
'Itukan Pak Hariz? apa yang dia lakukan disana?'
Aina mencoba mendekatinya. Hariz memang terlihat sedang menatap sungai, namun Aina tahu bahwa pria itu bukan sedang menikmati pemandangan itu. Dari pandangannya yang terlihat kosong, sudah pasti pria itu telah mengalami hari yang berat.
"Aku memiliki segalanya. Aku pikir dengan cara itu bisa membuatku mendapatkan juga kebahagiaan dan cinta. Tapi kenyataannya sangatlah bertolak belakang." Hariz tertawa hambar setelah mengatakan hal itu.
Aina bahkan bisa melihat kesedihan yang teramat jelas dimatanya.
"Terkadang hidup memang tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Aku tahu bagaimana rasanya berada disaat-saat terendah. Aku tahu bagaimana rasanya terpuruk, namun keadaan memaksaku untuk bertahan. Bukan tanpa alasan, hanya saja itu sebuah keharusan."
"Kau tidak akan mengerti Aina. Aku kehilangan Ibuku saat aku baru saja ingin membahagiakannya. Membalas rasa sakit akibat cemoohan orang-orang terhadapnya. Aku belum sempat membalas semua kebaikannya padaku. Dan saat aku telah menemukan cinta lagi. Ternyata sudah terlambat. Bahkan tidak ada peluang sedikitpun untukku memilikinya," ucap Hariz begitu pahit.
"Setidaknya Bapak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuamu. Sementara aku? aku bahkan tidak tahu bagaimana wajah orang tuaku.
Disana... " Aina menunjuk kearah gerbang panti asuhan. Dan Hariz mengikuti arah tangannya. "Orang tuaku meletakkan aku begitu saja didepan gerbang itu. Tanpa peduli jeritan tangisku yang tidak ingin mereka pergi meninggalkan aku. Semua yang Jidah ceritakan tentangku, masih ku ingat sejernih kristal. Tidak ada yang terlewat sedikitpun. Mereka pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana nasibku tanpa mereka."
Kali ini Hariz yang menatap prihatin pada gadis itu. Ternyata senyuman dan keceriaan yang Aina tampilkan selama ini hanyalah palsu. Gadis ini ternyata menyimpan luka yang lebih dalam darinya.
"Tapi kau terlihat baik-baik saja... "
Aina terkekeh mendengarnya. "Lalu aku harus apa? menangis setiap malam meratapi nasibku? meraung seperti orang gila? atau bunuh diri, karena terlalu pengecut menghadapi hidup?
Hal seperti itu tidak pernah terlintas dipikiranku. Jidah mendidikku sejak kecil menjadi wanita tangguh. Tidak ada gunanya meratapi nasib yang memang sudah digariskan Tuhan untuk kita. Bahkan untuk menghindar juga percuma. Satu-satunya jalan hanyalah menerimanya dengan lapang dada.
Menerima dengan penuh syukur. Aku bersyukur masih ada Jidah, Kak Syma, Bibi Deriya yang menyayangiku layaknya keluarga sendiri. Aku sempat berpikir, jika aku tidak di buang orang tuaku, belum tentu aku mendapatkan kasih sayang seperti ini. Bisa jadi Ibuku itu wanita yang tidak waras. Gemar memukul dan lain sebagainya. Karena jika dia waras, dia tidak mungkin membuangku."
Hariz tiba-tiba tersenyum mendengar penuturan gadis itu. "Lalu... apa yang membuatmu bertahan sampai sejauh ini. Selain orang-orang itu?"
Aina sempat berpikir sejenak. "Aku bertahan hidup. Karena aku ingin makan makanan yang terlezat diseluruh dunia. Aku ingin berkeliling dunia menjadi wanita petualang dan merasakan kebahagiaan menajadi diriku sendiri. Aku ingin pergi ke sebuah bukit yang tinggi dan berteriak sekencang-kencangnya."
kali ini Hariz yang terkekeh. Apalagi melihat tingkah konyol Aina yang merentangkan kedua tangannya seakan dia ingin berteriak saat itu juga. Lalu Hariz menjadi kikuk, mana kala tertangkap basah sedang menatapnya.
"Di saat menghadapi tantangan hidup, sebagai manusia biasa kita terkadang mengeluh. Belum apa-apa, namun sudah merasa tak sanggup untuk memikul beban yang Tuhan berikan kepada kita.
