TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 69: SALAHKAH AKU TERLALU MENCINTAI


__ADS_3

"Mulai sekarang, jangan pernah menyesal dan merengek untuk meminta kebebasan dariku, Syma. Karena mulai saat ini aku tidak akan pernah melepaskanmu dari genggamanku, walau apapun yang terjadi. Kau akan terikat padaku selamanya."


Syma hanya terkekeh kecil mendengar penuturan Ersad.


Ersad kembali menarik Syma kedalam pelukkannya. "Aku pernah jatuh cinta. Tapi tidak sampai seperti ini. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup tanpamu. Anggap saja aku egois, karena ingin memilikimu sampai akhir hidupku. Bahkan aku ingin kaulah yang menjadi Ratunya bidadari surga untukku kelak." Ersad menghentikan ucapannya dan menatap kedalam manik mata istrinya.


"Salahkah jika aku terlalu mencintaimu, Syma. Aku bahkan menyukai semua yang ada pada dirimu.


Apa kau pernah mendengar kisah Qais dan Laila?


Seseorang pernah bertanya kepada Qais. Seandainya engkau disuruh memilih antara seluruh kekayaan dunia, atau kekasihmu (Laila) mana yang akan kau pilih?


Qais pun menjawab: Sungguh, bahkan debu yang menempel pada telapak kaki Laila lebih aku cintai dari pada kekayaan dunia dan seisinya.


Aku sempat mengira bahwa itu terlalu berlebihan. Dan terkesan bodoh. Tapi sayangnya aku juga merasakan hal itu sejak mengenalmu."


Syma bersemu malu mendengarnya. Kini dia mulai berani melingkarkan tangannya dileher sangat Suami. "Aku tahu kisah Qais dan Laila. Tapi aku tidak ingin menjadi seperti Laila yang membiarkan pujaan hatinya mengasingkan diri dan jauh darinya. Aku adalah istrimu Mas. Yang tidak ingin berada jauh darimu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Meski itu ke pedalaman hutan sekalipun."


Ersad terkekeh mendengarnya. "Kau pintar menggombal sekarang. Mau aku terkam ya?"


"Berhenti menggodaku. Sebaiknya kita pulang sekarang, Anak-anak pasti mencariku."


"Syma... Mulai sekarang tinggalah disini. Aku membeli rumah ini untuk kalian."


"Baiklah Mas. Tentu aku akan tinggal di manapun kau berada."


"Bagus."


*****


"Maaf aku terlalu lama meninggalkan Zea dan Gokhan. Apa mereka merepotkan Ibu?"


"Tidak Syma, Ibu senang menghabiskan waktu bersama cucu-cucu Ibu. Lagi pula ada Mina yang membantu Ibu disini." Ceyda tersenyum tulus padanya. Apalagi melihat Ersad yang juga sedang berada disana dengan begitu gembira. Bahkan tanpa bertanya sekalipun dia sudah tahu bahwa Syma dan Ersad sudah berbaikan.


"Mas Ersad meminta agar kita pindah ke rumah barunya. Ibu tidak keberatan kan?"


"Seharusnya Ibu yang bertanya pada kalian. Apa tidak masalah jika Ibu Ikut?"


"Tentu saja tidak."

__ADS_1


"Kalau begitu kita bersiap-siap sekarang."


Syma mengangguk. Lalu pandangannya tertuju pada Ersad dan kedua anaknya yang sedang bermain dengan penuh canda dan tawa.


Setelah sekian lama. Akhirnya dia melihat lagi kehangatan dalam rumah tangganya. Interaksi antara ayah dan anak yang nampak seru. Sesekali Ersad tertawa terbahak-bahak akibat ulah kedua anaknya.


Tanpa sadar, Syma tersenyum haru. Satu hal yang dia ingat ketika suaminya sedang tertawa seperti itu.


Tampan.


Syma menggeleng kepalanya dan tersenyum geli dengan sikapnya sendiri. Dia seperti orang tidak waras yang tersenyum sendiri melihat suami dan juga anaknya.


Kini dia mengalihkan perhatian kelemari. Dia mulai membuka satu persatu untuk disusun kedalam koper. Syma terjingkat kaget, saat merasakan tangan kekar memeluknya dari belakang.


Tanpa dia sadari, Ersad sudah berada di dekatnya sejak tadi.


"Apa yang Mas lakukan, nanti dilihat anak-anak!" Syma berucap, namun tidak melepaskan tangan suaminya.


