
"Waktu berjalan sangatlah cepat. Perasaan baru beberapa tahun lalu, Bibi dan jidah Alma menggendong dan merawatmu.
Tapi lihatlah sekarang...
Pernikahanmu akan dilangsungkan sebentar lagi. Dan dalam waktu yang singkat itu kau akan menjadi milik orang lain. Bibi pasti akan sangat merindukanmu, Aina." Deriya memeluk Aina dengan lembut. Sebagai mana seorang ibu memeluk anaknya.
Wajah murung Aina membuat Deriya berkerut heran. Bukankah seharusnya Aina bahagia?
"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?"
"Tidak ada Bi...
Aina hanya masih ragu dengan pernikahan ini."
"Kau bukan ragu, tapi gugup nak. Bibi dulu juga mengalaminya saat menikah.
Tanamkan dalam hatimu, bahwa dengan menikah, surga akan terasa lebih dekat. Dan tanamkan dalam dirimu bahwa dialah orang yang kau pilih yang akan mendampingimu sampai akhir hayatmu. Dan akan mendekatkanmu pada surganya."
'Surga? Surga seperti apa yang aku harapkan dari pria seperti Pak Hariz? Baru jadi calon suami saja sudah membuatku sering naik darah. Apalagi menjadi suami sungguhan... '
Aina mendesah letih. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa pasrah dan membiarkan bagaimana alur cerita hidupnya akan berjalan.
******
Ersad melirik kearah Syma yang belum juga mempersiapkan barangnya untuk keberangkatan liburan mereka. Entah apa yang ada didalam pikiran wanita itu, hingga Ersad memilih mendekatinya.
"Apa yang mengganggu pikiranmu, Syma. Kenapa belum bersiap juga?"
"Aku hanya merasa tidak enak pada Ibu. Bagaimana bisa, kita bersenang-senang, sementara Ibu kerepotan mengasuh anak-anak kita. Apa itu tidak dzolim namanya?"
"Tapi Ibu sendiri yang memintanya Syma. Ibu sangat senang menghabiskan waktu bersama anak-anak. Lagi pula ada Mina bersamanya."
"Kenapa harus ke Swiss? Bukankah dinegara kita juga ada tempat berlibur? Kenapa harus jauh-jauh kesana?"
"Kau pasti senang, jika berada disana. Tempatnya sangat indah dan romantis tentunya. Kau tidak akan menyesal." Ersad mencoba meyakinkan istrinya. Namun nampaknya hal itu tidak berpengaruh sama sekali.
"Mau kemanapun Kamu mengajakku, asal itu selalu bersamamu aku akan merasa senang. Meski ke tempat biasa sekalipun jika bersama orang yang kita cintai akan terasa sangat indah."
"Jangan menggodaku Syma. Lalu bagaimana dengan tiketnya, akan sangat mubazir jika di buang!"
"Berikan saja pada Aina dan Hariz. Sebagai hadiah pernikahan mereka. Aina akan senang karena memang impiannya sejak kecil, pergi keliling dunia."
Ersad menghela nafasnya. Dia mengangguk setuju dengan usulan Syma.
"Bagaimana kalau ke Bosporus. Bukankah kau suka naik kapal? Akan sangat romantis jika kita naik pesiar pergi kesana... "
"Aku setuju." Syma menyahuti dengan antusias. Dengan seperti ini, mereka tidak akan meninggalkan anak-anak mereka begitu lama. Karena tempat itu juga tidak berada terlalu jauh dari istanbul.
__ADS_1
*****
"Kak Syma? Kenapa kalian kesini? Bukankah Kak Ersad bilang kalian akan pergi ke Swiss?"
"Itu kejauhan Aina. Kami memang jadi pergi, tapi bukan ke Swiss. Melainkan Bosporus."
"Bosporus? Kenapa memilih tempat semacam itu. Bukankah di Swiss tempatnya jauh lebih indah. Kalau Bosporus kita bisa kapan saja kesana. Kan lokasinya tidak begitu jauh."
Syma tertawa kecil mendengarnya. "Untuk saat ini sepertinya belum bisa pergi jauh Aina. Kasihan Ibu, jika anak-anak di tinggal terlalu lama."
"Baiklah, aku mengerti."
"Apa semua persiapannya sudah selesai?"
"Sedikit lagi, Kak. Aku pusing dengan calon suamiku itu. Dia memintaku memilih, tapi dia sendiri tidak setuju dengan pilihanku. Dan akhirnya dia memilih pilihannya sendiri. Dia sangat menyebalkan!" Aina menunjukkan ekspresi kesalnya. Melirik kearah Hariz yang kini sibuk dengan Ersad.
"Hahah, dia memang seperti itu. Nanti kau akan terbiasa dengan sikapnya.
Suami istri itu, ditakdirkan untuk saling melengkapi. Jika ada kelebihan pada pasangan kita, maka perbanyaklah bersyukur. Jika pun ada kekurangan pada pasangan kita, maka perbanyaklah sabar.
Jika bukan kita yang membimbing dan mendoakan, lalu siapa lagi?"
"Kau selalu menjadi penyejuk hati, Kak. Kak Ersad pasti beruntung sekali mendapatkan istri shalehah sepertimu. Sementara aku? Sangat minim sekali Ilmu agama yang aku miliki."
