ohh... ya, aku tahu gadis itu. Dia memang cantik. Hanya saja sedikit nakal, karena suka kabur ketika sedang sholat berjamaah," ucap Alma sedikit jengkel.


"Hahahh...."


"Akhirnya kita bertemu lagi, Syma..."


Syma menegang, ketika mendengar suara yang tidak asing baginya. Matanya langsung menatap sosok pria yang telah berdiri dibelakangnya.


"Nak Revan? apa maksud perkataanmu?" tanya Alma dengan bingung.


Syma langsung tersentak. "Revan? apa yang kau lakukan disini? sebaiknya kita bicara ditempat lain," ucap Syma yang tidak ingin Alma sampai mengetahui semuanya.


Untungnya Revan mengerti dan menuruti keinginan Syma.


"Katakan!" Syma bersidekap sembari menatapnya datar.


"Maaf... maafkan aku Syma.


Aku begitu bodoh sampai tidak menyadari...."


"Disini kau rupanya..."


Mereka menoleh kesumber suara yang memperlihatkan Mia yang sangat kacau.


Syma semakin heran dengan semua yang terjadi. Meski dia tahu Mia adalah dalang dibalik kehancuran rumah tangganya. Namun Syma masih tidak bisa membaca situasinya saat ini.


Untuk apa Revan datang menemuinya?


Dan Mia...


Kenapa dengan wanita ini? dia terlihat mengerikan...


*****


TBC

__ADS_1


AFF REAL 🔥


__ADS_2