TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 TIDAK PERCAYA DIA PELAKUNYA


__ADS_3

Azkhan?


Revan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Hingga pria itu hanya mematung di tempatnya. Sembari memikirkan hal yang sangat tidak mungkin namun itulah kenyataan yang dia dengar. Mia yang melihat ada yang aneh dari suaminya segera mendekat.


"Ada apa, Mas? siapa yang menelpon?"


"Mia... pelakunya menyerahkan diri."


"Lalu?" Mia merasa aneh karena ekspresi wajah suaminya nampak tegang.


"Orang itu adalah Azkhan."


Mia terperangah mendengarnya. Tentu saja dia tidak percaya Azkhan tega melakukan hal itu. Mai tidak percaya pria yang menurutnya sangat baik itu berubah menjadi monster mengerikan.


"Tidak mungkin." Mia berucap datar.


"Aku juga berpikir begitu. Meski sebelumnya aku juga sempat menuduhnya. Tapi aku juga sangat yakin tidak mungkin dia... "


****


"Kenapa kau lakukan ini, Azkhan?! kau memang putraku yang bodoh!" Esme berteriak kesal padanya. Sesekali memukul bahu Azkhan, namun Azkhan menerimanya begitu saja.


"Biar saja! biar Ibu puas, karena perbuatan Ibu sudah membuahkan hasil." Azkhan menatap ibunya datar. Dengan perasaan berkecamuk didalam dirinya.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan kita?! dan bisnis yang lainnya? siapa yang akan mengelola semua itu. Apa otakmu hanya dipenuhi dengan wanita itu hingga membuatmu sampai bertindak bodoh seperti ini!" Esme nyaris mengerang dengan sikap Azkhan yang tidak membicarakan hal ini dulu padanya. Anak ini diam-diam menyerahkan diri ke polisi tanpa sepengetahuannya. Jika saja asisten Azkhan tidak memberi tahu mungkin Esme tidak akan pernah tahu apa yang telah dilakukan oleh Putranya.


"Yang ada dipikiran Ibu hanya harta dan harta. Tidakkah Ibu merasa bersalah sedikit saja pada orang yang jelas-jelas Ibu sakiti? biarlah aku menanggung hukuman atas perbuatan Ibu. Karena cepat atau lambat. Ersad akan mengetahui semuanya. Dari pada Ibu yang berada di penjara lebih baik aku saja. Aku mungkin masih bisa kuat menahannya tapi aku tidak yakin bahwa Ibu bisa... "


Kali ini Esme terhenyak. Anaknya melakukan pengorbanan seperti ini guna melindunginya. Sementara dirinya masih saja memikirkan harta dan kemewahan yang lainnya. Kali ini pintu hati wanita itu terketuk dan membuatnya seketika sadar akan perbuatannya.

__ADS_1


Esme tertunduk lemas dengan bulirna air mata yang membasahi pipinya. Esme terisak sedih dengan penyesalan akan kebodohannya.


"Maafkan Ibu, Nak... Ibu bersalah... " Esme menyentuh tangan putranya. Dan Azkhan tidak menolaknya. Baginya Esme tetaplah Ibunya meski sikapnya sungguh sangat mirip dengan seekor hewan. Yang tak memiliki hati dan perasaan terhadap orang lain.


"Jangan meminta maaf padaku. Tapi pada orang yang telah Ibu sakiti." Tatapan Azkhan beralih pada kedua orang yang baru saja tiba.


Esme menyeka air matanya dan menatap kearah pandang putranya. Dia begitu terkejut melihat orang yang baru saja mereka bicarakan kini berada tepat dihadapan mereka.


Mia dan Revan?


Meski pikirannya masih dipenuhi oleh ego, namun Esme sadar bahwa ini yang diinginkan putranya. Azkhan hanya ingin dia berbaikan dengan Mia. Wanita yang selama ini dia benci.


Sedangkan Mia dan Revan sudah mendengar semuanya. Dan ternyata dugaan mereka benar. Azkhan tidak bersalah. Bukan Azkhan pelakunya.


Hal yang membuat Mia terkejut, adalah saat dimana Esme berlutut dan memohon maaf padanya dengan isak tangis penyesalan.


"Maafkan aku, Mia... Aku bersalah padamu. Bukan Azkhan pelakunya tapi aku... hukum saja aku, tapi tolong bebaskan putraku... "


"Aku sudah mendengar semuanya," ucap Mia masih dengan raut datarnya.