"Itu akan menjadi tugas suamimu, Aina. Dia akan mendidikmu dan juga mengajarimu tentang nilai-nilai agama. Kakak yakin dia adalah orang yang tepat untukmu! Maka dari itu, ketika kau sudah sah menjadi istrinya, jangan pernah membantah ucapannya. Karena surgaMu ada dikakinya. Dan nerakamu juga bisa ada padanya. Tergantung bagaimana caramu menyikapinya."
"Syma bilang, surgaMu ada dibawah telapak kakiku! Jadi kalau nanti aku menendangmu, maka kau tidak boleh menghindar. Karena itu tendangan dari surga... " Hariz menunjukkan gestur yang membuat Aina semakin kesal.
"Hah!! Kau memang pandai menyalah gunakan aturan agama! Dasar titisan Dakjal."
"Aina... Jaga bicaramu!" Syma mencoba memperingati. Namun Aina langsung mengubah ekspresinya menjadi semanis mungkin.
"Tidak apa Syma. Aku bisa mengatasi calon istriku yang memiliki mulut tak berfilter ini. Aku akan mendidiknya dengan baik." Ada senyuman aneh yang Aina lihat dari wajah Hariz. Dan dia tahu, bahwa itu semua hanya topeng belaka.
"Mendidik? Memangnya aku mau sekolah."
"Sepertinya kami harus pergi dulu. Dan kalian berdua, sebaiknya jangan terlalu sering bertemu sebelum hari pernikahan kalian," Syma berucap tegas.
"Baiklah, Hati-hati dan selamat berbulan madu," ucap Hariz.
"Jaga dirimu baik-baik Aina. Jangan lupa baca ayat kursi jika kau merasa terancam!" Celetuk Ersad sebelum pergi meninggalkan mereka.
Aina mengacungkan jempolnya, karena mengerti dengan maksud ucapan Ersad.
Setelah kepergian mereka. Aina juga bermaksud ingin segera pulang. Namun Hariz menghentikannya.
"Hey kau!! Mau kabur kemana, Hah!"
__ADS_1
Aina berhenti ditempatnya dan menoleh kearah Hariz yang menyilangkan tangan didadanya.
"Pulang. Kak Syma bilang kita tidak boleh sering bertemu." Aina menyahuti dengan santai.
"Urusan kita belum selesai, Aina. Aku harus menghukum mulutmu yang telah berani memaki calon suamimu sendiri... "
Aina bergidik ngeri melihat seringai aneh dari Hariz.
"Hukumnya nanti saja, setelah aku jadi istrimu. Sekarang aku harus pulang untuk mempersiapkan mental menghadapi suami sepertimu! Bye... "
Aina langsung melenggang pergi tanpa memperdulikan Hariz yang berteriak kesal padanya.
"HEY AINA, BAGAIMANA DENGAN PERSIAPANNYA!!"
'Astaga... Orang ini bodoh atau apa?'
"APA BAPAK TIDAK TAHU ADA YANG NAMANYA W.O. SERAHKAN SAJA SEMUA PADANYA!!
'Dasar tolol!' umpat Aina yang tidak mungkin didengar oleh Hariz.
Hariz sendiri hanya menatap kepergiannya. Kesibukan mereka hanya alasan Hariz untuk lebih lama bersama Aina. Entah mengapa, pria itu tidak akan merasa kesepian dengan adanya Aina didekatnya. Namun sayang, gadis itu malah menghindarinya.
'Sial...
Awas kau Aina!'
*****
TBC
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN. AUTHOR SANGAT SENANG BANYAK YANG MENYUKAI NOVEL INI.
DAN TIDAK SEDIKIT ORANG PULA YANG MERASA TERGANGGU DENGAN NOVEL AUTHOR YANG SATU INI.
JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA INI, SEBAIKNYA CARI CERITA LAIN SAJA. TANPA MENINGGALKAN HUJATAN YANG MEMBUAT SEMANGAT AUTHOR JADI KENDUR. KENAPA AUTHOR BILANG MENGHUJAT? YA KARENA MEMANG KOMENTARNYA SEBUAH HUJATAN. BUKAN KRITIKAN ATAUPUN MASUKAN YANG MEMBANGUN.
JIKA MERASA PINTAR DAN HEBAT SILAHKAN BUAT KARYA SENDIRI TANPA MENJATUHKAN KARYA ORANG LAIN. AUTHOR DISINI HANYA MENGHIBUR.
ADEGAN 18+ NYA MEMANG SENGAJA TIDAK AUTHOR BUAT VULGAR DAN RINCI. KARENA INI TEMANYA RELIGI. JADI GAK MUNGKIN AUTHOR MEMBUAT KONTEN YANG SEPERTI ITU.
MESKI BANYAK KOMENTAR CELA'AN DAN HUJATAN AUTHOR AKAN TETAP BERKARYA. KARENA AUTHOR TIDAK AKAN TUMBANG HANYA KARENA SEBUAH HINAAN.
TERIMAKASIH UNTUK YANG TELAH MENYIMAK CERITA INI DENGAN BAIK. BIJAKLAH DALAM BERKOMENTAR. DAN SEBAIKNYA PAHAMI DULU ISI CERITA, SEBELUM MENCELA KARYA ORANG.
JAZZAKALLAH KHAIRAN
AFF REAL.
__ADS_1