
Senyuman lebar menghiasi wajahnya. Bersama dengan Zico, Mia menemui suaminya dikantor. Guna memberikan sekotak bekal makan siang untuk mereka bertiga. Meski ada keraguan, namun Mia tidak ingin mengurungkan niatnya itu. Karena mereka sudah sangat lama sekali tidak menghabiskan waktu hanya untuk makan siang bersama.
Mia berjalan sepanjang koridor. Asisten Revan sempat ingin menawarkan diri untuk mengantar, namun Mia menolaknya. Hanya karena tidak ingin merepotkan orang lain. Padahal itu memang sudah menjadi tugasnya.
Saat sudah nyaris sampai. Samar-samar Mia mendengar suara Azkhan yang cukup keras. Seiring dengan senyuman wajahnya yang mulai memudar. Rasa khawatir menyelimutinya. Mia khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya, hingga dengan lancang dia masuk begitu saja.
Pandangan pertama kali yang dia lihat adalah Revan dan Azkhan yang bersitegang. Entah apa yang mereka debatkan, Mia hanya ingin melerai.
"Ada apa ini?" Sontak pandangan kedua orang itu tertuju pada Mia dan juga Zico.
Revan menatap anak dan istrinya dengan raut tak terbaca. Membuat Mia semakin khawatir.
"Mas? Apa semuanya baik-baik saja?" Mia menatap teduh suaminya. Mendekati dan mencoba meraihnya.
"Tidak ada yang baik-baik saja, Mia. Kau akan menghadapi kenyataan pahit dimana pernikahan kalian yang menjadi taruhannya. Revan akan membuat sebuah pilihan yang akan menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dan setelah ini... Aku harap kau sadar, siapa suami yang selalu kau pertahankan ini!" Azkhan berucap tajam. Menatap Mia seolah Revan bukanlah pria yang baik untuknya. Dan hal itu semakin membuat Mia bingung.
Mia menatap suaminya dengan penuh pertanyaan. Namun Revan memilih untuk menatap tajam kearah Azkhan. Kali ini kesabarannya sudah habis. Azkhan sudah terlalu jauh ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Ambisi untuk merebut Mia darinya membuat Revan muak. Hingga tangan Revan terkepal kuat.
"Kesalahan apa yang dibuat oleh suamiku hingga membuatmu jadi seperti ini, Azkhan? Bukankah dia sepupumu? Seharusnya kalian saling mendukung satu sama lain. Bukannya saling menjatuhkan," ucap Mia tidak percaya dengan sikap Azkhan yang menurutnya sudah sangat jauh berubah.
"Kesalahannya karena dia hadir diantara kita." Azkhan menyahuti dengan tenang. Membuat Mia menggeleng tak percaya.
"Kau lah yang hadir diantara kami, Azkhan. Revan sudah ada dalam hidupku sebelum aku mengenalmu. Tidakkah kau sadar dimana posisimu sekarang?!" ucap Mia mulai kesal.
"Sadarlah Mia. Revan tidak layak mendapatkan cintamu. Buka matamu lebar-lebar. Dia akan membuat hidupmu semakin menderita. Dan masa depan Zico juga dipertaruhkan disini!"
"CUKUP!!" suara tegas Revan membuat mereka berhenti berdebat. Dengan sekali tarikan nafas. Revan mengambil beberapa lembar surat perjanjian itu dan menandatanganinya.
Azkhan terkejut melihat Revan yang setuju membatalkan semua kerjasama mereka. Dan menyebabkannya mengalami kerugian besar. Demi mempertahankan anak dan istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai, Revan melemparkan semua berkas itu pada Azkhan. Yang membuat ekspresi Azkhan mengeras tak Terima dengan keputusan yang dia ambil.
"Itu adalah keputusanku. Silahkan ambil apa yang menjadi milikmu. Aku tidak membutuhkannya. Aku pernah melakukan kesalahan besar pada istriku, dan sekarang aku tidak akan pernah mengulanginya lagi." Revan menghentikan ucapannya. Lalu menatap Mia dengan menggenggam erat tangannya. "Tidak ada yang lebih berharga dari pada keutuhan keluarga."
Mia tersenyum haru. Tidak menduga bahwa suaminya lebih memilih mempertahankannya dari pada sebuah harta yang hanya bersifat sementara. Tanpa bisa dicegah, Mia memeluknya dengan begitu erat. Revan membalasnya dengan tatapan terarah pada Azkhan.