Kita seolah tak memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapinya. Padahal, pencobaan yang diberikan Tuhan tak akan melebihi kekuatan kita.
__ADS_1
Dengan begitu, sebaiknya kita tak memperbanyak keluhan. Sebaliknya, menerimanya dengan syukur dan menjalaninya sampai semua persoalan berlalu dengan keberanian, pikiran positif, dan berserah diri." Aina berucap sembari menatap kedalam manik mata Hariz. Meyakinkan pria itu bahwa hidup yang dia jalani, adalah hidup yang orang lain impikan.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehadiran Aina cukup menghiburnya. Belajar dari gadis kecil itu hanya dengan hal sepele dia tetap bertahan hidup.
"Terimakasih Aina."
*****
"Bagaimana? apa berhasil?" Syma setengah berbisik pada Aina.
"Berhasil Kak. Ini.... "
Syma segera mengambil sesuatu yang diberikan oleh Aina. Dan saat itu juga Ersad telah kembali dari toilet. Menatap Syma dan Aina secara bergantian.
"Ada apa?"
"Tidak ada Mas. Ayo kita pulang, sebentar lagi magrib."
Ersad tidak menolak. Dia cukup lelah bersitegang hari ini. Jadi meskipun ada kecurigaan, dia tidak ingin membahasnya dulu. Membiarkan Syma sendiri yang akan menceritakan semuanya.
*****
"Tuan tidak akan marah, Mina. Jangan khawatir, aku hanya sebentar." Syma bahkan tidak menyadari bahwa Ersad ada disana sembari melipat tangannya didada.
Mina segera menunduk dan pergi dari sana, ketika melihat Ersad memberi gestur pengusiran.
Pria itu mendekati Syma secara perlahan.
"Mina, dimana kau meletakkan garam?" ucap Syma sembari mengaduk masakkannya.
Ersad mengambil sebuah wadah bumbu. Dan memberikannya pada Syma.
"Astaga... ini bukan garam, tapi... "
Mata Syma membulat sempurna, ketika melihat suaminya. Tatapan dingin Ersad membuatnya sedikit takut.
__ADS_1
"Se-sejak kapan Mas disini?"
"Kau tidak mendengarkan ucapanku, Syma."
"Maaf... aku terlalu bosan Mas. Tanganku rasanya gatal jika tidak mengerjakan sesuatu. Lagi pula, jika aku tidak bergerak, nanti akan susah saat proses persalinan."
Ersad sedikit luluh mendengar penuturan istrinya. Namun dia tidak ingin menunjukkan hal itu. Dia harus bersikap tegas, agar Syma tetap patuh terhadapnya.
"Jadi kau bosan?"
Syma menelan kasar ludahnya, ketika melihat seringai terukir diwajah suaminya.
Syma bingung harus merespon dengan anggukan atau penolakkan. Karena keduanya sama-sama akan menyulitkannya.
"Kalau begitu aku akan membuatmu sibuk semalaman ini."
Sudah Syma duga. Ersad pasti mengajaknya ke hal lain. Dengan sangat terpaksa dia meninggalkan masakkannya. Dan mengikuti langkah suaminya. Ersad menggenggam tangannya begitu erat, seolah takut Syma akan melarikan diri darinya.
Wanita itu hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
Saling bergelut memadu kasih sepanjang malam dengan penuh cinta dan kelembutan. Dinginnya malam seakan menambah gairah diantara keduanya. Bersama-sama menuju puncak kenikmatan Surga dunia. Dan mempererat ikatan cinta diantara keduanya.
Sampai menjelang sepertiga malam. Syma yang tadinya hendak mengajak suaminya Sholat tahajud. Sepertinya tidak dapat terlaksanakan. Karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan.
Matanya terpejam seolah tidak sabar untuk masuk kealam mimpi.
Ersad tersenyum. Ada sedikit rasa bersalah didalam dirinya setelah membuat wanita ini kelelahan. Dia khawatir akibat perbuatannya ini akan menimbulkan resiko pada kehamilan istrinya. Sebab itulah dia berniat ingin memeriksakan kandungan Syma saat matahari terbit nanti.
'Maafkan aku Sayang. Aku sangat mencintaimu... '
Ersad mengecup lama dahi Syma sebelum memejamkan mata dan mengistirahatkan seluruh tubuhnya.
.
TBC
__ADS_1
AFF REAL