"Tolong bebaskan Azkhan. Hanya kau yang bisa melakukan ini... " Esme menatapnya penuh permohonan. Berharap Mia akan berbaik hati untuk membebaskannya.


"Aku tidak bisa menentukan. Aku sudah memaafkanmu. Tapi suamiku... dia juga menderita karena ulahmu. Jadi... keputusan ini aku serahkan padanya," tegasnya.


Esme semakin takut kali ini. Dia juga tidak menduga Mia akan mengatakan hal itu. Sementara Azkhan hanya pasrah apapun yang akan terjadi. Dan apapun keputusan Revan.


Mereka berdua akhirnya meninggalkan Esme dan Azkhan tanpa suatu kejelasan. Membuat wanita paruh baya itu hanya terduduk lemas karena berpikir Revan tidak akan mau membantu Azkhan keluar dari sana. Esme terisak pilu meratapi kebodohan yang telah dia buat.


Namun sebenarnya itu semua hanya pemikiran Esme saja. Revan dan Mia tidak pulang. Mereka mencabut tuntutan pada Azkhan dan membiarkannya bebas.

__ADS_1


Mia begitu bahagia melihat suaminya bersikap lebih tenang meski emosi sedang menguasainya saat ini. Revan memilih untuk memaafkan dari pada menuntaskan dendam dengan dalih Azkhan masih terikat hubungan kekeluargaan dengannya.


Revan memilih memaafkan berharap hatinya akan merasa lapang dan tenang. Dan dia mempelajari semua ini dari Mia tentunya...


Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah. Lebih memikirkan logika dan akal sehat dari pada hanyalah sebuah amarah yang tiada habisnya.


"Aku melakukan ini demi ketenangan kita," ucap Revan lalu mengecup lama puncak kepala istrinya dan merengkuhnya kedalam pelukan. Mia tersenyum dan membalas pelukan suaminya itu.


"Kenapa lama sekali?!"


Revan memutar matanya. Saat baru saja membuka pintu mobil dan melihat putranya sudah merajuk dengan mengerucutkan bibirnya.


"Astaga... anak ini tidak sabaran sekali!" Revan berdecak kesal. Sementara Mia hanya terkekeh melihat kedua orang itu yang seringkali berdebat.


"Apa Papa Azkhan baik-baik saja didalam?"


Mia menyentuh lembut pipi putranya. Bagaimana pun juga Azkhan adalah orang pertama yang menjadi peran sosok ayah sebelum kehadiran Revan. Sikap dan kenangan Azkhan tentu masih terekam jelas pada ingatan putranya. Sebab itulah Mia tidak ingin Zico berpikiran hal buruk tentang pria itu. Karena selama ini kasih sayang yang diberikan Azkhan sangatlah tulus padanya. Melebihi apapun. Dan tanpa mengharapkan imbalan apapun darinya.


"Papa baik-baik saja. Nanti Zico pasti bisa melihatnya lagi. Karena Papa Azkhan akan segera bebas."


Zico bersorak senang. Namun kesenangan itu buyar saat suara Revan terdengar sedikit tegas. "Berhenti memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Papa Zico cuma satu, yaitu Papa Revan. Azkhan adalah paman Zico. Jadi mulai sekarang panggil dia dengan sebutan paman. Kalian berdua mengerti!"


Mia tahu maksud ucapan Revan bukan untuk menyakiti putranya. Revan hanya cemburu perannya terbagi. Dan panggilan berharga dari mulut anaknya juga disebutkan pada orang lain. Sebab itulah dia hanya tersenyum.


Dan untungnya Zico juga menurut kali ini. "Baiklah Papa Revan."


Revan tersenyum senang. Dan mengacak rambut putranya dengan gemas.


Dalam hatinya mengatakan bahwa, 'Aku sangat mencintai kalian melebihi apapun didunia ini.. '

__ADS_1


'Terimakasih Ya Robb... terimakasih untuk hari ini. Terimakasih untuk karunia yang kau berikan pada keluarga kami. Ijinkan aku untuk memiliki umur yang panjang sampai aku bisa memastikan bahwa anak dan istriku benar-benar bisa hidup tanpa adanya diriku... '


****


__ADS_2