Tentu saja perasaan pria itu semakin hancur. Melihat wanita yang dia cinta memeluk orang lain. Azkhan tak dapat berkata apa-apa lagi. Meski tak mengeluarkan air mata, namun hatinya menangis. Azkhan memilih pergi meninggalkan mereka dengan amarah sekaligus perasaan yang tak terbentuk lagi.
"Zico juga mau peluk Papa," ucap bocah kecil itu dengan sedikit berlari kecil dan ikut memeluk orang tuanya.
"Papa sayang kalian." Revan mengecup puncak kepala kedua orang itu secara bergantian.
"Terimakasih sudah memilihku, Mas."
"Kita akan menghadapi hari berat setelah ini, Mia... " Revan berucap lirih. Ada kesedihan di hatinya. Ada juga rasa takut untuk menghadapi hari esok. Akankah keputusannya ini sudah benar? Atau akan membawa anak dan istrinya kedalam penderitaan yang tiada habisnya. Revan mencoba menghalau semua pikiran itu dulu untuk saat ini.
"Papa!! Itu juga Mama Zico!" Melihat Zico yang bersidekap seperti orang dewasa. Serta mengerucutkan bibirnya. Revan semakin gemas hingga dengan sengaja menggodanya. Tak peduli dengan teriakan anak itu yang menggema. Mereka tertawa seolah itu adalah hiburan terlucu yang pernah ada.
Melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi dengan bermain dan bercanda bersama. Menciptakan kehangatan keluarga yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
****
BRAKK
Esme terkejut mendengar suara gaduh dari kamar putranya. Sebab itulah dia melihat apa yang sebenarnya terjadi. Keterkejutannya semakin menjadi mana kala melihat putra kesayangannya seperti orang yang kehabisan obat.
"Apa yang kau lakukan, Azkhan?! Apa kau sudah gila!!"
Mendengar teriakan ibunya, membuat Azkhan menatapnya tajam. "Keluar dari kamarku, Bu!!"
__ADS_1
Azkhan terlihat bringas. Namun sebagai seorang ibu, Esme tahu bahwa putranya sedang tidak baik-baik saja. Seseorang telah menyakitinya.
"Katakan apa yang terjadi, Nak... " Esme berjalan mendekatinya. Mencoba meraih anaknya, namun Azkhan semakin menjauh.
"Keluarlah... "
"Katakan pada Ibu." Esme semakin mendekat.
"Aku bilang keluar!!"
Esme menggeleng dan kini sudah berada dihadapan Azkhan. Tangannya menyentuh pipi putranya dengan lembut. Sembari ikut merasakan kepedihan anaknya.
"Aku ibumu... Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Jadi katakan pada ibu, siapa yang telah menyakitimu, Nak... Katakan!" Suara Esme terdengar lirih.
Ekspresi Azkhan yang tadinya mengeras kini luruh sudah. Matanya memerah seiring dengan air mata yang mengalir. Azkhan memeluk ibunya dan terisak pilu.
"Katakan apa kurangnya aku, Bu...? Kenapa dia tidak ingin memilihku! Dan lebih memilih sepupuku sendiri, Revan."
Kini Esme tahu letak permasalahnnya. Mia? Ya...
Wanita itu.
Sejak awal dia sudah benci dengannya. Dan kini kebenciannya semakin mendalam melihat perlakuannya terhadap putra kesayangannya.
"Tidak ada yang kurang darimu, Azkhan. Wanita itu saja yang tidak tahu diri! Dia bodoh, hingga tidak bisa melihat mana yang baik dan yang buruk untuknya. Menjijikan sekali! Sudah berhasil mengambil hatimu sekarang dia menggoda Revan.
Ibu sudah sering memperingatimu tentang wanita seperti itu. Tapi kau tetap saja keras kepala. Dan sekarang kau lihat sendiri bagaimana wanita itu menyakitimu. Jika masih ada sedikit saja kepintaran didalam dirimu maka buang jauh-jauh perasaanmu padanya. Dia hanya rumput liar tidak berguna!"
Azkhan bungkam. Kali ini dia merasa ibunya benar. Dan pemikirannya selama inilah yang salah.
__ADS_1