"Aku hanya penasaran pada wanita yang sejak tadi menatapku sembari tersenyum. Apa aku terlihat tampan?"


Untungnya Ersad berada dibelakang tubuhnya. Jika tidak, maka Ersad akan melihat wajah Syma yang sudah merona karena tuduhan yang tepat pada sasarannya.


"Jangan berbohong Syma. Kau sedang memperhatikan aku kan? Katakan yang sejujurnya... " ucap Ersad disela kegiatannya. Hingga Syma akhirnya melenguh dan mengangguk tanda meng iyakan ucapannya.


Ersad menghentikan kegiatannya. Membuat Syma sedikit kecewa. Matanya mendamba menginginkan lebih.


"Kau tahu Syma. Aku tidak pernah tahan dengan tatapanmu. Tatapanmu seperti sebuah panggilan dalam jiwaku agar segera menjamahmu. Kau tidak perlu menggodaku dengan cara lain, cukup dengan tatapanmu saja aku sudah berhasrat. Dan ingin menerkammu saat ini juga... "


Tanpa menunggu tanggapan dari Syma. Ersad segera mendorong istrinya perlahan hingga tubuh mereka ambruk dikasur.


Syma tidak bisa menolak dan tidak ingin menolak, karena tentu saja dia juga menginginkan hal itu. Lima tahun bukan waktu yang singkat bagi mereka menahan hasrat satu sama lain. Hingga hal ini sangatlah wajar, jika mereka melakukannya dengan tidak sabar.


Ersad sangat tahu bagaimana cara memanjakan istrinya. Bahkan jengkal demi jengkal tubuh istrinya tidak terlewat sedikitpun dari sentuhannya. Mereka sampai memejamkan mata menikmati kehangatan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka berhasil menggapai nikmatnya surga dunia hari itu.


Nafas yang tersengal serta keringat yang membanjiri tubuh membuat keduanya tersenyum. Ersad mengecup ringan dahi istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih."


Syma hanya tersenyum. Dalam waktu sekejap, tatapan Ersad kembali menyala. Kilat nafsu masih belum redam didalam dirinya. Syma hanya pasrah menerima jika suaminya meminta lagi dan lagi.

__ADS_1


Namun sayangnya hal itu tidak terjadi, karena suara gedoran pintu dan teriakan nyaring dari Gokhan.


"PAPA!! jangan kulung Bunda dikamal. Cepat buta pintunya... " Suara cadel dari Gokhan membuat Syma tertawa kecil dan segera memakai kembali pakaiannya.


Ersad mengusap kasar wajahnya. 'Dasar pengganggu kecil!'


Setelah memakai pakaiannya. Ersad mendekati pintu dan membukanya sedikit. Menampilkan Gokhan yang sudah menatapnya sembari menyilangkan tangannya didada.


"Jangan ganggu Papa, Papa sibuk!" ucap Ersad yang ingin menutup pintunya. Namun Gokhan kembali berteriak.


"PAPA!! Jangan bohong, Bunda bilang bohong itu dosa... "


"Papa tidak bohong Gokhan. Papa memang sedang sibuk!"


"Sibuk? Sibuk apa? Papa kan libul kelja."


"Papa sibuk membuat adonan dengan Bunda. Sudah pergi sana, jangan ganggu Papa." Ersad mendorong pelan tubuh Gokhan hingga bocah itu kesal dan memberontak.


"Mas....


Berhenti menggodanya. Dan lagi, jangan mengatakan hal seperti itu lagi padanya. Dasar tidak tahu malu!" Syma merutuk kesal dan mengambil putra kecilnya yang lucu itu.


"Memangnya apa yang salah dengan ucapanku?"


Gokhan mejulurkan lidahnya, melihat Ersad yang kalah dari dirinya. "Ini Bundanya Okhan. Milik Okhan ceolang. Papa sama Kak Ze cuma minjam. Kalo Okhan kasih pinjam balu boleh sama Bunda." Gokhan berucap dengan gestur seolah menjadi pria dewasa.


Ersad langsung mendelik mendengar ocehannya. Sementara Syma hanya terkekeh geli.


"Aku tidak menyangka punya anak seperti ini. Kau hebat Syma, mendidik anakku menjadi dewasa sebelum waktunya."


"Jangan salahkan aku. Ini adalah Keturuannmmu, sudah jelas sifatnya menurun darimu!"


"Oh ya?"


TBC


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE


TERIMAKASIH

__ADS_1


AFF REAL


__ADS_2